Tentang Fano dan Alenta

1623 Kata
Rayan baru bisa menarik napas lega ketika Alenta pulang hampir tengah malam. Lelaki berprofesi sebagai seorang dokter itu melangkah mendekati adik satu-satunya lebih dulu kemudian memeluk sambil berucap syukur. Rayan nyaris saja gila memikirkan ke mana adiknya pergi. "Kamu ke mana aja? Kakak pikir kamu...," Kedua mata Alenta bergerak. Ia tahu ke mana arah bicara kakaknya. "Aku baik-baik aja, Kak." Rayan mendekap kedua bahu adiknya. Memutar badan langsing Alenta ke kanan ke kiri lalu bertanya, "Nggak ada yang luka, kan? Kamu beneran baik-baik aja? Ya ampun, Alen! Kamu bikin Kakak kena serangan jantung!" Tasya yang ada di belakang Rayan, pun, menepuk punggung suaminya lumayan keras. Selanjutnya, kalimat Tasya menghancurkan suasana sedih di antara Kakak dan beradik itu. "Sembarangan! Kak Rayan mau bikin aku jadi janda muda emang?!" Alenta tanpa sadar menyunggingkan senyum mendengar sang Kakak ipar melayangkan protes. Rayan mengurai pelukannya dan membalikkan badan menghadap ke arah Tasya. "Kan, nggak beneran, Sya. Cuma perumpaan doang. Kalau beneran kena serangan jantung, aku nggak mungkin ada di sini sama kalian." Tasya mengibaskan tangan pura-pura ngambek. "Oh ya, Len, lo habis dari mana? Semua orang cari kamu. HP juga ditinggal di rumah." Tasya menatap adik iparnya khawatir. "Kalau mau ke mana-mana atau butuh sesuatu ke luar, lo bisa bilang atau sekadar ngasih tahu kan, Len? Kasian Kakak lo. Nanti kena serangan jantung," sindir Tasya melirik Rayan. Wajah Alenta tampak lelah dan lesu. "Gue kangen sama Fano, Sya." Tasya dan Rayan saling melirik. Seperdetik, Tasya mengubah ekspresi wajahnya untuk mencairkan suasana tegang setelah Alenta menyebut nama Fano. "Oh, gitu. Nggak apa-apa kalau lo mau ke sana. Lain kali lo bisa ajak gue, Natla atau Rindu. Biar lo ada temannya." Alenta memang merindukan Fano. Tapi seharian ini ia tidak pergi ke makam lelaki itu. Namun, ke suatu tempat di mana mereka sering berjanjian dulu. Ia teringat saat Fano masih hidup. Alenta mengeluh sangat jenuh selama di asrama. Ia sangat ingat itu adalah obrolan terakhir mereka sebelum meninggal. Perampokan yang dialami Fano beberapa bulan lalu membuat Alenta kehilangan lelaki itu untuk selamanya. Karena peristiwa itu pula, Fano belum menepati janjinya. "Bertahan sebentar lagi, Len. Gue janji, setelah acara itu selesai, gue ajak lo pergi ke pantai...." Alenta meneguk ludah. Kesepuluh jarinya terkepal menahan rasa sesak di d**a. Ingatan tersebut mengingatkan dirinya tentang Fano lagi. Walau tidak ada habisnya memikirkan mendiang lelaki itu, rasa sesaknya terasa beda. Mungkin karena Fano belum sempat menepati janjinya. Rivano mempercepat langkahnya memasuki kediaman Rayan. Berjam-jam ia menunggu di depan area pemakaman Fano, namun Alenta tidak kunjung ada di sana. Bahkan Rivano sampai masuk dan melihat sendiri ke makam Fano untuk memastikan Alenta di sana atau tidak. "Pak, Mbak Al—" Sontak, Rivano menghentikan langkah begitu mendapati keberadaan Alenta. "Ah, ya! Saya sampai lupa hubungin kamu, Van," ujar Rayan menepuk keningnya pelan. "Makasih udah bantuin saya cari Alen, ya, Van. Ternyata dia pergi ke makam temannya." Satu alis Rivano terangkat tinggi. Temannya? "Alen, lain kali minta diantar sama Rivano pergi ke makam Fano, ya." Rayan merangkul bahu adiknya. Sepasang mata Alenta mengerjap sebagai isyarat. Rivano segera menyadari lantas mengangguk dan bungkam sesuai kemauan Alenta. Dalam hati Rivano bertanya. Pergi ke makam Fano? Dia seharian ada di sana dan baru pulang. Tapi tidak sekali pun ia melihat Alenta datang ke sana. "Aku masuk kamar ya, Kak, aku mau istirahat." Alenta melepas rangkulan kakaknya. "Len," panggil Tasya. "Jangan lupa hubungi Tiara, ya. Dia ikut khawatir waktu lo nggak ada di mana-mana. Gue yakin Tiara masih nunggu kabar soal lo." Alenta mengangguk. "Gue telepon sekarang kalau gitu." *** "Gimana lo bisa tahu Alenta ada di pantai?" tanya Raka penasaran. Tinggal Raka dan Dami yang masih betah melek. Areas dan Winona ketiduran sejak satu jam yang lalu. Kedua bocah itu tidur di lantai beralaskan karpet bulu tebal. "Kalau gue jawab jujur, lo nggak bakal percaya." Raka mendengkus. Ia menertawakan Dami. "Justru karena lo yang ngomong, gue percaya, Dam. Beda lagi kalau itu Adam. Yang keluar dari mulut Adam cuma bualan doang!" "Gue serius." Dami menengok ke Raka. "Emang lo bisa bercanda?" ejek Raka lalu terbahak. Bugh! Sebuah lemparan bantal mengenai kepala Raka. Suara melengking dari bawah lantai terdengar nyaring hingga obrolan Dami dan Raka pun berhenti sejenak. "Berisik!" teriak Winona. Padahal kedua mata Winona terpejam. Tapi telinganya bisa merespon tawa besar Raka dari atas sofa. "Dasar bocah!" maki Raka kesal. Dami meluruskan kedua kaki. Rumah ini tiada hari tanpa keributan. Dami lebih dari paham. Yang heran, kenapa Damar—kakaknya Raka sekaligus si kembar sangat sabar. Kalau itu Dami—ah, sudahlah. "Lanjutin, Dam." Raka menepuk bahu Dami. "Lo nggak bakal percaya," ulang Dami. Ia menyambar sebotol air dingin dari meja. Raka mendecakkan lidah. "Belum juga bilang, Dam. Gimana gue bisa percaya?" Dami menjilat bawah bibirnya. Jujur saja ia stress sendiri kalau harus merahasiakan soal dirinya yang bisa melihat hantu. Tidak. Cuma hantu Fano maksud Dami. "Lo percaya hantu?" Pertanyaan tiba-tiba Dami malah membuat Raka terbengong. Apa hubungannya sama hantu memang? "Percaya nggak percaya, sih...." Raka bergumam panjang. "Apa hubungannya lo tahu Alenta ada di pantai sama percaya soal hantu? Apa hubungannya, Dam?!" tanya Raka gemas. Antara bimbang dan ragu. Bimbang menceritakannya ke Raka. Sekaligus ragu kalau Raka akan percaya. Memangnya siapa yang akan percaya pada hantu? Siapa yang akan percaya jika ada mahluk lain yang menerornya untuk menjaga seorang perempuan—yaitu, Alenta. "Heh, Dam!" Raka menepuk sebelah bahu Dami. Mencoba menyadarkan lelaki itu. "Ada orang—ah, bukan." Dami segera mengkoreksinya. Raka bengong. "Orang apa bukan?" "Hantu." Dami menjawab cepat. "Gimana, Dam?" Perasaan Raka mulai tidak enak. "Gue bilang lo nggak akan percaya, anjing!" pekik Dami kesal. Ia mengusap belakang rambutnya dengan kedua tangan. Raka menggeser tempat duduknya. "Ceritanya pelan-pelan. Jangan sampai bikin gue mikir lo lagi belajar ngelawak." Sorot mata Dami berubah tajam hanya dalam dua detik. "Selama ini gue selalu ngelak ada hubungan sama Alenta. Gue yakin lo sama yang lain penasaran, tapi nggak dapat jawaban sampai sekarang." "Nah!" seru Raka menjentikkan kedua jarinya. Dami diam sejenak. Tiga detik setelahnya ia melanjutkan ceritanya. "Sebenernya..., ada hantu yang neror gue, Kka." Sepintas, Dami menarik napas panjang. "Dan hantu itu, teman dekatnya Alenta. Orang yang Alenta sukai. Oh, nggak, lebih tepatnya mereka saling suka." Kedua alis Raka terangkat naik. Matanya agak menyipit, dagunya mengernyit. Untuk beberapa saat Raka merasa seperti orang bodoh. Raka tahu ia tidak sepintar Damar, kakaknya. Akan tetapi, penjelasan Dami susah dicerna oleh otak Raka. Hantu? Teman sekaligus gebetannya Alenta, begitu? "Takut kepala gue keluar asap, Dam." Raka mengomel sembari memegangi kepalanya. "Lo jelasinnya pake bahasa yang lebih dimengerti. Otak gue loading-nya suka lama." Giliran Dami yang mendengkus. "Bisa lebih serius? Lo bikin gue males buat cerita." "Eh, nggak! Nggak! Gue serius, nih." Raka memegangi lengan Dami saat akan berdiri. "Gue, cuma..., antara percaya sama nggak. Hantu? Neror lo dan minta jagain Alenta? Kenapa?" Dami membuka layar ponsel. Ia mencari artikel seorang lelaki meninggal akibat dirampok beberapa bulan yang lalu. Setelah menemukannya, ia memerlihatkannya ke Raka. "Dia nggak beneran dirampok. Tapi dibunuh." Dami bergumam. Intonasi suaranya terdengar rendah. Sepasang mata mengerjap. "Gimana bisa lo tahu kalau korban...," Mulut Raka membulat bersamaan dengan kedua matanya. Ia mulai memahami cerita Dami. "Jangan bilang temennya Alenta, itu korban...." Raka menunjuk ke layar ponsel milik Dami. Ia menyambar ponsel miliknya lantas mengantonginya ke saku jaket lagi. "Iya. Korban perampokan yang lo baca tadi, itu temennya Alenta." "Dia juga yang neror lo? Kok, bisa?!" jerit Raka heboh. Buru-buru Raka membungkam mulutnya sendiri. Ia menyadari suaranya sangat keras. Bisa-bisa membangunkan dua curut yang sedang tidur. "Gue, Fano sama Alenta sekolah di tempat yang sama. Tapi, Alenta masuk saat gue udah cabut dari sekolah." Dami menjelaskan dengan tatapan menerawang. "Gue sama mendiang Fano udah saling kenal dari sekolah. Cuma, hubungan gue sama dia kurang baik. Ya, lo tahu sendiri gue zaman sekolah kayak gimana? Gue keras kepala, egois, sok paling keren." Diam-diam Raka mengejek Dami. Bukan hanya dulu. Tapi sampai sekarang juga begitu! "Intinya, gue sama Fano musuhan dulunya," ujar Dami. "Setelah gue nggak sekolah lagi di sekolah itu, gue pindah sekolah lain dan akhirnya keluar dari rumah Papa. Gue sama Fano dan alumni lain nggak pernah ketemu. Tapi, dua bulan yang lalu gue lihat ada Fano di apartemen gue. Gue heran dia masuk lewat mana. Dan..., gue baru sadar kalau Fano meninggal dua minggu sebelumnya." "Hih!" Raka bergidik. "Dam... lo serius? Lo nggak lagi belajar dongeng, kan?" tanya Raka menggosok lengannya ketakutan. "Gue serius." Dami mengangkat sebelah tangannya. Ekspresi wajahnya sangat serius. "Malah, Fano ada di deket kita dari tadi. Lo pikir gue tahu dari mana Alenta ada di pantai?" "Dari Fano?" tebak Raka. Dami mengangguk. Raka mengambil bantal dan memukulkannya ke lengan Dami. "Yang bener lo, Dam! Nggak lucu bercanda lo, ya! Mana ada hantu di zaman modern ini!" "Lo nggak percaya? Perlu gue—" "EH! NGGAK USAH! IYA, IYA! GUE PERCAYA SAMA CERITA LO!" jerit Raka. Padahal Raka hanya mendengar cerita dan pengalaman Dami diteror mantan rival-nya. Tapi Raka yang lemas. Raka merasakan tubuhnya lemas dan menggigil. Ia merinding. Sangat. Ia kepikiran akan tidur bersama sepasang adik kembarnya di lantai saja. Tidak apa-apa cuma beralaskan karpet bulu. Asal Raka tidak tidur sendirian. "Dia selalu ada di sekitar lo?" tanya Raka menahan takut. "Ya," jawab Dami lalu mengangguk. "Terus, Dam. Kenapa Fano bisa dibunuh? Terus! Kenapa Alenta juga jadi incaran pembunuh Fano?! Mereka salah apa emang?" cerocos Raka tidak sabaran. Dami tidak mengatakan sepatah kata pun selain kedua matanya yang mengerjap. "Fano sendiri nggak tahu apa alasannya dia dibunuh. Apalagi gue?" "Ah...." Raka menyandarkan kepalanya ke punggung sofa dan menarik napas. "Rumit banget hidup mereka. Terus, setelah ini rencana lo apa? Gue tahu banget lo nggak suka ikut campur masalah orang lain." "Gue masih pikirin," jawab Dami. "Tapi yang penting, gue harus cari tahu siapa dalangnya. Dengan begitu, pembunuh Fano bisa dilacak dan bisa tahu apa motifnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN