"Gue mau pulang aja! Lo nggak lihat sekolah kalau lagi malem kayak gimana?!"
"Nggak bisa gitu, dong! Kita udah nyampek sini. Masa lo mau pulang?!"
Salah satu cewek itu menoleh ke sekitar. Seketika bulu-bulu halus di tangannya kompak berdiri. "Gue denger... ada banyak penunggu di sekolah. Salah satunya hantu loker," bisiknya kepada temannya.
Perdebatan dua cewek remaja itu memecahkan kesunyian sekolah di malam hari. Salah satu dari keduanya, sebut saja Agni, tidak hentinya mencengkram tangan Angel—yang ngotot bilang tidak ada hantu di sekolah.
Angel memang dikenal bukan penakut seperti Agni. Cewek berambut sebahu itu santai pergi ke toilet sendirian, padahal, ada banyak cerita horor di sana. Ada yang tahu-tahu terkunci di dalam. Ada yang berpapasan dengan temannya tapi ternyata itu bukan manusia. Melainkan hanya jelmaan hantu yang meniru rupa temannya.
Omong-omong soal hantu kamar mandi, Agni jadi teringat kejadian tahun lalu. Seorang Kakak kelas terlibat adu mulut dengan seorang adik kelas. Katanya, Kakak kelas itu berpapasan dengan si adik kelas. Ponselnya Kakak kelas ketinggalan. Dan si Kakak kelas sangat ingat jika orang yang ia lihat di kamar mandi terakhir kali si adik kelas.
Si adik kelas tentu tidak terima dibilang maling. Cewek itu menjelaskan bahwa dirinya tidak tahu menahu soal ponsel Kakak kelasnya. Bahkan, yang lebih epiknya, si adik kelas mengaku bahwa kemarin dirinya tidak masuk sekolah karena demam. Seketika siswa dan siswi yang menyaksikan perdebatan keduanya melongo. Sontak saja mengaitkannya dengan hantu toilet yang sering menunjukkan wujudnya. Kakak kelas tidak terima. Ia sangat yakin. Tidak mungkin salah. Namun anak-anak di kelas si adik kelas itu mengiakan kalau teman mereka yang dituduh mengambil ponsel Kakak kelas memang tidak masuk sekolah. Anak-anak itu meminta Kakak kelasnya bertanya pada guru secara langsung.
Semenjak hari itu, kepopuleran soal hantu toilet jadi dibahas di mana-mana. Dibicarakan di mana saja. Anak-anak di sekolah itu jadi tidak berani pergi ke kamar mandi sendirian. Bagaimana kalau hantu di sana menyakiti mereka?
"Hih!" Agni bergidik dan memeluk tubuhnya sendiri.
Angel sudah misuh-misuh. Karena Agni penakut, ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk uji nyali di sekolah. Padahal ia ingin membuktikan kalau di cerita horor tentang sekolahnya itu bohongan! Ia bolak-balik ke kamar mandi, bahkan sendirian, mana pernah diganggu, tuh! Mungkin mereka saja yang dasarnya penakut!
"Disuruh pulang sendiri nggak mau," oceh Angel. "Sekarang malah narik gue pulang! Nggak asyik banget lo emang!"
"Eh, sumpah ya, Ngel. Perasaan gue tentang adanya hantu di sekolah emang beneran. Lo nggak ngerasa emang? Nih, lihat! Lihat! Gue merinding parah!" balas Agni menunjukkan lengannya.
Angel mengembuskan napas jengah. "Kalau lo penakut ya udah. Nggak usah ngeracunin gue seolah di sekolah ada hantunya!"
BRAAAKKKK!
"HUAAA! MAMIII!" jerit Agni memeluk lengan Angel sangat erat.
Bukan cuma Agni saja yang terkejut. Tetapi Angel juga. Ia merasakan angin besar melewati wajahnya, membuat bulu kuduknya meremang. Ia merasakan.... hawa berubah dingin. Sangat dingin....
"Yuk, pulang, yuk!" cerocos Agni mengentakkan kedua kakinya. "Hantunya bisa jadi tersinggung karena kata-kata lo barusan!"
Angel mengempaskan tangan Agni. "Apa sih! Mana ada hantu? Mana! Nggak ada!"
Kedua mata Agni membeliak. Selain bisa mendengar suaranya sendiri, ia mendengar sesuatu yang berdetak. Tak..., tak...., tak...., Agni membeku seperti patung. Hanya kedua matanya yang mengerjap, membuat sepasang bulu matanya bergerak naik lalu turun.
"Gue yakin lo juga denger," ujar Agni gemetaran. "Ngel.... gue masih mau hidup. Ayo, pulang... ayo...."
Angel merasakan hal yang sama. Walau Agni tidak bisa melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan Angel. Kedua cewek itu berjalan bergandengan hendak meninggalkan sekolah. Sakit penakutnya Agni, cewek itu menutup kedua matanya sepanjang berjalan melewati koridor.
"Tangan lo dingin banget, Ngel," gumam Agni belum mau melepaskan tangan temannya.
"Lo nggak tahu hawanya dingin banget!" balas Angel, keki.
Angel dan Agni melewati sebuah loker. Suara yang mereka dengar. Seperti bunyi, tak..., tak..., tak..., malah makin jelas ketika mereka hampir mendekati loker.
"Tunggu." Angel memberi jeda. Sebelah tangannya yang dipeluk Agni naik ke udara. "Lo denger, kan? Suaranya jelas banget!"
Agni nyaris kencing di celana. Seluruh wajahnya dibasahi keringat dingin. Jantungnya berdebar berkali-kali lipat akibat menahan rasa takut.
"Ngel...," gumam Agni. Suaranya serak, bercampur suara tangis yang tertahan. "Lo mau ngapain? Ngel...."
Angel melepaskan tangan Agni dan mendekati salah satu loker. Sendirian. Sungguhan sendiri dan meninggalkan temannya yang masih di belakang.
Agni menggerakkan kedua kakinya susah payah. Kakinya lemas mirip jelly. Agni meluruskan sebelah tangannya berniat menggapai bahu Angel.
Suara 'tak' itu berasal dari loker paling ujung. Anehnya, pintu loker sepertinya tidak dikunci. Angel bisa melihat pintunya sedikit terbuka. Angel ragu mendekatinya. Tapi rasa ingin tahu cewek itu sangat menggebu-gebu. Suara 'tak' tidak terdengar lagi. Sampai akhirnya, langkah Angel sungguh berhenti.
Baik Angel mau pun Agni melihat aliran darah yang menetes. Jika diperhatikan berasal dari loker yang terbuka. Agni nyaris pingsan. Membayangkan isi loker tersebut—anggota tubuh seseorang?
"Ngel...." Agni mengerahkan seluruh tenaganya untuk memanggil Angel.
Angel tidak menggubris panggilan Agni. Kedua matanya mengerjap. Ia menganggukkan kepala dengan yakin. Ia harus membuka pintu loker itu. Ia ingin memastikan apa yang ada di dalam sana. Siapa tahu ada siswa atau siswi yang kebetulan juga ada di sini dan membuat konten prank yang sedang ramai dilakukan orang-orang.
Cewek itu mengeluarkan ponsel, mengaktifkan mode video. Untuk berjaga-jaga, ia akan merekam semuanya.
Tangan kanan Angel berhasil menyentuh ujung pintu loker. Tangannya terasa basah dan berkeringat. Cewek itu menggeleng lalu menarik napas. "Awas aja kalau ternyata prank doang!"
Namun, yang dilihat Angel dan Agni bukan hal lucu. Bahkan Angel dengan sangat yakin bahwa yang dilihatnya bukan prank. Begitu pintu loker dibuka, sepasang matanya tertuju ke pasang manik mata seorang lelaki di dalam loker. Angel membanting ponsel. Tubuhnya refleks terdorong ke belakang lantas jatuh ke lantai yang dingin.
"AAAAAKKKHHHHH!"
***
Langit berubah gelap dan berbintang. Rivano mengangkat sebelah tangan lantas menatap arloji di pergelangan tangannya. Ia yakin bahwa tujuan Alenta adalah kemari. Tempat Fano dimakamkan.
Dari panggilan terakhir yang ia terima dari Rayan, Alenta belum ditemukan. Sekarang di rumah bukan hanya ada Tiara. Tapi ada tiga teman Alenta. Mereka... ah, tidak, bukan cuma keluarga dan teman perempuan itu yang khawatir. Tetapi juga Rivano.
Tempat makam Fano adalah tempat terakhir yang Rivano datangi untuk mencari Alenta. Dicari ke mana pun Alenta tidak ketemu. Maka dari itu Rivano curiga perempuan itu datang kemari seperti kemarin. Duduk berjongok di depan makam Fano berjam-jam tidak mengenal lelah.
Apa istimewanya lelaki itu? Setelah Fano meninggal, Alenta masih mengingat Fano. Tidak pernah lupa datang kemari setiap kali tidak memiliki jadwal syuting. Bukan hanya sekali Rivano diajak kemari. Kira-kira dua atau tiga kali? Ya, pokoknya lebih dari satu kali.
"Kamu dikirim ke sana untuk mengawasi Alenta. Membuat perempuan itu sengsara sampai dia dengan sukarela membunuh dirinya sendiri!"
Rivano merasakan dadanya sesak. Kata-kata itu menghantuinya beberapa hari terakhir. Si tua telah mencium gelagat Rivano yang sepertinya berniat mengkhianatinya.
"KENAPA KAMU MALAH MAU MELINDUNGI PEREMPUAN ITU?!"
"Kenapa juga Bapak menculik Nirmala, padahal Bapak punya niat yang sama kayak dia!"
Si tua itu tersenyum sinis. "Karena nggak ada satu pun orang yang boleh melukai Alenta kecuali aku. Siapa pun orang yang berniat menghalangi, akan aku bunuh!"
Rivano menarik napas sejenak lalu mengembuskannya. Obrolan terakhir ia dan si tua sangat menganggunya. Membuat Rivano jadi tidak fokus saat melakukan apa pun. Ia jadi lebih sering melamun dan berakhir ditegur Tiara atau bahkan Alenta sendiri.
"Kalau kamu nggak bisa menjalan rencana sesuai yang kita berdua susun, lebih baik kamu pergi. Kamu hanya mengacaukan rencana kita!"
Kedua mata Rivano memejam. Kepalanya hampir pecah. Di satu sisi ia tidak bisa menyakiti Alenta. Namun di sisi lain, Rivano tidak bisa membiarkan perempuan itu hidup lebih panjang setelah menghancurkan hidupnya.