"Ternyata lo beneran di sini."
Suara berat seorang lelaki membuyarkan lamunannya. Rambut lurus hitam Alenta berterbangan, menutupi sebagian wajahnya namun ia tampak tidak terusik sama sekali.
Kedua kakinya sontak berdiri. Sepasang matanya mengerjap kala bertemu dengan kedua mata hitam Dami yang pekat dan dingin. "Tahu dari mana kalau gue ada di sini?" tanya Alenta. Jelas ia bingung.
Dami lantas tidak menjawab. Melainkan menatap sosok lain di sampingnya. Sosok itu tidak berhenti mencemaskan perempuan di depannya ini. Memohon kepada Dami terus menerus agar mau pergi mencari Alenta.
Ya. Dami menemukan keberadaan Alenta. Di sebuah pantai—sendirian. Duduk tanpa seorang teman dan membiarkan angin mengganggu rambut panjangnya.
Sosok yang memberitahunya di mana Alenta adalah Fano. Jika bukan dituntun lelaki itu kemari, Dami mana tahu.
"Kakak sama manajer lo cari lo ke mana-mana. Mereka telepon gue dan minta buat bantu cari lo." Dami melangkah menuju ke arah Alenta.
Tidak mungkin Dami memberitahu kenapa ia bisa menemukan Alenta. Karena selain bisa dianggap gila, Alenta tidak akan sepercaya itu. Yang ada, Alenta malah mengutuknya. Atau bisa jadi ia akan dimaki perempuan itu karena menyebut nama orang yang telah meninggal.
"Kenapa harus lari kalau lo nggak salah?"
Pertanyaan Dami menyinggung Alenta. Perempuan itu memegangi rambutnya susah payah. "Lari lo bilang?"
Dami bersedekap. "Lalu... gue harus menyebutnya apa?" tanyanya, tersenyum sinis. "Daripada lo lari padahal lo nggak salah. Kenapa nggak lo hadapi aja? Kalau lo begini, itu sama lo membenarkan berita buruk yang beredar."
Alenta duduk lagi. Ia memilih tidak menghiraukan cerocosan lelaki itu. Karena ia tahu, berdebat dengan Dami tidak akan ada habisnya. Lelaki itu selalu merasa paling benar.
"Mau sampai kapan lo di sini?" tanya Dami, dingin. Kedua matanya tertuju lurus ke pantai.
Alenta tidak menanggapi pertanyaan Dami. Perempuan itu menekuk kedua lututnya. Tatapannya tampak sendu, seolah sedang merindukan seseorang. Dami sontak menengok ke Fano. Hantu lelaki itu berjongkok di belakang Alenta dengan tatapan nelangsa. Dami mendengkus. Seperti muak melihat Fano menatap Alenta penuh cinta. Fano tidak ingat bahwa dirinya bukan manusia lagi? Dasar bodoh!
"Lo belum jawab pertanyaan gue tadi. Lo tahu dari mana gue ada di sini?" Kali ini Alenta menengok ke tempat Dami duduk. "Nggak ada yang tahu gue sering dateng kemari selain...,"
"Siapa?" tanya Dami pura-pura tidak tahu.
Alenta mengatupkan bibir dan menelan kata-katanya lagi. Tidak ada untungnya Alenta menceritakannya kepada Dami. Toh, Dami tidak akan peduli tentang dirinya atau tentang orang lain.
"Gue denger... lo didepak dari proyek film pertama lo, ya?"
Di sebelah Alenta, Fano membeliakkan kedua matanya. Entah karena Dami yang tidak pandai mencari topik saat ngobrol berdua bersama seseorang. Atau, Dami malah sengaja membuat Alenta teringat lagi tentang proyek filmnya yang gagal?
"Anjing, lo, Dam!" maki Fano mengangkat kedua tangan ke udara seolah ingin memukul kepalanya Dami.
Alenta tahu-tahu mendengkus. "Cepet banget tersebarnya ya." Lalu, keduanya kompak menatap ke pantai. "Padahal baru dua hari lalu gue diberitahu gue didepak dan diganti orang lain."
"Lo sedih?"
Pertanyaan Dami agak aneh diterima di telinga Alenta. Seakan Dami peduli kepadanya. "Sedih, sih.... nggak. Lebih tepatnya kecewa." Alenta bergumam, setengah mendengkus lantas tertawa sedih. "Kayak lo dikasih kesempatan buat melakukan hal baru, tapi lo diminta berhenti saat lo lagi berusaha. Kecewa nggak, sih? Gue seolah nggak dipercaya kalau gue bisa."
Dami meluruskan satu kakinya. "Lo didepak bukan karena dianggap nggak mampu. Tapi, alasan sebenernya karena lo dianggap orang jahat."
Fano menepuk keningnya lumayan keras. Mulutnya Dami, astaga! Kenapa laknat sekali! Bisa tidak, Dami mengontrol mulutnya saat berbicara pada seseorang yang tengah bersedih?
Alenta sedang dalam masalah. Padahal jelas bukan karena kesalahan Alenta Nirmala hilang. Setelah didepak dari proyek film pertamanya, Alenta kini dituntut oleh keluarga Nirmala. Siapa yang tidak sedih dan stress? Sekuat apa pun Alenta menahan diri untuk tidak marah dan membludak, pada akhirnya Alenta merasakah lelah.
Helaan napas Alenta di sampingnya terdengar jernih di telinga Dami. Keduanya belum membuka suara lagi. Apalagi Alenta lebih banyak diam dan menatap pantai tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Nggak ada salahnya lo mau marah." Dami bergumam di samping Alenta. Intonasi suaranya sangat lirih. Hampir seperti bisikan yang bisa saja ditarik suara angin di sekitaran pantai. "Sesekali lo harus belajar caranya mengeluarkan emosi. Apa enaknya lo tahan terus, sih? Bisa berubah jadi emas emang?"
Tak disangka, reaksi Alenta malah mengejutkan Dami. Alenta tertawa, terbahak, tetapi jika didengar lebih jelas, itu bukan jenis tawa sedang bahagia.
"Gue pikir lo salah makan sesuatu," ujar Alenta. "Tiba-tiba ngajarin gue soal meluapkan emosi. Gue harus bersikap kayak gimana emangnya? Kayak lo yang apa-apa harus diluapkan pake teriak atau banting barang?"
Dami bungkam. Kata-kata Alenta menohok sekali.
"Beda orang, beda cara menenangkan diri. Dan diam, itu salah satu cara gue buat meredam emosi."
Dami manggut-manggut. "Oke kalau itu emang cara lo. Gue hargain itu."
"Hm, terima kasih." Alenta membalasnya.
"Tapi..., gue mau berbagi apa yang dibilang sama seseorang." Dami membuka mulutnya lagi. Kepalanya bergerak ke arah Alenta dan menatap sepasang mata perempuan itu. "Lo bisa pilih satu orang yang bisa lo percaya pegang rahasia lo. Yang bisa lo jadiin tempat lo berkeluh kesah. Sesederhana itu. Nggak perlu banyak teman, asal lo nemu orang yang tepat."
Detik itu Alenta tertegun lama. Kata-kata yang Dami ucapkan barusan terasa sangat famillier. Ia pernah—ah, tidak, tapi sering mendengar kata-kata itu beberapa tahun yang lalu. Bahkan sebelum orang itu meninggal. Fano. Ya. Barusan yang diucapkan Dami hampir, oh, tidak, tapi sama persis.
"Dam...," gumam Alenta tersentak.
"Apa?" Dami bertanya balik.
Alenta menelan ludah susah payah. "Seseorang itu siapa?"
Sebelah alis tebal Dami terangkat naik. "Maksud lo?"
"Lo bilang, itu pesan seseorang. Gue boleh tahu orangnya siapa?" tanya Alenta.
Dami melirik Fano. Ekspresi wajahnya datar. Bahkan Fano bisa melihat Dami mendecakkan lidahnya. Tak disangka, Dami mengatakan, "Teman gue. Tapi dia udah meninggal dibunuh orang."
***
"Lo bisa kemari kapan pun lo mau, Len. Di sini ada Wino yang bisa lo ajak ngobrol. Biar tingkahnya kadang absurd, tapi adek gue lumayan berguna, kok."
BUGH!
"ANJ—WINO! KENAPA KEPALA GUE DITABOK PAKE BANTAL!" jerit Raka memegangi kepalanya.
"Masih beruntung pake bantal! Kalau pake kakinya Areas, gimana?!" balas Winona sambil mendelik.
Areas tidak terima. Padahal ia diam sejak tadi, kenapa masih dibawa-bawa, sih?
"Kenapa gue dibawa-bawa, Winooo!" pekik Areas.
"Kalau pake kaki gue, ntar gue durhaka sama Kak Raka, dong!" balasnya, sengit.
Oalah, punya adik kok ya modelannya seperti Winona. Sekte mana lagi yang mengajarkan memakai kaki orang lain untuk memukul kakaknya agar tidak mendapat dosa?! Adiknya siapa ini, astaga!
Walau di rumah ini selalu ramai, entah karena Winona dan Areas berdebat. Atau Raka yang ikut berdebat dengan sepasang adik kembarnya. Rumah ini terlihat sangat hangat. Raka yang dikenal cerewet, humoris, pandai mencairkan suasana, ternyata sangat menyayangi Winona dan Areas—dengan caranya. Ya, seperti barusan. Saling meledek dan menjahili adalah caranya Raka. Ia bilang begini bukan berarti Rayan tidak hangat dan perhatian padanya. Hanya saja..., Alenta merasa ia dan Rayan sedikit lebih jauh. Setiap hari Rayan di sibukkan pekerjaannya sebagai dokter. Sementara Tasya, Alenta merasa tidak enak jika harus merepotkan Kakak iparnya terus. Tasya sudah cukup di sibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah tangga dan mengurus Ratu, putri semata wayang Tasya dan Rayan.
"Angkat gue jadi adek lo aja, Kak Alenta!" seru Winona. Suaranya sengaja dikeraskan. "Gue nyerah jadi adeknya Kak Raka!"
Raka menunjuk Winona, bersiap mengancam adiknya. "Bener ya? Gue aduin Bang Damar, nih!"
Winona mengerucutkan bibir. "Gue bilangnya nggak mau jadi adek lo. Bukan adeknya, Bang Damar!"
"Gue juga mau deh, Kak Alenta!" sambung Areas ikut-ikutan saudara kembarnya.
Alenta cuma tersenyum canggung. Lagi, ia bingung harus memberikan reaksi seperti apa agar tidak dianggap aneh nantinya.
"Lo, lihat," tunjuk Dami ke Alenta. "Candaan kalian bikin dia mikir keras. Lo bertiga mau bikin Alenta nambah beban?!"
Seperti tahu bahwa dirinya sedang berpikir bagaimana c cara bereaksi, Dami menyembur Raka serta sepasang adik kembarnya. Alenta meringis. Diam-diam berterima kasih kepada Dami karena sudah mau mewakilinya berbicara.
"Kita lagi ngajak Kak Alenta bercanda, Bang Dami. Gimana bisa bikin nambah beban?" celetuk Winona tidak takut. "Belum aja gue ajak Kak Alenta ngumpetin wik guru gue di sekolah!"
"Heh!" tegur Raka, mencubit pipi Winona.