Buntut dari kasus hilangnya Nirmala belum kunjung selesai juga. Kali ini keluarga perempuan itu membuat pernyataan di depan wartawan dan media—bahwa mereka akan menuntut Alenta.
"What?!" Seperti itulah reaksi Tiara kala menonton acara infotainment pagi ini.
Menuntut Alenta? Cuma karena bukti foto artisnya menatap Nirmala tanpa ekspresi?
Tiara menggigit apel di tangan. Sambil mengomel dan mengutuk keluarga Nirmala yang koar di sana-sini, Tiara menghubungi nomor Alenta. Jika tidak diberitahu, Alenta tidak akan tahu kalau dirinya sedang menjadi gunjingan satu Indonesia. Seharusnya pihak Alenta yang menuntut mereka! Menuduh tanpa bukti jelas!
Dugaan Tiara, Alenta pasti akan memberi reaksi seperti biasa. Santai, tenang, seakan tidak peduli padahal perempuan itu tengah dikecam banyak orang. Karena berita buruk yang menyeret namanya, Alenta kehilangan beberapa kontrak pekerjaan. Salah satunya didepak dari proyek filmnya. Ya. Film yang seharusnya menjadi debut aktingnya—sekaligus menjadi lawan main Nirmala Lencana.
Tiara mendengkus. Menggigit apelnya lagi dan terus mengomel tidak henti. Panggilannya belum direspons hingga panggilan ke lima. Tiara menarik benda persegi itu, mengetik beberapa kata pada layar ponselnya untuk dikirim ke nomor Alenta.
"Manusia macam apa Alenta ini!" omel Tiara. Kedua kakinya ia angkat ke atas sofa dan melipatnya. "Udah sampai dituntut, lho! Tapi masih bisa santai? Kalau gue ada di posisi dia, gue bakal bikin perhitungan! Nama Alenta udah dipandang buruk sekarang!"
Kedua bahu Tiara turun dengan lesu. Ia meletakkan buah apel ke atas meja lantas menggaruk kulit kepalanya. Kalau Alenta terus diam dan membiarkan orang-orang menyudutkannya, bisa jadi, cepat atau lambat Alenta akan kehilangan segalanya. Kepopuleran, karir yang cemerlang, dan... ditinggalkan beberapa penggemar yang menganggap Alenta bersalah. Karena Alenta diam, tidak salah kalau ada banyak orang yang termakan berita buruk itu.
"Nggak bisa dibiarin, nih!" Tiara melompat turun dari sofa. "Alenta sekali-kali harus diajarin jadi macan! Geregetan banget gue, ya Tuhan! Dikasih makan apa sama Rayan, sih! Masa, ada orang yang nggak punya emosi!"
Tiara memakai sandal rumahannya. Berjalan seradak-seruduk menuju ke kamar bersiap ganti baju sebelum pergi menemui Alenta. Jika Alenta tidak bergerak cepat, maka Tiara yang akan maju. Sebagai manajer Alenta, Tiara berhak mengambil langkah jika seseorang mengusik artisnya. Apalagi Alenta tidak bersalah. Tiara berani jamin itu!
***
Tidak jauh berbeda dari Tiara. Natla dan Rindu duduk sebelahan dan sibuk berkutat dengan ponsel di tangan masing-masing. Tahu, tidak, apa yang dilakukan kedua perempuan itu beberapa hari terakhir ini? Main game? Oh, bukan. Baik Natla mau pun Rindu tidak hobi. Oh, atau sibuk belaja online? Tidak juga. Natla tidak punya belanja. Kalau Rindu... ia sedikit cerewet saat berbelanja. Dan belanja online bukan kebiasaan Rindu, karena, apa yang dipasang dengan barang yang datang kebanyakan sangat beda bentukannya. Bedanya seperti langit dan bumi! Mengerikan!
Yang dilakukan Natla dan Rindu adalah membalas komentar jelek tentang Alenta. Kedua perempuan itu membela temannya habis-habisan. Tidak usah ditanya lagi. Mereka sangat yakin. Lebih dari yakin jika Alenta tidak mungkin ada hubungannya dengan kasus Nirmala yang hilang.
"Gila! Nirmala kasih makan penggemarnya apaan sampai belain segitunya?!" seru Rindu lalu mendecakkan lidah. "Kalau kita, kan, jelas. Lo, gue, sama Alenta temenan dari lama. Kita tahu Alenta kayak gimana."
Natla mengangguk sebagai tanda setuju. "Mukul nyamuk aja masih pake mikir si Alenta!"
Rindu menepuk-nepuk kedua pahanya. Ia teringat kejadian beberapa tahun yang lalu. Kala itu mereka masih duduk di bangku SMA. Ada nyamuk yang hinggap di lengan kirinya. Rindu berseru sambil menunjuk nyamuk di lengan Alenta. Saat Rindu akan memukulnya, Alenta menahan tangan Rindu lalu menggelengkan kepalanya. Rindu mengerutkan dahi bingung. Dengan perlahan Alenta menurunkan tangan Rindu. Agak menundukkan kepalanya, Alenta meniup-niup lengannya sampai nyamuk itu pergi.
"Bener!" Kepala Rindu terangguk semangat. "Gue masih heran sampai sekarang kalau diingat lagi."
"Makanya, Rin...." Natla bergumam. Mengambil rehat sebentar membalas komentar di sosial media. "Waktu berita itu nyebar, gue nggak pernah percaya. Orang yang kenal Alenta dengan baik, gue yakin bakal berpendapat hal yang sama."
Rindu berubah diam. Ia ikut rehat sejenak. Diletakkan ponselnya ke samping tempat duduknya. Kedua kakinya ia naikkan ke sofa dan memeluk menggunakan kedua tangannya. "Hhhh..." Perempuan itu menarik napas panjang. "Akhir-akhir ini Alenta ngelewatin banyak masalah, ya?"
Natla berpikir hal yang sama. "Gue juga mikir gitu."
"Kayak, bertubi-tubi, gitu. Baru beberapa bulan Fano meninggal. Nggak lama Alenta kena teror beberapa kali sampai melibatkan Dami. Sekarang.... muncul masalah baru lagi."
Mendengar nama Dami disebut. Natla melebarkan kedua matanya lalu menjentikkan jari. "Nah. Gue tahu sekarang kita harus pergi ke mana dan nemuin siapa!"
Natla melompat turun dan menyambar ponsel. Rindu mengangkat wajah, menatap Natla kebingungan. "Apa? Kenapa tangan gue ikut ditarik?"
"Cari Dami!" seru Natla menggebu-gebu. "Kita harus minta penjelasan ke Dami! Kan, karena dia juga Alenta digosipin yang aneh-aneh!"
Rindu menggeleng cepat. Ia menolak ide Natla. "Jangan, La! Kalau Davian tahu, kita bisa kena marah!"
"Halah! Davian doang!" Natla mengibaskan tangan. "Lo kalau ngikutin saran Davian, paling kita disuruh tenang, duduk, dan nanggu—nggak tahu sampai kapan!"
Benar juga sih. Mengikuti cara orang setenang Davian sama saja membiarkan Alenta makin disudutkan. Belum tentu diamnya Alenta bisa menyudutkan kemarahan penggemar Nirmala. Malah yang ada semakin menjadi.
"Ayo! Lo mau ikut gue cari Dami atau nggak?!" Natla menarik resleting jaketnya dan tidak lupa mengantongi ponsel ke dalam saku celana. "Kalau ikut, ayo buruan! Gue mau bikin perhitungan sama Damiii!"
Rindu menggigit bibir bawahnya gelisah. Ragu juga, sih. Bagaimana kalau Davian tahu? Bisa-bisa mereka kena marah. Atau malah mengadukan mereka pada orang tua dan Oma mereka.
"Rin! Ayo!" seru Natla selesai memasang sepatunya.
"Eh? Iya, iya!" balas Rindu. Ia tersadar. Mau tidak mau Rindu pun ikut. Bukan. Ia bukan mau ikutan melabrak Dami. Lebih tepatnya berjaga-jaga jika Natla membuat kekacauan. Kemungkinan terburuknya, Rindu takut Natla kebablasan membunuh Dami, eh. Astaga! Ya ampun, amit-amit! Kenapa ngeri sekali apa yang dipikirkan di kepalanya!
***
"Hah? Alenta hilang?!" pekik Tiara memegangi kepalanya.
Seisi rumah kebingungan mencari keberadaan Alenta. Pasalnya, perempuan itu tidak ada di kamarnya. Tidak ada di ruangan mana pun. Tasya yang hendak memanggil Alenta untuk sarapan bersama, pun, terkejut mendapati kamar adik iparnya telat kosong. Kamarnya sangat rapi. Dan yang membuat mereka panik, Alenta meninggalkan ponselnya.
Rayan sibuk menelpon ke sana sini. Orang yang dihubungi pertama kali adalah Fano—astaga! Rayan bahkan lupa kalau Fano telah meninggal! Ia baru menyadari saat panggilannya diangkat oleh Mama lelaki itu. Rayan seperti orang linglung. Tertawa sinis kepada dirinya sendiri.
"Tenang, Kak," ujar Tasya menenangkan suaminya.
"Mana bisa aku tenang, Sya?" Rayan menoleh ke istrinya. Tatapannya berubah ketakutan. "Gimana kalau Alen ngelakuin sesuatu yang buruk?"
Tasya menarik napas panjang tanpa kentara. Ia merangkul bahu Rayan. Sementara itu, Tiara sibuk menghubungi beberapa kenalan Alenta. Dan Rivano? Lelaki itu berinisiatif pergi mencari Alenta ke luar rumah.
Dituduh, disudutkan, bahkan dikaitkan hilangnya seseorang, jelas menambah beban tersendiri. Alenta pasti tertekan atas komentar buruk yang ditinggalkan penggemar Nirmala di kolom komentar akun sosial medianya.
"Coba aku telepon Davi sama yang lain, ya?" bujuk Tasya. "Kak Rayan udah hubungi mereka belum? Siapa tahu Alen pergi nemuin Natla atau Rindu."
"Belum." Rayan menggeleng lesu.
"Aku hubungin mereka dulu. Tunggu," kata Tasya mengeluarkan ponsel.
Tidak berbeda dari Tasya, Tiara juga berbicara dengan seseorang di telepon. "Oh, nggak ada masalah, kok." Tiara menggaruk ujung keningnya. "Alen bilang ada janji sama temen, gitu. Tapi HP dia ketinggalan di rumah. Mau gue anter, gue malah lupa nanya temen yang mana. Siapa tahu itu lo." Tentu saja apa yang dikatakan Tiara barusan hanya alibi semata. Jangan sampai ada orang selain keluarga yang tahu Alenta menghilang. Bisa-bisa akan dikaitkan lagi dengan Nirmala.
"Ah, gitu ya...," gumam Tiara. "Oke. Makasih ya. Sori, gue jadi ganggu lo."
Selepas mendapat jawaban dari orang yang Tiara telepon, Tiara mengakhiri panggilan setelah mengucapkan terima kasih.
"Davi sama Natla nggak angkat teleponnya." Tasya memberitahu suaminya. "Bentar, aku telepon Rindu sekarang ya."
Rayan seolah tidak memiliki semangat hidup. Ia merasakan tubuhnya lemas. Ia jadi sangat ketakutan. Rayan jadi teringat pada mendiang mamanya. Bagaimana kalau Alenta akan mengambil tindakan paling buruk? Seperti yang dilakukan mendiang Mama mereka dulu.
Rayan menarik napas lalu mengembuskannya perlahan. Ia meletakkan sebelah tangan ke dadaa. Dalam hati ia berdoa, memohon kepada Tuhan, agar selalu melindungi adiknya di mana pun berada.