Waktu yang dimiliki Alenta tidak banyak. Kurang dari dua jam ia harus cepat pulang sebelum Tiara menerornya lewat telepon dan chat.
Ia masih ada di rumah Raka. Lelaki itu dan kedua adiknya menjamunya dengan banyak makanan dan minuman sampai camilan dari berbagai macam jenis. Salah satunya: keripik. Di atas meja ada tiga bungkus kosong keripik bersamaan botol soda yang berceceran.
"Ehem..." Alenta berdeham. Ia menegakkan posisi duduknya.
Bukankah mereka terlalu lama basa-basi? Alenta melirik Dami yang diam sejak tadi. Membiarkannya ikut diam mirip orang linglung karena bingung harus memberi reaksi seperti apa. Alenta boleh nimbrung? Tidak mungkin. Itu hal mustahil yang dilakukan Alenta. Jika tidak ada orang yang mengajaknya ngobrol lebih dulu, Alenta mana pernah membuka suaranya. Atau.... Alenta pura-pura tertawa saja? Oh, itu konyol! Bahkan Alenta sibuk mencari di mana letak lucunya sampai lima orang di depannya tertawa hingga terbahak.
Takkk!
Suara tawa kelima orang itu tahu-tahu berhenti. Raka menoleh dan mengerjakan matanya. Adam tersedak keripik yang dikunyahnya sampai salah meminum air dari botol milik—Areas—yang sengaja diisi ikan cupang. Alenta meringis. Menggerayangi keningnya sendiri melihat tingkah absurd adik-adiknya Raka. Kenapa tidak menaruhnya ke dalam akuarium saja? Kenapa dimasukkan ke dalam botol bekas air mineral?
"IKAN GUEEE! BANG! MUNTAHIN!" Areas bangun dan menunjuk Adam, heboh.
Kedua mata Adam mendelik. Tangannya masih memegangi botol milik Areas. Semuanya melongo termasuk Alenta. Raka mematung dengan kedua mata membeliak lebar. Mulut Winona sampai mangap hingga snack yang akan ia kunyah jatuh ke atas meja.
"HAHAHA! ANJIR!"
Bukan Raka namanya jika tidak heboh. Areas mencak-mencak, menunjuk, kemudian melompat seperti anak kecil. Dan, Adam? Lelaki itu langsung memuntahkan air dari dalam mulutnya.
Ikan cupang yang hampir ditelannya hidup-hidup menyembur keluar dan membasahi lantai. Areas memekik, menatap ikan perliharaaannya megap-megap nyaris mati karena hampir ditelan Adam.
"Hajar, Res!" seru Raka mengompori adiknya. "Ini pelecehan ikan namanya!"
Abra memijat keningnya, mulai jengah juga.
Sementara Winona.... "Bodoh, kok, diborong semua, Bang! Lo lebih cocok jadi pelawak, nggak, sih?"
Oalah. Sama saja ternyata.
Bukkk! Bukkk!
Sekali lagi, Dami memberi isyarat agar manusia-manusia ajaib di depannya itu berhenti membuat keributan. Alenta seketika melirik ke Dami. Dipikir lagi, Dami itu cuma tamu. Tapi, kok ya bisa Raka sama yang lain jadi takut?
"Mau sampai kapan bercandanya?" tegur Dami, galak.
"Eh, anu, Bang...." Adam menelan ludah susah payah.
"IKAN GUE HAMPIR MATI DITELAN BANG ADAM!" pekik Areas duduk di lantai.
Dami menggerakkan tangan dan menunjuk keduanya. "Lo berdua, selesain masalah kalian di tempat lain!"
Adam beranjak dari tempat duduknya dan menarik tangan Areas. Areas telah memasukkan ikannya ke dalam tempatnya kembali. Adam menarik tangan Areas lebih kuat sambil berbisik. Entah apa yang dibisikkan lelaki itu pada Areas.
"Hei." Suara berat Dami memenuhi ke seluruh ruangan.
"Kenapa, Bang? Gue sama Areas udah mau—"
Satu jari Dami menunjuk ke Winona. "Bawa bocah ini sekalian."
Winona berhenti mengunyah keripiknya. Tangannya berhenti mencomot makanannya. "Gue nggak ikutan bikin rusuh, Bang!"
"Bawa, sana." Dami merendahkan intonasi suaranya.
Raka mengedipkan mata sebagai isyarat. "Udah, ikutan Adam sama Areas sana, No...."
"Ish! Nama gue Winona, Bang!" protes Winona tidak terima.
"Iya, Nona Sayang, Nona adik, Kakak Raka sama Abang Damar yang cantik. Ikut sama dua curut itu, ya?" tunjuk Raka ke Adam dan Areas.
"Nggak mau! Gue masih mau di sini! Kenapa sih? Janji nggak bakal bikin rusuh!"
Raka mengacak rambutnya mulai kesal. Terpaksa, ia harus merogoh kantongnya untuk menyogok Winona agar mau pergi bersama Adam dan Areas. "Kemaren mau tiket konser idola lo, kan? Oke, gue beliin ntar! Yang VVIP kalau perlu!"
Winona langsung semangat. "Ih! Bener, Kak?"
Areas mau protes. Ia iri sama Winona. "Kak! Gue—"
Adam mencubit lengan Areas. "Udah. Lo urusannya sama gue."
Wajah Areas berubah sumringah. "Lo mau beliin gue apa Bang buat tanda nyogok?"
"Es cendol, depan sekolah lo," jawab Adam, membuat Areas mencebikkan bibirnya.
"Udah, sana ya. Nanti Kakak beliin. Kalau perlu Kakak booking sekarang." Raka mengeluarkan ponselnya.
Setelah diiming-imingi tiket konser idolnya, Winona baru mau pergi. Raka menarik napas lega. Tiga perusuh itu akhirnya pergi. Berasa lebih lenggang, tidak sesak, padahal dikurangi tiga orang saja.
"Ehem." Alenta berdeham untuk kedua kalinya.
Ketiga pasang mata lelaki di dekatnya otomatis mengarah ke Alenta. Dami masih memasang ekspresi datar. Raka dan Abra jadi duduk tegap seolah sedang menyimak sesuatu.
"Kalian buat gue ke sini pasti ada sesuatu yang mau dibahas, kan?" tanya Alenta menatap satu per satu lelaki itu.
"Iya, Len," jawab Raka.
"Tentang apa?" Alenta bertanya tanpa basa-basi.
Abra melirik Dami. Raka pun sama.
"Lo aja yang jelasin, Dam," ujar Raka menyenggol kaki Dami. "Kita di sini cuma bantu lo sediain tempat sama ngumpulin informasi doang."
Dami terlihat ogah-ogahan. "Gue..., maksudnya, mereka bantuin kita buat ngumpulin informasi dan bukti soal hilangnya Nirmala."
"Kita? Nirmala lagi?" Alenta bersedekap. Tatapannya berubah sinis. "Berapa kali gue bilang. Gue nggak ada hubungan apa pun sama hilangnya Nirmala."
"Ya. Emang nggak ada." Dami menimpali. "Tapi, lo sama gue jadi dituduh! Apalagi lo. Sampai diteror penggemarnya, kan?!"
Kepala Alenta agak terangkat ke atas. Menatap lampu hias di langit-langit rumah. Napasnya sempat memburu karena terbawa emosi. Alenta diam sejenak. Setidaknya beri ia waktu lima detik saja untuk meredam emosinya.
"Gue sama Bang Raka nemu kejanggalan sama kasusnya Nirmala," ujar Abra jauh lebih tenang saat menjelaskan. "Gue, Bang Raka sama Bang Dami minta lo ke sini bukan maksud nyalahin lo. Apalagi sampai nuduh lo dalangnya. Karena, kita tahu lo bukan orang jahat."
"Lo bisa aja nggak merasa terganggu disudutkan di sana sini. Tapi, keluarga dan temen lo?" sambung Raka.
Bibir Alenta mengatup rapat. Ia jadi teringat pada kakaknya. Rayan sangat marah setelah dirinya dikaitkan dengan kasus hilangnya aktris terkenal Nirmala. Apalagi saat netizen dan penggemar perempuan itu jadi menuduhnya sebagai dalang atas menghilangnya Nirmala, Rayan tambah naik darah. Rayan bahkan mengancam akan menuntut orang-orang yang sudah menyebarkan berita buruk tentang adiknya!
Bukan hanya satu atau dua orang yang sedang mereka hadapi. Menuntut orang-orang yang telah menyebarkan berita buruk tentangnya, bukan menjadi jalan keluar. Maka dari itu Alenta pura-pura tidak peduli. Ia mengatakan kepada Kakak, teman, dan manajernya kalau masalah ini akan segera berakhir. Cepat atau lambat kasus hilangnya Nirmala akan tenggelam. Mereka tinggal menunggu waktu saja. Toh, Alenta tidak merasa dirinya bersalah.
"Nirmala diketahui mengalami halusinasi parah." Abra menjelaskan sambil menatap Alenta.
"Apa hubungannya sama dia yang hilang?" tanya Alenta.
"Lo dengerin aja Abra jelasin sampai selesai," sahut Dami, ketus.
"Beberapa bulan terakhir, Nirmala mengonsumsi obat diet. Awalnya baik-baik aja. Tapi, beberapa minggu terakhir sebelum dia hilang, Nirmala mengalami gejala aneh. Dia jadi sering gelisah, terus, insomnia..." Abra memberi jeda sekitar dua detik untuk menarik napas. "Efeknya sampai bikin dia berhalusinasi. Dan setelah diselidiki, ada orang yang mengganti isi obat dietnya sama bahan berbahaya."
"Jadi?" tanya Alenta tidak sabar.
"Kemungkinan, dalang di baliknya hilangnya Nirmala, orang yang sama menukar obat dietnya dia," jawab Abra.
"Siapa?" tanya Alenta lagi.
Abra menatap kedua temannya. Raka cuma mengangguk. Sementara Dami malah melengos lantas mendengkus dari tempat duduknya.
"Untuk membersihkan nama lo sama Dami, kita harus dapet bukti yang lebih kuat," tambah Abra.
"Kalau gitu, siapa dalangnya?" kejar Alenta.