Raka Vs Adam

1074 Kata
Rivano menatap dua orang yang akan masuk ke dalam mobil. Mata hitam legam Rivano sama sekali tidak berkedip barang sebentar saja. Alenta memilih ikut ke mobil Dami ketimbang pulang bersama dirinya. Ia sempat mengingatkan Alenta bahwa perempuan itu telah memiliki jadwal sore harinya. Kalau sampai Tiara tahu, Tiara bisa mencak-mencak dan Rivano terkena omelan juga. Alenta meyakinkan Rivano kalau ia akan pergi sebentar saja. Hanya butuh satu atau dua jam lalu ia akan pulang setelah urusannya selesai dengan Dami. Rivano menunduk lalu memiringkan kepala menatap sebelah bahunya sendiri. Sebelum Alenta pergi, Alenta menepuk bahunya dan mengatakan, "Lo bisa pulang buat istirahat. Kalau gue butuh sesuatu, lo pasti gue hubungi." Alenta berbicara padanya sambil menatap wajah Rivano. Kelima jarinya terangkat, mengusap tulang pipinya lalu turun menyentuh ke sudut bibirnya. Akh, sialan! Bahkan sisa lukanya masih terasa sakit. Rivano masih bisa melihat warna kebiruan berada di wajahnya. Terutama di tukang pipi. Ditambah sudut bibirnya yang robek. Mobil Dami meninggalkan area pemakaman setelah meminta Alenta pergi bersama lelaki itu. Rivano menurunkan tangan. Namun, kedua matanya masih terarah ke mobil Dami yang kian jauh. Entah kenapa.... Rivano merasa tidak rela Alenta pergi bersama lelaki lain. *** Alenta dibawa ke sebuah tempat oleh Dami. Bukan ke apartemen Dami, melainkan ke sebuah rumah yang cukup besar dengan pagar tinggi. Kalimat yang keluar dari mulut Dami hanya, "Gue mau ajak lo ke suatu tempat." "Ke mana?" tanya Alenta. Tentu, itu adalah pertanyaan wajar. Karena Dami tidak menyebutkan nama tempat atau mungkin ke rumah siapa. Dami sungguhan tidak bicara lagi selain melangkah dulu. Sampai keduanya keluar dari area pemakaman, Dami berjalan ke arah mobilnya sendiri lantas membuka pintunya sebagai isyarat Alenta harus ikut dengannya. Rivano sempat menahan langkah Alenta. Tetapi Alenta tetap berjalan ke mobilnya setelah mengucapkan beberapa kalimat sebelum masuk ke dalam mobil Dami. Dami berjalan di depan Alenta. Sementara Alenta berada di belakang lelaki itu sesekali menengok ke sekitar. Dalam hatinya bertanya, rumah siapa ini? Apa rumah orang tua Dami? Tapi.... untuk apa membawanya kemari? Kedua kaki Alenta berhenti bergerak. Tiba-tiba dari sebuah arah muncul bola basket yang menggelinding dan berhenti tepat di depan kaki Dami. Otomatis Alenta ikut diam. Tidak lama, seorang lelaki remaja keluar lalu menyapa Dami sok asyik. "Halo, Mas Bro!" sapa lelaki remaja itu mengangkat sebelah tangan ke udara. Dami membalasnya dengan mengangguk sepintas. Suara gerabak-gerubuk terdengar. Alenta menolehkan kepalanya. Kali ini muncul lagi sosok gadis remaja yang berlarian cepat dan berhenti mendadak hingga menabrak punggung lelaki remaja tadi. Kedua mata Alenta mengerjap, menatap gadis di depannya dengan tatapan takjub. Gadis itu sangat cantik. Walau gaya berjalannya agak gagah, tapi potongan rambut hitam sepanjang punggung, kulit putih pucat, dan sepasang bola mata yang hitam membuat gadis itu terlihat sangat cantik, mirip seperti boneka. "Wino!" seru lelaki remaja tadi, menggerakkan punggungnya mendorong wajah gadis tadi. Gadis tadi memukul bahu lelaki remaja. Bibirnya mengerucut lucu. "Nama gue Winona! Panggil Nona, kek! Kenapa pake Wino, sih?!" Alenta menyunggingkan senyum tanpa sadar. Kedua remaja itu tampak mirip. Atau, mereka saudara? "Wino! Areas! Ribut mulu lo berdua, ya! Udah tahu ada tamu malah gedebak-gedebuk!" omel seseorang dari arah pintu. Itu Raka. Alenta tidak mungkin lupa dengan wajah tampan lelaki itu. Bukan hanya satu atau dua kali mereka bertemu dan mengobrol. Malah kalau diingat lagi, Raka selalu ada di mana pun Dami berada. "Tuh, Kak Raka aja panggil lo, Wino!" sembur Areas mendorong bahu Winona. "Sini lo berdua!" seru Raka memanggil keduanya dan melambaikan tangan. Areas mengambil bola miliknya. Berjalan selengekan sembari memeluk bola tadi dengan sebelah tangannya. "Kenapa, Kak? Manggil gini mau ngasih uang jajan?" "Uang jajan mulu!" sembur Raka, menoyor kepala Areas. "Gue mau kurung lo berdua di kamar! Bandel banget lo berdua!" "Apa? Nggak! Emang lo kira gue anak kecil?!" Winona menghampiri Raka dan Areas. Kedua tangannya ia letakkan di pinggang. "Gue aduin sama Bang Damar baru tahu rasa lo!" Siapa lagi Bang Damar? Alenta bertanya dalam hati. Hari ini ia bertemu dua orang baru. Winona dan Areas. Lalu, Winona menyebut satu nama asing. "Yang ada lo berdua yang gue aduin ke Bang Damar!" balas Raka memiting kepala Winona dan Areas. "Lo berdua habis bikin ribut di sekolah kemaren, kan? Mau gue aduin, atau lo nurut sama gue?" Winona berontak. Ia menepis tangan Raka. "Ini pengancaman namanya!" Raka mendecakkan lidah. "Mau gue aduin atau, nggak?!" Winona mengentakkan kedua kakinya. Sengaja berjalan menabrak sana sini. Areas menyusul sambil memanggil nama gadis itu. Raka bersedekap dan menggelengkan kepalanya. "Bukan adek gue, udah gue pites dari tadi!" oceh Raka. "KAK RAKAAA! BANG ADAM GOMBALIN GUE!" seru Winona dari dalam rumah. Tidak lama, butuh dua detik saja, seseorang yang ditebak sebagai suara Adam pun menyahut. "ADEK LO CANTIK, SIH, BANG! BUAT GUE AJA GIMANA?!" Raka tahu-tahu melepas sebelah sandalnya, berpura-pura ingin melemparnya ke dalam. Gilanya, Raka jadi ikutan berteriak. "KALAU MASIH MAU NAPAS BESOK DAN SETERUSNYA JANGAN MACEM-MACEM! NGGAK AKAN GUE BIARIN ADEK GUE SAMA BUAYA RECEH KAYAK LO!" Belum genap sepuluh menit berada di sini, Alenta sudah dibuat menggelengkan kepala. Walau bingung apa hubungannya Raka, Winona da Areas, tapi, bisa ditebak mereka bertiga bersaudara. "Eh, maaf." Raka memasang sandalnya lagi. Lelaki itu menyengir lantas menyapa Alenta. "Tadi adek gue. Tolong dimalumin ya. Suka teriak-teriak gitu emang." Alenta cuma tersenyum canggung. "Ayo, Len, masuk dulu ke dalem. Yang lain udah nunggu lo dari tadi," kata Raka menunjuk ke dalam rumah. Yang lain? Itu artinya bukan hanya Adam saja. Apa dua remaja tadi juga dihitung? Alenta masuk ke dalam tanpa ragu. Raka orang yang baik dan ramah. Jadi, ia tidak perlu menakutkan sesuatu. Tidak mungkin Raka akan menyakiti dirinya. Setelah Alenta masuk ke rumahnya tanpa khawatir, Raka menyusulnya dari belakang. Ia sengaja menutup pintu sebelum Dami menyusulnya. Dami sontak memundurkan langkah dan terkejut. Hampir saja ujung hidungnya menabrak pintu kalau tidak segera menghindarinya. "Sori." Raka mengatakannya sambil cengengesan. Sebelah tangannya terangkat. "Ayo, masuk, Dam. Gue lupa ada lo tadi. Kirain yang berdiri di sebelah Alenta itu patung." Seperti biasa, Dami mana pernah menanggapi guyonan Raka. Dilirik pun tidak sama sekali oleh lelaki itu. "Harusnya gue dapet penghargaan sebagai orang paling sabar di dunia." Raka bergumam sebelum menutup pintu. "Coba sebutin manusia yang sabarnya ngalahin gue? Nggak ada! Temenan sama patung. Diajak ngomong, diem doang. Diajak bercanda, diem juga. Ngelirik aja nggak, ya ampun!" "BANG RAKAAA! ADEK LO BIKIN GUE CEMBURU! ADEK LO GODAIN BANG ABRA, MASA!" Raka hampir jumpalitan karena suaranya Adam. Halah! Tahu begitu ia tidak akan mengajak bocah itu kemari kalau hanya membuat Raka tidak berhenti mengelus dadaa akibat suara teriakkan Adam!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN