Sebenarnya, Lo itu Siapa?

1184 Kata
Rivano melenggang masuk ke dalam sebuah rumah. Lelaki itu datang sembari memasang ekspresi marah. Entah... siapa yang sedang ia temui sekarang. Orang yang ditemui Rivano hanya lelaki tua berbadan gemuk dan berambut agak panjang. Lelaki tua itu membelakanginya. Berdiri menghadap ke jendela rumah sembari menatap langit malam. Walau ia tidak menoleh ke arah Rivano, tetapi kedua telinganya menangkap derap langkah Rivano mendekat ke arahnya. "Sudah pulang?" tanyanya, tenang. Rivano menghentikan langkahnya. Napasnya memburu. Seperti sedang menahan amarah. Seperti ia ingin marah, namun tidak bisa meluapkannya. "Bapak yang pasang jebakan untuk Alenta, kan?" tuduhnya. "Iya. Kenapa?" Rivano terdiam setelahnya. Dugaannya benar. Ternyata memang lelaki tua ini yang membuat jebakan. Entah orang mana lagi yang dibayar lelaki itu agar bisa mencelakai Alenta. "Kamu mulai terpengaruh dengan perempuan itu sampai lupa tujuan awal kita apa," gumamnya, terdengar tenang namun juga tajam. "Saya nggak mau memaksa kamu membunuh Alenta. Karena saya tahu, kamu tidak mungkin tega lalu mengacaukan semua rencana saya." "Tapi—" "Alenta... orang sudah membuat kita—" "Pak." Rivano menyelanya. "Alenta nggak seperti orang yang kita pikirkan selama ini! Dia sangat baik!" Lelaki tua itu mendengkus. "Lebih baik kamu pergi ke kamar kamu. Saya nggak mau berebat hanya karena Alenta. Saya menyesal mengirim kamu ke sana," tambahnya. Keputusannya mengirim Rivano berada di sekeliling Alenta bukan semata-mata untuk menjaga perempuan itu sungguhan! Ia sengaja menyuruh Rivano menyamar sebagai bodyguard Alenta—agar lebih mudah membunuh perempuan itu! Tapi, apa yang dilakukan Rivano? Yang dilakukan Rivano malah menjaga Alenta. Hingga lupa dengan tujuan awal mereka! Rivano pergi ke kamarnya dengan perasaan marah. Ia bukannya lupa apa yang menjadi tujuan awalnya. Ia pun tidak sabaran membunuh perempuan itu, akan tetapi, setelah ia memerhatikan Alenta lagi, Alenta bukan perempuan jahat seperti yang dikatakan lelaki tua itu. Justru Alenta adalah perempuan yang kelewat baik. Ia jadi berpikir lagi untuk mencelakakan Alenta. Ia membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam. Penerangan lampu kamarnya tidak terlalu terang. Tapi temaram. Rivano melepas sepatu lantas duduk di pinggir ranjang kemudian mengembuskan napasnya. Mau sampai kapan mereka akan seperti ini? Ia sudah mengikuti perintah lelaki tua itu untuk membunuh Fano, kemudian Nirmala! Lalu, apa lagi?! Ia rasa sudah cukup untuk membalaskan dendam mereka. Lagi pula kalau dipikir lagi, Alenta dan Fano tidak sepenuhnya salah. Tapi, mereka.... Rivano mendengar pintunya dibuka. Kepalanya otomatis menengok ke arah sana dan mendapati si lelaki tua sedang memegangi sesuatu di tangannya. Rivano berdiri, ia hendak bertanya, namun lelaki tua itu hanya menyodorkan sebuah ampul kecil ke arahnya. "Itu penawar dari racun yang menjalar ke tubuh Alenta." Lelaki tua itu menjelaskan. "Untuk kali ini saya ngalah. Anggap saja saya sedang berbaik hati kepada perempuan itu." Setelah memberikannya kepada Rivano, si lelaki tua berbalik dan pergi meninggalkan kamarnya. Rivano memegangi penawarnya. Ia agak ragu. Kenapa tiba-tiba mau berbaik hati? Bukankah lelaki tua itu sangat berambisi membunuh Alenta? *** Semua orang bisa bernapas lega setelah dokter mengatakan bahwa Alenta telah melewati masa kritisnya. Racun yang semula berada di tubuh Alenta tidak ditemukan lagi. Dokter bahkan tampaknya heran melihat perkembangan Alenta hanya dalam semalam. Tiara orang yang paling terlihat lega selain Rayan di sana. Melihat Alenta kembali membuka kedua matanya lalu tersenyum ke arah mereka, Tiara tidak berhenti bersyukur. Kemarin, kondisi Alenta sungguh mengkhawatirkan. Alenta diduga terserang racun dari luka yang didapatkannya. "Lain kali, gue nggak mau ada kejadian kayak kemaren!" Tiara memperingatkan Alenta. Ya, siapa sih, yang tidak akan shock melihat Alenta tahu-tahu mendapat luka di tangannya, padahal, Alenta sedang ada bersama mereka. Bukan cuma ada Tiara yang mendampingi. Tapi juga dua asisten Alenta juga Rivano, bodyguard-nya. "Gimana bisa lo nggak ngerasain apa-apa padahal tangan lo lagi berdarah!" omel Tiara. Padahal Alenta masih berada di rumah sakit. "Beruntung si Mirna tahu lebih cepet! Kalau misal dia nggak lihat, terus darah lo lebih banyak keluar, gimana?!" "Adek gue lagi sakit, Ra!" protes Rayan tidak terima. "Bisa lo tahan dulu buat ngomel, nggak?" "Oke!" Tiara berpura-pura mengunci bibir. Alenta tertawa ringan melihat tingkah Tiara yang selalu heboh. Tidak perlu mencari tahu sebabnya kenapa. Yang penting sekarang ia sudah melewati masa kritisnya. "Nggak bisa dong!" Tiara menggelengkan kepala sebagai tanda tidak setuju. "Gue minta orang-orang gue buat cari bukti siapa yang udah celakain lo! Gue yakin, orangnya ada di antara kerumunan penggemar lo kemaren!" "Tapi gue udah nggak apa-apa." "Tapi kemaren lo kenapa-kenapa! Lo tahu seberapa khawatirnya kita?" balas Tiara sebal. "Walau lo bilang nggak perlu. Gue bakal tetap cari tahu siapa pelakunya!" "Gue setuju kali ini sama Tiara," kata Rayan sambil menengok ke manajer sang adik. "Kita perlu tahu apa motifnya ngelukain kamu, Len. Nggak mungkin orang itu cuma random aja? Ya, kan?" "Bener!" seru Tiara menjentikkan kedua jarinya. Alenta tidak bisa melarang Tiara dan Rayan yang kekeuh ingin mencari dalang—atas kejadian kemarin. Alenta pikir, lebih baik melupakannya saja. Bisa saja apa yang terjadi kepadanya bukan karena ulah seseorang. Bisa jadi karena ia sendiri yang ceroboh. "Gue mau jalan-jalan di sekitar taman rumah sakit," kata Alenta pelan. Ia masih terlihat lemas. "Van, bisa bantu gue buat dorong kursi rodanya?" tanya Alenta, menatap ke arah Rivano yang sejak tadi cuma diam. "Ya." Rivano mengangguk. *** Rivano mendorong kursi roda Alenta mengelilingi taman di rumah sakit. Alenta tampaknya jauh lebih menyukai di sini daripada hanya diam sampai jenuh di kamar inapnya. Ada banyak pasien yang mengenakan pakaian yang sama seperti yang Alenta kenakan. Seragam rumah sakit. Mulai dari yang seusianya, lansia, sampai anak-anak ada juga di taman ini sambil ditemani keluarga dan seorang suster. "Berhenti, Van," pinta Alenta. Suaranya sangat pelan hingga Rivano harus menajamkan kedua telinganya. Rivano berhenti mendorong kursi roda Alenta. Perempuan itu sibuk memandangi sekitar dengan kedua mata agak menyipit karena tersorot cahaya matahari. Rivano berdiri di belakang kursi roda Alenta sembari memandangi perempuan itu dari atas. Kepala Rivano menunduk. Walau dilihat dari atas begini, Alenta masih tetap terlihat cantik. "Yang semalam... itu lo, kan?" tanya Alenta. Kedua mata Rivano mengerjap beberapa kali. Ia rasa, ia salah mendengar. Maka, ia bertanya kepada Alenta, "Apa?" tanyanya, seolah meminta perempuan itu mengulang pertanyaannya. Kali ini Alenta mendongak. Detik itu, kedua mata mereka saling bertemu dan menatap. Alenta jauh lebih tenang. Sementara Rivano merasa gugup. "Bener. Orang itu lo." Alenta mengulangnya. "Setelah lo menyuntikkan sesuatu tubuh gue. Saat itu juga gue jauh lebih baik. Gue nggak merasakan sakit lagi," gumam Alenta lagi. Walau dokter mengatakan ia dalam keadaan kritis akibat racun yang masuk ke tubuhnya. Namun, Alenta bisa mendengar dan merasakan. Seperti semalam contohnya. Alenta tahu seseorang datang mengendap-endap ke dalam ruang inapnya lalu menyuntikkan sesuatu ke tubuhnya. Kenapa Alenta yakin kalau orang itu adalah Rivano? Alenta mengendus aroma parfum yang biasa dikenakan Rivano. Dan juga, samar-samar ia melihat wajah lelaki itu ketika membungkuk saat menyuntikkan sesuatu ke tubuhnya. Rivano tergagap. Alenta sedang menatapnya tajam dan meminta penjelasan. Memangnya Rivano harus menjawab apa? Tidak mungkin ia mengatakan sejujurnya kepada Alenta. "Gue tahu lo bukan bodyguard yang asli," kata Alenta kelewat tenang. Jika ada orang yang memerhatikan mereka sekarang, orang itu tidak akan tahu kalau ia dan Rivano sedang terlibat obrolan serius. "Sebenernya, lo itu siapa? Apa tujuan lo?" tanya Alenta, menahan lengan Rivano. Bahkan, Alenta tahu jika nama Rivano bukanlah nama asli lelaki itu....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN