Alenta sengaja tidak memberitahu sang Kakak tentang Rivano. Bodyguard-nya yang asli bukanlah lelaki itu. Bahkan nama Rivano juga bukan nama aslinya. Entah apa alasan Rivano memakai nama itu.
"Jadi, gue harus panggil apa ke lo mulai sekarang?" tanya Alenta, dingin.
Cengkraman kelima jarinya ke kerah baju Rivano lalu ia lepaskan. Ia akan membiarkan Rivano tetap bersandiwara seperti biasanya.
Beberapa hari setelah Rivano resmi menjadi bodyguard-nya, ada sebuah telepon masuk ke nomor telepon rumahnya. Si penelpon menjelaskan kalau bodyguard yang akan menjaga dirinya telah mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat saat menuju ke rumahnya. Alenta tidak memberikan reaksi apa-apa selain mengatakan berbela sungkawa. Bahkan ia tidak mengatakan jika ada lelaki yang datang ke rumahnya dan mengaku sebagai bodyguard-nya.
Sejak awal Rivano datang, Alenta merasa ada yang aneh dengan lelaki itu. Entah kenapa, setiap kali menatap matanya, Rivano terlihat tidak menyukainya. Tatapannya tajam, sama sekali tidak bersahabat.
Kecurigaan Alenta semakin besar kala insiden penembakan waktu itu. Ya, saat Alenta datang untuk menonton konser penyanyi senior yang ia kenal. Ketika semua penonton berhambur saling berlomba keluar, Alenta terpisah dari Tiara. Alenta mendengar suara tembakan beberapa kali dan begitu dekat ke arahnya. Namun siapa sangka kalau tembakan itu justru mengenai Dami. Detik itu, begitu tubuh Dami ambruk di dekat kakinya, ia melihat sekelebat bayangan lelaki mirip Rivano. Sedang menatapnya dingin sembari membawa sesuatu di tangannya.
Diam-diam Alenta sering memerhatikan gerak-gerik Rivano. Ia ingin tahu apa motif Rivano menyamar sebagai bodyguard-nya. Atau, dalang di balik teror yang menimpanya selama ini adalah Rivano?
"Gue kasih lo waktu buat berpikir. Lo mau ngaku apa motif lo dan siapa lo sebenernya. Atau gue sendiri yang cari tahu?" Alenta memberikan penawaran kepada Rivano.
Rivano tidak habis pikir kenapa Alenta bisa sesantai itu padahal ia yakin, Alenta sedang mencurigainya. Bisa saja Alenta mengadukannya kepada Rayan. Tapi, perempuan itu malah memberikannya sebuah penawaran yang jelas tidak akan bisa Rivano pilih. Mana mungkin ia membocorkan rahasianya sendiri? Termasuk membunuh Fano beberapa bulan yang lalu.
Alenta menolak duduk di kursi rodanya. Ia memilih berjalan kaki meninggalkan taman rumah sakit yang mulai sepi. Satu per satu pasien yang ada di sana telah kembali ke kamarnya masing-masing.
Sepasang mata hitam Rivano tidak berkedip menatap punggung Alenta. Dalam hati Rivano bimbang. Ia ingin mengakhiri sandiwaranya. Tangannya sudah kebas. Rivano cuma ingin hidup tenang tanpa dendam.
***
"Halo!"
Sapaan ringan Raka lalu disusul kemunculan Adam dan Winona membuat suasana di ruang inap Alenta jadi lebih ramai. Alenta menarik punggungnya dari sandaran. Ia tidak tahu kalau Raka dan yang lain akan datang kemari untuk menjenguknya.
"Lo...," gumam Alenta menunjuk Tiara.
"Iya, gue yang ngasih tahu dia!" balas Tiara agak ketus setelah melihat Raka datang. "Awas aja lo ya sampai bocor ke mana-mana!" ancamnya kepada Raka.
"Tenang aja, mulut gue bisa dipercaya!" Raka menimpalinya tidak kalah ketus.
Alenta memiliki teman baru. Yaitu Winona, adiknya Raka yang masih duduk di bangku SMA. Cewek remaja itu langsung menghambur memeluk Alenta. Alenta selalu kagum dengan Winona yang tampaknya tidak pernah murung seperti dirinya.
"Cepet sembuh ya, Len." Raka meletakkan keranjang buah ke atas meja.
"Hmm, makasih." Alenta bergumam lantas mengangguk. "Gue jadi ngerepotin kalian. Padahal besok udah boleh pulang."
Adam menarik kursi di samping ranjang Alenta. "Keadaan lo gimana, Mbak? Gue denger soal lo dari Bang Raka."
"Raka pasti tahu dari Tiara," sindir Alenta. "Gue nggak tahu jelasnya gimana, Dam. Tiba-tiba aja asisten gue lihat ada darah di baju gue. Nggak lama, gue pingsan setelah itu."
"Beneran kenq racun, Mbak?" tanya Adam penasaran.
Raka menyikut Adam yang kelewat jujur saat bertanya. Raka sudah mewanti-wanti pada Adam dan Winona agar tidak membahas soal racun. Mereka cukup datang menjenguk dan menghibur Alenta saja. Tapi mulut Adam selalu tidak bisa dikontrol.
"Oh ya, ini ada titipan dari Abra buat lo, Len. Kata dia, buruan lo sembuh biar kita bisa kumpul lagi kayak kemaren." Raka menerima sebuket bunga yang disodorkan Adam kepadanya. Ia memberikannya ke Alenta secara langsung.
"Tuh, Kak Abra manis banget kan, Kak?" sahut Winona ikut mencium aroma bunga pemberian Abra. "Nggak salah kalau gue naksir dia!"
"Heh!" Raka menjitak kepala adiknya. "Abra udah punya pacar! Jangan sembarang naksir pacar orang kalau nggak mau disebut pelakor lo, ya."
Winona mencebikkan bibirnya. "Gue cuma naksir. Bukan mau ngerebut!"
"Justru awal mau ngerebut, tuh, biasanya naksir dulu!" omel Raka. "Nggak usah aneh-aneh deh! Sekolah aja yang bener supaya nggak bikin Bang Damar malu!"
Alenta sedikit terhibur dengan kedatangan Raka dan Winona. Oh ya, Adam juga. Raka dan adik kembarnya membuat Alenta agak cemburu. Walau Raka dan adik-adiknya seringkali berdebat, saling mengejek, atau malah gelud, Raka adalah Kakak yang baik. Di balik sifat selengekannya, Raka sangat perhatian dan sayang.
Bukan berarti Alenta tidak bersyukur memiliki Rayan. Kakaknya sangat menyayangi dirinya. Akan tetapi, Alenta tidak bisa sebebas Winona ketika bercanda dengan Raka. Rayan terlalu memanjakannya. Terlalu protektif sampai Alenta merasa dikekang. Rayan lebih suka didengarkan ketika mendengarkan. Padahal, Alenta hanya ingin mengungkapkan keluh-kesahnya. Itulah kenapa Alenta lebih menyukai bercerita dengan Fano dulu.
"Temen lo yang satu lagi ke mana?" Tiara membuka suaranya. Masih ketus seperti tadi.
"Dami, Kak?" tanya Adam balik.
"Siapa lagi?" Tiara menundukkan kepalanya. Ia menyibukkan diri dengan ponsel di tangan.
"Oh, Bang Dami." Adam bergumam pelan. "Nggak tahu. Bang Dami kayaknya lagi nggak mau diganggu siapa-siapa. Wajar sih, Bang Dami habis berantem sama papanya."
Aduh!
Raka ingin sekali menyumpal mulut Adam sekarang juga! Bisa-bisanya malah membahas Dami dan papanya yang bertengkar di depan orang lain! Astaga!
"Nggak usah didengerin." Raka melambaikan kedua tangannya. "Dami ada jadwal individu, kok. Ada banyak kerjaan sampai dia nggak sempat jenguk lo. Tapi, gue udah bilang. Mungkin, kalau lo udah balik ke rumah, Dami jenguk lo pas pulang aja deh."
Lagian, kenapa juga Tiara yang heboh? Alenta bahkan tidak menanyakan keberadaan Dami sama sekali. Apa Tiara masih dendam ke Dami karena bingkisannya pernah dibuang ke tempat sampah ya?
"Halah! Nggak usah bikin alasan, deh!" seru Tiara meletakkan ponselnya ke atas pahanya. "Bilang aja temen lo emang nggak niat jenguk Alen!"
"Ra." Alenta menegur Tiara. "Dami nggak ke sini juga nggak apa-apa. Mungkin bener kata Raka, Dami ada kerjaan."
Tiara mendengkus. Ia sangat yakin apa yang dibilang Raka barusan hanya alasan saja. Walau Tiara bukan teman Dami, tetapi Tiara tahu Dami orang seperti apa. Orangnya kurang ramah, ngomongnya selalu pedas dan nyelekit di hati. Dami tidak mungkin mau repot-repot datang kemari untuk menjenguk Alenta!
"Udah. Nggak usah dipikirin kata-kata Tiara, ya," kata Alenta. "Oh ya, tolong bilang ke Abra ya. Makasih bunga-nya. Lain kali kita bisa makan malem bareng. Biar gue yang traktir kalian nanti."
"Asyik, makan gratis!" seru Adam dan Winona lalu berhigh-fivw bersama.
Alenta menggelengkan kepalanya. Tiara masih saja bersikap ketus ke Raka atau Dami. Kalau ke Raka, Alenta sedikit mengerti. Ada masa lalu di antara Raka dan Tiara. Tapi, Dami, kalau Alenta tebak, sepertinya Tiara masih kesal soal bingkisan waktu itu.
Tiara tahu-tahu beranjak dari tempat duduknya. Setelah mengantongi ponsel ke dalam saku celana, perempuan itu hendak pergi keluar ruang inap Alenta.
"Lo mau ke mana, Ra?" tanya Alenta.
Tiara melirik Raka, sinis. "Pergi bentar. Di sini panas!"