Tatto Lo Bagus

1259 Kata
Raka menyusul Tiara keluar dari ruang inap Alenta. Ia meninggalkan Winona dan Adam di sana. Sebenarnya Raka tidak ingin membuat keributan dengan menyusul Tiara. Kalian tahu sendiri bagaimana mulut Adam, kan? Yakin, setelah pulang dari sini, Adam akan menceritakan kepada orang-orang kalau ia dan Tiara dekat kembali. Dekat apanya? Baru dilirik sebentar, perempuan itu sudah mencak-mencak. "Rara!" Sontak, Raka berhenti melangkah kemudian mengatupkan bibirnya rapat. Ia tertegun kepada dirinya sendiri karena masih ingat panggilan sayangnya untuk Tiara dulu. Jelas saja Tiara berhenti juga, namun belum mau membalikkan punggungnya. Sementara Raka sendiri, sedang menyamar bak patung. "Nggak usah sok akrab sama gue!" Seperti tebakan Raka, Tiara akan marah padanya. "Jangan sembarangan panggil nama orang. Nama gue Tiara!" Kepala Raka terangguk kemudian turun sepintas. Rasa bersalah yang dimilikinya beberapa tahun yang lalu kembali mampir. Membuat Raka tidak berhenti mengatakan maaf walau hanya sekadar dalam batin. Ia belum berani mengucapkan kata itu. Karena ia tahu, Tiara tidak akan semudah itu memaafkan Raka. Tiara diam seribu bahasa setelah protes kepada Raka agar tidak memanggil namanya seenaknya. Siapa yang sedang lelaki itu panggil dengan sebutan Rara? Panggilan itu tidak berlaku lagi untuk dirinya. Orang yang dulunya sering dipanggil Rara telah mati semenjak lelaki itu memilih pergi mengejar impiannya. "Gue mau temenin lo sekali ini aja." Raka bergumam pelan di belakang Tiara. "Jangan anggap gue siapa-siapa lo dulu. Anggap aja gue sebagai teman lama lo di sekolah yang sama." Tiara menyunggingkan senyuman sinis. Kemudian, ia membalikkan badannya menghadap ke depan Raka. Tiara bersedekap. "Sejak kapan kita temenan? Dari dulu, gue nggak pernah merasa lo temen gue." "Ra." Raka berusaha menyela. Tiara mengangkat sebelah tangannya di depan Raka. Perempuan itu memejamkan matanya selama dua detik kemudian membukanya lagi. "Jangan berusaha baik ke gue kalau hasilnya tetap sama." Tiara menatap Raka tajam. "Lo tahu sakitnya ditinggalin, nggak? Oh! Tentu aja nggak dong! Selamanya lo akan dikejar. Jadi lo nggak akan tahu rasanya sakit ditinggalin." Kata-kata yang keluar dari mulut Tiara berhasil membuat Raka bungkam. Ia tahu ia salah. Ia tidak akan membela diri kalau hanya akan menambah rasa sakit Tiara. "Ra, please?" mohon Raka. "Gue cuma mau nemenin lo doang. Gue tahu lo pasti kepikiran sama Alenta yang terus-terusan diteror sama orang." "Nggak perlu!" bentak Tiara. Sadar sedang menjadi tontonan beberapa orang yang lalu-lalang, Tiara mengusap wajahnya kasar kemudian mengatakan, "Jangan bikin gue berada di posisi yang salah di mata penggemar lo, atau penggemar band kalian." Tiara menunjuk orang-orang yang memerhatikan mereka dengan dagunya. Raut wajahnya terlihat semakin dingin. Raka mengedarkan pandangannya. Benar. Ada banyak orang yang sedang memerhatikan mereka. Terpaksa Raka membiarkan Tiara pergi begitu saja. Raka memandangi punggung perempuan itu yang dibungkus kemeja berwarna merah muda. *** "Temenin gue cari makan," ujar Tiara singkat. Tidak biasanya Tiara bicara sesingkat itu. Biasanya Tiara akan terus bicara sampai Rivano merasa pusing. "Ke mana, Mbak?" tanya Rivano lalu membuka pintu. "Cari makan," ulang Tiara lalu masuk ke dalam mobil. "Maksud saya, Mbak Tiara mau cari makan ke restoran atau tempat makan yang mana biar saya antar." Rivano menahan geram. Ekspresi wajah Tiara tampak dingin, datar, sama sekali tidak bersahabat. Setelah dibukakannya pintu mobil, Tiara masuk dan duduk manis. Ia menunggu Rivano menyusulnya masuk juga. "Kita cari yang deket-deket sini aja. Gue nggak mungkin ninggalin Alen lama-lama," gumam Tiara sambil melirik arloji di tangan. Rivano menutup pintu mobil setelah ia duduk di kursi kemudi. Ia membiarkan Tiara untuk diam daripada Rivano memaksa dirinya agar mengajak perempuan itu mengobrol. Karena selain canggung, Rivano juga merasa kurang sopan saja. Mesin mobil dihidupkan. Rivano memegang setir mobil dan siap membawa Tiara pergi mencari tempat makan. Rivano pikir, oh, mungkin Tiara sedang lapar sehingga suasana hatinya kurang baik. Mungkin, setelah perempuan itu makan hingga kenyang, pasti akan cerewet lagi. Rivano menurunkan kaca mobil hingga setengah. Ia memerhatikan sekitar sesekali untuk melihat tempat makan yang mereka lewati. Ketika Rivano menemukan restoran steak, Rivano menawari Tiara mau ke sana atau tidak. Tiara memegangi sabuk pengamannya lalu memiringkan kepala. Agak membungkuk, Tiara melihat papan nama restoran tersebut. "Ya udah, makan itu aja." Tiara kembali menyandarkan punggung ke kursi. Restoran steak yang mereka datangi letaknya cukup dekat dengan rumah sakit Alenta dirawat. Jika Rivano perkirakan, mungkin hanya butuh kurang dari sepuluh menit untuk sampai ke restoran tersebut. "Gue nggak nyuruh lo diem dan nunggu di mobil," tegur Tiara. "Gue minta lo temenin makan. Bukan nunggu gue makan," tambahnya. Lalu, mendecakkan lidah. Mereka telah sampai di restoran tersebut. Mukanya Rivano akan menunggu Tiara di mobil saja. Akan tetapi, perempuan itu malah mengomelinya sebelum masuk ke dalam. Rivano mengangguk patuh, ia segera menyusul Tiara masuk ke dalam sebelum Rivano akan diomeli lagi. "Lo mau pesen apa?" tanya Tiara sambil memerhatikan buku menu di tangan. "Apa aja," jawab Rivano. Tiara mengangkat dagu. "Gue pesenin air putih doang, mau?" "Boleh." "Haha! Bercanda gue, Van!" ledek Tiara. Kemudian, perempuan itu menyebutkan dua menu berbeda kepada seorang pelayan. "Minumnya samain aja ya, Mbak," kata Tiara setelah mengansurkan buku menunya kembali. Rivano pikir, cepat sekali suasana hati perempuan itu kembali membaik. Padahal mereka baru duduk. Makanan baru saja dipesan. Tetapi Tiara kembali ceria seperti biasanya. Jadi, benar, Tiara tadi sedang lapar. Makanya suasana hatinya kurang baik. "Nggak usah tegang gitu." Tiara mengeluarkan ponsel lalu meletakkannya ke meja. "Gue cuma ngajak lo makan, kok. Nggak bakal gue racunin juga makanan lo." Rivano terdiam. Ia agak tersindir dengan kata-kata Tiara. "Rara!" Baru saja suasana hati Tiara membaik, sudah diganggu lagi dengan kemunculan Raka—yang entah datang dari mana. Tiara sontak menengok ke samping, tempat Raka mengambil duduk kemudian merangkul bahunya sok akrab. Raka tidak sungguhan membiarkan Tiara pergi seperti tadi. Ia sengaja membututi mobil Tiara dari belakang. Ia nekat, ia menyusul Tiara ke dalam restoran. Seolah mereka berdua adalah teman akrab, padahal tadi sudah diminta untuk tidak mengganggu Tiara lagi. "Ngapain lo nyusul ke sini?" tanya Tiara. Ia melepas rangkulan tangan Raka di bahunya. "Gue juga mau makan, Ra. Lo tahu gue suka makan daging dari dulu." Tiara menatap Raka, jengah. "Gue nggak peduli lo suka makan daging atau nggak!" Kedua mata Tiara mendelik. Ia memerhatikan kursi di kanan dan kirinya. "Lo lihat masih banyak tempat kosong! Kenapa duduk di sini? Apa lo udah izin sama gue?" "Oh ya." Raka tersenyum tidak tahu malu. "Ra, gue izin duduk di sebelah lo ya. Tuh, gue udah izin sekarang. Jadi, boleh dong gue duduk sebelah lo?" Tiara menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Raka cengar-cengir seperti sediakala. Tiara kembali dibuat sebal oleh lelaki itu. Apa maunya sih? Atau kata-kata Tiara tadi kurang jelas sampai Raka tidak memahaminya? "Mending lo pindah tempat duduk," saran Tiara mulai hilang kesabaran. Raka melirik Rivano. "Kenapa bukan masnya aja yang pindah?" "Dia bukan mas-mas!" seru Tiara makin sebal. Raka pura-pura melebarkan matanya. Sengaja membuat Tiara kesal. "Terus? Apa kalau bukan mas-mas? Mbak-mbak maksud lo?" "Raka!" "Ya, Sayang?" sahut Raka sambil menaik-turunkan alisnya. "Mbak," ujar Rivano menengahi. "Biar saya aja yang pindah tempat duduk. Nggak apa-apa, kok." "Nggak usah, Van. Biar dia aja yang pindah," jawab Tiara menunjuk ke Raka tanpa menoleh. Rivano tidak mau dibuat tambah pusing. Satu Tiara saja sering membuat Rivano kuwalahan. Apalagi ditambah Tiara versi lelaki. "Nggak apa-apa. Saya yang pindah," kata Rivano kekeuh. Rivano beranjak dari kursinya. Ia hendak pindah ke meja di samping meja Tiara. Namun, langkah Rivano ditahan Raka. Salah satu anggota Missing You itu mencengkram lengan Rivano kemudian bertanya, "Tatto lo bagus." Raka memerhatikan tatto di tangan Rivano. Lantas, ia bertanya lagi, "Udah lama lo bikin tatto ini?" Rivano mengernyitkan dahi. Ia menarik tangannya yang dicengkram Raka. Pandangan Rivano berpindah ke Tiara. "Saya pindah ke kursi di sana, Mbak." "Hmm." Tiara menganggukkan kepalanya tanpa curiga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN