Ke Mana Raka?

1237 Kata
"Bang Raka ke mana ya?" Winona sibuk menatap jam dari layar ponselnya. Adam ikut-ikutan menatap jam di tangannya kemudian menganggukkan kepala. "Iya, ya. Udah dua jam lewat kok belum balik juga." "Apa gue telepon aja ya?" tanya Winona menatap Adam. "Tadi bilangnya mau ke mana sih?" Adam bertanya balik. "Toilet." Winona menjawab sambil menelpon ke nomor kakaknya. "Ke toilet apaan sampai dua jam?" gerutu Adam. Lelaki itu beranjak dari kursi lalu berjalan ke ambang pintu. Adam balik lagi mendekati Winona kemudian bertanya, "Apa gue samperin aja Bang Raka ke toilet? Siapa tahu Abang lo nyasar ke kamar mayat." Winona mendelikkan matanya tidak terima. "Jangan sembarangan." Cewek remaja itu memperingati Adam. "Gue malah kasian sama mayat yang ada di sana kalau Bang Raka nyasar. Tahu sendiri Bang Raka, tuh, berisik!" Sontak, Alenta tertawa. Ia terus memerhatikan Adam dan Winona sejak tadi. Kedua anak muda itu bahkan tidak menyadari jika sama berisiknya seperti Raka. "Sering-sering ketemu sama Wino, Mbak. Ternyata dia ada gunanya juga," sindir Adam lalu menoyor kepala Winona. "Tapi heran kenapa Bang Dami nggak pernah ketawa kalau lo ngelawak ya?" "Gue bukan pelawak!" sembur Winona tidak terima. "Udah, udah." Alenta melerai Winona dan Adam. "Dam, coba lo samperin Raka ke toilet, deh. Atau, dia lagi ngobrol sama Tiara?" Adam mengangguk cepat. Ia menjentikkan jarinya. "Oh, ya. Tadi Bang Raka keluar barengan sama Mbak Tiara, kan? Lagi pergi berdua kali ya?" "CLBK, kali," sambung Winona, memasang ekspresi datar. Cewek itu sibuk mengirim pesan ke nomor kakaknya. "Ya udah, gue susul Bang Raka dulu ya. Tunggu sini lo, bocah!" peringatnya ke Winona sebelum pergi. Tinggal Winona dan Alenta hanya berdua di kamar inap. Cewek berambut panjang itu masih sibuk menghubungi nomor Raka. Winona berdecak sebal, satu panggilan pun darinya tidak diangkat. "Gue telepon Tiara, ya." Alenta menyambar ponselnya dari atas meja. Winona berhenti mengirim pesan ke Raka. Ia duduk manis sambil memerhatikan Alenta. Gantian perempuan itu menelpon ke manajernya. Winona rasa, kakaknya memang sedang pergi bersama Tiara. Dari pertama mereka sampai kemari, pandangan Raka tidak berpindah ke mana-mana selain ke Tiara. Biarpun Raka suka nyinyir ke perempuan itu, tetapi Winona tahu maksud dan tujuan Raka itu apa. Apa lagi selain membuat Tiara kesal? "Gimana, Kak?" tanya Winona. Alenta menarik ponselnya turun. "Nggak diangkat juga." Winona diam sebentar. "Kalau gue balik sekarang tapi lo lagi sendiri, lo nggak apa-apa, Kak? Eh, nggak usah deh. Gue tunggu Kak Tiara balik aja." "Gue nggak apa-apa." Alenta tersenyum tipis. "Lagian udah malem. Besok lo sekolah, kan?" Tidak lama, Adam kembali ke ruang inap Alenta. "Mbak, Bang Raka nggak ada. Masa kita ditinggalin sih?" Kedua mata Adam berpindah ke Winona seolah memberitahu. "Jangan pulang dulu, Kak," ujar Winona. "Tunggu Kak Tiara balik dulu. Kayaknya mereka beneran lagi keluar berdua." "Tahu dari mana?" tanya Adam, lalu duduk ke kursinya yang tadi. Winona menunjuk ke Alenta. "Barusan Kak Alen telepon Kak Tiara tapi nggak diangkat. Kompak banget mereka ya?" "Ya udah, kita tunggu aja sampai Mbak Tiara sama Bang Raka balik. Kasian Mbak Alenta kalau sendirian." Adam duduk manis. Ia bersiap mengeluarkan ponsel dari saku celana. "Kalian nggak usah mikirin gue. Pulang duluan aja nggak apa-apa. Lo bawa kendaraan sendiri nggak, Dam?" tanya Alenta. Adam mengangguk. Ia menunjukkan kunci motornya. "Gue sama Bang Raka berangkat sendiri-sendiri tadi, Mbak. Ketemuan di lobi. Pas masuk ke sini baru barengan." "Lo pulang duluan sama Adam. Nanti kalau Raka udah balik, gue kasih tahu dia." Alenta menyakinkan Winona dan Adam. "Nggak usah khawatir. Di rumah sakit cukup aman, kok." "Kalian pulang aja. Biar gue yang jaga Alenta." Suara berat dari ambang pintu membuat ketiga orang di dalam kamar inap segera menoleh. Bukan Raka bukan juga Tiara. Melainkan Dami. Lelaki itu datang mengenakan celana jins dan kemeja polos berwarna senada. "Buruan anter Winona balik ke rumah. Biar gue yang jaga Alenta sampai manajernya balik," kata Dami menepuk bahu Adam. Tidak ada angin mau pun hujan, Dami tiba-tiba datang menjenguk Alenta. Padahal seingat Adam, ia dan Raka sudah mengajak lelaki itu tapi langsung ditolak. Makanya Adam heran saja kenapa Dami bisa kemari. Gayanya tenang seperti biasanya. "Kenapa?" tegur Dami kepada semua orang di sana. Adam menggeleng. "Eh, nggak Bang." Lelaki itu menjawil lengan Winona. "Balik, yuk! Udah ada Bang Dami, nih!" Winona mengamati Alenta lalu ke Dami hingga beberapa kali. "Beneran dijagain atau mau lo ajak berantem, Bang?" tanya Winona dengan berani. "Bawa pulang buruan, Dam!" usir Dami lalu mengibaskan tangan ke udara. "Awas aja lo ajak berantem Kak Alenta! Kalau mau ngajak gelud, mending sama Bang Raka atau Kak Adam sana!" seru Winona terus mencerocos. Adam menarik lengan Winona. Ia berpamitan ke Alenta dan Dami secara bergantian. "Cepet sehat ya, Mbak! Gue sama Wino balik dulu!" "Iya, hati-hati." Alenta mengangguk pelan. *** Sepeninggal Adam dan Winona, kini hanya ada Dami dan Alenta cuma berdua. Baik Tiara mau pun Raka tidak bisa dihubungi. Semua pesan hingga panggilan dari Alenta tidak diangkatnya. Asal kalian tahu saja. Hampir setengah jam Alenta dan Dami saling diam. Sungguhan sunyi. Berbeda saat ada Adam dan Winona. "Bodyguard lo ke mana? Ikut Tiara juga?" Setelah lama diam, Dami membuka suara. Kedua mata Alenta mengerjap. Ia baru menyadari kalau sejak tadi tidak melihat sosok Rivano. "Oh, ya." Alenta bergumam pelan. "Atau ikut Tiara?" Dami mengangkat bahunya sebagai jawaban. "Kenapa nggak lo telepon aja? Tugas dia itu jaga lo. Bukannya jagain manajer lo." Alenta malas berdebat. Meladeni mulut pedas Dami tidak akan ada habisnya. Semakin Alenta ladeni, yang ada Alenta akan kesal sendiri. Dami mana mungkin memikirkan perasaan orang selain dirinya. Dami selalu berpikir bahwa dirinya benar. Dami menggeser layar ponsel. Ketika menemukan sebuah gambar, ia menyodorkannya ke Alenta. "Apa?" tanya Alenta. "Lo lihat baik-baik gambar tatto itu." Dami menunjuk ke layar ponselnya yang menyala. "Apa pernah lo lihat tatto yang mirip kayak di gambar?" Alenta melihat baik-baik gambar tatto di ponsel Dami. Kemudian, perempuan itu menarik napas. "Nggak. Gue nggak pernah lihat sebelumnya." "Lo yakin? Coba lihat sekali lagi." Alenta menarik tangan Dami lalu meletakkan ponselnya di sana. "Tujuan lo kemari cuma buat ini? Penting emang?" Lebih dari penting. Alenta tidak tahu saja pemilik tatto itu ada hubungannya dengan pembunuhan Fano. Ponsel di tangan bergetar lalu berdering. Obrolan Alenta dan Dami seketika berhenti sejenak. Dami mengangkat ponselnya lebih tinggi, lantas menemukan nama Raka di sana. "Raka," ujar Dami memberitahu Alenta. Dami menggeser layar ponselnya. Ia meletakkan benda persegi itu ke telinga kirinya. "Hmm..." "Lo di mana, Dam?" Kedua mata Dami terbuka lebar. Ia mendengar suara Raka sedang panik. "Gue tahu, Dam! Gue inget sekarang!" seru Raka menggebu-gebu. "Inget apa?" tanya Dami bingung. "Tatto! Gue inget di mana gue pernah lihat tatto itu!" Seketika Dami beranjak dari kursi. "Lo lihat di mana?!" Alenta terkejut mendengar suara besar Dami yang tiba-tiba. "Raka! Lo kenapa? Raka!" teriak Dami setelahnya. Lelaki itu berubah panik. Entah apa yang barusan didengarnya. Belum pernah Alenta lihat Dami sepanik itu saat bicara dengan Raka. Seseorang masuk ke dalam kamar inap Alenta. Saat ia akan menyapa, ia terkejut mendapati Dami yang berdiri memunggungi pintu. "Ra, lo habis pergi sama Raka ya?" tanya Alenta. Dami segera membalikkan badannya. "Raka mana? Lo nggak pergi sama Raka tadi?" Ditanya sepanik itu oleh Dami dan Alenta, Tiara jadi bingung. Kedua matanya mengerjap. "Iya, tadi sama gue. Tapi nggak tahu kenapa gue malah disuruh balik duluan sama Rivano. Kenapa sih? Kok, panik banget kalian?" Dami buru-buru berlari pergi meninggalkan kamar inap Alenta tanpa sepatah kata pun. Tiara mendengkus. Menatap sebal saat Dami tidak sengaja menabrak bahunya. "Dia kenapa sih?" tanya Tiara kepada Alenta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN