Tatto dan Fano

1272 Kata
Seorang polisi tengah menginterogasi Raka. Lelaki itu baru saja mengalami kecelakaan di jalan raya. Beruntung tidak ada korban. Raka pun hanya mengalami luka ringan di sisi keningnya. "Lain kali tolong hati-hati, Mas. Karena selain membahayakan diri sendiri, juga bisa membuat orang celaka." Seorang polisi berpesan ke Raka setelah mencatat apa yang dikatakan lelaki itu. "Iya, Pak, maaf. Lain kali saya akan lebih hati-hati menyetir," ujar Raka menganggukkan kepalanya sepintas. Raka menolak dibawa ke rumah sakit. Ia rasa lukanya sama sekali tidak parah. Hanya terlihat biru di sisi keningnya saja. Diobati di rumah juga bisa, kok. Memang ya, Raka ini paling santai ketimbang saudara atau teman-teman bandnya. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di belakang mobil Raka. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati Dami serta Abra keluar dari mobil. Raka memegangi kepalanya, berpura-pura sakit, sengaja mengerjai kedua temannya. "Bang! Lo nggak apa-apa?" Benar saja, Abra, yang dikenal tenang ikutan panik. "Nyawa gue masih nyantol, nih," jawab Raka setelahnya. Seperdetik, Raka terbahak puas melihat Abra yang panik sekali. Dami cuma memerhatikan kedua teman bandnya. Ia menyesal karena sudah mengkhawatirkan Raka. Harusnya Dami paham bagaimana jahilnya lelaki itu. Dalam keadaan apa pun, Raka tidak akan pernah serius. Lihat saja, walau kepalanya kelihatan biru, Raka masih bisa menertawai Abra. "Akh! Sakit, Dami!" pekik Raka memegangi lengannya yang dipukul Dami tiba-tiba. "Oh, masih bisa ngerasain sakit ternyata." Dami mengatakannya tanpa ekspresi. "Gue kira badan lo tahan banting juga. Siapa tahu nyawa lo ada banyak." Raka mencebikkan bibir. "Lo kira gue kucing?" Dami mengangkat kedua bahunya cuek. Abra dan Raka saling bicara. Sementara Dami, lelaki itu memerhatikan ke jalanan sekitar yang lumayan ramai. Beruntung Raka tidak apa-apa. Lukanya tidak perlu dikhawatirkan berlebihan. Toh, Raka masih hidup. "Ke rumah sakit aja yuk, Bang," bujuk Abra lalu mengapit lengan Raka. "Nggak, ah! Gue takut disuntik!" seru Raka menepis tangannya Abra. "Apanya yang mau disuntik?!" balas Abra. "Paling nggak luka lo harus dibersihin dulu." Raka meraba keningnya. Kedua matanya memaksa untuk menatap keningnya sendiri. "Nggak usah! Gue minta obatin Areas aja di rumah." Abra berdecak. "Ayo ke rumah sakit, Bang. Kalau lo pulang dalam keadaan luka gini, lo malah bikin Winona sama Areas khawatir." "Loh, bagus dong. Itu tandanya mereka sayang sama gue." Raka tersenyum lebar sembari menaik turunkan alisnya. "Nggak usah dipaksa, biarin aja kalau emang nggak mau dibawa ke rumah sakit." Dami menatap kedua temannya. "Kalau pun besok lukanya jadi parah, yang ngerasain juga dia sendiri." Raka tidak kaget apa yang dikatakan oleh Dami. Lelaki itu mana pernah mengatakan hal manis atau sekadar memberi perhatian. Gengsinya selangit! Mengalahkan tingginya Monas! "Ya udah, iya. Tapi lo berdua temenin gue ya?" tunjuk Raka ke Dami lalu Abra bergantian. "Manja banget sih lo!" maki Dami, namun tetap ditemaninya Raka pergi ke klinik terdekat bersama Abra. Raka masuk ke dalam mobil Dami dan bergegas pergi ke klinik. Sementara Abra, lelaki itu mengendarai mobilnya Raka. Ia tidak mengizinkan Raka menyetir mobil sendirian setelah mengalami kecelakaan. Takut saja Raka merasa pusing atau bagaimana. Daripada nanti terjadi hal yang tidak diinginkan, kan. *** "Udah jangan nangis," bujuk Adam menepuk-nepuk punggung Winona. Adam diberitahu Dami kalau Raka mengalami kecelakaan mobil. Winona dan Areas yang ada di sebelah Adam pun mendengar berita tersebut langsung panik. Lebih panik lagi Adam, karena tiba-tiba Winona menangis seperti anak kecil. Areas tidak menangis, sih. Tapi wajah murungnya dan terus mondar-mandir malah membuat Adam pusing kepala sendiri. Adam bilang Kakak mereka masih hidup, bernapas, anggota tubuhnya masih lengkap. Mendengar itu, bukannya Winona lebih tenang malah menangis lebih kencang. "BANG RAKAAA!" Winona meluruskan kedua kakinya ke lantai. Air matanya meleleh di pipi. Adam berpindah duduk di samping Winona. Ia sampai berjongkok sesekali mengusap pipi cewek remaja itu yang banjir air mata. Adam berusaha menghibur Winona, tetapi susah sekali ternyata. Winona terlalu kencang menangis sampai membuat kedua telinga Adam berdengung. "Abang lo masih hidup, Wino," ujar Adam, masih mengusap air mata Winona dengan sabar. Winona menelan ludahnya susah payah. Suara tangisnya berubah sesenggukkan setelahnya. "GUE NGGAK PERCAYA SEBELUM LIHAT SENDIRI! SIAPA TAHU LO LAGI BOHONGIN GUE! SIAPA TAHU LO BILANG GINI CUMA BUAT NENANGIN GUE DOANG!" Adam meringis. Sontak menutup kedua telinganya sembari memejamkan matanya sepintas. Ia gemas bercampur geram. Areas yang sedari tadi diam sama sekali tidak membantunya menenangkan Winona. Adam berakhir membungkam bibir Winona menggunakan sebelah tangannya. Sangat berisik! Suara tangis Winona keterlaluan berisik hingga Adam khawatir semua tetangga mereka akan bangun dan datang kemari. Adam tidak mau dituduh mau menculik si kembar, ya! Adam bahkan sama sekali tidak minat! "Dengerin gue! Wino!" Adam menatap kedua mata Winona dari dekat. "Bang Raka nggak apa-apa. Abang lo masih hidup. Sekarang lagi dibawa pergi ke klinik buat diobati." "Bohong!" jerit Winona setelah ia mendorong tangan Adam dari bibirnya. "Gue nggak bohong. Tunggu sampai Abang lo selesai diobatin lukanya. Nanti gue telepon," kata Adam meyakinkan. Perlahan suara tangis Winona mereda. Adam duduk di lantai lalu menarik napas panjang sekaligus lega. Ternyata menenangkan perempuan yang menangis jauh lebih sulit daripada menenangkan bayi. Adam mengelus dadaanya, mengangkat wajahnya ke atas memandangi langit-langit rumah. "Kalian berdua tenang aja. Nggak usah khawatir. Lo berdua pasti tahu sekuat apa Bang Raka." Adam mendongak, menoleh ke Winona lalu ke Areas. "Abang lo sama kayak kucing, tahu. Nyawanya ada banyak! Haha!" Winona menatap Adam sebal. Bisa-bisanya lelaki itu masih tertawa di saat Raka baru saja mengalami kecelakaan. Winona mengambil bantal sofa, mengarahkannya ke Adam lalu memukuli lelaki itu sambil menjerit kesal. "ADUH! SAKIT, WINO!" Adam langsung berdiri dan memegangi kepalanya. "Bisa-bisanya lo ketawa barusan," isak Winona, menurunkan bantal di tangannya. Adam tersadar. Ia menggaruk belakang kepalanya. Tidak seharusnya ia tertawa padahal Winona sedang khawatir. "Sori." Adam menatap sepasang anak kembar di kanan dan kirinya. "Gue refleks, sih." Winona berpindah duduk ke atas sofa dan bersedekap. Ditatapnya Adam sinis. "Dih!" *** "Biar gue yang anter Bang Raka pulang, Bang." Abra berinisiatif mengantar teman satu bandnya pulang. "Gue ikut juga." Dami beranjak dari kursi tunggu. "Lo bakal kuwalahan sama Winona di rumah ntar. Gue yakin sekarang Adam lagi pusing." Abra tertawa. "Iya, sih. Dari tadi dia telepon gue mulu." Tadi Dami menyusul Raka ke rumah sakit yang sedang menjenguk Alenta. Dami tidak pergi sendirian, melainkan bersama Abra. Cuma, Abra menunggu di luar ruangan karena mengangkat telepon. Bahkan Abra sempat berpapasan dengan Adam dan Winona yang pamit pulang duluan. Iya, Abra mulanya tidak ikut menjenguk. Sengaja memang. Itu strategi Abra. Dami menolak pergi menjenguk Alenta. Di saat Raka dan Adam menjenguk Alenta, Abra tinggal bersama Dami. Ia secara halus membujuk lelaki itu menyusul Raka. Entah mendapat dorongan dari mana, tahu-tahu Dami mengangguk kemudian mengiakan ajakan Abra. Jadi, ya, mereka menyusul Raka dan Adam. Tidak tahunya sampai di sana, Raka malah tidak ada. Kemudian, lima menit setelah kepergian Adam dan Winona pulang, Dami mendapat telepon dari Raka yang kedengaran panik. "Oh." Sebelah tangan Dami terangkat. Kedua matanya terarah ke pintu tempat Raka diobati. "Kenapa, Bang?" tanya Abra. "Ada yang mau gue tanyain ke Raka." Dami bergumam pelan. "Tentang apa? Nggak bisa besok aja?" bujuk Abra. Yang menerima telepon Raka tadi hanya Dami. Yang tahu Raka sangat panik sebelum kecelakaan, ya cuma dirinya saja. Sementara Abra sibuk berbicara di telepon bersama ayahnya. Raka keluar setelah mendapat perawatan lukanya. Dami menghampiri Raka lalu disusul Abra dari belakang. "Kalian beneran nungguin gue ternyata." Raka menyambut kedua temannya dengan senyum lebar. "Sebelum lo kecelakaan, lo bilang inget tentang tatto," ujar Dami. "Tatto itu kan yang lo maksud? Lo ketemu sama pembunuhnya Fano, kan?" Abra yang tidak tahu menahu tentang tatto dan pembunuh Fano, jelas kelihatan bingung. Atau ada yang sedang dirahasiakan oleh teman-temannya? "Tatto apa sih, Bang? Terus, Fano siapa?" tanya Abra penasaran. Raka melirik Dami. Tatapannya seolah meminta izin Dami agar juga menceritakannya ke Abra. "Bang?" tegur Abra kepada dua temannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN