Nama yang Tidak Asing

1531 Kata
"Belum tidur, Kak?" sapa Raka basa-basi. Si kembar sudah tidur setelah Damar pulang ke rumah lalu menceritakan kalau Raka mengalami kecelakaan mobil. Damar mendengar si kembar dengan tenang tanpa panik sama sekali. Lelaki itu meminta agar Winona dan Areas masuk ke kamar masing-masing. Adam dibuat heran. Padahal Damar hanya mengatakannya sekali, tetapi si kembar langsung mengangguk lantas pergi, sesuai perintah Kakak tertua mereka. "Terima kasih sudah antar Raka, ya." Damar berdiri di depan ketiga lelaki muda di depannya. Damar seolah tidak menghiraukan Raka yang ada di depannya. Kakaknya itu malah sibuk bicara dengan Dami dan Abra di dekat pintu. Kedua kaki Raka mulai pegal karena terus berdiri sejak tadi. Damar mengangguk, Dami dan Abra pun panik pulang. "Hmm." Damar melambaikan tangannya sepintas. "Kak!" seru Raka sebal. Damar memunggungi Raka. Lelaki itu seolah tidak peduli padahal ia baru saja mengalami kecelakaan. Apa kakaknya tidak melihat ada luka di kepalanya? Damar nyelonong pergi begitu saja! "Apa?" tanya Damar lalu bersedekap. Raka mengendengkus tanpa kentara. Pantas saja kakaknya masih jomlo di usianya yang nyaris menyentuh angka empat! Dingin sekali seperti salju es dalam frezer! "Lo nggak mau bantuin gue masuk, Kak?" Damar menatap adiknya. Ekspresi wajahnya berubah lebih datar. "Kamu belum butuh kursi roda. Bisa jalan sendiri, kan?" "Kak, kejam banget sih lo." Raka mengerucutkan bibirnya. "Gini-gini gue juga adik lo, tahu!" Seringkali Damar dibuat pusing oleh adiknya yang satu ini. Berisik sekali! Di mana pun Raka berada, maka di situ adanya keributan yang dipelopori oleh Raka sendiri. Ah, ya ampun, rasanya Damar ingin menyerah saja. Lebih baik ia mengurus si kembar yang masih remaja, daripada mengurus Raka yang sudah dewasa, tapi susah sekali diberitahu! Sejujurnya, Damar tidak pernah setuju jika Raka menjadi anak band. Damar lebih suka adik-adiknya bekerja sesuai bidang yang mereka tempuh saat kuliah dulu. Akan tetapi, berhubung itu Raka, Damar tidak bisa melarang. Mulutnya sudah berbusa. Tetapi Raka mana pernah mau mendengarnya. "Ya udah, sini. Biar aku bantu." Pada akhirnya Damar mengalah sebelum Raka membuat keributan di rumah. Ia merangkul bahu Raka lalu mendudukkannya ke sofa. Raka meringis. Rasanya tadi tidak apa-apa. Tapi sekarang badannya mulai terasa sakit semua. Raka menarik napas panjang kemudian menyandarkan punggung ke sofa. Sontak, kedua matanya terbuka lebar, ia teringat sesuatu. Ah, tidak, lebih tepatnya seseorang. "Kenapa?" tanya Damar sembari meneliti obat yang diterima adiknya dari klinik. "Gue inget sesuatu, Kak!" seru Raka menggebu-gebu. Sebelah alis Damar terangkat. Ia melihat adiknya sibuk mencari ponsel ke saku celananya. Damar memerhatikan gerak-gerik adiknya. Mulai dari ekspresi wajah, gestur tubuh, Raka terlihat panik sambil mencari nomor kontak seseorang dari ponselnya. Segera, Raka menempelkan benda persegi itu ke telinganya. "Halo! Rara?!" *** Secara mengejutkan Raka menelpon ke nomornya. Oh, bukan. Awalnya Tiara tidak mengenali orang yang menelponnya. Ketika panggilan itu ia angkat, ia mendengar ada suara yang tidak asing, namun Tiara malah ragu kalau si penelpon adalah orang yang ia kenal. "Nomor lo masih sama," gumam seseorang itu di telepon. Penting sekali sampai membahas nomor telepon Tiara yang tidak ganti ya? Tiara menegakkan badan. Ia balas bertanya, "Kenapa?" tanya Tiara kikuk. "Gue denger dari Dami, lo habis kecelakaan. Emang bener? Terus, mobil gimana?" Raka mendengkus di seberang sana. Tiara bisa mendengar bahwa lelaki itu terdengar kecewa. "Yang harusnya lo tanya itu gue. Bukan mobil gue." "Bodo amat sama lo." Tiara mengibaskan sebelah tangannya ke udara. "Sekarang gue tanya. Tujuan lo telepon gue malem-malem begini buat apa? Mending lo istirahat! Jangan lupa minum obat lo." Kalau saja Tiara tahu, Raka sekarang sedang senyum-senyum saat ini. Walau Tiara mengomelinya seperti seorang Ibu, tapi Tiara menyelipkan perhatian. Entah sadar atau tidak. Raka sebodo amat. Yang penting Raka senang sekarang! "Maaf, tadi gue malah ninggalin lo sama Rivano." Raka membuka suaranya lagi. Namun kali ini dengan intonasi lembut. "Gue ada pesen buat lo. Dengerin baik-baik." Tiara menatap lorong rumah sakit yang sepi. Ia menarik ponselnya sepintas untuk melihat jam. Hampir tengah malam sekarang. Pantas saja lorong jadi sepi. Hanya perawat yang sesekali lewat sambil mendorong troli obat. Biasanya, jam segini para perawat akan mengontrol pasien tiap di kamar. "Jangan deket-deket sama Rivano. Gue mohon sama lo." Dahi Tiara mengernyit. Daripada menganggap Raka khawatir padanya, ia malah mengira Raka sedang cemburu pada bodyguard Alenta. "Apa hak lo melarang gue?" tanya Tiara galak. "Mau gue deket sama cowok mana pun, itu hak gue. Kenapa lo yang repot?" Raka berdecak di dalam telepon. "Gue seriusan, Ra! Tolong singkirin kepercayaan diri lo dulu. Gue sama sekali lagi nggak cemburu." Tiara makin gondok! Secara terang-terangan lelaki itu mengejeknya. Apa? Mau bilang Tiara terlalu percaya diri? Kalau bukan karena cemburu, lalu apa alasan Raka memintanya agar tidak terlalu dekat dengan Rivano? "Pokoknya jangan deket-deket sama Rivano, Ra, ya? Demi keselamatan lo," mohon Raka terdengar sungguh-sungguh. "Nggak jelas banget sih, lo!" maki Tiara lalu mengakhiri telepon secara sepihak. Perempuan itu berbalik lalu meninggalkan lorong. Ia hendak kembali ke ruang inap Alenta. Ia sudah berjanji ke Rayan untuk menemani Alenta malam ini. Rayan sedang kedapatan shift malam di rumah sakit. Sementara Tasya, tidak mungkin juga menjaga Alenta semalaman kalau masih ada balita yang harus ia jaga di rumah. "Dasar nggak jelas emang si Raka!" omel Tiara memasuki ruang inap Alenta. Alenta belum tidur. Rivano sedang duduk di sofa hingga nyaris ketiduran. "Lo pulang aja, Van. Biar gue sama Tiara di sini." Rivano melebarkan kedua matanya. "Saya di sini aja." Kedua mata Rivano yang merah karena menahan kantuk jadi perhatian Alenta dan Tiara. Manajer Alenta itu ikut membujuk Rivano. "Lo pulang aja deh. Nggak apa-apa gue jaga Alenta sendirian. Ini di rumah sakit, kok, pasti lebih aman. Lo tenang aja." "Iya, lo pulang aja. Besok lo ke sini lagi buat jemput gue." Alenta meyakinkan Rivano. Rivano sungguhan mengantuk sekarang. Bahkan ia tidak sanggup membuka matanya lebih lama lagi. Beberapa kali ia menguap lalu mengusap wajahnya sendiri guna mengusir rasa kantuk. Tapi, rasa kantuk itu masih sama. Rivano butuh kasur untuk merebahkan diri walau hanya sebentar. "Saya pulang, Mbak," pamit Rivano kepada dua perempuan itu. "Hmm. Iya, Van." Alenta mengangguk sambil tersenyum tipis. "Hati-hati bawa mobilnya ya," pesan Tiara. Rivano keluar ruang inap Alenta. Tiara menengok ke belakang sepintas untuk memastikan Rivano benar-benar keluar. Tiara agak mencondongkan tubuhnya ke ranjang Alenta. "Masa waktu di telepon, Raka minta gue sama lo jangan deket-deket sama Rivano, Len," bisik Tiara. "Raka bilang gitu?" tanya Alenta. Kepala Tiara mengangguk. "Waktu di restoran juga gitu. Tiba-tiba Raka narik tangannya Rivano, terus bilang kalau tatto-nya Rivano bagus." "Terus?" "Rivano nggak jawab apa-apa. Lagian Raka aneh banget! Kenal aja nggak, tapi sok akrab! Ya Rivano risi kali!" cibir Tiara. Tanpa Tiara dan Alenta duga, Rivano masih ada di sekitar mereka. Berdiri di balik pintu kamar inap Alenta sembari mendengar obrolan kedua perempuan itu. Walau suara Tiara mau pun Alenta sangat kecil, tetapi Rivano bisa mendengarnya. Pertanyaan yang sama seperti Tiara ada di kepala Rivano sekarang. Kenapa Raka tiba-tiba membahas soal tatto di tangannya? Tatapan lelaki itu seolah sedang mencurigainya. *** "Dibilangin malah ngeyel!" umpat Raka di depan ponselnya. Tiara mengakhiri panggilannya secara sepihak. Perempuan itu bukannya terima kasih sudah diingatkan, malah memakinya, astaga! "Siapa?" tanya Damar. Lelaki itu beranjak dari sofa lalu pergi ke dapur mengambil air minum. "Temen," jawab Raka ala kadarnya. Iya, memang teman, kan? Damar tersenyum sinis. "Sekhawatir itu padahal cuma temen?" Raka siap mencibir kakaknya. "Gue selalu khawatir ke semua temen yang lagi dalam bahaya." "Sebahaya apa memangnya?" Damar lalu kembali duduk ke sofa. Raka mengerjapkan matanya. Ia teringat kalau kakaknya adalah seorang Jaksa. Siapa tahu Damar bisa membantu Raka dan Dami untuk mencari tahu pembunuh Fano. Ya, kan? Kenapa Raka sama sekali tidak kepikiran, sih! Eh, tapi, apa Damar akan percaya dengan cerita Raka? Karena bukan cuma melibatkan manusia, namun juga arwah penasarannya Fano.b "Gue mau tanya sama lo, Kak," ujar Raka, kemudian Damar mengangguk tanda mempersilakan. "Lo percaya sama hantu atau nggak?" Giliran Damar yang mengerjap sekarang. "Hantu?" "Iya. Gue harus pastiin lo percaya sama hantu atau nggak sebelum cerita." Raka memasang ekspresi serius. "Percaya nggak percaya sih," gumam Damar agak ragu. "Emang kamu mau cerita soal apa? Arwah penasaran dari korban pembunuhan?" Mulut Raka membulat. Kedua matanya juga. "Kak, tebakan lo bener!" "Nggak usah banyak basa-basi. Jadi, kamu cerita soal apa?" kejar Damar mulai kuwalahan dengan tingkah adiknya. Raka mengatupkan bibir. Segera ia fokus ke masalah yang akan ia ceritakan ke kakaknya. "Lo tahu Dami, kan? Temen main gue yang sekarang satu band sama gue?" "Yang tadi?" Kepala Raka manggut-manggut. "Iya. Yang mukanya paling lempeng. Ya, sebelas-dua belas kayak lo." "Terus?" potong Damar. Ia memilih tidak menghiraukan ledekkan adiknya. "Beberapa bulan yang lalu temennya Dami meninggal karena dibunuh seseorang yang nggak dikenal. Tapi anehnya, kasus pembunuhannya dianggap perampokan." Raka memulai ceritanya. Tidak lebih dan tidak ia kurangi. Sesuai cerita versi Dami. "Dan, Fano, temennya Dami itu, sekarang jadi hantu! Selain dia nggak terima dibunuh tanpa alasan, temennya Fano yang lain, namanya Alenta, jadi korban selanjutnya si pembunuh!" "Fano sama Alenta?" gumam Damar. "Iya. Kalau Fano, gue nggak tahu wujudnya kayak gimana. Tapi kalau Alenta, gue tahu. Gue pikir semua orang bakalan tahu siapa Alenta, Kak." Tiba-tiba Damar terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Sebentar ia menatap wajah adiknya yang begitu antusias bercerita. Entah cuma akal-akalan Raka saja, atau memang yang diceritakan adiknya itu sungguhan. Tapi, nama Fano dan Alenta tidak asing di telinga Damar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN