Benang Merah yang Terhubung

1267 Kata
Damar pergi ke ruang kerjanya dengan diikuti Raka dari belakang. Kakak lelakinya itu pergi setelah mendengar nama Fano dan Alenta yang disebut. Walau Raka masih bertanya-tanya kenapa kakaknya tiba-tiba bersemangat, Raka hanya diam tidak berani bertanya lebih banyak. "Woah!" seru Raka saat menemukan sebuah papan di ruang kerja Damar yang besar. Seperti di sebuah drama yang pernah Raka tonton. Di depannya saat ini, yang ia lihat, Damar menempelkan banyak gambar ke papan itu. Mulai dari lembaran foto, potongan dari koran, hingga coretan spidol. Raka mengerjapkan mata. Mulutnya menganga takjub. "Oh." Raka sontak menunjuk ke sebuah foto di papan. Damar berdiri tepat di samping papan tersebut. Kedua mata hitamnya sama sekali tidak berkedip. Dalam hatinya yakin kalau kasus kematian Fano serta kasus pembunuhan yang terjadi setahun terakhir ini saling terhubung. "Ini Alenta, Kak." Raka mendekat ke papan lalu menunjuk ke foto Alenta. Damar menengok sepintas kemudian mengangguk. "Iya." "Kenapa foto Alenta ada di sini? Dia kenapa?" tanya Raka penasaran. Damar berdiri tenang kemudian berpindah ke samping. Tidak heran jika Raka menghujani Damar dengan banyak pertanyaan. Kalau diperhatikan dari cerita Raka, sepertinya, adiknya itu kenal baik dengan perempuan bernama Alenta. Raka masih fokus menatap sang Kakak. Ia ingin mendapat jawaban secepat mungkin. Bagaimana bisa ada foto Alenta di ruang kerja kakaknya? Ah, tidak. Jangan pikir kakaknya naksir Alenta. Bukan. Karena foto Alenta dipasang di papan bersama foto banyak orang yang Raka tidak kenali. "Tunggu." Saat Damar akan menjelaskan, Raka menyela, mengangkat sebelah tangan kemudian berjalan lebih dekat ke arah papan. Kedua matanya menyipit tajam, sepasang alisnya saling terhubung. Ia mengenali satu foto lagi selain milik Alenta. "Manajernya Nirmala, kan?" tanya Raka menunjuk ke foto Karen. Kemudian, Damar mengangguk. "Bener. Kamu kenal?" "Kenal sih nggak," gumam Raka. "Gue tahu karena dia manajernya Nirmala. Artis yang sempat hilang itu. Tapi ternyata dia diculik dan dibunuh sama manajer dia sendiri." Sesaat, Damar menarik napas panjang. Ia mengenyampingkan badan sembari menatap semua foto di sana. Tidak salah lagi. Kasus perampokan Fano, dan beberapa kasus pembunuhan lainnya memang saling terhubung. "Kak, lo bisa jelasin ini apa?" kejar Raka. "Gue perlu ngasih tahu ke Dami soal ini. Walau gue belum paham apa yang terjadi sama mereka dan hubungannya apa. Maka dari itu lo harus jelasin." Damar ragu. Permasalahannya tidak sesederhana yang dipikirkan Raka. Bukan hanya banyak memakan korban saja, tetapi juga rumit. "Kak." Suara Raka terdengar seperti memohon. Damar menjilat bawah bibirnya. Ia membutuhkan—setidaknya lima menit untuk berpikir. Apakah ia harus berbagi informasi kepada adiknya atau tidak. *** Ada Alenta, bahkan Karen, manajernya Nirmala yang sekarang tengah ditahan karena membunuh artisnya sendiri. Raka memutar otak kemudian nekat masuk ke dalam ruang kerja Damar secara diam-diam. Seperti dugaan Raka, kakaknya itu tidak akan mau berbagi informasi dengannya. Keesokan harinya, Raka datang ke apartemen Dami. Ia menekan bel berulangkali karena saking tidak sabarnya memberitahu informasi yang ia dapatkan dari ruang kerja Damar di rumah. Raka menahan nyeri di sekujur badan dan pusing di kepala akibat efek kecelakaan mobil semalam. Tidak lama, pintu apartemen Dami dibuka. Si pemiliknya tampak kebingungan. Selain karena datang pagi sekali padahal semalam baru saja mengalami kecelakaan, Raka juga sangat bersemangat sekaligus terlihat panik. Temannya itu lalu masuk ke dalam apartemen dengan buru-buru hingga menabrak sebelah bahu Dami. "Stop! Lo jangan ngomel dulu." Sebelah tangan Raka terulur ke depan. "Gue bawa hal penting buat lo." Dami harus menahan diri agar tidak marah. Semalam Raka baru mengalami kecelakaan. Bisa saja Raka begini karena efek kepalanya yang terbentur sampai biru. "Gue seriusan, Dam!" seru Raka sangat bersemangat. "Ya." Dami berbalik sepintas kemudian menyahut pendek. Dami hendak pergi ke dapur mengambil air minum. Ponsel di tangannya bergetar kemudian berdenting pendek menandakan ada pesan masuk. Dami menghidupkan layar ponsel dan menemukan nama Raka. Dari notifikasi yang masuk, Raka sepertinya mengirimkan sebuah foto. Ia membuka foto kiriman dari Raka. Sejenak, Dami tampak linglung. Foto yang dikirim Raka hanya sebuah papan yang ditempeli banyak foto orang. Dari lelaki hingga perempuan. Dan, tunggu! Dami mengenali beberapa foto di papan itu. Dami memperbesar fotonya. Kedua matanya fokus tertuju ke sana. Raka mengerucutkan bibir seolah mengejek Dami diam-diam. "Gimana? Gue dapet petunjuk penting, kan?" kata Raka terdengar bangga. "Lo dapet ini dari mana?" tanya Dami sambil menunjukkan foto kiriman Raka sendiri. "Dari ruang kerja Kak Damar," jawab Raka. "Kakak lo?" Raka mengangguk cepat dan yakin. "Iya. Kak Damar. Kakak gue. Siapa lagi emang?" "Ini Fano...." gumam Dami menunjuk ke layar ponselnya. "Mana?" Raka mendekatkan wajahnya ke ponsel Dami. Karena foto yang Raka lihat berasal dari foto papan yang ia kirimkan sendiri tidak jelas walau sudah diperbesar, Raka meminta Dami menunjukkan foto Fano yang lelaki itu punya untuk dibandingkan. Apa benar itu foto mendiang Fano atau bukan. "Bener, mereka orang yang sama." Raka bergumam takjub. "Kematian Fano, teror Alenta, dan Karen.... ada hubungan apa di antara mereka?" "Lo udah tanya sama Kakak lo?" Raka menggeleng pelan. "Kak Damar nggak mau ngasih tahu. Dia minta gue sama lo buat nggak cari tahu apa-apa tentang ini." Sekarang bukan cuma Raka yang dibuat bingung sekaligus bertanya-tanya. Sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka semua yang fotonya ditempel di papan ruang kerja Damar? Kenapa semuanya bisa saling terhubung? "Gue udah bujuk Kak Damar, tapi gue malah kena marah." Raka mengadu ke Dami. "Gue mau cari tahu sendiri." Dami bergumam pelan. Namun tatapannya berubah tajam. "Caranya?" tanya Raka. "Oh! Gimana kalau lo cari tahu dari hantunya Fano?" Dami menatap Raka. "Ya. Gue bisa mulai dari Fano." *** "Kenapa?" tegur Rivano ke Tiara. Sejak tadi Tiara memandangi tatto di tangan Rivano. Perempuan itu menggelengkan kepalanya kemudian menjawab, "Tatto lo bagus." Kalimat itu sama persis yang dikatakan oleh Raka semalam padanya. Rivano melihat Tiara membantu Alenta turun dari ranjang rumah sakit. Hari ini Alenta sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. "Lo duluan aja masuk ke mobil, ya. Jangan lupa bawa tasnya Alenta juga." Tiara berpesan ke Rivano sebelum pergi. Rivano menenteng tas milik perempuan itu. "Iya, Mbak." Tiara melihat gerak-gerik Rivano yang aneh sejak semalam. Lebih tepatnya saat Raka menyinggung soal tatto lelaki itu. Karena Raka pula, Tiara jadi tidak berhenti memerhatikan Rivano sejak tadi. Ia belum mendapat jawaban hingga sekarang kenapa Raka meminta ia tidak dekat-dekat dengan Rivano. "Kenapa Rivano, lo suruh pergi?" tanya Alenta di samping Tiara. Kedua perempuan itu berjalan beriringan keluar dari ruang inap Alenta. Tiara memastikan bahwa Rivano sudah pergi duluan sebelum mereka. "Gue masih kepikiran soal semalem." "Karena Raka?" tebak Alenta. "Bukan cuma karena Raka. Gue heran aja kenapa dia nyuruh gue buat nggak deket-deket Rivano. Terus ya..., dia bilangnya kayak orang panik!" cerocos Tiara sebal. "Lo kepikiran karena Raka cemburu?" Tebakan Alenta barusan membuat kedua pipi Tiara berubah merah. Perempuan itu buru-buru mengibaskan tangannya ke udara kemudian mengelaknya. "Gue jadi merhatiin tatto-nya Rivano terus," tambah Tiara. Mereka sampai ke pintu lift. Ia dan Tiara menunggu bersama beberapa orang yang akan menaiki lift juga. Alenta terus mendengar ocehan Tiara, dan ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Emang tatto apa sih, Ra?" tanya Alenta. Pada akhirnya ia penasaran juga. Tiara mengeluarkan ponselnya. Diam-diam ia memfoto tatto-nya Rivano tadi. Ia mengangsurkan hasil fotonya ke Alenta. Walau tidak terlalu jelas karena agak blur, namun kedua mata Alenta cukup tajam. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Semalam saat Dami menjenguknya, Dami memperlihatkan gambar tatto yang sama kepadanya. Lelaki itu bertanya apa ia pernah melihat tatto yang sama persis seperti yang ada di ponsel lelaki itu. Alenta cuma menatapnya sekilas kemudian menjawab tidak tahu. Karena ya, memang tidak tahu. Belum pernah Alenta lihat sebelumnya. Ting! Lift berdenting kemudian terbuka. Saat Tiara akan menariknya masuk ke dalam bergantian dengan beberapa orang yang masuk, Alenta menahan lengan Tiara lantas menggelengkan kepalanya. "Ayo! Lo nggak mau masuk?" tanya Tiara heran. "Tunggu." Alenta menarik Tiara menjauhi lift.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN