Ekspresi wajah sekarang lebih mirip orang linglung. Ya, bagaimana tidak, sih. Ia sedang bersama Dami sekarang. Akan tetapi, juga ada hantu Fano di tengah-tengah mereka. Raka celingukkan ke kanan lalu ke kiri sambil menebak di mana keberadaan Fano sekarang. Apa di belakangnya? Raka sontak menoleh ke belakang kemudian bergidik. Atau, di sebelah Dami? Ya, mending Fano duduk di sebelah Dami saja. Jangan dekat-dekat dengannya.
"Dam." Raka menjawil paha Dami. Kepalanya masih bergerak ke sana kemari.
"Apa?" tanya Dami.
"Hantunya Fano ada di mana?"
Dami menatap Raka sebentar. Kemudian, menjawab, "Di belakang punggung lo."
Sontak, Raka beranjak dari tempat duduknya sambil menggosok punggungnya sendiri. Dami menggeleng, merasa heran dengan Raka yang ketakutan begitu.
Sosok Fano ada di sebelah Dami. Tadi ia hanya ingin mengerjai Raka. Sesekali kan tidak apa-apa. Selama ini Raka selalu jahil kepadanya. Biar Raka merasakan bagaimana dikerjai.
Raka duduk lagi, tapi kali ini di samping Dami. Fano mendelikkan matanya, menggeser tempat duduknya karena Raka tahu-tahu duduk di sana tanpa permisi. Eh, ya sih, mau permisi bagaimana memang kalau lelaki itu saja tidak bisa melihat keberadaannya.
"Nggak usah bisik-bisik. Fano bisa denger lo ngomong apa," ujar Dami. "Yang lo dudukin sekarang tempat duduk dia tadi."
Raka merasakan jantungnya jumpalitan sekarang. Mendengar ia menyerobot tempat duduk hantunya Fano, wajah Raka berubah tegang. Bibir Raka komat-kamit meminta maaf ke Fano. Ia mengatakan tidak ingin diganggu oleh hantu lelaki itu.
"Kenapa lo cerita ke dia sih?" protes Fano ke Dami.
"Dia temen gue dari kecil. Apa-apa gue selalu cerita. Gue nggak bisa sembunyiin rahasia ke Raka," jawab Dami.
Raka menunjuk dirinya sendiri. "Lo ngomong sama gue? Oh, Fano, ding."
Sesuai rencana Dami, ia akan mencari tahu lebih dulu dari Fano. Sebelumnya Dami meminta Raka agar memfoto papan di ruang kerja Damar lebih jelas. Foto kemarin agak blur. Mungkin, Raka buru-buru karena takut ketahuan kakaknya.
"Siapa?" tanya Dami saat mendengar ponsel Raka berdering.
"Abra." Raka menunjukkan layar ponselnya.
Dami dan Raka memutuskan untuk menceritakannya ke Abra juga. Lelaki itu bisa diandalkan seperti sebelum-sebelumnya. Mulanya Dami tidak mau ada orang lain yang tahu mengenai hantu Fano. Dami khawatir saja ia dianggap gila oleh orang lain. Tapi, reaksi Abra justru sebaliknya. Sama sekali tidak mengoloknya kurang waras atau semacamnya. Abra mendengarkan Dami hingga selesai bercerita kala itu.
"Halo, Bra," sapa Raka di telepon.
Raka menghidupkan spiker ponselnya. Di seberang sana Abra mendengkus. Raka tidak pernah dengan benar memanggil namanya. Apa barusan katanya? Bra? Kenapa tidak disebut secara keseluruhan saja sih?
"Gue udah cari tahu," kata Abra. Pada akhirnya ia tidak protes ke Raka karena ini bukan saatnya. "Sesuai dugaan lo, Bang. Kematian Fano ada hubungannya sama kasus p*********n lima tahun yang lalu."
Dami menajamkan kedua telinganya. Begitu pun Raka. Ia tidak ingin kehilangan satu informasi pun yang dibagi oleh Abra.
"Dan ya, Bang," ujar Abra, ia memberi jeda.
Terdengar suara klakson mobil di dalam telepon. Mereka menebak Abra sedang ada di jalan.
Raka pindah duduk di lantai. Karena begitu penasarannya, Raka menelungkupkan kepalanya ke atas meja sembari menunggu Abra melanjutkan informasinya lagi.
"Lo lagi di mana sih?" protes Raka.
"Bentar. Gue lagi di jalan," jawab Abra.
Tidak terdengar lagi suara keramaian kendaraan seperti tadi. Suasana cukup hening walau terdengar suara klakson sesekali. Mungkin, Abra sudah menepikan mobilnya.
"Gimana?" tanya Dami setelah dirasa tepat bertanya.
"Korbannya bukan cuma Fano aja, Bang." Abra menarik napas. "Gue kirimin lo video dan kalian harus nonton."
Video yang dimaksud Abra telah terkirim ke nomor Dami. Ia membiarkan panggilan terus berjalan, sementara itu Dami memutar video yang dikirim oleh Abra.
Dami, Raka dan Fano memfokuskan pandangan mereka ke layar ponsel. Video berdurasi kurang dari dua menit itu menunjukkan seseorang yang melakukan p*********n kepada temannya. Fano mencondongkan badan, memerhatikan video itu secara seksama.
"Itu," tunjuk Raka ke salah satu orang di dalam video. "Bukannya Alenta? Iya. Yang pake seragam SMA!"
Dami mengangguk. Ia kemudian menambahkan, "Di belakang Alenta, itu Fano."
Berbeda dari Dami dan Raka yang saling bersahutan saat video diputar, Fano malah membeku. Ia terus menatap ke arah korban kemudian matanya membelalak terkejut.
"Nggak mungkin." Fano berbisik lirih.
"Ada lima orang saksi waktu p*********n terjadi. Dan cuma dua orang doang yang masih hidup," beritahu Abra.
"Hah? Mereka meninggal semua? Salah satunya yang masih hidup berarti Alenta dong?" tanya Raka.
"Iya." Abra menjawab cepat. "Sebelum Fano meninggal, ada korban lain. Kemungkinan sama dibunuhnya. Setelah itu, ada korban lain lagi, Bang. Dan lo pasti kaget saat gue kasih tahu siapa korban setelah Fano."
"Siapa?" tanya Dami masih tenang.
"Siapa, Bra?!" seru Raka tidak sabar.
Abra memberi jeda sebentar. Dua detik setelahnya lelaki itu melanjutkan. "Lo berdua inget cerita Winona soal pembunuhan di sekolahnya?"
"Iya! Gue inget!" jawab Raka.
"Ya, itu korban terakhir setelah Fano di bunuh."
Mulut Raka menganga tidak percaya. Dami masih saja tenang. Belum memberi reaksi secara berlebihan seperti yang ditunjukkan Raka.
"Dan kalian tahu gue dapet video itu dari mana?" tanya Abra kepada dua temannya.
"Mana kita tahu kalau lo nggak bilang!" cerocos Raka mulai tidak sabaran.
"Dari akun lama Karen," jawab Abra. Lantas ia menambahkan, "Iya. Karen, manajernya Nirmala."
***
Naomi terus memerhatikan lelaki tua dari dalam kedai makanan. Beberapa hari terakhir ia sering mengikuti lelaki itu ke mana-mana. Seperti sebelum membuka kedai, pergi berbelanja ke pasar sampai membuka kedianya hingga tutup.
Beberapa hari yang lalu Naomi tidak sengaja melihat seorang lelaki berusia lima puluhan pergi belanja ke pasar sendirian. Langkah lelaki itu sudah tidak terlalu kuat, napasnya saja sering ngos-ngosan. Naomi merasa kasihan. Tidak tega melihat lelaki setua itu bekerja keras. Naomi pikir, ke mana anak-anaknya? Kenapa tidak membantu orang tuanya walau cuma pergi belanja ke pasar?
Kedai lelaki itu tidak terlalu ramai pembeli. Ia bahkan bisa menghitung berapa banyak orang yang makan di kedai lelaki itu. Naomi mengembungkan kedua pipinya. Andai saja ia manusia, ia akan membantu dengan senang hati.
Ia yang tidak ingat siapa keluarga mau pun orang tuanya, ia merasa kesal dengan manusia yang malah menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa membahagiakan orang tua mereka. Jika itu Naomi, maka Naomi akan mendedikasikan hidupnya. Walau Naomi terlihat cuek saat ditanya tentang keluarganya, ada kalanya Naomi sedih. Kenapa cuma ia yang tidak ingat apa pun tentang masa lalunya?
Kepala Naomi bergerak ke arah pintu. Lelaki yang sering ia puji kelewat tampan itu sedang memarkirkan motornya di depan kedai. Naomi tampak senang. Ia berlari mendekat ke arah Rivano. Ya, Rivano bodyguard-nya Alenta itu, lho!
"Wah! Kebetulan banget si ganteng ada di sini! Hei, halo!" seru Naomi mengekor di belakang Rivano. "Pasti mau makan di sini ya?! Iya, mending makan di sini aja! Biarpun gue nggak tahu rasa masakannya si Bapak, gue berani jamin pasti enak!"
Rivano sudah berada di dalam kedai. Seorang bapak-bapak yang tengah makan di kedai menyapa Rivano seolah mengenal lelaki itu. Naomi mendengar obrolan kedua lelaki itu. Tapi herannya, bapak-bapak itu bukan memanggil dengan sebutan Rivano. Tapi nama lain.
"Ah, mungkin nama panggilan kali. Nama Rivano itu nama asli dia," kata Naomi sambil manggut-manggut.
"Saya masuk duluan, Pak. Mau ketemu sama Bapak di dalam." Rivano pamit sambil menunjuk ke pintu dapur.
"Oh, iya. Silakan," sahutnya.
Naomi mengikuti Rivano sampai ke dalam dapur. Di sana cuma hanya ada Bapak tua. Naomi bertanya-tanya sebenarnya ada hubungan apa antara kedua lelaki itu. Tatapan hangat Bapak tua berubah murung dan dingin saat Rivano menghampirinya ke dapur.
"Saya mau kita akhiri semuanya, Pak," kata Rivano tegas.
Si Bapak tua sama sekali tidak menengok ke Rivano. Lelaki itu tampak santai memotong sayuran yang akan dimasaknya.
"Kita nggak bisa terus-terusan balas dendam! Orang yang Bapak bilang jahat itu udah kita bunuh!"
"Belum!" balas Bapak tua marah. Ia mengacungkan pisaunya di depan Rivano. "Masih ada Alenta dan Karen. Selama mereka masih hidup, saya nggak akan bisa tenang!"
"Bahkan Karen dipenjara padahal bukan dia yang bunuh Nirmala!" sentak Rivano.
PRAAANG!
Rivano dan si Bapak tua menengok kompak. Tahu-tahu ada gelas yang jatuh kemudian pecah.
Itu ulah Naomi. Ia terkejut mendengar obrolan kedua lelaki itu. Apa katanya? Mereka sudah membunuh orang? Lalu, apa hubungannya dengan Alenta dan Karen?
Naomi berjalan mundur menjauhi keduanya. Tiba-tiba saja ia merasa takut padahal Rivano mau pun si Bapak tua tidak akan bisa melihatnya. Mereka sangat menakutkan! Bagaimana bisa si Bapak tua masih ingin membunuh orang di saat Rivano ingin mengakhirinya? Sebenarnya, mereka siapa?