"Nom!"
Suara cempreng Fano sampai ke telinga Naomi. Hantu perempuan itu segera menoleh. Kedua pipinya mengembung lucu. Fano menghampiri Naomi yang kin berdiri sambil menatapnya.
"Lo habis dari mana, Fan?" tanya Naomi.
"Ketemu Dami."
Sehabis itu, Fano tidak berbicara lagi. Kedua matanya melirik Naomi yang entah kenapa jadi lebih pendiam dari biasanya.
"Ada yang mau gue omongin!" seru Fano dan Naomi secara bersamaan.
Naomi masih shock dengan kejadian tadi. Ya, sewaktu ia mendengar obrolan Rivano dan Bapak tua yang sering ia ikuti beberapa hari ini. Naomi menyipitkan kedua mata lantas menggelengkan kepalanya. Ia itu hantu. Tapi berpengaruh sekali ya kejadian tadi.
Coba bayangkan kalau seandainya yang mendengarkan obrolan tadi itu manusia. Mungkin saja nyawa orang itu bisa dalam bahaya karena mengetahui rahasia Rivano dan Bapak tua. Naomi masih tidak menyangka kalau orang yang kelihatan baik, ternyata adalah seorang pembunuh. Naomi mendengar dengan jelas kalau si Bapak tua belum mau berhenti sebelum dendamnya terbalaskan.
Naomi melirik Fano sebentar. Ia sedang berpikir apa ia perlu memberitahu Fano soal tadi. Naomi tidak tahu siapa saja orang yang telah dibunuh kedua lelaki itu. Tapi yang jelas, mereka menyebutkan nama Alenta dan satu orang lagi yang diketahuinya ternyata Karen, manajernya Nirmala.
"Kayaknya serius banget wajah lo." Fano tetap terlihat santai walau sekarang ia sangat penasaran.
"Gue...," Naomi bergumam panjang. Ia gugup. Ia khawatir tidak tahu kenapa. "Gue ngikutin orang beberapa hari ini."
Fano hampir tidak sabaran ingin bertanya lagi. Tapi melihat Naomi tampak serius daripada biasanya, Fano menahan diri dan memberi Naomi waktu untuk bercerita.
"Siapa?" tanya Fano.
Sepasang mata Naomi menerawang pada kejadian tadi. Ia bergidik ngeri. Apa yang dilakukan kedua orang itu sungguh menakutkan. Kenapa Rivano dan Bapak tua melakukan itu? Untuk balas dendam katanya. Astaga, sebenarnya apa yang terjadi sampai kedua lelaki itu nekat membunuh, sih!
"Gue pikir orang itu baik," gumam Naomi.
"Terus?"
Dagu Naomi terangkat. Ia terlihat sangat kecewa. "Ternyata orang itu pembunuh."
Untuk beberapa saat Naomi dan Fano memilih diam. Naomi yang berusaha menenangkan diri, sementara Fano, sibuk berpikir ia akan memulai dari mana untuk bertanya.
"Dan lo harus tahu Fan—"
"Nom, lo nggak inget sama gue?" sela Fano tiba-tiba.
"Hah?" balas Naomi terbengong.
Fano mendekap kedua Naomi cukup erat. Fano menatap kedua mata perempuan itu, kemudian, mengulang pertanyaannya. "Lihat gue baik-baik. Lo nggak inget sama wajah gue? Nom, gue tahu kenapa kita dipertemukan dalam keadaan begini! Gue tahu jawabannya, Nom!"
Kedua mata Naomi mengerjap. Fano memaksa dirinya agar mengingat wajah lelaki itu. Apa? Naomi sama sekali tidak paham. Ingat apa memangnya? Jelas Naomi ingat siapa Fano. Mereka, kan, hampir setiap hari ke mana-mana bersama.
Berbeda dari Naomi yang bingung, Fano justru tidak berhenti merasa bersalah kepada perempuan itu untuk waktu yang lama. Kejadian lima tahun yang lalu sangat membekas bagi Fano. Tapi bodohnya Fano, ia malah tidak mengingat wajah Naomi saat pertama mereka bertemu pertama kalinya setelah keduanya menjadi hantu.
"Apa sih lo, Fan," ujar Naomi, segera ia mencairkan suasana yang berubah hening.
"Gue seriusan. Lo lihat gue baik-baik," pinta Fano memelas.
Sekarang, ia tahu alasan di balik hilangnya ingatan Naomi. Mungkin akan lebih baik seperti itu daripada harus mengingat peristiwa mengerikan lima tahun yang lalu. Karena mau mengelak bagaimanapun, Fano memiliki andil atas kematian Naomi.
***
Damar bertemu dengan seorang teman. Oh, bukan, lebih tepatnya seseorang yang ia kenal sebagai salah satu petugas kepolisian. Beberapa kali mereka bekerjasama untuk menangani kasus. Salah satunya kasus p*********n lima tahun yang lalu.
Lelaki yang berprofesi sebagai jaksa itu masuk ke dalam sebuah mobil kemudian menutupnya kembali. Kedua lelaki itu duduk sebelahan. Si petugas polisi yang ia kenali bernama Arfan itu melajukan mobilnya meninggalkan jalanan tempat mereka bertemu.
"Gimana?" tanya Damar saat mobil Arfan mulai melaju menyeruak jalanan yang ramai.
"Setelah diteliti lagi, kedua kasus yang Pak Damar sebutkan memang ada hubungannya." Arfan bicara sambil menyetir. Ia menengok ke samping kemudia lurus ke depan.
Arfan mengambil ponselnya dari atas dashboard, lantas ia sodorkan pada Damar. Lelaki berusia tiga puluh tujuh tahun itu menerima ponsel Arfan tanpa ragu.
"Pak Damar perhatikan sekali lagi videonya." Arfan menengok sepintas ke samping.
Damar memperbesar layar kemudian memutar videonya. Damar memfokuskan kedua matanya. Ia menajamkan kedua matanya. Arfan memintanya agar menonton video itu lagi pasti karena ada sesuatu yang ketinggalan.
"Tiga dari lima orang saksi sudah meninggal. Walau hanya dua di antaranya yang dikonfirmasi sebagai pembunuhan." Damar bisa mendengar apa yang dikatakan Atfan di sampingnya. "Kalau kita perhatikan, mungkin terlihat cuma ada lima saksi. Tapi sebenarnya lebih dari lima orang, Pak," ujar Arfan memberi jeda sebentar. "Saat Karen mengambil video p*********n itu, Karen nggak sendirian. Tapi ada mendiang Nirmala."
"Apa?" tanya Damar terkejut.
Arfan menganggukkan kepalanya pelan. "Bisa jadi pembunuh Nirmala yang sebenarnya bukan Karen. Tapi orang yang sama membunuh tiga orang sebelumnya."
Damar mulai memutar otak. Bagaimana bisa Damar sampai melewatkannya. Ternyata ada lebih dari lima orang saksi. Damar mengembuskan napas, berusaha mengingat kasus Nirmala yang sempat hilang lebih dari satu bulan kemudian ditemukan dalam keadaan meninggal di sebuah pembuangan tempat sampah.
"Kita bisa cari tahu dari Karen," gumam Arfan.
"Yang memberatkan, Karen mengaku membunuh Nirmala," tambah Damar.
"Kemungkinan Karen ditekan seseorang," kata Arfan. "Kita bisa cari tahu lewat Karen, Pak. Bisa jadi dia satu-satunya orang yang tahu dalang di balik banyak pembunuhan terjadi."
Damar mengangguk setuju. Ia sependapat dengan Arfan.
***
"Lo yakin itu rumahnya?" tanya Raka pada kedua temannya.
Ketiga lelaki itu berada dalam satu mobil. Dami dan Abra duduk di kursi depan. Dan Raka ada di kursi belakang.
"Bener kok," jawab Abra lalu mengangguk.
Mereka bertiga sedang mengawasi seseorang. Mobil hitam Dami terparkir tidak jauh dari rumah yang mereka awasi sejak satu jam yang lalu. Dami menatap pagar rumah kemudian ke arah balkon yang bisa ia lihat dari dalam mobilnya.
"Gue penasaran kenapa dia bisa dibebasin padahal jelas ada bukti video," kata Raka sambil berdecak.
Abra menoleh ke belakang dan menatap Raka. "Bang, video itu emang dari akun lama Karen. Tapi baru-baru ini diposting."
"Dari situ aja udah aneh. Jelas Karen lagi ditahan, kenapa bisa videonya keposting," sahut Dami.
Dami dan Abra semalaman tidak tidur hanya untuk menonton video yang mereka temukan dari akun sosial media Karen yang lama. Tidak terhitung berapa kali Dami memutar video tersebut. Mulai dari memperbesar suara hingga memperbesar layar untuk bisa menemukan petunjuk lain.
Orang-orang yang ada di video hanya tersisa Alenta, Karen dan pelaku p*********n. Lelaki itu masih bebas berkeliaran ke mana saja tanpa merasa bersalah telah membunuh temannya sendiri. Kejadian itu disaksikan di tempat umum. Tapi sayangnya tidak ada satu orang saja yang mau memberikan kesaksian termasuk Alenta dan Fano.
"Gue penasaran kenapa Alenta sama Fano urung jadi saksi." Abra bergumam pelan. "Padahal sebelumnya mereka setuju mau bersaksi. Tapi saat persidangan berlangsung, mereka nggak mau dateng."
"Maka dari itu pelaku dibebaskan?" sahut Dami, dingin.
"Bukan cuma itu aja, Bang," kata Abra kemudian menggelengkan kepalanya. "Si pelaku itu anak orang berpengaruh. Ditambah lagi saat kejadian, dia masih remaja. Barang bukti kayak video itu sebelumnya nggak ada. Semua saksi nolak buat datang ke persidangan. Ya, dianggap kurang kuat buktinya."
Raka mengepalkan kelima jarinya menahan geram. "Kalau aja gue kakaknya si korban, beneran gue bunuh itu pelaku!"
"Tapi kalau gue pikir lagi. Siapa sih yang nggak takut jadi saksi? Pasti mereka mikir bakal diteror, atau malah nyawanya bakal terancam," tambah Abra tenang. "Oh ya, Bang, emang hantunya Fano nggak ngasih tahu detail-nya ke lo gimana?"
Dami menatap Abra sekilas kemudian menggeleng. Setelah mereka menonton video itu bersama, walau Abra dan Raka tidak bisa melihat wujud Fano di tengah-tengah mereka, tetapi Dami menemukan keanehan pada Fano. Tiba-tiba saja lelaki itu diam dan.... shock. Setelah selesai menonton, Fano bilang ingin menemui teman sesama hantunya untuk meminta bantuan. Lalu, hingga saat ini Dami tidak melihat Fano lagi.
Ketiga lelaki itu kembali tenang dan menunggu seseorang keluar rumah. Sudah lewat dua jam mereka di sana, tetapi belum membuahkan hasil. Raka duduk menyandarkan punggung ke kursi sambil bermain ponsel. Ia mulai bosan menunggu dan memutuskan untuk berselancar ke akun sosial media miliknya.
Raka tahu-tahu menepuk kedua bahu temannya sangag heboh. Abra sampai kaget karena Raka terlalu kencang menepuk bahunya.
"Apa sih, Bang?" protes Abra mulai kesal.
"Lo... lihat ini!"
Raka nyaris saja melempar ponselnya ke kursi depan. Abra meraih ponsel milik Raka dan melihat bersama apa yang telah ditemukan lelaki itu sampai membuat keributan.
"Apa?" desis Abra tidak percaya.
Sebuah akun gosip memposting sesuatu yang mengejutkan ketiganya. Akun gosip tersebut memposting foto Karen dan menuliskan sebuah caption. "Turut berduka cita atas mendiang Karen. Walau Karen sudah berbuat jahat membunuh artisnya sendiri, tapi mari kita doakan mendiang, ya."
Dami dan Abra yang membaca postingan itu pun menurunkan kedua bahu. Dami memaki, lantas memukul setir mobilnya sangat kuat.