"Sumpah?!" pekik Tiara.
Alenta mengangguk kecil sebagai jawaban.
Kedua perempuan ini memiliki kepribadian yang sangat kontras. Alenta yang tenang dan dingin, sementara Tiara justru sebaliknya.
Pada akhirnya Alenta bercerita mengenai penusukan waktu itu. Tidak tahan dicurigai memiliki hubungan spesial dengan Dami, Alenta menceritakannya secara detil. Mulai dari Tiara meninggalkan dirinya karena ponsel perempuan itu tertinggal, kemudian terdengar suara teriakkan seseorang dari arah belakang.
Alenta dengan santai menceritakannya pada Tiara. Ia sama sekali tidak merasakan keberadaan siapa pun malam itu. Termasuk lelaki asing, yang entah datang dari mana. Kalau saja Dami tidak menahan lelaki itu, kalau saja anggota Missing You tidak berteriak, bisa saja Alenta berhasil ditusuk pisau. Mungkin juga, Alenta tidak bisa duduk saling berhadapan dengan Tiara sekarang.
Tiara mendesah kecewa. Tadinya ia pikir ada hubungan spesial antara sang artis dan vokalis Missing You itu. Dilihat secara sepintas saja mereka sangat serasi. Dami yang tampan, Alenta yang cantik walau terlihat dingin. Andai saja keduanya sungguhan memiliki hubungan spesial, bukankah akan menjadi berita paling panas? Keduanya sangat digandrungi para muda-mudi sekarang. Baik Dami dan Alenta, mereka berdua adalah bintang paling bersinar. Hm, tapi... ternyata semua itu cuma salah paham. Alenta meminta Tiara mencarikan alamat lelaki itu bukan karena ada yang spesial. Tapi untuk mengucapkan terima kasih.
"Itu awalnya," gumam Alenta.
Selanjutnya, Alenta menceritakan sikap Dami yang menyebalkan. Kedatangannya ke sana awalnya ingin berterima kasih. Namun melihat tanggapan Dami yang dingin, ditambah Dami memarahinya malam itu, Alenta jadi kesal lagi. Bukannya mengucapkan terima kasih seperti tujuan awalnya, Alenta justru balas menatap Dami sinis. Menyerang balik dengan kata-kata pedas sampai Dami sampai bungkam.
"Gue denger sih... Dami emang ada masalah sama emosinya, gitu." Tiara manggut-manggut sambil bercerita tentang Dami. "Bisa jadi, lo datang nggak tepat aja waktunya. Namanya orang lagi nggak mood, kan."
Alenta tersenyum sinis. "Tapi nggak bisa gitu dong. Gue ke sana berniat berterima kasih. Tapi lihat reaksi dia, gue merasa disudutkan. Seolah gue yang mohon buat ditolongin malam itu."
Bukan salah Alenta jika marah dan balas menyudutkan Dami. Tidak ada yang meminta kepada lelaki itu untuk menolongnya. Tidak ada yang meminta kepada Dami agar mau terluka karena menolongnya. Semua terjadi dengan tiba-tiba. Dalam sekejap mata, Dami dan lelaki asing itu berdiri saling berhadapan dengan posisi kelima jari Dami menahan pisau si lelaki. Jika Alenta diberi pilihan, lebih baik Alenta ditusuk daripada harus dimarahi seperti malam itu. Bahkan Alenta dibilang ceroboh di depan anggota Missing You yang lain.
"Gue nggak bisa ngomong banyak karena takut salah." Tiara menepuk paha Alenta. "Tapi, ya, Len... namanya manusia kayak punya refleks saat lihat ada orang lain butuh pertolongan. Mungkin maksud Dami baik, tapi lo anggapnya kayak marahin lo."
"Kita nggak sedekat itu sampai dia marahin gue di depan teman bandnya." Alenta menyibak rambut panjangnya ke belakang punggung. "Okay, kalau kita teman lama. Anggap aja gue emang ceroboh. Tapi dia siapa? Kita aja baru ketemu malam itu."
Tiara tidak berniat melanjutkannya. Alenta pun sama. Ternyata bukan Raka yang melihat keduanya memiliki tempramen yang hampir sama. Hanya saja Alenta sedikit lebih tenang ketimbang Dami. Alenta selalu menyikapi semua hal dengan dingin, datar, seperti tanpa emosi. Tapi sekarang, Tiara melihat Alenta sangat kesal karena ulah Dami.
"Lo inget orang yang mau nusuk lo, Len?" tanya Tiara. "Kita nggak bisa anggap sepele. Ini udah termasuk rencana pembunuhan. Beruntung ada Dami sama temen-temennya malam itu."
Alenta terdiam sejenak. Ia berusaha mengingat siapa orangnya. Tapi sekali lagi, malam itu cukup gelap. Ditambah lagi pakaian serba hitam yang digunakan dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Alenta berakhir menggelengkan kepala. Ia menjawab dengan jujur. Bahwa dirinya tidak mengingat apa pun tentang lelaki itu.
"Lo butuh bodyguard kayaknya."
Alenta menoleh. "Buat apa? Nggak usah."
Tiara berdecak. "Kalau ada kejadian kayak waktu itu gimana, Len?"
"Gue nggak apa-apa. Tolong jangan berlebihan."
"Apa ini ulah haters lo?" Tiara menebak-nebak.
Alenta mengangkat kedua bahunya. "Gue nggak tahu. Tapi gue rasa... nggak mungkin. Emang tingkah gue yang mana sampai bikin haters pengin bunuh gue, Ra?"
Ditatapnya Alenta sepintas. "Tanpa lo berulah, bisa aja ada orang yang benci sama lo. Kita nggak tahu isi hati orang kayak gimana, Len."
Entahlah. Alenta tidak ingin terlalu memikirkannya. Ia akan menganggap kejadian malam itu tidak pernah terjadi. Ia juga akan menganggap dirinya tidak pernah datang ke apartemen Dami. Alenta harap, ia dan Dami tidak akan berurusan lagi. Cukup malam itu. Alenta tidak ingin berurusan dengan manusia semacam Dami.
***
Nama dan foto mereka terpampang pada sebuah berita online. Dami membanting ponselnya ke lantai sembarangan. Dua kali bertemu, Dami sudah mengalami sial sampai dua kali pula. Kemarin, tangannya dibuat terluka karena menolong perempuan itu. Dan sekarang? Ha! Sepertinya, Alenta adalah simbol kesialan Dami.
Sudah dibanting ke lantai, ponselnya masih bisa berdering. Suaranya cukup nyaring sampai Dami beranjak dari sofa kemudian menginjaknya hingga remuk. Layar ponselnya menjadi retak.
Dami dan emosinya memang sulit dikontrol. Walau belum pernah ia memukul orang saat emosi, Dami akan meluapkannya dengan merusak atau membanting barang di sekitarnya. Terakhir kali ada seorang yang membuatnya marah. Gitar salah satu teman bandnya menjadi korban. Dibantingnya benda itu di depan orang yang telah membuatnya marah kemudian melenggang pergi dengan ekspresi wajah yang datar.
Entah siapa dalang di balik rumor buruk tentang dirinya ada Alenta. Foto yang terpampang dengan judul berita, "Ada hubungan apa antara Alenta dan Dami?" Seingatnya kemarin hanya ada ia, Alenta, dan ketiga temannya. Kalau pun ada orang lain, itu adalah Fano. Namun, tidak mungkin hantu yang melakukannya, kan? Diam-diam memotretnya dan Alenta di depan pintu apartemennya, lantas menyebarkannya ke media. Tidak. Itu mustahil. Rasanya tidak mungkin ada hantu yang bisa melakukan hal semacam itu. Memegang manusia atau benda mati saja tidak bisa.
Setelah puas menginjak ponselnya hingga remuk, Dami berjalan mundur lalu duduk di sofa dengan kepala mendongak ke atas. Ia mengingat sekali lagi siapa yang ada di sana selain mereka. Kedua mata Dami melebar, kemudian mengerjap beberapa kali. Tiba-tiba saja ia teringat Alenta. Atau, bisa jadi ulah Alenta sendiri, bukan? Bisa saja Alenta kemari dengan membawa paparazi secara diam-diam untuk memotretnya. Kemudian, menyebarkannya ke media. Ya, benar. Ini jelas ulah Alenta.
Dami mendengkus lalu tertawa sinis. Perempuan licik! Pasti Alenta sengaja melakukan ini karena memiliki tujuan. Entah itu apa. Tapi Dami yakin rumor kencan mereka ada campur tangan Alenta. Bagaimanapun Alenta adalah penyanyi pendatang baru. Bisa jadi perempuan itu sedang memanfaatkan keadaan. Mungkin, Alenta pikir bisa jadi lebih populer kalau dirumorkan berpacaran dengan Dami?
Lelaki itu menyambar jaket hitam yang terpampang di bahu sofa. Sembari mengenakannya, Dami berjalan menuju ke pintu. Ia akan membuat perhitungan dengan Alenta! Jangan pernah mencari masalah dengan Dami jika masih ingin hidup tenang.
Dami menutup pintu apartemennya. Berjalan melewati lorong dengan langkah tergesa. Lihat saja, Dami akan membuat perempuan itu menyesal karena sudah mencari masalah padanya.