Obrolan Hantu

1212 Kata
Lebih dari satu jam Alenta memandangi bingkai foto di tangannya. Bingkai foto itu berisi foto dirinya dan Fano. Alenta menarik napas panjang. Kemudian membawa bingkai foto itu ke dalam pelukannya. Kehilangan Fano sama seperti kehilangan setengah kehidupannya. Harinya kembali sepi. Tidak berwarna lagi. Ini sama seperti ia saat kehilangan kedua orang tuanya. Alenta tidak memiliki siapa lagi selain kakaknya sekarang. "Pembohong," cibirnya. Setetes air mata meluncur di pipinya detik itu. Seseorang di belakang tengah menggelengkan kepala. Ia bukan pembohong. Ia selalu menepati janjinya kepada Alenta. Fano menepati janjinya untuk selalu ada di samping perempuan itu apa pun keadaannya. Sekali pun dunia mereka sudah berbeda, Fano tidak mengingkari janjinya. Lihat, walau Alenta tidak bisa melihat keberadaannya, Fano masih ada di samping perempuan itu hingga hari ini. Di kamar yang luas ini terasa sepi. Samar, terdengar suara isakkan kecil Alenta. Perempuan itu menangis untuk kesekian kalinya. Untuk melupakan Fano dan kenangan mereka sangat sulit. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada berapa momen yang mereka ciptakan? Ada berapa banyak kenangan? Seberapa banyak perhatian, pengorbanan, yang Fano berikan untuknya? Tidak terhitung. Fano terlalu banyak melakukan pengorbanan demi dirinya. Siapa yang mengira Fano dan Alenta akan sedekat itu. Alenta lahir di luar negeri, tidak bersama kedua orang tua dan kakaknya. Kehidupan mereka harmonis, saling menyayangi layaknya sebuah keluarga pada umunnya. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Karena, setelah kematian sang Ayah dalam kecelakaan pesawat, kehidupan keluarganya berubah penuh kesedihan. Ia dan sang Kakak kehilangan sosok Ayah. Bukan cuma itu, kesehatan mental ibunya terganggu setelah kehilangan suaminya. Di mata ibunya, sang Ayah masih hidup. Ibu masih menyiapkan keperluan ayahnya. Alenta dan kakaknya menatap ibunya sedih. Pernah suatu hari Alenta tidak sengaja membentak ibunya karena merasa kesal bercampur sedih. Alenta mengatakan bahwa sang Ayah sudah meninggal. Pesawat yang ditumpangi ayahnya mengalami kecelakaan. Alenta mengatakannya sambil menangis. Saat itu, hanya ada ia dan ibunya. Kakaknya sedang pergi kuliah. Mendengar fakta itu, ibunya terduduk lemas. Kepalanya menggeleng sembari bergumam bahwa itu tidak benar. Suaminya masih hidup! Tidak mungkin meninggal! Si sulung, kakaknya Alenta mengajak Ibu dan adiknya untuk pulang ke Indonesia saja. Selain demi kesehatan mental sang Ibu, mereka butuh suasana baru. Di rumah lama mereka terlalu sesak hanya sekadar menatapnya. Kenangan di rumah itu tentang Ayah mereka terlalu banyak. Si sulung memiliki keyakinan jika Ibu mereka tinggal di tempat baru, maka kesehatan Ibu mereka akan mulai membaik. Alenta setuju, apa pun akan ia lakukan untuk ibunya. Sekali pun meninggalkan tempat kelahirannya dan memulai kehidupan di lingkungan lain. Bersama orang-orang baru. Di Indonesia, mereka tinggal di rumah lama keluarga Ibu mereka. Karena ibunya yatim-piatu, hanya ada Alenta, Ibu, dan kakaknya yang tinggal di sana. Mula-mula Alenta merasa tidak nyaman tinggal di rumah itu. Ia merindukan teman-temannya di luar negeri. Tapi demi ibunya, Alenta berusaha menguatkan diri. Memaksa dirinya agar menikmati kehidupan barunya di sini, di tempat kelahiran sang Ibu. Di tempat baru, bertemu orang-orang baru, di saat itulah ia bertemu dengan sosok Fano. Satu-satunya orang yang Alenta anggap aneh. Fano yang ceria, banyak bicara, dan ramah. Karena sebuah kesalah pahaman, Alenta dan Fano menjadi dekat. Alenta yang pendiam ternyata merasa nyaman dengan sosok Fano yang begitu kontras dengan karakternya. Entah kenapa, Fano selalu ada di saat yang tidak tepat. Saat ia menemukan ibunya berakhir melakukan bunuh diri, Fano ada bersamanya. Saat itu Alenta mengajak Fano untuk mengerjakan tugas bersama di rumahnya. Namun, alangkah terkejutnya. Alenta menemukan ibunya menggantung dirinya. Segera, Fano menutup kedua mata Alenta kemudian memeluk perempuan itu sebelum menangis histeris. Kehilangan Ayah, lalu kehilangan Ibu—orang yang menjadi alasannya untuk bertahan hidup. Sekarang, ia juga kehilangan ibunya. Hidupnya lebih kesepian lagi. Apa yang harus Alenta lakukan setelah ini? Alenta tidak memiliki keinginan hidup lebih lama. Fano membujuknya agar mau makan. Menceritakan hal konyol, sekali pun membuka aibnya sendiri, berharap Alenta bisa tertawa, ah, tidak. Tersenyum sepintas saja tidak masalah. Fano merindukan senyum tipis perempuan itu. Alenta berhasil tertawa karena mendengar banyolan Fano. Sambil tertawa, setengah menangis juga. Fano mengusap air mata di pipi Alenta. Fano berjanji akan selalu ada di samping perempuan itu apa pun keadaannya. Fano juga berjanji, bahwa ia akan selalu menghapus air mata di pipi Alenta. Fano mengerang marah. Memukul kepalanya begitu kuat hingga menimbulkan suara. Seseorang di samping lelaki itu menggeleng lalu meringis heran. "Lo itu hantu." Seseorang itu menyadarkan siapa Fano sekarang. "Kenapa gue nggak bisa pegang manusia?" keluh Fano memandangi tangannya sendiri. Kepala Alenta tertunduk dalam. Isakkan kecilnya berubah menjadi tangisan yang agak keras. Fano memutari ranjang Alenta kemudian berhenti di samping ranjang. Kepala Fano terangkat ke atas, memohon dengan nelangsa agar Alenta tidak terus menangis untuknya. Fano mulai menampar pipinya, mengatakan maaf berulang kali karena sudah membuat perempuan itu menangis. "Lo b**o apa gimana?" tegur seseorang itu. Fano berhenti menampar pipinya. Kepalanya bergerak, tatapannya berpindah pada Naomi. "Hobi lo kritik orang ya?" dengkus Fano. "Lo nggak tahu berapa banyak waktu yang gue habiskan sama Alenta." Naomi menatap Fano, kemudian menggeleng prihatin. "Nggak peduli seberapa banyak kenangan kalian, yang harus lo ingat, lo sama Alenta udah beda dunianya. Mau disangkal kayak gimana pun, lo itu hantu. Dan dia," tunjuknya ke Alenta. "Manusia. Perlu gue eja supaya lo paham?" Fano tertegun sesaat. Rupanya, sampai hari ini Fano belum menerima siapa dirinya. "Yang lo lakuin sekarang, tuh, percuma. Mau lo tabok pipi lo sampai memar juga, Alenta nggak akan bisa lihat. Buat apa sih? Alenta nangis, bukan salah lo. Ini hal wajar yang dilakuin saat seseorang kehilangan orang yang disayangi," jelas Naomi. Janji Fano, ia ingin membuat Alenta agar selalu bahagia. Bukannya menangis seperti ini. Fano merasa bersalah. Andai saja waktu itu Fano tidak keluar dari mobil, ia tidak mungkin ditusuk sampai meninggal. Mungkin Alenta tidak akan menangis terus-terusan karena dirinya. "Mulai sekarang, lo harus biasakan di mana lo tinggal. Lo bukan lagi manusia. Lo, nih, hantu kayak gue!" seru Naomi. Fano memutar kepalanya menatap Naomi. "Lo beneran hantu ya?" "Iya lah! Kalau gue bukan hantu, gue nggak bakal bisa lihat lo, ngobrol sama lo, ngoceh depan lo." "Waktu pertama kali tahu lo meninggal, lo ngapain?" tanya Fano, lesu. "Jongkok," jawab Naomi tenang. "Hah?" Untuk kesekian kalinya Fano dibuat takjub oleh Naomi. Pertemuan pertama mereka di rumah Alenta. Sosok asing yang belum pernah ia temui. Ia pikir tadinya Naomi adalah manusia. Ia terlanjur girang karena ada orang lain yang bisa melihat wujudnya selain Dami. Tapi, harapannya pupus sudah. Naomi sama seperti dirinya ternyata. Naomi itu hantu. "Ngapain lo jongkok? Meninggal langsung main gunduh, lo?" cibir Fano. Naomi mengibaskan tangannya ke udara. "Bukan! Gue cuma bingung aja, gue nggak inget kapan gue mati, gue mati kenapa, tahu-tahu jadi hantu," gumamnya. Fano menunjukkan ekspresi bingung. Ada ya, hantu seperti Naomi.... bahkan tingkahnya lebih random dari Fano. "Masa lo nggak inget lo meninggal karena apa?" Fano mengamati Naomi lebih detil. Naomi lebih pendek dari Alenta. Rambutnya sepanjang bahu, mengenakan setelan putih abu-abu. Bisa jadi, Naomi meninggal saat masih SMA. Atau, memang usianya lebih muda dari Fano? Naomi mengangkat bahunya tanda tidak peduli. "Gue nggak inget, dan nggak peduli juga. Toh, gue udah meninggal. Buat apa gue paksa untuk inget? Kalau ternyata gue meninggal karena dibunuh, gimana? Ish! Lebih baik gue nggak inget selamanya! Ngeri!" Fano mengerucutkan bibir. Mencibir Naomi sebagai hantu yang aneh. Lebih aneh dari dirinya. Astaga, rupanya Fano bukan satu-satunya orang aneh di dunia ini! Ada yang lebih aneh lagi. Dan mahluk itu bernama Naomi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN