Rama membaringkan tubuh sang istri di atas ranjang secara perlahan. Tak lama kemudian Kiana mulai tersadar, ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia mengerutkan dahi melihat Mei yang duduk di dekatnya sembari menangis. Ia pun bersuaah payah mencoba mengganti posisi agak tegak. "Sayang, apa yang sakit? Apa yang kamu rasain hemm?" tanya Mei khawatir. "Kamu haus? Atau lapar, Nak?" lanjut Mei dengan air mata bercucuran. Kiana menggeleng pelan lalu mengusap lembut pipi sang mertua. "Ma, jangan menangis ya, Kia baik-baik saja kok." "Tapi kamu pingsan, Nak. Dan suhu badanmu panas. Mama jadi khawatir." "Ma, Kia gak apa-apa." "Iya, Sayang." Mei membawa Kia kedalam dekapannya. Mengecup pucuk kepala Kiana dengan sayang sembari mungusap-usap punggung Kiana. "Mama sangat khawatir, Ki. Mama sayang ban

