Tepat Waktu

1040 Kata
"Boleh, itu ide yang bagus, Sayang." "Biar lebih rame aja sih meja makannya, Ma hehe." Ucapan Kiana barusan membuat Mei tersenyum geli. Mei meminta Kiana untuk menunggunya, ia lantas mengayunkan langkah anggun menuju ke area kasir dan membayar baju-baju yang mereka beli. "Mbak, tolong dihitung," ucap Mei sembari mengulurkan beberapa hanger baju kepada salah seorang karyawan butik. "Baik, Bu." Seorang karyawan mengambil baju yang dibawa Mei lalu membawanya menuju meja kasir. "Totalnya, dua juta empat ratus ribu, Bu." "Saya bayar pakai ini bisa kan mbak?" Mei menyodorkan sebuah kartu kredit kepada sang Kasir. "Boleh, Bu." Usai menyelesaikan transaksi pembayaran Mei menenteng beberapa paper bag ke arah sang menantu. "Ayo belanja, Sayang," ajak Mei. "Iya, Ma. Sini biar Kia bantu bawain Ma? Mama pasti capek." "Tidak usah, Sayang Pak Imam sopir Mama sebentar lagi akan kemari membawa belanjaan kita ini kok," jelas Mei. "Oh gitu ya Ma. Ya sudah kita tunggu Pak Imam saja dulu kalau gitu, Ma." Mei menganggukkan kepala sebagai jawaban. Ia lantas duduk di samping sang menantu menunggu kedatangan Pak Iman. "Pak Iman," seru Mei sembari melambai-lambaikan tangan. Mei memberikan paper bag di tangannya lantas mengajak Kiana turun ke lantai dasar yang terdapat sebuah supermarket. Kiana mengambil sebuah troli kecil lalu berjalan mengikuti kemana Mei pergi. "Kita mau masak apa, Ma?" tanya Kiana. "Kita masak makanan kesukaan Rama dan Papanya saja ya?" Kiana mengangguk menyetujuinya. "Kiana ngikut aja deh Ma hehe." Mei mengambil beberapa bahan makanan lalu menaruhnya ke dalam troli. Sementara Kia hanya memperhatikan sang ibu mertua, dan mengingat apa-apa saja yang dibutuhkan untuk membuat masakan sang suami. "Sayang, ayo kita ke kasir," ajak Mei. "Sudah, Ma?" "Sudah kok, Sayang." Kiana mendorong troli menuju kasir, ia mengeluarkan belanjaannya dari troli lalu ia letakkan di meja kasir yang kemudian dihitung oleh seorang kasir. "Dua ratus tiga puluh, Bu total belanjaanya." Mei tersenyum lalu mengangsurkan sebuah kartu kredit kepada sang kasir. Usai belanja bahan makanan Mei mengajak Kia menuju lobi karena Pak Imam sudah menunggunya di sana. "Kamu capek, Sayang?" tanya Mei kepada Kiana. Kiana menggelengkan kepala kecil. "Enggak kok, Ma hanya ingin segera pulang dan ganti baju saja," ucap Kiana jujur. Mobil yang mereka tumpangi kini sudah berhenti di depan rumah Rama, dengan cepat Kiana keluar lalu berlari masuk ke dalam membuat Mei khawatir. "Kiana, kamu kenapa?" tanya Mei sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. "Kia enggak apa-apa kok Ma hanya kebelet pipis saja," ucap Kia yang membuat Mei terkekeh. Setelahnya, Kia segera menuju dapur membantu sang ibu mertua memasak. Keduanya memasak bersama sembari mengobrol. Ting tong ting tong "Kia buka pintu dulu ya, Ma?" ucap Kia. "Iya, Sayang." Kiana buru-buru membukanya. Ia mengira Rama yang datang. Namun ia harus menelan kekecewaan yang datang adalah sang ayah mertua. "Papa, mari masuk." Kiana mempersilahkan sang mertua masuk ke dalam rumah. "Terima kasih, Nak." Rudy merenggangkan dasinya lalu meletakkan tas dan jasnya di sofa. "Mamamu mana, Ki?" "Mama? Mama sedang di dapur, Pa." Rudy mengangguk mengerti, ia berjalan menuju dapur memperhatikan sang istri yang sedang memasak. "Loh, Papa sudah datang?" ucap Mei terkejut melihat sang suami berdiri memperhatikannya. "Iya dong, Papa kan mau cobain masakan Mama sama Kia." Ucapan Rudy sukses membuat Mei dan Kiana terkekeh. "Papa bisa aja." Kiana berjalan membawa makanan yang sudah matang menuju meja makan. Setelah semua tersusun rapi di meja makan, Kiana lalu meminta ijin untuk mandi terlebih dahulu sembari menunggu Rama datang. Kiana menceburkan diri ke dalam bak mandi, ia menggosok-gosok tubuhnya pelan. Matanya terpejam sejenak menikmati wangi rose yang menyeruak dari sabun mandinya. Tiba-tiba ia mengingat kejadian di bilik ruang ganti tadi siang. Ia tersenyum kecil mengingatnya. Sungguh ia tak menyangka jika Rama akan melakukan hal itu tadi. Tok tok tok Sebuah ketukan pintu menyadarkan Kia dari lamunannya. Kia buru-buru membilas tubuhnya lalu membebatnya dengan handuk. "Kia, ini Mama," seru Mei dari balik pintu. "Iya Ma, masuk saja." Mei masuk ke dalam kamar Kia, ia lantas meminjam hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Ia juga berpesan kepada Kia untuk segera turun karena kedua orang tua serta kakaknya sudah menunggu di bawah. Mendengar penuturan sang ibu mertua membuat Kiana bahagia bukan main. Kia buru-buru mengenakan pakaian karena tak sabar ingin bertemu dengan ayah ibu dan kakaknya. Kiana mematut wajahnya di depan cermin, ia memutar tubuhnya kekanan dan kekiri memastikan penampilannya rapi. Seketika ia teringat akan kebiasan sang suami yang suka pulang larut malam "Kak, Rama datang tidak ya? Kalau sampai kak Rama gak pulang pasti Mama kecewa," batin Kiana. "Aku harus ngomong apa sama Mama nanti?" gumamnya. "Apa aku mengabari kak Hans saja ya?" ucapnya namun ia urungkan karena ia takut jika menggangu sang suami. "Nanti aku jelasin saja kalau kak Rama lagi repot dan gak bisa ikut makan malam sajalah," pungkas Kiana. Kiana berjalan menunju ruang tengah di sana sudah terlihat ayah ibu dan kakaknya sedang mengobrol santai. Sementara itu, Mei yang sedang berada di dalam kamar tamu sengaja mendial nomor Rama berniat menyuruhnya untuk segera pulang, namun tak mendapatkan jawaban. Mei yang kesal pun terpaksa menelepon lewat Hans. "Halo Nyonya besar, ada yang bisa saya bantu?" sapa Hans santun. "Hans kemana anak nakal itu?" "Tuan Muda masih bekerja, Nyonya." "Berikan ponselmu kepadanya!" Hans buru-buru berlari menuju ruangan Rama, sebelum oa mengulurkan ponsel kepada Mei ia sudah memberi kode jika telepon tersebut dari Mei. Rama pun mengangguk mengerti. "Halo, Ma?" sapa Rama santai. "Apa setiap hari seperti ini yang kamu lakukan?" "Maaf Ma, Rama banyak kerjaan." "Apa besok sudah tidak ada waktu?" sindir Mei. "Bukan begitu, Ma. Rama hanya ingin …" Ucapan Rama terpotong. "Pulang sekarang! Mertuamu sudah menunggumu di rumah." "Bip" suara panggilan telepon terputus sepihak. Rama mengembalikan ponsel Hans dan segera bangkit. "Hans tolong bereskan ini semua, aku harus pulang sekarang." "Baik, Tuan." Rama melangkahkan kaki cepat menuju ke area parkir melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Sementara Kiana sudah pasrah jika Rama tidak datang. Ia bahkan telah mengabarkan kepada semua anggota keluarganya jika mungkin Rama akan pulang terlambat. Namun siapa sangka, kedatangan Rama tepat waktu. Rama datang tepat ketika acara makan malam hendak dimulai. "Maaf, saya terlambat," ucap Rama. "Tak apa, Nak. Kemarilah!" ucap sang ayah mertua. "Loh bukannya kamu lembur ya?" tanya sang kakak ipar. "Lembur? Ah i-iya itu emm aku gak jadi lembur kak," kilah Rama. Kiana menghela nafas lega, ia begitu senang melihat kedatangan rama saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN