Rama terdiam nyalinya menciut, ia tak bisa lagi berkata apa-apa. Ia tahu bahwa ibunya akan melakukan apapun jika ia tidak menurutinya. Mungkin ia bisa saja melawan tapi kekuasaannya tak sebesar kekuasaan kedua orang tuanya untuk itu ia lebih memilih diam.
"Satu lagi, bersikaplah baik dengan Kiana dan jangan katakan apapun tentang wanita itu kepada Kiana!" ancam Mei sungguh-sungguh.
Kali ini Mei menghela nafas panjang, ia kemudian memasang senyum anggunnya. Ia melangkah perlahan mendekati sang menantu yang sedang duduk di bangku butik.
"Sayang," panggil Mei yang membuat Kiana terkejut dan bertambah terkejut melihat sosok yang berdiri di belakang ibu mertuanya.
"M-mama," ucap Kiana yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Kenapa kamu diam saja di sini, Ki? Mama kan menyuruhmu memilih baju?" tegur Mei.
"Maaf Ma Kia bingung mau pilih baju apa, baju Kia sudah banyak dan masih bagus-bagus, Ma," jelas Kia.
"Hei! Kamu ini Nyonya muda Hutama, kamu nanti pasti membutuhkan banyak baju untuk menemani Rama dalam pertemuan atau undangan, benar begitu kan Ram?" ucap Mei menatap sang putra tajam seolah memaksanya untuk menyetujui perkataannya.
Rama mengangguk kecil. "I-iya, Ma."
Seketika pipi Kiana memerah mendengar jawaban Rama. Ia sangat bahagia Rama berkata demikian. Kia pun bersemangat memilih-milih baju. Ia memilih beberapa dres dan juga pakaian formal sesuai interupsi sang mertua.
"Cobain dulu, Sayang," ucap Mei kepada Kia.
"Ya sudah Kia ke ruang ganti dulu ya, Ma." Kiana masuk ke dalam ruang ganti lalu menggantinya pakaiannya dengan sebuah dress cantik berwarna aqua. Kiana terlihat cantik dengan dress tersebut ia lantas keluar dan memperlihatkan dress yang ia kenakan kepada Mei dan Rama.
"Ma," panggil Kia yang membuat Mei menoleh.
Mei tersenyum dan mengacungkan jempol tanda setuju tetapi tidak dengan Rama yang sibuk dengan ponselnya. Sifat Rama yang demikian membuat air wajah Kiana seketika berubah muram. Mei yang melihatnya pun memanggil Rama dan memaksa Rama untuk memberikan pendapat.
"Rama," panggil Mei.
"Iya, Ma," sahut Rama.
"Coba lihat penampilan Kiana, menurutmu dress yang Kia kenakan cocok tidak?" ucap Mei dengan nada penuh penekanan.
Rama mengangkat kepalanya lantas menoleh ke arah Kiana. Ia benar-benar terpana melihat penampilan Kiana hingga tak berkedip.
"Rama, bagaimana?" ulang Mei.
"A-aam emm bagus kok, Ma," ucap Rama yang membuat Kiana mengembangkan sebuah senyuman.
"Kalau begitu beli yang ini lalu coba yang lainnya lagi."
"Iya, Ma." Kiana berjalan kembali menuju ruang ganti. Kali ini Kiana kebingungan untuk melepas dress, bagian resleting dress-nya tersangkut dengan rambut sehingga menyebabkan resleting macet di atas dan gak bisa turun. Kiana pun berteriak memanggil sang mertua untuk meminta bantuan.
"Ma, tolong!" seru Kiana.
Mei pun buru-buru berlari mendekat dengan wajah paniknya diikuti oleh Rama. "Ada apa, Sayang? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Mei.
"Resleting dress Kia gak bisa dibuka, Ma." ucap Kiana memelas.
Seketika muncul sebuah ide di kepala Mei. Ia pun meminta Rama masuk ke dalam dan membantu Kia.
"Kok, aku sih Ma?" keluh Rama.
Mei kembali menatap sang putra dengan tatapan tajam. "Masuklah!" ucap Mei yang membuat Rama mau tak mau harus masuk ke dalam ruang ganti.
Rama melangkahkan kaki perlahan masuk ke dalam bilik, dalam hatinya terus menggerutu kesal akan tetapi ia tak bisa melakukan apapun selain menuruti kemauan sang ibu.
Kiana sedak mengamati dirinya di depan cermin, ia terkejut melihat Rama masuk ke dalam biliknya, tanpa berkata apapun. Rama dengan perlahan menarik resleting itu turun hingga ke bawah menampilkan punggung mulus sang istri. Gluk, Rama menelan salivanya susah payah, hanya sepersekian detik saja otaknya sudah travelling kemana-mana.
Sebagai lelaki normal Rama pun tergoda hingga tanpa sengaja tangannya membelai punggung mulus itu dari atas hingga bawah membuat tubuh sang empunya menegang. Kiana memejamkan matanya menikmati belaian lembut tangan Rama di punggungnya.
"Aah," satu desahan lolos begitu saja dari bibir Kiana.
Suara lembut dan manja Kiana membuat Rama tak bisa lagi mengontrol dirinya. Kali ini ia membalikkan tubuh Kiana cepat dan menghimpitnya pada cermin, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Kiana, dekat dan intim. Bibir keduanya hanya beberapa centi lagi pun sudah menempel sempurna. Keduanya saling bertatapan menikmati atmosfer hangat yang mengelilingi mereka.
Masih dengan posisi yang sama, Rama perlahan bergerak perlahan merapatkan tubuhnya dengan sang istri hingga d**a kedua saling bertubrukan. Ia semakin menggila kala merasakan sesuatu yang padat dan sital menumbuk dadanya. Ia memejamkan mata sejenak untuk menikmati pijatan kecil yang tercipta karenanya.
Jantung Kiana terpacu dua kali lebih cepat hingga ia merasakan gelenyar aneh di dalam dadanya, pun dengan Rama yang sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Kiana menyebutnya itu cinta, sementara Rama masih saja membodohi dirinya sendiri.
"Sial ini begitu menggoda," batin Rama.
Rama hendak menurunkan dress Kiana, bibirnya sudah maju hendak mencium bibir sang istri, namun seruan Mei membuat keduanya tersadar. Kiana langsung merapikan dress-nya sedangkan Rama memilih keluar dari bilik.
"Lama sekali, Nak? Apakah susah untuk dibuka resletingnya?" tanya Mei.
"I-iya Ma susah," jawab Rama berbohong.
Mei menganggukkan kepalanya pelan sembari tersenyum. Sementara itu Rama menggaruk tengkuknya sembari merutuki kebodohannya.
"Astaga … Apa yang sudah aku lakukan" batin Rama merutuki kebodohannya sendiri.
"Kamu kenapa?" tanya Mei heran melihat sifat aneh Rama.
Rama buru-buru menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak, aku hanya sedang teringat jika aku harus segera pulang ke kantor karena ada meeting penting," kilah Rama.
Mei menghembuskan nafas kasar, lalu mengijinkan Rama kembali ke kantor. "Pergilah," ucap Mei tersenyum tipis.
"Ya sudah, Rama pamit dulu ya, Ma," pamit Rama.
"Kamu gak pamit sama istrimu dulu?" tanya Mei mencoba mengingatkan.
"Ma, aku buru-buru jadi bolehkah aku meminta tolong pada Mama untuk memberitahu kepada Kiana?"
Kali ini Mei menganggukkan kepalanya mantap. "Baiklah, nanti Mama sampaikan."
"Terima kasih, Ma." Rama mengecup pipi sang Mama lalu berlalu pergi.
"Sama-sama, Sayang. Hati-hati di jalan."
Mei menatap punggung sang putra yang perlahan menghilang. Ia tersenyum kecil, ia percaya jika putranya akan bahagia dengan perempuan yang ia pilihkan yaitu Kiana."
Tak lama setelahnya Kiana keluar dari bilik dan memperlihatkan baju yang ia coba. Mei tersenyum dan kembali mengacungkan jempol tapi pandangan Kiana kesana kemari mencari seseorang. Mei yang paham dengan arti kegelisahan sang menantu pun akhirnya menjelaskan jika Rama sudah kembali ke kantor karena ada acara dadakan yang membuat Kiana menganggukkan kepalanya mengerti.
"Oh gitu ya, Ma. Baiklah tak apa," ucap Kiana mencoba mengerti.
Usai berbelanja Mei mengajak Kiana makan di luar tapi Kiana menolak sang mertua secara halus dan memberikan pengertian jika dirinya ingin makan malam di rumah saja bersama sang suami.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita belanja bahan makanan, Mama akan nenemanimu memasak makan malam untuk Rama ya?" ucap Mei menawarkan bantuan.
Kiana mengangguk antusias. "Iya Ma. Kia setuju, kalau bisa nanti Mama ajak Papa juga makan malam ke rumah," ucap Kiana terkekeh.