Bab 6 Jangan Macam-Macam
Kiana tiba-tiba terbangun, atensinya tertuju pada sebuah jam yang menempel di dinding. Detik selanjutnya ia menepuk dahinya dan berlari menuju kamar mandi.
"Astaga … Kenapa gue bisa lupa gini sih," desis Kiana.
Kiana menggunakan jurus andalannya, hanya beberapa menit saja Kiana sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh. Kiana bergerak menuju lemari pakaian, bukannya segera memilih baju Kiana justru masih terdiam dengan sebelah tangan yang ia biarkan terlipat di bagian depan perut dan sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk mengetuk-ngetuk janggutnya serta berpikir sejenak.
"Pakai baju apa ya yang pas?" gumam Kiana.
Tangan Kiana terulur memilih milih baju, jari jemarinya menyusuri deretan dres yang tergantung di sisi lemari. Jarinya terhenti, seketika matanya berbinar ia pun meraih hanger dan mengenakan baju tersebut.
"Cantik," ucap Kiana sembari memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri di depan cermin.
Kiana lantas bergerak menuju meja rias, ia menyalakan catokan rambut, menyisir dan membubuhkan vitamin rambut sebelum ia kemudian menata gaya rambutnya dengan catok. Hanya butuh waktu beberapa menit saja rambut Kiana sudah terlihat rapi. Kini tangan Kiana beralih meraih sebuah bedak, ia memoles tipis wajahnya dan mengoles lip tint ala korea di permukaan bibirnya. Kiana tersenyum senang melihat penampilannya.
"Perfect," seru Kiana memuji dirinya sendiri.
Tok tok tok
"Non, Nyonya besar sudah datang," seru Nunik dari balik pintu.
"Iya, Bi sebentar lagi Kia turun," sahut Kia.
Kia memeriksa penampilannya sekali lagi sebelum ia turun menemui sang mertua, tak lupa ia menyemprotkan parfum favoritnya lalu menyambar sling bag dan ponselnya. Kia berjalan cepat menuju ruang tengah di mana sang mertua sudah menunggunya di sana.
"Wah Non Kia cantik sekali, Non Kia mau kemana?" tanya Nunik yang sedang mengelap lemari kaca yang terletak di area dekat ruang tengah.
"Kia mau temenin Mama jalan Bi," jawab Kia santun.
"Oh iya Bi nanti kalau kak Rama nyariin aku tolong bilang kalau aku pergi sama mama ya?" pesan Kiana.
"Baik Non," jawab Nunik.
Mata Mei terpana melihat Kiana yang saat ini berjalan menghampirinya tak henti-henti Mei memuji Kiana di dalam hatinya. Tak bisa diragukan lagi kecantikan Kiana, meski hanya berdandan simpel saja ia sudah terlihat sangat cantik.
"Ma, maaf ya Kiana lama," ucap Kiana tak enak hati.
"Its ok, Sayang. Ayo kita pergi."
Mei menuntun Kiana masuk ke dalam mobilnya, ia meminta sang sopir mengantar mereka ke sebuah restoran mewah. Sepanjang perjalanan Mei mengajak ngobrol Kiana perihal masa kecil Rama.
"Jadi Kak Rama itu tukang ngambek dan manja banget ya, Ma?" ucap Kiana sembari terkekeh.
"Iya gitu lah Rama Ki, sekarang ini aja dia kek gitu."
Kiana mengangguk membenarkan. "Sekarang kan sudah dewasa, Ma."
"Iya benar, Sayang. Ayo kita turun."
Mei menggandeng lengan Kiana masuk ke dalam ruangan VIP yang sudah direservasi. Mereka berdua disambut dengan hangat oleh teman-teman Mei. Usai bersalaman dan Mei memperkenalkan Kia sebagai menantunya.
"Cantik siapa namamu?" tanya seseorang berambut pirang bernama Grace.
"Kiana tante," ucap Kiana lembut.
"Wah cantik sekali, Jeng menantumu," puji salah seorang teman Mei.
Mei tersenyum jumawa, tentu saja ia bangga kepada Kiana. "Rama beruntung 'kan menikah dengan Kiana?" ucap Mei yang membuat pipi Kiana memerah.
"Haha, benar itu Jeng. Yang laki-laki ganteng yang perempuan juga cantik. Jadi pas 'kan?" ucap seseorang yang bernama Mike.
"Kaya apa namanya? Itu yang lagi ngetren di tv. Apa namanya? Couple apa?"
"Couple goals, Jeng," sahut Mei yang membuat seseorang yang bernama Dina mengangguk.
Semua tak seperti yang Kiana bayangkan, bertemu dengan teman-teman mama mertuanya justru asik dan menyenangkan. Ia mulai menikmati kenyamanan diantara tenen-temen sang mertua.
"Not bad, nggak seperti yang kupikirkan ternyata," batin Kiana sembari menyeruput orange juice yang telah ia pesan.
Kia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah jam setengah empat, cepet banget," batin Kiana.
Mei yang melihat Kiana melirik jam pun segera sadar jika ia terlalu lama membawa sang menantu arisan. Ia pun berpamitan dan mengajak Kiana pulang.
"Jeng, kami duluan ya," ucap Mei sembari menggandeng lengan Kia.
"Tante Kia pulang dulu ya," pamit Kia.
"Hati-hati di jalan ya," seru Mike.
"Gimana, Sayang? Apakah kamu bosan tadi?" tanya Mei ingin tahu.
Kiana tersenyum kemudian menggelengkan kepala. "Enggak kok Ma, Kia senang kok. Teman-teman Mama seru dan asik."
"Benarkah? Mama kira kamu bosen Ki," ucap Mei terkekeh. Ia bahagia mendengar penuturan sang menantu.
"Ya tadinya Kia berpikir begitu, Ma. Tapi ternyata enggak ngebosenin kok malah asik dan bikin Kia nyaman. Mungkin karena di kelompok arisan Mama isinya orang-orang yang memiliki pandangan hidup bagus. Jadi enggak melulu pamer kekayaan atau ngomongin orang lain saja topiknya," papar Kia.
Mei menganggukkan kepala membenarkan perkataan Kiana. "Ya memang begitu, itu makanya Mama mau berteman sama mereka."
"Oh ya ngomong-ngomong bagaimana sifat Rama ke kamu Ki? Apakah rama cuek dan dingin?" tanya Mei yang membuat Kiana terdiam sesaat.
"Aku harus jawab apa? Ketemu saja belum," batin Kiana.
Kiana berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan sang mertua. "Emm Kak Rama baik kok, Ma sama Kia," ucap Kia yang tak tahu harus jawab apa.
"Syukurlah, Mama kira-kira dia akan cuek dan dingin kepadamu."
"Enggak kok, Mama tenang saja."
"Kita mampir nge-mall dulu ya Ki. Mama pingin ajak kamu jalan-jalan sebentar."
"Boleh, gak apa-apa kok, Ma."
Mei mengajak Kiana shopping ke sebuah Mall elit, tanpa sengaja Mei melihat seorang perempuan duduk menyuapi Rama ice cream hal itu membuat Mei marah.
"Anak itu benar-benar keterlaluan!" gerutu sang ibu.
"Ma, mama mau kemana?" seru Kiana.
Mei menoleh ke arah Kia sembari tersenyum. "Kamu tunggu di situ saja sebentar Ki, pilih-pilih saja dulu. Mama mau pipis dulu."
Kiana mengangguk mengerti, ia mengabaikan mertua, ia lebih memilih duduk di kursi tunggu sembari memainkan ponselnya.
Mei berjalan tergesa menghampiri Rama dan Bella ia langsung mengambil air putih yang ada di meja mereka dan menyiramkannya kepada Bella.
"Itu buat kamu!"
"Dan kamu Rama, ikut Mama sekarang!"
"Mama! Mama jangan gitu dong," ucap Rama menolak.
"Ikut Mama, atau kembalikan semua fasilitas kamu! Dan angkat kaki dari perusahaan Papamu!"
"Iya-iya aku ikut Mama."
Mei menyeret Rama menuju ke sebuah butik. "Awas ya Ram, kalau kamu sampai menyakiti hati Kiana Mama akan membuat perhitungan denganmu," ancam Mei.
"Ingat Mama bisa membuat perempuan itu sengsara jika mau, jadi jangan bertindak macam-macam."