Nomor Tidak Dikenal

1053 Kata
Bab 5 Nomor Tidak Dikenal Rama terhenyak sesaat mendengar penjelasan Hans. Ia lantas menganggukkan kepala tanda mengerti. Rama meletakkan sendok dan garpunya lalu menarik selembar tisu dan mengusap sudut-sudut bibirnya. Wajah Rama berubah datar membuat Hans menyesali perbuatannya. Ia tak menyangka jika Rama akan bertindak demikian setelah mengetahui jika makanan yang makan adalah buatan Kiana. "Tuan, maafkan saya karena telah membuat nafsu makan Tuan muda hilang," ucap Hans tak enak hati. "Hmm, lain kali jangan biarkan dia melakukan apapun untukku, Hans! Aku tidak suka itu!" ucap Rama tegas. Hans menganggukkan kepalanya mengerti. "Sebenarnya apa yang membuatnya benci dengan Nona Kiana? Ku lihat Nona Kia orang yang baik dan juga tidak merepotkan seperti kekasihnya itu," ucap Hans di dalam hati. "Hans, telepon Nunik minta dia mengambilkan baju untukku. Hari ini aku ingin pergi jalan-jalan bersama Bella," titah Rama. "Baik, Tuan." "Dasar aneh! Bukankah semalam ia telah dibuat marah hingga mabuk oleh perempuan itu kenapa pagi ini justru ia ingin jalan-jalan dengannya. Otaknya benar-benar tidak beres," umpat Hans di dalam hati. "Hans? Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak mendengar apa yang ku katakan?" seru Rama yang membuyarkan lamunan Hans. "M-ma-maaf Tuan saya hanya sedang berpikir saja," dusta Hans. "Ckk apa yang kau pikirkan Hans? Sejak kapan kau menjadi aneh begini?" cecar Rama. "Mungkin saya hanya sedang merindukan Ibu saja, Tuan. Maafkan saya." "Tak apa Hans." Hans mengambil ponsel dari balik saku jasnya. Ia lantas mengirim pesan kepada Nunik untuk mengambilkan baju ganti Rama dan mengantarnya ke apartemennya. Di sekolah Kiana mengerjakan soal ujiannya dengan santai karena ia sudah mempersiapkan dirinya jauh-jauh hari. Bahkan Kia dapat menyelesaikan soal ujiannya sebelum bel selesai. Kia mengumpulkan lembar jawabannya lantas berjalan keluar kelas. Hari ini hanya ada satu mata pelajaran. Ia berniat untuk segera pulang dan memastikan keadaan Rama. Kiana menyalakan ponselnya, ia lantas mendial nomor Hans. Tak ada jawaban dari Hans yang membuatnya semakin gusar. Ia pun masuk ke dalam mobil dan meminta sang supir untuk mengantarkannya ke apartemen Hans. Kiana membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam gedung apartemen. Ia segera menuju ke unit apartemen Hans. Kia memencet bel berulang kali namun tak ada jawaban. Ia pun menghela nafas pasrah. "Mungkin Kak Rama dan Kak Hans sudah berangkat ke kantor, baiklah sebaiknya aku pulang saja dan menunggu kabar dari Kak Hans." Kia kembali melangkahkan kaki, kali ini ia melangkahkan kakinya pelan menuju lift. "Pak, ayo kita pulang," ucap Kia kepada sang sopir. "Baik, Non." Kiana menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil. Ia memijit-mijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Pak Man yang melihatnya pun bertanya kepada Kia apakah Kia sedang sakit. Kia menggelengkan kepala dan terdiam. Drrrt drrrt Ponsel Kiana bergetar. Ia buru-buru mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon. Ia tersenyum ketika nama sang ibu mertua yang muncul di layar ponselnya. Ia segera menggulir tombol hijau dan menyapa dengan santun wanita paruh baya yang menelponnya itu. "Sayang, bagaimana ujian terakhirmu?" "Lancar kok, Ma." "Syukurlah, Mama senang dengarnya. Oh ya, hari ini maukah menemani mama arisan?" tanya seseorang dari seberang sana yang membuat mata Kiana mendelik. Sungguh sebenarnya Kiana tidak menyukai perihal arisan atau perkumpulan-perkumpulan seperti itu. Namun demi mertuanya ia tak ingin menolak dan mengecewakan sang mertua. Kia sedikit terbatuk kecil karena reflek. Ia lantas menghela nafas sembari memejamkan matanya. "Arisan, Ma? Jam berapa?" tanya Kia melembut. "Iya arisan nanti sehabis makan siang, Sayang. Kamu tidak keberatan kan?" Kiana menghela nafas pasrah. "Iya, Ma. Kiana bisa kok." "Terima kasih, Sayang. Baiklah nanti Mama akan jemput kamu ya jadi kamu siap-siap saja." "Iya, Ma." "Ya sudah, Mama tutup dulu teleponnya. Dah, Sayang." "Dah Mama." "Bip …." suara panggilan terputus. Kiana menyimpan kembali ponselnya. Sekarang kepalanya benar-benar terasa pusing. Ia meminta Pak Man untuk mempercepat laju mobilnya. Sesampainya di rumah Kiana langsung masuk ke dalam kamar dan beristirahat sejenak. Di tempat lain, Rama saat ini kembali mencari keberadaan Bella yang sejak semalam tak ada di apartemennya dan tak bisa dihubungi. "Sial! Kemana perginya!" umpat Rama kesal. Emosi Rama kembali memuncak, ia memutuskan untuk kembali ke kantor dan bekerja. Rama menyibukkan dirinya mengerjakan beberapa pekerjaan. Hingga sebuah pesan masuk ke ponselnya. "Nomor baru?" gumam Rama. Rama yang penasaran pun membuka isi pesan tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat foto yang dikirim oleh nomor baru itu. Sebuah foto yang menunjukkan Bella sedang dirangkul oleh seorang pria. Tapi bukannya memarahi Bella, Rama justru memaki si pengirim. Ia tak percaya jika Bella-nya akan melakukan hal demikian. Ia percaya jika itu adalah teman Bella saja, dan si pengirim berniat menghancurkan hubungannya dengan Bella. "Hans, kemari lah!" ucap Rama melalui sambungan telepon. "Baik, Tuan." Hans menghela nafas dalam sebelum ia bangkit dari kursi kerjanya. Ia berjalan cepat menuju ruangan sang Boss. "Ada apa Tuan?" tanya Hans yang heran melihat ekspresi marah Rama. Rama menyodorkan ponselnya kepada Hans. Ia meminta Hans untuk melacak siapa pemilik nomor tidak dikenal itu. Ia meminta Hans untuk segera menemukan pemiliknya. "Ckk! Bagaimana mungkin aku mengatakan siapa pemilik ponsel ini," ucap Hans terkikik dalam hati. "Kenapa kau diam saja? Cepat lakukan!" seru Rama kepada Hans. "Baik Tuan." "Ckk, aku harus segera mengurusnya sebelum si Bodoh ini melakukan tindakan yang lebih," batin Hans. Hans kembali menuju ruangannya. Ia lantas menelpon seseorang. "Buang, nomormu! Dan biarkan siapapun tau tentang identitasmu," ucap Hans kepada seseorang di seberang sana. "Baik, Tuan," ucap orang tersebut dan terdengar suara panggilan terputus. Hans menghapus semua riwayat panggilan dan pesan yang berhubungan dengan nomor tersebut lalu kembali kepada Rama dengan informasi palsu yang telah ia sediakan. "Bagaimana, Hans?" tanya Rama tidak sabaran. "Menurut informan yang saya dapat nomor ini sudah hangus dan tidak terdaftar lagi, Tuan," dusta Hans. "Informan saya mengatakan jika nomor ini sengaja dipakai untuk sementara saja," lanjut Hans. "Sial!" Rama menggebrak meja marah. "Baiklah, kau boleh keluar," ucap Rama kemudian. Hans melangkahkan kaki keluar ruangan, ia tersenyum licik menertawai Rama. "Dasar pria bodoh," umpatnya lirih. "Ckk, apapun akan aku lakukan untuk melindungi dan membuatnya bahagia!" desis Hans tersenyum tipis memandang sebuah foto anak kecil berseragam SD di layar ponselnya. Hans mengusap lembut foto itu lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Bagi Hans gadis kecil yang berada di dalam foto tersebut adalah malaikatnya. Ia sangat mengagumi dan menyayangi gadis tersebut. Bahkan ia berjanji akan melakukan apapun untuk membuat gadis itu bahagia. Bersambung… Wohaaa siapa kira-kira gadis yang ada dalam masa lalu Hans? Mengapa Hans sangat menjaga gadis tersebut? Apa hubungannya? Kuy kepoin bab selanjutnya ya hehe
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN