Bab 3 Hari Pernikahan
“Baiklah aku setuju,” jawab Rama menyetujui persyaratan yang diajukan Bella.
Seminggu telah berlalu, Hari ini Kiana dan Rama akan melangsungkan acara pernikahan. Sebelum acara dimulai Rama menelpon Bella menghibur Bella dan meyakinkan sang kekasih jika ia sangat mencintainya.
Di tempat lain Kiana mengenakan kebaya putih nan indah hasil karya perancang busana terkenal kemudian Ia melangkahkan kakinya pelan menuju meja rias. Ia menatap wajahnya yang penuh dengan polesan make up dan berbagai riasan lain yang terlihat begitu sempurna. Ia mengakui semua ini terlihat indah dan sempurna, sebuah akad nikah yang begitu khidmat dan sakral, pesta yang bisa dibilang cukup besar dan mewah di hotel milik keluarga Hutama. Mungkin semua itu akan menjadi impian banyak mempelai wanita tak terkecuali adalah dirinya namun entah mengapa dengan semua yang ia dapatkan sekarang belum sedikit pun ia merasa bahagia.
"Senyum Ki, please ini hari bahagia lo," ucap Nia yang sedari tadi malam menemani Kia.
"Gue gak bisa Ni, perasaan gue kacau saat ini gue gugup gue sedih gue takut," cicit Kia sembari menunduk.
"Senyum Ki jangan buat orangtua lo bersedih karena lo gak mau senyum," ucap Intan sembari mengusap lembut lengan Kia.
Kiana bergerak menghadap kedua temannya kemudian ia mengembangkan sebuah senyuman yang membuat kedua temannya bahagia. Mereka saling berpelukan. “Makasih ya Ni, Tan,” bisik Kiana lirih.
“Sama sama Ki,” jawab keduanya sembari tersenyum.
Pagi ini tepatnya pukul sembilan pagi Kiana resmi menyandang gelar nyonya muda di keluarga Hutama. Usai ijab qobul Kiana dan Rama digiring menuju kamar untuk berganti pakaian untuk acara selanjutnya. Mereka sama sama diam dan fokus dengan tujuannya masing masing.
"Nona sebaiknya anda berganti baju bersama tuan muda saja di ruang ganti," ucap salah seorang asisten perias.
Rama dan Kiana saling berpandangan dan mereka dengan kompak langsung menolaknya.
"Tidak!" ucap mereka bersamaan.
"Maksud saya... Sa-saya tidak bisa membantunya mengenakan gaun saya tidak mengerti caranya," kilah Rama.
"Baiklah mari saya akan bantu anda nona," ucap sang asisten yang kemudian membantu membuka baju Kiana,
Sementara Rama langsung pergi ke arah walk in closet untuk berganti pakaian sebelum ia melihat kebaya sang istri terbuka dan berganti dengan dress.
Acara selanjutnya adalah resepsi, Kiana dan Rama duduk berdampingan dalam mobil khusus pengantin yang dikemudikan seorang sopir yang akan membawa mereka ke hotel milik keluarga Hutama. Tak ada perbincangan sama sekali diantara mereka berdua hingga tiba di sebuah hotel tempat mereka akan melangsungkan resepsi nanti. Mereka berdua masuk kedalam sebuah kamar hotel untuk membenahi riasan sebelum akhirnya pergi menyapa para tamu undungan. Rama memeluk mesra pinggang ramping sang istri menuju pelaminan sifatnya begitu manis berbanding terbalik dengan yang ia lakukan ketika hanya berdua saja. Mereka berdua memasang wajah yang mereka buat sebahagia mungkin untuk menyambut ribuan tamu undangan yang hadir.
"Huftt...." desis Kiana yang masih terdengar oleh Rama.
"Bersabarlah, acara sudah hampir selesai. Jangan manja!" ucap Rama datar yang dibalas tatapan tajam dari Kiana.
Usai acara seluruh keluarga termasuk Kiana dan juga Rama kembali ke kediaman Hutama dan bermalam di sana. Meninggalkan Kiana dan Rama di kamar hotel berdua. Tidak ada prmbicaraan apapun karena Rama sibuk dengan ponsel di tangannya. Sedangkan Kiana sibuk membersihkan sisa sisa make up-nya.
Rama masuk ke dalam kamar mandi, ia mengunci pintu kamar mandi tersebut lalu menelepon seseorang.
“Iya tuan ada apa?” tanya Hans dari seberang sana.
“Bawa dia ke rumah, antarkan dia ke kamar utama sebelah kamar pribadiku,” perintah Rama kepada Hans.
"Baik tuan," ucap Hans.
Rama mematikan sambungan teleponnya lalu berjalan keluar dan meninggalkan kamar hotel tanpa berpamitan dengan Kiana.
"Mau kemana dia?" batin Kiana.
"Alah bodoh amat," gumam Kiana kemudian.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu kamar hotel yang membuat Kiana bangkit dari duduknya. Kiana membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Ia mengernyitkan dahinya melihat seseorang pria dengan setelan jas coklat tampan yang wajahnya terlihat lebih muda dengan Rama berdiri di depan pintu kamar hotelnya. Pria itu tersenyum manis yang membuatnya semakin bingung.
“Nona mari saya antar pulang, saya diutus tuan muda untuk mengantar nona pulang,” ujar Hans lembut.
“Pulang?” tanya Kiana tak mengerti.
Tak ingin menyakiti hati istri tuannya Hans pun terpaksa berbohong. “Benar nona, tuan muda meminta saya mengantar nona pulang ke rumah karena tuan muda mendadak ada urusan dan tak ingin nona kesepian di kamar hotel sendirian,” bohong Hans.
Kiana mengangguk anggukkan kepalanya. Ia pun membuntuti kemana langkah kaki Hans. Kiana masuk ke dalam mobil menyandarkan punggungnya disandaran jok mobil sembari merilekskan tubuhnya.
"Hari pertama menjadi istri saja aku sudah ditinggal," batin Kiana miris.
Kiana melirik seseorang yang sedang menyopir di depannya. Ia memperhatikan wajahnya baik-baik lalu tersenyum.
“Ah iya siapa nama kakak?” tanya Kiana tiba-tiba.
“Saya Hans nona, sekertaris tuan muda,” jawab Hans singkat.
“Ahh senang berkenalan denganmu kak Hans,” ucap Kiana tersenyum lembut.
Sesampainya di rumah Hans memperkenalkan Kiana kepada Nunik dan pak Man, asisten rumah tangga serta sopir di rumah Rama.
“Mari masuk nona,” ajak Hans.
Kiana membutut di belakang sembari mengagumi kemewahan rumah Rama. "Bagus dan mewah ya," batin Kiana.
“Selamat datang non Kiana," sapa Nunik ramah.
“Ahh iya mbak terima kasih,” jawab Kiana lembut.
“Nah ini namanya Nunik nona, dia adalah asisten rumah tangga tuan Rama dan yang ini namanya Pak Man sopir yang akan mengantar kemana pun nona bepergian,” jelas Hans.
“Perkenalkan saya Kiana,” ucap Kiana lembut.
“Nunik, Pak Man tolong layani istri tuan muda dengan baik,” ucap Hans memberi instruksi.
“Baik Pak Hans,” jawab keduanya serempak.
Hans lantas menunjukkan di mana letak kamar Kiana. “Mari nona saya tunjukkan di mana kamar nona,” ucap Hans sembari berjalan menuju tangga.
Hans berhenti di depan sebuah pintu, perlahan ia membuka pintu dan menyuruh Nunik membantu Kiana membereskan pakaiannya.
“Nah ini kamar anda nona, sebentar lagi Nunik akan kemari membantu nona merapikan pakaian dan barang barang milik nona."
“Terima kasih kak Hans," ucap Kiana kepada Hans.
“Baiklah saya permisi dulu nona saya harus kembali kerja,” pamit Hans.
“Jika nona butuh bantuan minta saja nomor saya kepada pak Man atau Nunik,” lanjutnya sebelum melangkah pergi.
Kiana masuk ke dalam kamar lalu ponselnya berdering menampilkan nama mertuanya. Kiana langsung menggeser tombol hijau dan menyapa sang mertua.
“Halo ma," sapa Kiana santun.
“Hai sayang kata Rama kamu sendirian di rumah ya karena Rama ada kerjaan mendadak?” tanya Mei dari seberang sana.
“Iya ma… gak papa kok ada Mbak Nunik dan Pak Man di rumah jadi Kia tidak sendiri."
“Baiklah kalau begitu kamu cepat istirahat ya, Bye sayang," pamit Mei sebelum menutup teleponnya.
Kiana membersihkan dirinya lalu turun menyiapkan makan malam untuk sang suami. Kiana menunggu Rama hingga Kiana tertidur di sofa.
Bersambung…. Kira-kira Rama kemana ya? Pulang atau tidak?