Terpaksa Mau

1128 Kata
Bab 2 Terpaksa Mau “Enggak!” keduanya serempak menolak perjodohan tersebut. “Pa ma Rama sudah punya pacar, papa sama mama gak bisa maksa gitu dong,” sanggah Rama yang tidak bisa menyetujui perjodohan tersebut. “Nah Kia juga gak bisa ma pa… Kia masih kecil, Kia masih SMA masak menikah sih. Sama om-om lagi,” keluh Kiana memelas. Retha melotot memberi isyarat kepada Kiana untuk diam dan berhati hati ketika bicara namun di indahkan oleh sang putri yang tetap memanggil Rama dengan om. “Tidak bisa! Kalian berdua tidak bisa membantah keputusan kami. Kami sudah merencanakan ini sejak kami masih sekolah, jadi kalian tidak bisa membantahnya. Ini yang terbaik untuk kalian," ucap Rudy tegas. “Tapi pa… papa gak bisa gitu dong,” protes Rama. “Rama kamu mau melawan orang tua hemm?” ancam Mei kepada sang putra. Rama menghela nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. “Terserah mama sama papa saja kalau gitu,” ucap Rama pasrah. “Ma… papa gak sungguh sungguh kan Kia masih kecil ma, Kia masih ingin bebas,” desis Kiana lirih. “Kami serius sayang, kamu nurut ya nak kami melakukan semua ini demi kebaikanmu juga kok, ayolah nak," pinta Retha dengan wajah berkaca-kaca. “Huhhh…. Kalau mama sudah bilang gini aku bisa apa,” ucap Kiana pasrah. Ia terpaksa menuruti kemauan kedua orang tuanya. “Jadi persiapkan diri kalian karena seminggu dari sekarang kalian akan menikah,” tukas Rudy menyampaikan keputusannya. “Pa… kok cepet banget sih? Rama bahkan belum kenal dia,” protes Rama kesal. “Kami sudah tahu Kiana dengan baik Ram jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun,” pungkas Mei yang membuat Rama bungkam. Rama dan Kania menghembuskan nafas pasrah mereka tahu mereka tidak akan bisa menentang kedua orang tua mereka. "Ram ajak Kia makan gih tuh di sana, mama sudah pesenin tempat buat kalian. Ajak Kia mengobrol biar tambah akrab," ucap Mei sembari menunjuk meja dengan dua kursi di luar ruangan tak jauh dari tempat kami sekarang. Rama berjalan ke arah tempat yang ditunjuk sang mama. Tanpa aba - aba dari Rama Kiana langsung berjalan mengekori Rama. Di meja itu tak ada percakapan yang mengesankan antara Kiana dan Rama hanya bertanya nama dan mau pesan apa itu saja sudah cukup membuat Kiana malas untuk bertantanya lagi karena Rama terlalu cuek dan dingin orangnya mungkin karena mereka baru pertama kali bertemu pikir Kiana. Kiana pun tak mau terlalu ambil pusing tentang itu dan memilih diam yang terpenting Kiana sudah mencoba mengajaknya bicara sesuai kemauan orang tua mereka. Sesekali Kiana memcuri pandang kearah Rama yang sedang sibuk menyantap makanannya. "Tampan sih, tapi dinginnya itu lho mbok ya dikurangi dikit," dumel Kiana dalam hati. "Bagaimana jika Nia dan Intan tau kalau aku dijodohin sama pak Rama pasti mereka histeris." "Huhh Jika bukan karena mama dan papa aku tak mungkin menerima perjodohan ini," umpat Kia terus menerus didalam hati sembari memakan makanannya. Waktu berjalan begitu cepat. Kiana dan Rama hanya saling diam tak ada yang mau memulai untuk bicara lagi hingga sebuah suara membuat keduanya bernafas lega. "Sayang kemarilah ayo kita pulang," panggil Retha kepada sang putri. "I-iya ma," sahut Kina sembari tersenyum. "Permisi kak," ucap Kiana berlalu begitu saja dari hadapan Rama. "Oh ya ampun akhirnya aku selamat juga," ucap Kia lirih sembari bernafas lega ketika sampai di dalam mobil. "Kamu kenapa nak?" tanya sang papa penasaran. "Tak apa pah... kia lelah ingin segera istirahat," elak Kiana. Kiana menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi penumpang lantas memijit-mijit kepalanya yang tiba tiba saja terasa pening. “Kamu sakit Ki?” tanya sang mama khawatir. Kiana hanya menggeleng sebagai jawaban. Kiana memasang earphone di kedua telinganya memutar lagu klasik kesukaannya sembari memejamkan mata. Kiana berlari masuk ke dalam rumah begitu mobil berhenti tepat di depan rumah. Kiana masuk ke dalam kamar kemudian mengunci pintu kamarnya dan melakukan panggilan Video bersama kedua temannya. “Hai Ki… ada apa lo tumbenan video call malam malam gini?” tanya Nia penasaran. “Ho’oh nih… ayo cerita hayo?” sahut Intan yang sedang menggunakan earphone. “Gue dijodohin,” ucap Kiana sedih. “What?” seru keduanya bersamaan. “Elu lagi bercanda kan Ki?” tanya Nia memastikan. “Gue serius… mana pernah gue bohong sama kalian," jelas Kiana. “Kok tiba-tiba sih Ki?” ucap Intan dengan wajah sedihnya. “Eh tapi calonnya ganteng dong?” lanjut Intan. “Lu mau tau?” tanya Kiana sengaja membuat kedua sahabatnya penasaran. “Siapa emang?” tanya Intan penasaran. “Ayo kasih tau dong Ki,” desak Nia. “Pemilik yayasan sekolah kita,” jawab Kiana spontan. “Hah… serius lu Ki?” seru Intan. “Pak Rama yang tampan itu kan?” lanjut Intan. “Iya Pak Rama,” sahut Kiana memutar bola matanya malas. “Trus kenapa lu keliatan galau gitu sih Ki? Kan bagus punya suami tampan dan kaya raya,” celetuk Nia. “Ckk.. Tampan aja gak cukup Ni, dia sudah punya kekasih dan dia sangat dingin ke gue,” jelas Kiana yang membuat kedua sahabatnya mengerti. “Iya sih Ki tapi mana bisa lu nolak keinginan orang tua lu, udah jalanin aja dulu Ki. Gue yakin kok om Tama dan tante Retha sudah memikir segalanya pas mau jodohin lo sama dia,” jelas Intan bijak. “Eh tumben bijak," cibir Kiana sembari terkikik. “Iya Tan gue tau kok kalau maksud nyokap bokap gue baik,” lanjut Kiana. “Eh udahan dulu yak, udah malam nanti kita bangun kesiangan lagi,” pamit Kiana. “Hemmm… Bye bye,” sahut kedua temannya sembari melambaikan tangan sebelum mematikan sambungan telepon. Di tempat lain Rama pergi menemui sang kekasih bernama Bella. Ia memberitahu Bella jika kedua orang tuanya menjodohkan dirinya dengan wanita pilihan mereka. Bella marah, ia meminta Rama pergi meninggalkannya namun Rama memohon kepada Bella untuk bersabar karena ia terpaksa menerima perjodohan tersebut. Ia berjanji kepada Bella jika ia akan segera menceraikan Kiana dan kembali kepada Bella. “Sayang… dengerin aku dulu,” ucap Rama sembari menarik lengan Bella yang hendak pergi. Rama memeluk erat tubuh Bella sampai Bella tenang. Tangan Rama menangkup kedua pipi Bella membawa wajah Bella mendekat ke wajahnya lantas mengecupnya dengan lembut. “Aku sangat mencintaimu, hanya kamu sayang bukan dia.. Ku mohon mengertilah posisiku," bujuk Rama. “Aku janji aku akan memperioritaskan kamu, aku tetap milikmu. Percayalah,” ucap Rama kembali membujuk Bella. Bella melepas tangan Rama dari kedua pipinya. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a dan menatap tajam ke arah Rama. “Baiklah aku akan memaafkanmu dan menerima semuanya tapi aku memiliki syarat, apa kau bisa berjanji akan melakukannya untukku?” ucap Bella dengan nada mengintimidasi. “Katakan sayang? apapun itu akan aku lakukan untuk mu,” ucap Rama meyakinkan Bella..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN