bc

This Is My Story

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
family
time-travel
kickass heroine
confident
heir/heiress
drama
tragedy
bxg
campus
city
highschool
like
intro-logo
Uraian

**Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata, untuk nama sudah di ubah dan ada beberapa latar belakang dan kisah yang dikembangkan.** Tulip seorang ibu rumah tangga yang tidak baik-baik saja, di usianya yang beranjak 38 tahun sudah dikatakan ia tidak muda lagi kini, banyak sekali getir kehidupan yang ia alami, meskipun demikian ia tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada orang lain karena ia tidak ingin di kasihani dan cerita hidup nya menjadi gosip orang sekitar.

Seringkali ia merasa putus asa dan hampir beberapa kali memutuskan untuk ingin mengakhiri hidup nya saja..

Sampai suatu hari ia seperti menemukan kehidupan baru...

Akankah Tulip merasakan bahagia yang sesungguh nya??

chap-preview
Pratinjau gratis
Masa-masa Indah
Gleegerr... sseerrrr.. klotak klutuk.. suara bising yang di buat oleh para pekerja bangunan, sekarang para pekerja bangunan sedang membangun bagian belakang rumah Tulip. karena suara gaduh itu Tulip terbangun dari tidurnya, saat ini sudah jam delapan pagi, kamarnya juga sudah sangat terang, Tulip mengernyitkan matanya karena silau.. sinar matahari menyorot wajahnya dari kaca jendela kamar. Tulip mengucek kedua matanya, dengan susah payah ia berusaha membuka lebar kedua matanya, karena rasa kantuk masih menyelimuti. Untung saat ini masih libur kenaikan kelas jadi Tulip bisa agak bermalas-malasan untuk bangun lebih siang dari biasa nya. Rumah Tulip sedang di renovasi, pak Sudin ayah Tulip sudah lama mengimpikan rumah idamannya, Rumah yang nyaman dengan ruang tamu dan ruang keluarga yang membentuk leter L dan atap yang menjulang lebih tinggi dari rumah tetangga sekitar rumahnya, kamar utama ada di bawah dekat dengan ruang keluarga dan kamar anak-anak ada di lantai atas, lalu dapur yang luas dan terdapat pintu belakang, jika di buka pintu itu menuju pekarangan lumayan luasnya, dimana pak Sudin dapat mendirikan kandang ayam 2 tingkat dari bambu dengan 4 kamar setiap lantainya untuk ternak ayam kampungnya yang lumayan banyak, di samping kandang ayam pak Sudin dan Ibu Elen menanam berbagai tanaman bermanfaat ada pohon pisang yang selalu berbuah dan bertumbuh tunas baru lagi, ada pohon jeruk lemon yang buahnya juga lebat. Di bagian teras depan di tanami pohon pagar jali-jali berjejer dikanan dan kiri, di tengah nya sengaja tidak ditanami untuk jalan masuk. Ada pohon mangga cangkokan, rambutan cangkokan juga, sehingga meskipun pohon-pohon itu tidak begitu tinggi tapi sudah sering berbuah.. ada juga pohon pepaya yang sering berbuah dan juga juga pohon cimpedak yang juga tidak mau kalah dengan pohon lain nya untuk berbuah sangat banyak, sangkin banyaknya tetangga pun sering kebagian mencicipinya. Apa yang pak Sudin dan bu Elen tanam tidak ada yang gagal tumbuh, semua subur dan berbuah lebat.. entah betul atau sekedar mitos belaka, orang-orang bilang mereka punya tangan dingin, sehingga apa yang mereka tanam tumbuh dengan baik. Di ruang tengah yang belum sempurna bentukan nya karena sebagian masih ditutupi terpal biru, nampak anak perempuan berparas cantik, berambut lurus jatuh sebahu, duduk di kursi kayu panjang berwarna merah maroon sedang asik sarapan nasi putih dengan lauk sebuah pisang.. karena penasaran Tulip mendekat dan memperhatikan kakaknya itu dengan wajah keheranan, "enak gak itu?" Wati kakak keduanya Tulip menimpali dengan santai " enak" sambil kepalanya manggut-manggut seakan meyakinkan Tulip bahwa makan nasi dengan pisang itu enak. Tulip berlari kecil menuju dapur, dengan penuh semangat empat lima ia mengambil piring yang bertengger di rak piring dan bergegas membuka rice cooker, ia menyendok dua kali sendok nasi ke piringnya, ia menyambar pisang yang ada di meja makan, mengupas kulit nya lalu menaruh pisang tersebut di piringnya, terakhir ia menyambar sendok lalu ikut nimbrung duduk dengan kakaknya Wati.. Tulip memotong pisang dengan sendok dan menyerok nasi bersama potongan pisang tersebut dan memasukkan nya ke dalam mulutnya,,, beberapa detik kemudian "hueeekkkk" Tulip berlari menuju dapur kembali dan memuntahkan seluruh isi di dalam mulutnya kedalam tempat sampah, matanya merah, mengembang menahan mual yang dapat ia rasakan dari rongga mulutnya. "Lo kenapa?" tanya Wati kebingungan. "Kata lo ini enak.. enak apaan, bau nya bikin mual tau!" komplain Tulip, bibir nya monyong karena kesal. "Lah.. emang enak koq.." terang Wati serius, dia memang tidak sedang bercanda, Wati benar-benar sangat menikmati makanan itu, ia juga menerangkan ke Tulip kalau orang bule suka makan pakai buah, seperti mangga, pisang dan lainnya. Tulip masih kesal, seketika laparnya hilang, ia masih mencium aroma pisang di mulutnya, sebenarnya pisang itu adalah salah satu buah kesukaan Tulip, aneh nya saat dimakan bersamaan dengan nasi, itu membuat sensasi aneh di mulut dan indra penciuman Tulip sehingga membuat perut Tulip mual. Karena hal itulah dalam waktu beberapa bulan kedepan Tulip jadi tidak suka makan Pisang lagi. Tulip melangkah menuju rumah teman mainnya Aisah, walau Tulip dan keluarganya adalah kelompok minoritas beragama non muslim, tapi Keluarga Tulip hidup rukun berdampingan dengan tetangganya yang mayoritas muslim dan bersuku Betawi, Jawa dan Sunda. Salah satunya Aisah tetangga depan rumah Tulip, Aisah adalah salah satu penduduk asli sana. Neneknya yaitu ibu dari ayahnya yang biasa di panggil uwak Ela mempunyai tanah yang sangat luas, di tanah tersebut ia memiliki beberapa pohon Durian, Nangka, Pisang, Kecapi dan Rambutan. Beberapa kali Tulip di ajak Aisah saat subuh-subuh ke kebun uwak Ela saat pohon Durian sedang berbunga, untuk memungut kembang Duren yang banyak terhampar di tanah. Ternyata banyak juga orang penduduk kampung yang memungut nya.. kembang Duren ini rasanya enak jika dimasak pepes menggunakan daun pisang, dan biasanya Tulip dan Aisah memepesnya di atas sisa genting yang ada di belakang rumah Aisah. "Aisaaaah.." panggil Tulip, "iya, bentar" tak lama Aisah muncul dari pintu belakang rumahnya, lalu menghampiri Tulip. "Bentar ya, gua mau nyarap dulu, lo dah nyarap belom?" tanya Aisah, "belom, gua gak selera makan, gara-gara tadi si Wati makan nasi pake pisang, katanya enak, taunya pas gua cobain makan itu juga, rasanya huueeekk, bau nya aneh, gak enak!!" curhat Tulip. "yaudah, gimana kalo kita makan bareng lo ambil nasi sendiri gih entar kita makan bareng disini". Tulip manggut-manggut tanda setuju "lauk nya apa? mama gua belum masak nih" Aisah tersenyum "pake ambel terasi sama kerupuk, enaak loh.." Tulip mengernyitkan alisnya, pikirnya hadeh.. makanan apalagi ini, ia sediki waspada karena trauma makan nasi dan pisang tadi. Meskipun ragu, Tulip tetap menuju dapur dan mengambil piring dan nasi dan kembali menuju teras rumahnya, tak lama Aisah datang dengan membawa dua kerupuk dan sepiring nasi dengan banyak sambel terasi, ia membagi sambel terasi itu ke piring Tulip dan menyodorkan kerupuk kulit persegi kepada Tulip, "nih pegang, trus sambelnya di awur-awurin gini ke nasi nya, panas-panas nasinya tambah enak.." sambil mengaduk sambel dinasi yang masih mengepul asap karena masih panas. Tulip mengikuti apa yang Aisah lakukan setlah itu ia menyuap nasi yang sudah tercampur sambel itu "haap" lalu menggigit kerupuk setelah nya "kreeesss" "eemmm iya enak.."lalu kedua sahabat itu makan dengan lahap sampai habis, sambil bercerita ini dan itu. Kampung halaman Tulip sangat asri, saat Tulip masih kecil Pinggiran kota Jakarta masih sangat sejuk dan sepi, masih ada sawah, banyak kebun-kebun yang tak jarang ada makan leluhur pemilik di kebunnya. masa-masa kecil Tulip cukup membahagiakan dan penuh kenangan, ia sering bermain di lapangan yang yang tak jauh dari rumahnya untuk menangkap kumbang warna warni lalu menerbangkan nya kembali, banyak capung-capung beterbangan di sore hari, dari capung jarum sampai capung raja, Tulip dan teman-temannya juga suka bermain benteng, teprak kapal, teprak gunung, bermain lompat karet, petak umpat, sampai membuat rumah-rumahan dari batang singkong dan daun pisang disana. Masa kecil sungguh senang.. Namun kini Tulip sudah dewasa.. Tulip termenung menatap langit.. "Andai saja waktu dapat berputar kembali..." hayalnya. *****

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.7K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
5.4K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.6K
bc

AKU DAN JIN CANTIK

read
3.9K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
7.7K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.5K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook