Laura tidak mau kelepasan lagi, dia tak ingin dianggap kurang ajar dan tidak tahu diri karena terus-terusan terlambat bangun. Kali ini, dia bangun lebih awal. Meski malam tadi, tidurnya sedikit terlambat karena membaca novel. Namun, dia bisa memastikan bahwa tidurnya cukup nyenyak tanpa gangguan, kecuali karena alarm yang sengaja dia atur untuk pagi ini. Aman. Pikirnya, karena Abi belum keluar dari kamar, jadi dia bisa bebas. Mondar mandir di dapur tanpa ada Abi yang membuatnya canggung karena kejadian malam tadi. Sepanjang malam, Laura berpikir maksud dan niat Abi sering bersikap demikian padanya. Lelaki itu, terkadang sulit ditebak. Kadang suka bercanda, kadang ketus, kadang mudah tersenyum, juga tertawa. Apa Abi juga menyukainya? Atau hanya sekadar iseng. Entahlah Laura tidak mengerti

