Jam sepuluh malam, masih terlalu awal bagi Laura untuk memejamkan mata. Sejak remaja, dia mengidap insomnia, baru bisa tidur nyenyak setelah menjelang subuh. Dia takut tiap kali memejamkan mata dan terlelap, tak jarang mimpi buruk dan ingatan tentang hal mengerikan itu datang lagi padanya walau hanya lewat mimpi. Masa lalu mencekam yang sering datang lewat mimpi, kerap kali mengakibatkan hidupnya yang sudah mulai tertata rapi, kembali berantakan.
Laura membiarkan jendela kamarnya terbuka lebar, menikmati angin malam yang berhembus, sambil menggenggam gelas yang berisi teh hangat. Gadis itu menatap laptopnya yang telah lama terbengkalai, dia beralih pada benda pipih itu. Mencoba menyalakannya lagi, Laura mendesah kesal, benda eletronik itu tidak menyala dan memang butuh perbaikan.
setelah menutup jendela beserta tirai dan memastikan pintu sudah terkunci, Laura merangkak naik ke atas ranjang. Matanya tak juga bisa terpejam, dan malam semakin larut.
***
Abi mencampakkan ponselnya asal, ketika baru saja menerima chat singkat dari Elvia.
Akhir-akhir ini aku ribut terus sama Evan, boleh nggak aku nginap di tempat kamu?
"Perempuan nggak tau diri," gumam Abi, sambil matanya memandang sebuah benda berwarna cerah di atas pantry dapurnya. Dan karena itu, seketika dia melupakan Elvia. Berhasil mengalihkan pikirannya.
Abi meraih benda itu, benda yang dia yakini adalah milik Laura, sebuah ikat rambut berwarna merah muda. Senyum terukir di bibirnya, dia meletakkan kembali, karena mungkin besok Laura akan mencarinya ketika tiba di sini.
Sejenak dia memikirkan apa yang dikatakan mamanya, mau sampai kapan dia terus begini? Mau sampai kapan menyandang status duda, hidup dalam kesepian dan kesendirian. Abi tidak bisa memastikan karena hatinya masih tertutup rapat tanpa celah.
Sebagian teman-temannya sudah berstatus sebagai seorang ayah, dan menciptakan keluarga kecil yang hangat. Tidak munafik, Abi juga menginginkan itu. Rumah yang berisik dengan suara anak kecil yang akan memanggilnya dengan sebutan 'papa'. Tapi saat ini, Abi tak ingin coba-coba hanya untuk egonya semata. Semuanya harus dipikirkan dan direncanakan secara matang. Dia tak mau kejadian beberapa tahun lalu terulang. Mungkin sebagian orang akan merasakan hangatnya rumah tangga yang baru dijalani selama setahun. Tapi apa yang didapatkannya? Justru penghianatan dari wanita pilihannya.
Sebuah suara yang menandakan bahwa pintu rumahnya sedang terbuka, menyadarkan lamunan Abi. Dia melangkah menuju pintu utama, tidak peduli saat ini sedang bertelanjang d**a karena tak mengenakan atasan. Tidak lama setelahnya, sosok Elvia muncul, dengan rambut acak-acakan dan wajah sembabnya.
"Aku menyesal," ucap wanita itu dengan nada sedih.
"Jangan sembarangan masuk ke rumah orang!" Geram Abi. Namun, dia sadar diri, Elvia dapat masuk dengan mudah karena dia sendiri belum mengganti kode akses pintu hingga saat ini.
"Aku menyesal pergi dari kamu." Nada manja terdengar dari ucapannya. Elvia mendekat pada Abi sambil merentangkan kedua tangan.
Secepat kilat lelaki itu menghindari agar Elvia gagal memeluknya. "Bukan urusanku, keluar kamu!" Titah Abi.
"Malam ini aja, aku mohon-"
"Keluar!" Abi masih menatap tajam pada Elvia yang saat ini malah dengan santainya membaringkan tubuh di atas sofa.
Mengalah, Abi memilih pergi menghindar, lelaki itu masuk ke kamar mengambil baju dan jaketnya, serta kunci mobil. Lebih baik dia yang pergi daripada harus bermalam dan satu atap dengan wanita yang pernah membuat hidupnya hancur.
"Mas, mau ke mana?" Teriak Elvia frustasi.
Tidak menjawab, Abi justru membanting pintu dengan sangat keras. Kesibukannya selama ini, benar-benar membuatnya lupa untuk mengganti kode akses rumahnya. Dia tidak berpikir sampai ke sana dan akhir-akhir ini si mantan istri memang sering muncul tak kenal waktu. Bisa saja Abi menyeretnya dan memaksa wanita itu keluar dari rumahnya, tapi hatinya tidak setega itu. Jadi, dia yang mengalah dan memilih pergi meski tidak tahu akan ke mana saat ini.
***
Bermodalkan alarm yang telah Laura atur di dalam ponselnya, dia berhasil bangun pagi sekali hari ini. Tidurnya hanya tiga jam saja, membuatnya sulit membuka mata. Namun, dia belum lupa kalau hari ini adalah hari ke duanya bekerja di rumah dosennya. Laura bergegas, bersiap-siap dalam waktu yang cukup singkat karena sebenarnya dia sudah terlambat. Apalagi, perjalanan dari kosnya menuju rumah Abi, akan memakan waktu yang lumayan lama.
Jika biasanya Laura hanya membawa tas slempang berukuran kecil, kali ini dia menggunakan ranselnya untuk membawa laptop. Jika pekerjaannya sudah selesai, dia akan pergi ke tempat reparasi laptop, dengan memanfaatkan gaji awal yang diberi oleh majikannya. Laura tidak memesan ojek online, atau menunggu ojek di depan gerbang kosnya seperti yang biasa dia lakukan, kali ini dia ingin pergi menggunakan taksi. Bukan ingin berfoya-foya, hanya saja dia ingin keselamatannya lebih terjamin, karena saat ini dia berangkat bahkan saat matahari belum memunculkan sinarnya.
Terkadang dia berpikir, ini cukup berat untuk dijalani, tapi Laura mengaitkan dengan upah yang akan didapatkannya. Laura juga sempat berpikir jika Abi akan memperkerjakan dirinya dalam waktu yang lama, dia berniat pindah dari kosnya yang lama dan mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan kediaman lelaki itu.
Sekitar setengah jam perjalanan, Laura tiba di rumah Abi. Suasana tampak sepi, Laura turun dan berjalan pelan menuju pintu gerbang yang sudah terbuka lebar, dia mengernyit heran saat tidak mendapati mobil Abi di garasi. Apa lelaki itu sudah pergi? Rasanya saat ini masih terlalu pagi.
Tidak berpikir panjang, gadis itu memberanikan diri memencet bel berulang kali. Dia tahu, Abi adalah orang yang cukup disiplin, maka dia yakin lelaki itu pasti sudah bangun. Namun, kenyataan yang Laura dapatkan adalah pintu yang tak kunjung terbuka sampai sepuluh menit dia menunggu.
Misterius, Laura masih belum bisa menebak Abi orang seperti apa, bagaimana sifatnya, keseharian dan kebiasaannya. "Jangan-jangan Pak Abi nggak tidur di rumah," gumam Laura. Satu-satunya yang dapat dia lakukan saat ini adalah menunggu dan kolam ikan menjadi sasaran pandangannya.
"Siapa sih?!" Gerutu seorang perempuan sambil membuka pintu. "Kamu lagi?!" Dia mendapati Laura yang sedang duduk di teras rumah.
"I-bu," ucap Laura gugup tidak menyangka kalau yang menyambutnya kini adalah wanita yang kemarin telah memecatnya dan kini dia melihat penampilan Elvia cukup berantakan, khas orang bangun tidur.
"Aku bukan ibumu!" Elvia kembali menutup pintu dengan keras. Mengabaikannya dan menganggap wanita itu tak penting karena cukup mengganggu.
Kini Laura bingung harus berbuat apa. Namun, tidak lama kemudian, sebuah mobil yang cukup dikenalinya muncul dan melesat masuk ke halaman rumah melalui gerbang. Cepat-cepat Laura berdiri tegak, dari mobilnya, dia yakin itu adalah majikannya.