Pak Abi Duren

1064 Kata
"Itu tuh, mama bisa suruh dia nikah. Umurnya udah cukup untuk menikah. Udah selesai kuliah, tunggu apalagi?" Sasaran Abi kini adalah Adeeva. "Minta cucu dari dia." "Aku masih mau menikmati hidup, Kak. Nanti lah. Jangan mengalihkan topik pembicaraan. Sekarang, mama mengkhawatirkan Kak Abi, bukan aku," sahut Adeeva, tentu saja dia berkilah. Usianya baru dua puluh tiga tahun, sudah selesai kuliah sejak dua tahun lalu, dan kegiatannya kini memang sangat tidak penting, bermain dan menghamburkan uang orang tua. "Abi, dengar mama Nak, kamu mau cari yang kayak gimana lagi? Mungkin bisa mama usahakan, anak-anak teman mama banyak yang-" "Stop it, Mama. Nanti, nanti aku cari sendiri. Nggak perlu buru-buru." Abi menyangkal. Dia ingin sekali, kehadiran mamanya sesekali tidak usah membahas soal statusnya. Abi masih nyaman dengan kondisi seperti ini. "Nanti, nanti melulu kamu ini. Bentar lagi umur kami tiga puluh tiga, Nak. Mau sampai kapan lagi, jangan bilang kalau kamu masih cinta perempuan sialan itu!" Jika sudah mengingat Elvia si mantan menantu, Nara sulit sekali menahan diri agar tidak mengumpat. "No!" jawab Abi cepat. "Abi nggak cinta siapapun termasuk Elvia." Tegasnya. "Kak, mahasiwi di kampus banyak loh yang cakep-cakep," timpal Adeeva. "Nggak ada yang menarik di mata kamu? Aku bersyukur banget udah tamat dan keluar dari kampus itu. Kalau enggak, aku selalu jadi sasaran mereka untuk sampaikan hadiah-hadiah, dari fans-fans kamu." "Nggak ada," jawab Abi acuh. Wajahnya mulai terlihat kesal. "Ehm, kamu udah makan belum?" tanya Nara. "Belum," sahut Abi dengan nada yang masih jutek. "Makan di luar yuk?" Ajak wanita itu. "Udah lama kita nggak makan bertiga-" "Berempat Ma, sejak papa sakit dan jarang keluar rumah," ujar Adeeva. "Abi belum mandi." Lelaki itu beralasan, dia sedang sangat tidak mood untuk ke mana-mana malam ini. "Kak, ayolah. Kita rayakan-" "Status dudaku yang ke dua tahun?" Abi menatap tajam pada adiknya. "Bercanda, Kak. Jangan galak-galak, aku bukan mahasiswi kamu lagi!" Ya, Adeeva juga mengeyam pendidikan sarjana di tempat Abi mengajar, dan kini dia sudah menjadi alumni di sana. *** Mau tidak mau, Abi menuruti permintaan mamanya malam ini, untuk makan malam di luar. Restoran langganan keluarganya menjadi pilihan karena Nara dan Adeeva tidak ingin mencoba tempat lain, khawatir soal menu makanan yang tidak memuaskan. "Wah Pak Abi, selamat datang kembali." Manager restoran itu yang kebetulan sedang memantau, langsung menyapa Abi, salah satu customer tetap di sana. "Ya, terima kasih," sahut Abi disertai senyumnya yang cukup irit. "Kami nggak menyangka kalau tempat kami selalu menjadi pilihan Pak Abi, malam ini adalah ke dua kalinya Bapak berkunjung ke restoran ini," ucap menejer itu lagi, bermaksud basa-basi. "Oh ya, hari ini kamu udah dua kali ke sini, Bi? Dengan siapa?" Tanya sang mama penasaran. "Klien," sahut Abi singkat. Mereka langsung duduk dan memilih menu. "Mama mau pesan apa?" Dia mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum sang mama bertanya lebih lanjut. "Eum apa ya, Deeva kamu aja yang pilihin menu-" "Aku salad aja, Ma lagi diet," sahut gadis itu terlihat acuh, dia sibuk memainkan ponselnya. "Mama juga deh kalau gitu, nanti berat mama naik, udah lama juga nggak olah raga," timpal Nara. "Ya ampun, ngapain jauh-jauh ke sini, kalau cuma mau makan salad. Bisa bikin sendiri di rumah." Abi berdecak kesal, lalu memanggil waiters. "Momentnya yang bikin beda, kan mama bilang kita udah lama nggak jalan bertiga." Selalu saja ada kalimat pembelaan dari wanita itu. "Kak, lihat cewek yang di sana nggak?" Adeeva menyenggol lengan sang kakak, sambil mengarahkan wajahnya ke arah jarum jam dua, berdekatan dengan mereka. "Dari tadi lirik-lirik ke sini loh, cantik banget lagi." goda gadis itu. "Biarin aja." Abi bahkan tidak mau melirik ke arah mana yang dimaksud adiknya. "Nah kayak gini nih, duda yang bakalan susah laku," celetuk Nara kesal. Abi tak lagi merespon ucapan-ucapan dan sindiran dari mamanya, dia beralih pada ponselnya yang baru saja menerima sebuah chat melalui aplikasi berwana hijau itu. Laura Hampir DO Adalah nama kontak Laura di ponsel Abi, ya memang terkesan kejam. Namun, hanya saja Abi ingin menyimpan namanya beda dari yang lain. Hal ini juga menjadi motivasi baginya untuk bisa mendesak mahaisiswinya itu agar bisa menyelesaikan kuliah sebelum waktunya habis. Pak terima kasih banyak, saya biaa makan malam yang enak karena bapak. Pesan beserta sebuah foto makanan yang tadi Laura pesan untuk dibawanya pulang. Abi mengulas senyum tipis. Apa Laura sebahagia itu, hanya karena hal yang cukup sederhana. Sama-sama. Senyum yang masih belum luntur di bibir Abi mengundang tanya oleh mamanya. Dia melirik putrinya seakan memberi kode untuk memperhatikan Abi yang sedang senyum-senyum menatap layar ponsel. Oh dia udah punya kuota internet? Abi bergumam dalam hatinya. "Nah, kan benar, pasti udah ada pacarnya nih Ma. Cuma nggak mau ngaku aja.” Adeeva berkomentar secara spontan. Karena ketahuan, Abi langsung meletakkan ponselnya di meja, wajahnya yang awalnya tersenyum pun berubah menjadi jutek seketika. "Apa sih, ini Edward." Abi berkilah, tentu saja. Dia tidak akan mengakui kalau dia sedang menerima chat singkat dari seorang gadis yang sedang sangat mensyukuri hidupnya. Adeeva geleng-geleng kepala. "Kelamaan menduda Ma, bahaya juga. Chatingan sama cowok bisa bikin Kakak senyum-senyum." Gadis itu masih saja berkicau tak jelas. "Kamu jangan doktrin pikiran mama dengan yang aneh-aneh ya?" Protes Abi. "Udah, udah. Mama pusing dengar kalian bertengkar terus." Nara melerai perdebatan kedua anaknya. Lalu tatapannya serius, menjurus pada Abi. "Mama juga khawatir, karena patah hati, dan keseringan bareng Edward, apa mungkin kamu berubah haluan?" Benar dugaan Abi, sang mama cukup mudah terprovokasi oleh mulut Deeva, kini jadi ikut-ikutan. "Amit-amit, jangan sampai," sahut Abi bergidik geli. *** Laura menatap layar ponselnya dengan perasaan kesal. Melihat huruf-huruf yang tertera di sana. Baru saja dia mengganti nama Abi di kontaknya, setelah mengetahui fakta yang membuatnya bahagia. Pak Abi Duren Sama-sama "Ih si pelit kata-kata," gerutunya. Dia mengulas senyum miring. Mengharap apa sih lo? Dia membatin, lalu membereskan box makanan yang sudah habis isinya tak bersisa. Kebersamaannya dengan Abi selama dua hari ini, benar-benar membuatnya lupa diri. Apalagi, setelah mengetahui bahwa Abi adalah seorang duda. Laura bahagianya bukan main. Dia merasa aman, bekerja dengan Abi pasti nantinya mereka akan sering bersama-sama dan tidak akan menjadi masalah karena lelaki itu bukanlah suami orang. Tapi mengingat wajah dan tingkah Elvia tadi, kembali membuat Laura mendesah kesal. Karena menu makan malam enak, dan transferan uang sejumlah dua puluh juta, apa bisa membuatnya tidur nyenyak? Laura tidak yakin. Karena penyebab insomnianya adalah traumanya di masa remaja yang masih cukup sukit terhapus dari ingatannya, dan yang Laura butuhkan saat ini adalah sosok pelindung dan penjaga, sekaligus tempatnya bersandar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN