"Pak, terima kasih untuk hari ini, terima kasih atas kesempatannya," ucap Laura setelah dia turun dari mobil Abi, sebelum dosennya itu melajukan mobil. Laura juga memberikan senyum terbaiknya yang dia tidak menyadari karena senyum itu, banyak laki-laki yang sulit mengalihkan pandangan.
"Sama-sama, jangan lupa nomor rekening kamu, biar saya bayar gaji kamu di awal." Abi mengingatkan, membalas senyum Laura sekadarnya saja.
"Baik Pak, hati-hati."
Tak ada jawaban dari Abi, dan Beberapa detik setelahnya, mobil di hadapan Laura itu melaju pelan, menghilang dari hadapannya.
Laura tiba di kosnya, sambil menenteng sebuah paper bag berisi makan malamnya yang dia pesan dari restoran mewah tadi. Dia meletakkan tas itu di atas meja sambil tersenyum. Mengambil kesempatan sejenak untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Hari ini benar-benar penuh drama, ditampar, dipecat, dikatai simpanan dan ditraktir makan enak. Sedih, senang, kesal bercampur menjadi satu. Ingat akan sesuatu, Laura segera bangkit dari rebahan, berjalan menuju meja belajar dan membuka laci yang ada di sana. Laura mengambil sebuah buku rekening dari salah satu bank ternama di negeri ini.
Merogoh tas, Laura mengambil ponsel dan segera mengetik pesan penting pada dosen sekaligus laki-laki yang kini sudah menjadi bos di tempatnya bekerja.
Nomor rekening saya, Pak. Terima kasih sebelumnya.
Pesan singkat dari Laura disertai beberapa angka-angka tak beraturan yang tertera di sana, dia kirimkan kepada sang dosen. Seharian di luar, Laura ingin membersihkan diri menikmati mandinya di kamar mandi berukuran sepetak itu. Tanpa bath up, tanpa shower, hanya ada bak mandi berukuran kecil dan gayung. Laura benar-benar sudah terbiasa hidup tanpa fasilitas mewah.
Usai mandi, dengan masih berbalut handuk, dia melangkah menatap ponselnya. Berharap balasan dari seseorang. Namun, bukan balasan yang didapatnya justru sebuah pesan yang menandakan ada notifikasi uang masuk di rekeningnya. Mata Laura membulat, berulang kali dia melihat ulang dan memastikan bahwa dia tidak salah lihat. Uang senilai dua puluh juta rupiah baru masuk ke rekeningnya beberapa menit yang lalu.
"Ini pasti dari Pak Abi, kan? Nggak mungkin Ayah." Laura bergumam senang, tak dapat menyembunyikan ekspresi bahagianya. Uang itu terasa cukup banyak baginya. Tapi, apa mungkin Abi langsung membayar gajinya untuk beberapa bulan? Itu artinya dia harus berhemat.
Mengabaikan ponselnya sejenak, Laura mengenakan pakaian yang biasa dia pakai untuk tidur. Gadis itu menyalakan kipas angin, duduk tepat di hadapan kipas, berniat untuk mengeringkan rambutnya. Jika benar Abi yang mengirimkan uang sebanyak itu padanya, dia wajib mengucapkan terima kasih. Kali ini, Laura tidak segan untuk langsung menelpon dosennya itu. Sambil senyum-senyum, dia menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Se-lamat malam Pak Abi." Laura menyapa dengan hati-hati. Semoga dia tidak salah ucap, dia melirik ke jendela kamarnya untuk memastikan bahwa saat ini benar-benar sudah malam.
"Ya, malam," sahut Abi. Nadanya terdengar acuh.
"Terima kasih gaji di awalnya, tapi saya rasa itu terlalu banyak, Pak." Laura menggigit bibir, takut jika dia salah bicara dan akan menyinggung Abi.
"Apa? Coba ulangi kamu bilang apa? Suara kamu nggak terlalu jelas, kamu lagi di jalan?"
Laura menyadari keberadaannya kini yang sedang menikmati embusan angin kencang dari kipas pun langsung menekan tombol off.
"Nggak Pak, saya di rumah kok. Makasih uangnya udah masuk ke rekening saya, tapi apa itu nggak terlalu banyak, Pak?" Tanya Laura sekali lagi.
"Itu artinya kamu harus bekerja dengan baik dan benar, kamu tau saya paling nggak suka dengan orang yang nggak disiplin. Kamu nggak boleh telat, ingat tugas dan tanggung jawab kamu, selesaikan skripsi!"
Jantung Laura berdetak cepat. Dia sudah salah menduga ke mana arah kalimat yang sedang diucapkan Abi. Dia pikir, yang sedang dosennya itu bicarakan adalah tentang pekerjaannya. Tapi ternyata tentang skripsinya. Meski nada bicara Abi begitu tegas dan sangat tidak ramah masuk ke pendengaran, tapi Laura merasa senang karena ada yang mengingatkan, memperhatikan bahkan memberinya semangat.
"Baik Pak, saya akan selalu ingat kata-kata Bapak. Skripsi akan saya selesaikan dalam tempo dua bulan." Laura menjawab dengan mantap. Entahlah, menurutnya waktu dua bulan itu sudah pas tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lama, sebelum semester ini berakhir.
"Oke." Panggilan langsung tertutup saat Abi hanya menjawab satu kata setelah Laura berbicara panjang lebar.
***
Abi sedang bersantai di sofa yang ada di ruang tv di rumahnya. Dia bahkan belum mandi dan berganti pakaian. Masih betah memakai kemejanya pagi tadi. Ponsel dia letakkan di d**a, setelah menerima panggilan dari Laura.
Pikirannya menerawang, lelaki itu menatap langit-langit di ruang tv. Bayang-bayang ingatan tentang Elvia yang sedang bermesraan dengan sepupunya sendiri saat itu, membuatnya kembali menutup diri terhadap mahluk yang namanya perempuan. Abi takut kecewa lagi dan menganggap semua perempuan itu sama. Untuk sekadar bermain-main dan menjalin hubungan dengan wanita, Abi tidak mau membuang-buang waktu. Namun, untuk langsung serius ke jenjang pernikahan, Abi tentu belum siap.
Ting tong
Suara bel di pintu rumahnya, membuyarkan lamunan. Dengan perasaan enggan, dia berdiri dan menuju pintu. Belum sempat dia membuka pintu, sosok seorang wanita muncul di hadapannya sambil membawa sebuah kue beserta lilin di atasnya.
"Surprise!!" Teriak seorang wanita yang lebih muda darinya.
"Apa ini? Ada apa? Siapa yang ulang tahun?" Abi menatap heran pada dua wanita beda usia di hadapannya.
"Abi nggak lagi ulang tahun, Ma. Kejutan apa ini?" Tanyanya sekali lagi pada sang mama yang sedang cukup bersemangat menyodorkan kue ke hadapannya.
"Tiup dulu Kak, lilinnya!" pinta Deeva, saudara sekandung Abi satu-satunya.
Abi masih berkerut kening, kebingungan. "Kalian pada kenapa sih? Tiba-tiba datang bawa kue, nyuruh tiup lilin. Ini perayaan apa?" Abi berjalan meninggalkan mama dan adiknya yang masih berdiri sambil senyum-senyum.
Kalimat keluhan Abi barusan disambut tawa oleh sang mama. "Anniversary kamu loh," celetuk wanita paruh baya itu.
"Anniversary?" Tanya Abi lagi, kini dia sudah kembali berbaring di sofa.
"Yes, anniversary kamu menduda. Hari ini tepat dua tahun," sahut Nara, mamanya. Masih dengan nada mengejek dan tawa cekikikan.
Abi berdecak. Bentuk sindiran apalagi ini? pikirnya. “Nggak penting banget sih Ma."
"Mama cuma mau mengingatkan aja, mungkin kamu lupa kalau masa duda kamu itu udah genap dua tahun. Move on dong, mau sampai kapan kamu kayak gini? Teman-teman kamu yang lain udah pada punya anak, kamu masih sibuk meratapi nasib. Perempuan nggak cuma satu, Nak. Ayolah!" dengan sabar Nara berucap sambil duduk tepat di sebelah sang anak.