Laura adalah anak yang patuh, dia menuruti titah Abi yang memintanya untuk menunggunya. Setelah berjalan sejauh beberapa puluh meter dari perempatan, dia duduk di sebuah kursi yang ada di taman. Menahan lapar, belum makan siang dan saat ini sudah menjelang sore. Tapi Laura tidak mengeluhkan itu. Dia berharap masih ada harapan untuknya, bisa bekerja kembali dengan Abi karena gajinya cukup lumayan. Apalagi, yang tadi itu… hanya mantan istri? Laura ingin tertawa puas karena ternyata si dosen tampan adalah seorang duda.
Pantesan aja terlihat cukup menggoda, ternyata duda. Laura membatin, senyum pun terbit di wajahnya kini.
Tin
Sampai suara klakson mobil menyadarkan dan membuat senyumnya pun perlahan memudar. Laura menoleh, terlihat sebuah mobil yang cukup dikenalinya, Laura kembali tersenyum.
"Naik!" Titah seorang lelaki yang baru saja menurukan kaca jendela mobil.
Laura mengangguk, bergegas naik ke dalam mobil.
"Kamu masih mau kerja?" tanya Abi.
"Iya, kalau masih ada kesempatan, ya mau Pak," sahut Laura mantap, tanpa basa-basi.
"Makanya ikut saya sekarang, enak aja kamu mau langsung pergi," protes Abi.
"Saya udah diusir, ya mau gimana dong, istri Bapak serem banget-"
"MANTAN ISTRI." Ralat Abi dengan nada tegas tak ingin dibantah.
"Iya maksudnya itu. Katanya saya kuliah dan belajar yang benar aja, jangan bekerja apalagi sebagai pembantu," jelas Laura. Sebenarnya, dia ingin memancing si dosen, untuk mencari tahu bagaimana hubungannya dengan si mantan saat ini.
Tapi, melihat bagaimana wanita itu dengan gampangnya masuk ke dalam rumah Abi, Laura yakin mereka masih sering bertemu dan berhubungan baik. Ah, kenapa Laura jadi cemburu?
Buang jauh-jauh pikiran aneh lo.
Dia mengingatkan diri sendiri.
"Lain kali tanya saya dulu, sebelum ambil keputusan." sindir Abi pada gadis di sebelahnya.
"Saya udah sms dan telpon Bapak berulang kali, saya pikir-"
"Maaf soal itu, tadi ada urusan penting yang benar-benar nggak bisa saya tinggalkan."
Laura mengangguk. Tak lagi banyak bicara, apalagi seorang Abimana, si dosen dingin telah mengucapkan maaf padanya. Suatu hal yang benar-benar langka.
Hanya butuh waktu lima menit, mereka sudah tiba kembali tepat di depan gerbang rumah Abi. Lelaki itu tidak bisa memarkirkan mobilnya ke halaman rumah, sebab ada mobil lain yang menghalangi.
Laura mengikuti langkah dosennya, sebenarnya dia enggan bertemu lagi dengan wanita yang sudah memecatnya itu. Namun, apa boleh buat karena Abi yang memaksa.
Abi dan Laura masuk ke dalam rumah secara bersamaan. Tidak ada sosok Elvia di manapun. Laura memilih menuju dapur dan duduk di kursi makan, sementara Abi menuju kamarnya menduga kalau Elvia ada di sana. Dan dugaannya tidak salah. Wanita itu terlihat sedang berbaring santai sambil memainkan ponselnya. Setelah dipergoki oleh Abi, Elvia tetap bersikap santai dan tidak merasa bersalah sedikitpun, karena menganggap kamar itu juga pernah menjadi kamarnya.
"Mau apalagi? Nggak bisa bicara via telpon aja?" Tanya Abi dengan nada dan tatapan yang dingin dia layangkan pada si mantan istri.
"Kalau kangen sama kamu, nggak bisa diselesaikan via telepon," sahut wanita itu sambil tersenyum menggoda. "Sini dong!" Dia menepuk sisi kosong di sampingnya.
Abi membuang pandangan ke arah lain. Tidak, dia tidak boleh tergoda lagi dengan perempuan yang pernah cukup dia cintai, namun telah menghianatinya ini.
"Keluar Elvia!" titahnya dengan nada tegas. Sadar Elvia pun saat ini berstatus sebagai istri orang. Istri dari sepupunya sendiri, Evan.
"Kejam banget, oke… oke. Kamu bisa bantu aku? Kami kekurangan seratus juta, aku janji bakalan kembalikan dalam tempo sebulan," pinta wanita itu dengan nada memelas.
Sudah berkhianat, tapi hidupnya masih bergantung pada mantan suami. Apalagi, saat ini perusahaan Evan sedang berada di titik terendah.
"Cuma itu, kan? Oke. Silakan keluar!" titahnya lagi dengan cukup tegas.
"Iya, thanks Mas Ab-"
Abi langsung mendorong pelan tubuh wanita itu yang hendak memberinya pelukan. "Oh ya, jangan sekali-kali kamu mencampuri urusanku. Berani sekali kamu mengusir dan memecat Laura?" Abi merasa harus menegaskan tentang ini.
"Dia mengaku mahasiswa, menurutku, tugas mahasiswa itu belajar, bukan bekerja apalagi cuma pembantu. Salahnya di mana?" Elvia mencoba membela diri dan menganggap bahwa apa yang dia lakukan itu cukup benar.
"Salahnya itu bukan urusan kamu dan tolong lain kali, jangan ikut campur dan sembarangan lagi masuk ke rumah ini!" Abi meninggalkan Elvia yang masih betah berdiri di dalam kamar.
Laura menoleh padanya, melihat wajahnya yang cukup kusut, Laura yakin mereka sedang bertengkar atau mungkin… Gadis itu membuang jauh-jauh pikirannya. Namun, melihat bagaimana penampilan Elvia yang saat itu juga keluar dari kamar, Laura yakin telah terjadi sesuatu di dalam sana beberapa menit yang lalu. Elvia sedang sibuk mengancingkan dua kancing blousenya yang terbuka, juga mengusap bibirnya perlahan.
Mengetahui keberadaan Laura, diapun berakting. Elvia paham, dan menaruh curiga terhadap wanita yang lebih muda darinya, dan mengaku sebagai mahasiswi dari mantan suaminya itu. Dia paham bagaimana Abi, tidak akan mungkin dengan gampangnya mengajak orang lain masuk ke dalam area pribadinya, jika tidak ada sesuatu.
Laura langsung mengalihkan pandangan ke arah lain, terlalu enggan berbalas tatapan dengan perempuan berpenampilan glamour itu.
"Kamu udah makan?" Tanya Abi, ketika menghampiri Laura yang sedang duduk di ruang makan.
"Be-lum Pak," sahut Laura.
Percakapan singkat mereka itu terdengar jelas oleh Elvia yang sedang melintas, dia tertawa sarkas. "Perhatian banget Pak Dosen dengan mahasiswinya?" Sindir wanita itu, sambil berlalu menuju pintu utama. "Simpanan ya?" Lanjutnya disertai tawa renyah.
Laura menggeram meski ingin sekali menjawab dan menyangkal tuduhan itu.
Simpanan katanya? Ya meskipun Pak Abi itu idaman, tapi untuk menjadi simpanan, huh memangnya aku perempuan apaan?
"Abaikan ucapannya." Abi menatap wajah Laura sekilas, dia paham gadis itu sedang menahan kesal. "Saya akan tebus kesalahan saya, sekarang kita pergi makan."
Tanpa menjawab, Laura mengikuti langkah Abi keluar rumah. Diajak makan, ternyata Abi memenuhi janjinya beberapa jam lalu.
Sebuah restoran bernuansa mewah, dan bergaya Eropa, menjadi pilihan Abi sore itu. Sebenarnya lelaki itu sudah makan saat meeting bersama investor barunya siang tadi. Namun, dia merasa bersalah telah mengabaikan Laura dan kini ingin menepati janji.
Laura menatap kagum pada tempat yang sedang dia datangi saat ini. Lagi-lagi, hal-hal mewah seperti ini mengingatkannya pada masa lalu. Di mana saat merayakan ulang tahunnya, ulang tahun mamanya atau ulang tahun ayahnya, mereka selalu pergi ke restoran mewah untuk merayakannya. Tapi itu dulu, saat keluarganya masih utuh, saat ayahnya benar-benar memiliki waktu keluarga. Sebelum penghancur dan perusak kebahagiaan itu datang.
"Kamu mau pesan apa?" Abi membolak balikkan buku menu yang sedang dipegangnya.
"Nasi aja, Pak," sahut Laura.
"Selain itu? Silakan pesan apapun yang kamu mau," ujar Abi.
"Benar Pak?" Mata Laura berbinar. "Kalau gitu saya pesan sekalian untuk makan malam juga, mau saya bawa pulang.” Laura berekspresi senang.
Abi mengangguk. "Iya, boleh."
"Yeay, thanks Pak Abi." Gadis itu bersorak senang.
Abi tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Seperti sedang berhadapan dengan seorang anak kecil, bukan seorang perempuan dewasa.
Melihat Laura makan begitu lahap tanpa malu-malu, Abi masih enggan mengalihkan pandangannya dari gadis itu. "Kamu kayak orang nggak makan berhari-hari," celetuk lelaki itu. Seketika dia menggeram dan kesal pada dirinya sendiri, mengapa begitu mudah mengeluarkan kalimat seperti itu. "Maaf maksud saya-"
"Udah lama nggak makan enak, Pak. Dulu waktu saya masih SMP, sering banget ke tempat kayak gini, sama Ayah dan Mama." Laura tidak masalah jika dia dikasihani, karena beginilah hidupnya sekarang.
"Oh ya?"
Mendengar pengakuan Laura, membuat Abi penasaran dan ingin mengetahui lebih banyak tentang gadis itu. Berdasarkan pengakuannya, Abi merasa bahwa Laura pasti bukanlah berasal dari keluarga sederhana.
"Tapi itu dulu, Pak. Sebelum keluarga saya terpecah belah," lanjut Laura dan kalimatnya barusan berhasil mengundang belas kasihan di benak Abi. “Maaf saya jadi curhat." Laura menundukkan kepala, merasa bersalah karena telah lancang mengatakan hal yang tidak penting pada dosen yang sudah seharian bersamanya itu.
"Nggak apa-apa," sahut Abi singkat. Meski merasa kasihan, dia tidak boleh memperlihatkannya. Dia tak ingin Laura jadi besar kepala.