Itu Bukan Istri Saya

1199 Kata
"Ta-pi kerjaan saya belum selesai, Bu. Saya harus menyusun-" "Biar saya aja, udah berapa lama kamu kerja di sini?" Tatapan sinis masih wanita itu layangkan pada Laura. "Baru hari ini, Bu," jawab Laura hati-hati. Dia menduga, si nyonya tidak menyukainya. Mungkin karena dia adalah wanita muda dan takut suaminya tergoda? Dia kira gue w*************a? Laura membatin. "Baru hari ini?" wanita berambut pirang itu tertawa merendahkan. "Kamu kenal Abi di mana?" "Iya, saya mahasiswinya Bu," jawab Laura apa adanya. Perasaannya mulai tidak enak kali ini. Dia tidak mau terlalu banyak bicara. Jelas sekali dari nada bicara dan cara wanita itu memandangnya, pasti sangat tidak menyukainya. Setelah beberapa detik menunduk, lalu dia memberanikan diri untuk menegakkan kepalanya, dia menatap sekilas wanita di hadapannya sedang membuka dompet. "Ini, gaji kamu hari ini." Lima lembar uang seratus ribu disodorkan di hadapan Laura. "Ini hari pertama dan terakhir kamu, jangan balik lagi ke sini, paham?" Laura terbelalak. Rasanya dia seperti baru saja dicampakkan dari gedung tinggi. Untung saja dia mengatakan berhenti bekerja hanya di satu tempat. Jadi, dia tidak terlalu bingung harus ke mana setelah ini. "Sa-lah saya apa, Bu?" Tidak mau menerima begitu saja pemecatannya, Laura merasa harus ada kejelasan. "Kamu kan mahasiswa, masih kuliah. Ngapain kerja, jadi pembantu pula. Kuliah aja yang benar yang rajin, supaya dapat pekerjaan yang lebih bagus, oke?" Ucap wanita itu dengan nada mengejek. Dengan santainya dia menekan kode akses pintu rumah dan beberapa detik kemudian pintu terbuka. "Oh ya sebelum kamu pergi, tolong angkat ini masuk ke dalam!" titahnya sambil menunjuk dua kantung plastik yang terletak di lantai teras. Laura mengangguk pasrah. "Baik, Bu." Mengerjakan apa yang dipinta majikannya itu, membawa masuk beberapa kantung plastik besar berisi bahan makanan, dia letakkan tepat di area dapur. "Saya permisi." Dia balik badan, melangkah keluar pintu. Ternyata begini rasanya mendapat pekerjaan dan langsung dipecat di hari yang sama. Laura tersenyum pedih, ingin sekali dia menertawakan nasibnya. "Eh tunggu!" jerit wanita itu saat Laura sudah menganyukan langkah di halaman rumah. "Kamu aja deh yang susun ini, masa saya sih? Setelah susun itu kamu boleh pergi. Rugi dong saya udah bayar kamu." Tawa renyah keluar dari mulutnya. Laura tidak menolak, tidak juga menjawab. Tapi dia menuruti permintaan wanita yang dia anggap majikan itu. Laura menyusun satu persatu sesuai tempatnya. Sementara wanita itu sedang duduk di kursi makan sambil memperhatikan gerak-geriknya. Sepuluh menit, Laura selesai. Dia ingat sesuatu, lalu merogoh tasnya mengambil uang sejumlah uang sisa belanjanya tadi. "Bu, ini kembaliannya tadi Pak Abi kasih uangnya kebanyakan." Laura meletakkan lembaran uang di atas meja makan. "Jujur banget kamu? Jaman sekarang jarang ada orang jujur kayak kamu. Tapi mungkin aja ini cuma modus ya? Supaya kamu nggak jadi dipecat, hahaha." Laura memejamkan mata sekilas. "Nggak sama sekali, Bu. Saya nggak niat apapun. Cuma mau mengembalikan yang bukan hak saya. Saya permisi." Kali ini, nada bicara Laura terdengar cukup tegas. Laura keluar dari pagar rumah itu dengan perasaan campur aduk. Sekali lagi dia masih merasa beruntung karena dia belum resmi menyatakan berhenti di dua tempatnya bekerja. Pekerjaan dengan gaji menggiurkan itu hanya berlangsung beberapa jam saja. Pupus sudah harapannya untuk memperbaiki laptop dalam waktu dekat. Dan sekarang dia hanya perlu fokus untuk mencari biaya melanjutkan sewa kamar kos. Tentang skripsi? Laura benar-benar putus asa. Dia menyusuri jalanan, matanya memandang ke kiri dan kanan, komplek perumahan ini mengingatkannya pada masa kecil. Ya, dia juga dulu sempat menikmati fasilitas mewah, dan hidup enak ketika keluarganya masih utuh. Tidak seperti saat ini. Hidupnya serba kekurangan. Andai Laura memiliki pikiran gila, dia pasti sudah bersedia menjadi wanita simpanan atau teman tidur para lelaki hidung belang yang sering menggodanya ketika dia menjadi pelayan di kafe. Tapi Laura tidak senekat itu, mencari jalan pintas untuk mendapatkan banyak uang. Dia masih mengutamakan harga diri. “Aw.” Laura mengeluh ketika kakinya tersandung batu. Lamunannya buyar. Karena dipecat, pikirannya jadi ke mana-mana. Dia merogoh tasnya mengambil ponsel. Mencoba peruntungan dengan cara mengirimkan pesan singkat pada sang ayah, bertujuan meminta uang. "Siapa tau dibalas," gumamnya penuh harap. *** Abi keluar dari sebuah ruangan, dengan perasaan bangga dan bahagia. Dia baru saja menemukan investor yang tepat untuk diajak kerjasama dalam project barunya itu. Saking senangnya, dia melupakan seseorang yang sedang menunggunya. Abi bergegas merogoh saku jasnya mengambil ponsel. Satu sms dan lima panggilan tidak terjawab. Merasa bersalah, Abi menelpon balik mahasiswinya itu. Tiga kali bunyi deringan, suara lembut alami tanpa dibuat-buat langsung masuk menggelitik pendengaran Abi. "Halo Pak…" sapa Laura, meski dia kesal tapi dia tetap berlaku sopan, ingat dengan siapa dia berbicara. “Kamu di mana? Maaf saya abaikan telpon kamu, saya ada merting penting tadi.” ucap Abi penuh penyesalan. Dia melirk ke kiri, Edward berjalan mengiringinya. Ekspresi lelaki itu berubah jadi aneh mendengar bos sekaligus sahabatnya berbicara begitu lembut dan Edward yakin bahwa bosnya itu sedang berbicara dengan lawan jenis dan tidak mungkin itu Elvia si mantan istri. "Nggak apa-apa, Pak. Sekarang saya masih di sekitaran rumah Bapak, mau keluar komplek.” jelas gadis itu sedikit terbata. "Mau ke mana kamu? Nggak nungguin saya? Sebentar lagi saya pulang, ini saya kirimkan kode akses-“ "Enggak Pak, bahan-bahan makanan udah saya susun di lemari dan kulkas. Tadi saya bisa masuk karena kebetulan istri Bapak udah pulang, dan sekarang saya-“ "Apa?! Istri?!” Abi mendesah kesal, tidak lain tidak bukan itu pasti Elvia. "Dia masuk ke rumah saya? itu bukan istri saya, tapi udah jadi mantan,” jelas Abi. "Ah iya maaf, saya nggak tau Pak. Pokoknya tadi udah saya susun semua, dan terima kasih atas kesempatan-“ "Kesempatan apa? Maksud kamu apa, Laura?” Abi menghentikan langkahnya tepat di samping mobilnya. "Istri Bapak, maksud saya… mantan istri Bapak udah berhentikan dan pecat saya." Tegas Laura. Sambil menerima panggilan, dia berhenti sejenak di bawah pohon, tepat di perempatan. "Kamu bekerja dengan saya, bukan dengan mantan istri saya. Jangan dengar ucapannya, sekarang kamu di mana?" Abi berucap dan bertanya tak kalah tegas. Dia tak habis pikir dengan sikap Elvia yang masih mencampuri urusan pribadinya sampai detik ini. Padahal perjanjian urusan mereka hanya sebatas materi saja. Jika Elvia butuh sesuatu dalam bentuk materi, Abi wajib memenuhinya. "Saya takut Pak. Sekarang saya di perempatan komplek perumahan, nggak jauh kok dari rumah Pak Abi,” jawabnya. "Tunggu di situ, jangan ke mana-mana, saya pulang sekarang!" titah Abi dan langsung memutus panggilan telepon. "Hei, kenapa? Ada masalah?" Edward yang sudah duduk di belakang kemudi, siap melajukan mobil, dia menatap Abi dengan penuh tanya. "Ada problem sedikit, dan gue harus pulang sekarang, lo minta jemput Pak Sofyan aja, oke?" Abi memberi kode pada sekretarisnta untuk berpindah. "Terus lo mau ninggalin gue di sini sendiri?" Protes lelaki itu. "Ntar dulu, nggak biasanya lo begini. Itu tadi siapa? Laura?" Abi berdecak, jika sudah begini Edward pasti akan kepo dengan urusannya. "Mahasiswi gue datang ke rumah, mau konsul, lo minggir dulu, gue buru-buru." Mau tidak mau, Edward berpindah dari tempatnya. "Mahasiswi spesial? Nggak cuma konsul skripsi, tapi konsul yang lain? Tebakan gue pasti benar, soalnya lo sampai rela ngasih kode akses pintu rumah!" Edward geleng kepala juga tertawa mengejek. Sedangkan Abi tak lagi peduli, pikirannya tertuju pada Laura yang sedang menantinya. Tak hanya itu, gadis itu juga baru saja diberhentikan oleh Elvia yang menurutnya terlalu lancang mencampuri urusannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN