Ditinggalkan begitu saja?

1076 Kata
Sebuah swalayan yang terletak di sekitar komplek perumahan elit tempat tinggal Abi, menjadi tempat yang mereka singgahi saat ini. Laura sadar akan posisinya saat ini, asisten atau pembantu rumah tangga di rumah dosennya, dia bergegas mengambil troli dan mendorongnya, sebelum Abi yang melakukan. "Ini, mau belanja apa aja, Pak?" Mata gadis itu berbinar, sudah lama sekali dia tidak menginjakkan kakinya di swalayan mewah seperti ini. Biasanya Laura membeli kebutuhannya di mini market atau warung-warung kecil. Meski bukan dia yang akan berbelanja, tapi seperti ini saja sudah membuatnya bahagia. "Ambil bahan-bahan makanan yang menurut kamu butuh,” jawab Abi. Kalau boleh jujur, Laura tidak terlalu paham soal masakan, soal bahan makanan. Makanan yang mampu dia ciptakan hanyalah sebatas nasi goreng, tumis-tumisan dan ayam goreng. Untuk masakan lain, dia belum pernah mencoba "Oh iya, Pak." Laura mengangguk, sambil mendorong trolu ke bagian frozen food. Laura ingat, saat masih remaja dia sering ikut mamanya berbelanja seperti ini. Dia menoleh ke belakang, memastikan Abi masih berada di dekatnya, ternyata tidak. Lelaki itu sedang berdiri di jarak beberapa meter di belakangnya sambil menempelkan ponsel di telinganya. Abi terlihat sedang berbicara serius. Laura langsung mengubah pandangannya lurus ke depan, takut diketahui Abi jika sedari tadi dia sedang memandangi lelaki itu. "Kamu bisa sendiri, kan? Saya ada keperluan mendadak." Abi menghampiri Laura, sambil mengeluarkan dua puluh lembar uang seratus ribu dari dalam dompetnya. "Ini uangnya, saya rasa cukup. Oh ya, kalau ada yang mau kamu beli, sekalian aja. Pakai uang ini." Laura terlihat bingung, dia akan ditinggal sendirian? Berbelanja sendiri lalu belanjaannya bagaimana? "Kamu naik taksi nanti ke rumah saya dulu untuk bawa bahan makanan yang udah kamu beli, sekalian kamu susun di lemari penyimpanan. Oh iya, kode akses masuk rumah nanti saya kirim via WA-maksudnya via sms," jelas Abi panjang lebar. Dia langsung ingat kalau Laura tidak memiliki paket internet. Gadis itu mengangguk, memasukkan uang sebesar dua juta yang baru saja Abi berikan padanya. Tanpa aba-aba dan berkata-kata lagi, lelaki itu melangkah jauh meninggalkan Laura begitu saja. *** Abi harus bisa mengimbangi, dan mengatur waktu. Antara mengajar dan meneruskan bisnis papanya. Lelaki itu melajukan mobilnya menuju gedung perusahaan, dia baru saja menerima panggilan dari sekretarisnya, ada hal penting yang harus mereka bicarakan mengenai project yang sedang mereka jalani. "Please deh, bisa nggak lo fokus aja sama perusahaan?" Dia baru saja tiba di ruangannya, sudah di sambut oleh Edward, teman kuliah yang diangkatnya menjadi sekretaris sejak lima tahun belakangan ini. "Jangan ngomel, gue baru nyampe." Gerutu Abi, dia duduk dan sudah disambut dengan sindirian dari sekretarisnya, sekaligus beberapa tumpukan map di atas mejanya. "Jadi, gue baru dapat calon investor baru. Tapi dia minta lo langsung yang presentasikan mengenai kegunaan sekaligus keuntungan, visi dan juga misi kita di balik project ini. Kapan lo bisa? Dia sih minta secepatnya." Jelas Edward, dia membolak balikkan lembaran dokumen yang ada di tangannya. "Ini saatnya lo tunjukin ke keluarga besar kalau lo pantas meneruskan perusahaan papa lo, jangan mau direndahin terus sama mereka," lanjut Edward. Sebagai teman, atau sudah bisa dikatakan sahabat, dia akan selalu mendukung Abi dalam keadaan apapun. Abi juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, dia bergegas pergi menemui investor yang dimaksud Edward. "Sekarang, gimana?" Menurutnya, ini saatnya dia membuktikan pada mama dan juga papanya yang sedang sakit dan tidak mungkin lagi untuk keluar rumah mengurus perusahaan. Namun, para om dan juga sepupunya terlalu menyepelekan dirinya. Mereka menganggap Abi tidak memiliki kemampuan di dunia bisnis. "Boleh, gue hubungi mereka dulu," sahut Edward sambil mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. *** Hampir dua jam sudah Laura berada di supermarket itu. Trolinya sudah penuh. Dia hanya memilih dan mengambil bahan-bahan makanan yang dia butuhkan saat di rumah Abi saja. Tidak mengambil kebutuhan pribadinya seperti yang telah disampaikan lelaki itu tadi. Kini, Laura sedang mengantre di kasir untuk membayar. Dalam keresahan, dia melihat ponselnya berukang kali. Abi tak juga mengirimkan kode akses pintu rumahnya. Bagaimana dia akan masuk dan menyusun barang-barang itu nantinya. "Totalnya Satu juta empat ratus dua puluh, Mbak," ucap petugas kasir setelah menghitung belanjaan Laura. Dia pun mengeluarkan sejumlah uang tersebut dari dalam tasnya. Ingin kesal dengan Abi karena ditinggalkan begitu saja, tapi Laura sadar siapa dirinya. Lelaki itu bahkan mengajaknya makan siang, tapi apa yang dia dapat? Malah ditinggalkan begitu saja. Apa yang lo harapkan dari seorang pria beristri? Laura merutuki dirinya sendiri. Dia meneteng belanjaannya, dua kantung plastik berukuran besar di tangan kanan dan kirinya. Kebetulan ada taksi kosong melintas di hadapannya saat dia abru keluar dari area supermarket. Jadi dia tidak perlu menunggu terlalu lama. Di dalam taksi, Laura memberanikan diri untuk mengirimkan SMS pada Abi. Dengan sangat terpaksa dia menanyakan kode akses pintu rumah, daripada dia harus terkurung di luar? Pak, tolong kirimkan kode akses pintu rumah. Terima kasih. Sesopan mungkin Laura mengetik pesan itu pada sang dosen. Lebih dari setengah jam berlalu, gadis itu tak juga kunjung mendapatkan balasan dari Abi. Sampai dia tiba di rumah itu. Laura berdecak. Bagaimana nasibnya kini? Setelah membayar taksi dan menurunkan barang-barangnya, Laura menunggu di teras. Untung saja ada kolam ikan hias di taman, jadi dia tidak terlalu bosan, dan sibuk mengabadikan video ikan berenang melalui ponselnya. Berulang kali gadis itu melirik jam tangannya, sudah jam tiga sore. Abi mengabaikan pesannya sudah lebih dari satu jam. Memberanikan diri, dia melakukan panggilan pada lelaki itu. Terserah saja mau dianggap tidak sopan atau apapun itu. Laura hanya ingin kepastian. Sampai akhirnya gadis itu mendesah kesal, jangankan balasan sms, panggilannya saja tidak diterima. Sampai kapan dia harus menunggu? Tidak ingin mengeluh dan menggerutu di hari pertamanya bekerja, Laura memilih diam dan harus sabar menanti. Hingga dia mendengar suara mesin mobil yang kini berhenti tepat di hadapan gerbang. Dia tersenyum. Namun, dugaannya salah. Itu bukan mobil Abi seperti yang diketahuinya. Seorang perempuan cantik berpenampilan glamour, turun dari mobil. Mentapa penuh tanya padanya. Laura pun melakukan hal yang sama, bertanya-tanya. Tapi seketika dia tersadar mungkin ini adalah si nyonya rumah hingga dia terpaksa melengkungkan senyum sambil menundukkan kepala, pertanda hormat. "Kamu siapa?" tanya wanita itu dengan nada tegas. "Perkenalkan saya Laura, Bu. Tadi Pak Abi minta saya untuk belanja-" "Oh, kamu pembantu baru?" Tanya wanita itu cepat. Matanya tajam menatap Laura. Ya meski benar kini dia adalah seorang pembantu. Namun, entah mengapa hati Laura miris mendengar sebutan baru itu untuknya. "I-ya Bu," sahut gadis itu. "Saya nggak bisa masuk, nggak tau kodenya. Tadi Pak Abi-" "Kamu pulang aja!" titah wanita itu. Ini adalah kali kedua kalimat Laura tidak terselesaikan karena lawan bicaranya langsung memotong seolah tidak memberinya kesempatan untuk berbicara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN