Haus

1074 Kata
Suasana mendadak hening, Abi benar-benar merasa menyesal telah menertawakan Laura. "Nggak apa-apa Pak," sahut gadis itu kemudian, dia tersenyum kecil tanpa lelaki itu ketahui. "Satu tempat selesai, dua tempat lagi bagaimana?" Dua tempat yang dimaksud Abi adalah tempat Laura bekerja. Laura menghela napas. Tampak sedang berpikir. Menemui para atasan di tempatnya bekerja, membuatnya trauma hal seperti tadi akan terulang. "Nggak usah Pak. Kita langsung ke rumah Bapak aja." "Kenapa? Kamu takut kejadian seperti tadi?" Gadis itu mengangguk. "Nanti saya kabarin mereka via telpon aja. Ketemu langsung, rasanya mengerikan." "Di mana dua tempat itu?" "Sekolah SD swasta di sekitaran kos saya, Pak. Satunya lagi, em… kafe, saya bekerja di sana shift malam." Agak tidak nyaman Laura mengatakan ini, sebab dia takut Abi berpikiran lain tentangnya. "Saya waiters di sana." Lelaki itu mengangguk pelan. Tanpa memperpanjang percakapan, dan setelahnya hening sampai mereka tiba di sebuah hunian mewah berkonsep minimalis. Laura berdecak kagum memuji betapa kerennya bangunan di hadapannya itu. Membuatnya berpikir sejenak, berapa banyak gaji dari seorang dosen, hingga bisa memiliki hunian seperti ini. Di halamannya ada taman berukuran sedang, juga kolam ikan yang airnya sangat jernih. Laura membayangkan jika nanti dia mulai bekerja di sini, saat penat melanda sepertinya ikan-ikan hias itu bisa menjadi obatnya. "Masuk." titah lelaki itu, setelah membuka pintu rumahnya tanpa menggunakan kunci. Hanya menggunakan sidik jarinya. Rumah sebesar ini, dan Laura akan menjadi asisten rumah tangga di sini? Seketika dia berpikir, apa sanggup menjalaninya sendirian? Kenapa sepi banget? di mana istrinya? Gadis itu membatin. "Kamu nggak perlu nyapu dan ngepel setiap hari, cukup seminggu tiga kali aja," ucap lelaki itu. Ya, lagipula tidak ada yang mengakibatkan lantainya cepat kotor kecuali debu-debu yang menempel. "Yang perlu kamu jaga setiap hari adalah kebersihan area dapur. Saya nggak suka kalau dapur kotor, apalagi sampai bau." Laura mengangguk mendengar penjelasan lelaki itu. "Siap Pak," sahut gadis itu sambil menatap sekeliling. "Ada lagi, Pak? Untuk kebersihan taman dan kolam ikan?" "Oh itu nggak perlu. Nanti ada orang yang datang membersihkan, seminggu sekali." Laura bernapas lega. Baguslah kalau begitu. Rumah ini memang besar. Namun, terasa hampa. Tidak ada foto keluarga, foto pernikahan atau sejenisnya. Persis seperti rumah seorang laki-laki lajang. Laura menerka usia Abi pasti sudah melewati angka tiga puluh. Tapi, yang Laura dengar kabar tentang pria ini, dia sudah menikah. Apa dia belum nikah? Banyak pertanyaan di dalam benaknya. Seingat gue, waktu itu sempat heboh tentang pernikahannya. Laura bergumam dalam hati. "Jadi saya harus datang pagi-pagi, untuk menyiapkan sarapan, Pak? Setelah itu, masak makan siang, begitu? Tolong koreksi kalau saya salah." Laura bertanya sekali lagi dengan hati-hati, menatap Abi yang sedang berdiri berseberangan dengannya. Laki-laki itu tetap seperti bisanya, tampak angkuh dengan memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana. Tapi, di mata Laura tidak mengurangi sedikitpun pesonanya. "Benar, pagi-pagi sekali sebelum saya pergi keluar, kamu harus udah sampai di sini. Untuk makan siang, akan saya kabarkan setiap hari. Kalau saya nggak pulang kamu nggak perlu masak. Dan kalau pekerjaan kamu benar-benar udah selesai, kamu boleh bersantai, atau mengerjakan skripsi kamu mungkin. Oh santai bukan waktu yang tepat buat kamu. Ingat Laura, nasib kamu di kampus itu udah di ujung tanduk." Tegas lelaki itu panjang lebar. Laura tidak menyangka Abi akan sepeduli ini dengannya. "saya ingat, Pak. Terima kasih sekali lagi telah membimbing saya." Abi yang awalnya telah membelakangi Laura, kini dia balik badan lalu tersenyum miring. "Sama-sama." Hampir dua tahun menduda, Abi tentu mendambakan kehadiran sosok seorang wanita dalam hidupnya, mengisi hari-harinya, menjadi tempat melepas penat juga sekaligus pelepasan yang lainnya. Tidak munafik, Abi saat ini sangat 'haus' akan belaian dan membelai seorang perempuan. Namun, dia bukanlah laki-laki bodoh yang dan murah yang bersedia tidur dengan sembarang perempuan, seperti melakukan one night stand lalu membayar sejumlah uang pada wanita yang telah ditidurinya. Tidak, Abi membenci itu dan tak akan melakukan hal murah seperti itu. Menyandang status duda, adalah hal sulit yang harus dia jalani. Apalagi, mamanya sudah berulang kali memintanya menikah dan mencari wanita baik-baik. Bahkan saat baru dua bulan dia bercerai. Tapi traumanya karena telah menjadi korban perselingkuhan, membuatnya sulit mempercayai seorang wanita lagi. Abi takut, dan ingin berhati-hati karena menurutnya, setia itu mahal, dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki harga diri yang tinggi. Mengingat Elvia, hati Abi seperti diremas saat ini, sakit dan ngilu. Hati Abi belum terbuka untuk memulai lagi sebuah hubungan. Padahal cukup banyak yang mencari perhatian dengannya, mulai dari mahasiswi, rekan bisnis, sampai para karyawannya dan juga beberapa orang yang sempat dikenalkan mama padanya. Belum ada yang membuatnya tertarik. Kini, ada gelanyar aneh dalam dirinya ketika pertama kali dia mengajak seorang perempuan muda masuk ke dalam rumahnya. Ya Laura adalah perempuan pertama yang diajaknya menginjakkan kaki di rumah ini, sejak dia menduda. Laura terlihat muda, cantik dan segar di mata Abi, meski penampilannya cukup sederhana. Abi yang sudah banyak bertemu dengan berbagai jenis tipe wanita, sangat memahami bahwa Laura tidak berhias sama sekali, wajahnya polos tanpa make up itu juga sudah terlihat sangat menarik sejak pertama kali mereka bertemu, sekitar dua tahun lalu. "Pak. Saya mulai kerja hari ini, ya? Saya masak makan siang untuk Bapak. Apa Bapak punya makanan kesukaan atau apa yang nggak bapak sukai?" Laura terdengar begitu cerewet di telinga Abi. Baru kali ini ada seorang perempuan menanyakan tentang makanan favoritnya dan akan memasakkan untuknya. Dulu, Elvia si mantan istri bahkan menyentuh dapur saja jarang. Wanita itu hanya berfungsi di ranjang saja sebagai istri. Selebihnya tidak ada. Pada masa itu, dia menikahi seorang wanita manja yang berasal dari keluarga kaya. Sangat berbeda dengan Laura yang mandiri dan pekerja keras. "Pak?" Laura kembali menyadarkan lamunan Abi akan ingatan masa lalunya, wanita itu memanggilnya ketika merasa tidak mendapatkan jawaban dan Abi hanya menatapnya saja. "Apa aja, tapi kayaknya hari ini makan di luar aja. Kulkas juga masih kosong, nanti kita belanja dulu," sahut Abi. Laura mengangguk. Bingung dia tidak tahu harus mengerjakan apa. "Oh saya nyapu dan ngepel aja kalau begitu." "Nggak perlu juga, baru disapu dan dipel pagi tadi, art mama saya, biasanya datang dua hari sekali," jawab Abi. Laura semakin bingung. Lantas, apa fungsinya di sini? "Ya udah kalau begitu… saya pulang aja ya Pak, besok saya-" "Siapa bilang kamu boleh pulang? Sekarang, kamu udah tau alamat saya kan? Ayo kita makan siang, sekalian belanja. Nanti kamu yang susun belanjaannya di dalam kulkas dan lemari." Tegas Abi. Laura mengangguk. "Iya Pak." Ya, setidaknya dia tidak makan gaji buta, dan tidak mau merasa Abi akan rugi membayarnya dengan gaji tinggi jika dia tidak melakukan apapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN