Laura yang tidak ingin meninggalkan tamunya terlalu lama, cepat-cepat menyelesaikan ritual mandinya. Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos lengan panjang dan celana panjang juga. Rambutnya yang basah, masih terbalut handuk. Sepanjang kegiatan mandinya, dia senyum-senyum, membayangkan andai ucapan Abi tadi adalah benar, andai benar Abi adalah seorang pacar untuknya, dan sangat menyayanginya, pasti hidupnya akan lebih berwarna. Pasti akan sangat nyaman memiliki sosok yang bisa dijadikan tempat bermanja. Namun, sayang sekali semua itu hanya halunya semata. "Laura, saya pamit dulu." dengan berat hati, Abi mengatakan itu saat sosok Laura muncul dari balik pintu kamar mandi. "Oh ya?" Laura tersenyum. Tetap di balik senyumnya menyimpan kekecewaan, ternyata kebersamaan mereka m

