Beberapa hari berlalu kemudian Sagara mengajak istrinya pulang ke negara x, saat ini keduanya berada di bandara dan menuju ke mansion baru yang di persiapkan Sagara. Selain ingin mencari suasana baru, pria itu juga tak ingin istrinya menjadi stres jika mengingat masalah mereka yang lalu.
Satu jam berlalu setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di mansion baru Sagara. Pria itu membantu istrinya turun dari mobil, dia meminta sopir membawakan barang mereka ke dalam. Selain itu semua keperluan dirinya dan sang istri telah di siapkan di sana.
"Sayang pelan pelan duduknya. " ucap Sagara dengan lembut.
"Mas aku merasa deg deg an deh, tinggal satu bulan lagi kita bertemu dengan calon anak kita. Apa kita sebaiknya membeli perlengkapan baby mas? "
"Aku sudah menyiapkan semuanya sayang tinggal nanti kamu memilih warna apa! Yurika terenyuh dengan sikap siaga sang suami, wanita hamil itu menciumnya sekilas. Sagara seperti biasa menyapa calon buah hatinya.
Sagara bangkit, pria itu memapah istrinya menuju ke kamar. bukannya mandi keduanya justru saling berpagut mesra dan liar di dalam sana, Sagara menuntun istrinya berbaring lalu melepaskan pakaian mereka. Pria itu menjamah tubuh seksi isteinya tanpa ada terlewatkan, tak lupa menyapa calon buah hatinya.
" Engh. " Yuri mendesah pelan kala suaminya menyatukan tubuh mereka, pria itu memaju mundurkan pinggulnya dengan pelan.
"Faster mas. " gumam Yuri lirih. Sagara menggeram rendah, mempercepat gerakannya di bawah sana. Yurika begitu candu akan sentuhan sang suami begitu juga Sagara.
Hingga satu jam berlalu kegiatan panas itu berhenti, Sagara melepaskan miliknya dan berguling ke samping. Keduanya memang tak sering bercinta setelah pertengkaran mereka kemarin plus Yurika yang marah atas perbuatan Sagara yang lalu membuat wanita itu enggan memberikan jatah untuk suaminya.
Sagara menatap wanita dalam dekapannya saat ini, ada rasa penyesalan dalam dirinya akan sikapnya kemarin. Cemburu buta hingga membuatnya menyakiti fisik dan perasaan istrinya. Yurika mengerutkan kening, wanita itu terkejut melihat suaminya menangis dalam diam. "Lho mas Gara kenapa kok menangis? " tanyanya dengan nada paniknya sambil menghapus cairan bening di sudut mata sang suami.
"Perlakuan kasarku padamu kemarin terus terbayang dalam pikiranku sayang, aku merasa menjadi suami b******k untukmu!
Yurika menghela nafas kasar, wanita itu membelai wajah sang suami. " Aku sudah memaafkan kamu mas, please lupain kejadian kemarin. " pinta Yuri dengan nada memohon.
"Maafkan aku atas luka itu!
Yuri mengangguk, kembali memagut bibir suaminya dan sedikit dikulumnya lembut. Sagara membalas ciuman sang istri, ciumannya turun ke d**a bulat milik wanitanya yang semakin besar seiringnya usia kandungan Yuri. Pria itu langsung menenggelamkan wajahnya di belahan d**a sang istri tercinta.
Yurika meremas rambut sang suami, dia membiarkan prianya menyusu layaknya bayi. Tak lama Sagara menjauhkan wajahnya, membawa kepala istrinya ke dadanya untuk bersandar. Keduanya juga membahas tentang kondisi Dara, Sagara telah menghubungi dokter yang cukup kompeten untuk menangani Dara.
"Aku yakin Dara mampu melewati semua ini, kita doakan saja sayang. "
"Kamu benar mas. " balas Yuri sambil tersenyum. Sagara langsung membantu istrinya membersihkan diri, selesai berpakaian keduanya kembali ke atas ranjang. Pria itu segera memberikan pijatan lembut di kedua kaki istrinya yang tampak bengkak. Yuri sebenarnya merasa sungkan namun suaminya tetap kekeh ingin memijat kakinya.
Yurika meminta suaminya berhenti, Sagara menuruti keinginan sang istri. Pria itu segera menghubungi orang tua serta mertuanya mengenai kepindahannya. Wanita hamil itu memperhatikan apa yang di lakukan suami tampannya itu.
Selesai bicara dengan orang tuanya, Sagara kembali ke istrinya. Sagara menepuk pahanya, Yurika mengeleng kearah sang suami. "Aku berat mas, aku gak mau kamu kelelahan memangku aku nantinya. " tolak Yurik dengan halus.
Pria itu mengabaikan penolakan istrinya, langsung mengangkat sang istri ke atas pangkuannya. Dengan begitu dia begitu leluasa mengusap perut besar sang istri tercinta. Yuri begitu menikmati sentuhan tangan suaminya di atas perutnya, wanita itu tersenyum lebar merasakan gerakan calon anaknya. "Sayang kamu tahu ya daddy tengah mengusap dan menyapa kamu nak!
"Daddy sayang sama kamu dan mommy, sehat sehat dalam perut mommy dan sebentar lagi kita akan bertemu. " bisik Sagara di depan perut istrinya.
"Oh ya bagaimana kalau kita siapin nama untuk calon anak kita? " tanya Yuri dengan senyum merekah.
"Hm kalau laki laki Sadewa, jika perempuan Arabella bagaimana menurut kamu
sayang. " Sagara menatap lekat wajah istrinya. Yurika tersenyum lebar mendengar pendapat suaminya, wanita itu mengangguk.
"Nama yang indah mas, aku menyukainya. " gumam Yuri sambil mengusap perutnya. Sagara tentu saja senang melihat sang istri setuju dengan idenya mengenai nama calon anak mereka. Yurika merengek ingin turun, dia tak ingin suaminya kelelahan karena memangku dirinya. Sagarapun menuruti keinginan isterinya, pria itu menurunkan sang istri duduk di sofa.
Sedangkan di kediaman Wijaya, Mommy Kirana di buat kesal akan kelakuan suaminya. Daddy Alan tergelak melihat raut kesal di wajah sang istri. Paruh baya itu menciumnya agar sang istri berhenti mengomelinya sejak tadi. "Sebentar lagi kita punya cucu lho Dad, sikap Daddy masih sangat jahil dan menyebalkan!
"Sini Daddy peluk, udahan ngomelnya. " Daddy Alan menariknya dan membawa Mommy ke dalam pelukannya.
"Oh my uncle, aunty kalian membuatku iri. " suara cempreng seorang gadis menghentikan kemesraan pasangan paruh baya itu. Dia Grace Laviona Florence, salah satu keponakan mereka yang cukup menyebalkan bagi Daddy Alan.
Daddy Alan mendengus sebal melihat kedatangan keponakan bawelnya ini, Nyonya Kirana tertawa pelan melihat ekspresi suaminya. Wanita paruh baya itu beranjak dan memeluk sang keponakan tercinta.
"Kamu menginap di sini aja ya Grace sayang, bibi mohon. " pinta Mommy Kirana.
"Tentu saja Aunty, lagian aku akan di sini dalam waktu lama sekalian menunggu calon keponakanku dalam perut kak Yuri lahir. " tukas Grace dengan senyum lebarnya. Nyonya Kirana bahagia mendengarnya, Daddy Alan hanya mendengus geli.
"Kamu gak ajak Marina ke sini lagi
sayang? " tanya sang bibi padanya. Raut wajah Grace berubah sendu, hal itu membuat Nyonya Kirana merasa heran. Grace langsung menjelaskan segalanya pada sang bibi garis besar masalahnya. Wanita paruh baya itu mengusap punggungnya, paham akan permasalahan antara Grace dan Marina.
"Tapi aku memilih mengalah Bi, mungkin pria yang aku suka itu bukan di takdir 'kan untukku!
"Jangan sedih lagi Grace, tuh bibi sudah menyiapkan camilan untuk kamu. " sahut Tuan Alan pada sang keponakan. Grace tersenyum tipis menanggapinya, gadis itu menyesap jus yang di siapkan untuknya. Pria itu bernafas lega melihat sang keponakan kembali ceria.