"Sayang aku gak papa mas, calon anak kita baik baik aja. Aku hanya syok mendengar penyakit yang di derita Dara, bagaimana bisa dia menyembunyikan hal sebesar ini dari kita semua. " gumam Yuri dengan nada kecewanya. Sagara mengangkat wajahnya, menatap lekat wajah sang istri.
"Tapi aku khawatir sama keadaan kamu dan calon anak kita!
"Maafkan aku mas, aku telah membuat kamu khawatir. " sesal Yurika dengan menatap sendu sang suami. Sagara menarik istrinya ke dalam dekapan, menenangkan wanitanya agar tak merasa bersalah lagi.
"Ya sudah kamu istirahat aja ya sayang! Yurika mengangguk, menuruti perintah sang suami. Sagara ke luar dari kamarnya, pria itu menuju ke ruang tamu bergabung dengan Dara dan Ben.
"Maafkan aku Gara, ini semua salah aku hingga membuat Yuri terkejut. " sesal Dara. Sagara menggeleng, dia tak menyalahkan Dara akan hal ini. Wanita itu merasa bersalah karena menambah beban pikiran Yuri mengenai penyakitnya. Benpun berusaha menguatkan istrinya, perasaan pria itu juga begitu rapuh namun dia berusaha kuat demi istrinya.
"Jangan menyalahkan dirimu Dara, semua masalah pasti ada solusinya, aku akan membantumu mencari dokter yang tepat untuk menangani penyakitmu. " ujar Sagara.
Tepat pukul tujuh malam, dua pasangan itu berkumpul di ruang tengah. Mereka tengah memainkan permainan seru, Yurika sengaja ingin mencairkan suasana dan tak ingin berlarut larut dalam kesedihan. Dara tertawa melihat perdebatan Yuri dan Sagara, gadis itu mengusap perut bulatnya.
"Sayang, kamu tetap kuat dalam perut mama ya nak, mama menantikan kelahiran kamu sayang. Jika mama tak bisa menemani kamu, mama berharap kamu selalu bahagia sayang. Banyak yang sayang sama kamu selain papa kamu. " batin Dara penuh harap.
"Sayang sudah ya mainnya, lihat lho perut kamu besar dan dua bulan lagi sudah mau melahirkan! Sagara bukannya mengekang, hanya saja istrinya sering kali kelelahan setelah beraktivitas. Yurika mengangguk, menuruti perintah suaminya, lagipula diapun sudah merasakan lelah.
"Yuri bisakah kamu berjanji padaku? " pinta Dara dengan senyuman manisnya.
"Kamu jangan aneh aneh deh Dara! Yurikamenatap sahabatnya dengan tatapan memicing.
"Enggak aneh aneh kok, hanya saja bisakah kamu berjanji jika kelak anak aku, kamu sayangi dia ya. Beri dia apa yang tidak bisa aku lakukan kelak, anggap dia seperti anak kamu sendiri. " pinta Dara. Benjamin langsung meremas tangan istrinya, pria itu seakan tidak suka mendengar penuturan istrinya. Dara menoleh dan tersenyum pada suaminya.
"Aku kuat sayang, aku pasti bisa bertahan sampai calon anak kita lahir. " ucap Dara penuh percaya diri. Yurika berkaca kaca, wanita hamil itu menangis mendengar penuturan Dara barusan. Diapun mengingatkan kenangan masa masa di kampus dulu pada Dara.
"Awh." Dara meringis kesakitan sambil menyentuh perutnya. Semua orang panik melihatnya, Ben segera menghubungi dokter untuk datang. Pria itu merengkuh istrinya, mengusap perut bulat Dara.
"Dar, kamu lupa ya kamu pernah bilang jika anak kamu laki laki dan anak aku perempuan atau sebaliknya, kamu setuju untuk menjodohkan mereka. " gumam Yurika di sela sela tangisnya. Dara mengulas senyumnya, mengangguk setuju dan wanita itu kembali merasakan sakitnya. Benjamin bangkit, mengendong istrinya dan membawanya ke kamar. Tak lama dokter datang dan pergi menemui Ben.
"Kita doakan Dara, semangatin dia agar dia tetap mampu bertahan melawan penyakitnya. Kamu di sini dulu ya sayang, aku ingin berbicara dengan dokter." Yurika mengangguk, dia menatap kepergian suaminya dengan sendu.
Yurika Pov
Dara please bertahanlah, bukankah selama ini kita selalu sama sama. Persahabatan kita bukan hanya satu atau dua tahun Dara, kau selama ini selalu ada untuk aku dan kita saling berbagi suka dan duka. Aku ingin kelak juga melihat anak anak kita bisa merangkak, berjalan, berbicara lalu tumbuh menjadi anak pintar, remaja hingga dewasa sama sama. Aku mohon kuatlah Dara demi calon bayi kamu dan Benjamin, suami kamu pria yang kamu cintai.
"Ya Tuhan, sembuhkan penyakit sahabatku!
Sagara kembali, pria itu memberitahu keadaan Dara pada sang istri. Diapun berusaha kuat sesuai janjinya pada sang sahabat.
"Jadi jalan satu satunya Dara harus melakukan sesar mas? "
"Iya sayang demi mengeluarkan kistanya terpaksa bayi Dara harus dilahirkan secara prematur nantinya. " ungkap Sagara menjelaskan semuanya pada sang istri.
"Tapi bagaimana dengan keputusan Ben, apa dia setuju? " Sagara mengangguk, Yurika sedikit lega meski Dara belum tentu setuju dengan keputusan mereka ini nantinya.
"Berarti tiga bulan lagi dong mas, tapi aku enggak sanggup melihat Dara kesakitan. " gumam Yuri lirih. Sagara merangkul tangan istrinya, keduanya bangun dan pergi ke meja makan. Ben turun ke bawah, mereka makan malam bersama tanpa sosok Dara. Suasana tampak sunyi, hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu.
Selesai makam malam mereka kembali ke kamar masing masing, Ben membawakan makanan dan s**u ibu hamil untuk istrinya. Pria itu mendorong pintunya lalu masuk ke dalam, Dara menyambutnya dengan senyuman dengan posisi berbaring.
Ben menyuapi istrinya, Dara menikmati suapan demi suapan dari sang suami. Selesai makan, Dara menepuk nepuk sisi ranjang dan Ben menuruti keinginan
wanitanya.
"Kenapa mas, wajah kamu kok kayak gitu. Kau harus tersenyum di depan aku. " pinta Dara pura pura tak tahu alasan suaminya bersedih, dia hanya ingin menikmati semuanya. Benjamin menyentuh perut istrinya, nenyapa calon buah hatinya lalu mencium bibir istrinya dan sedikit mengulumnya.
"Tidurlah mas. " gumam Dara sambil membelai wajah suaminya.
"Kamu juga sayang. " balas pria itu sambil tersenyum tapi tidak dengan hatinya yang menjerit. Wanita hamil itu bersandar di tubuh suaminya mencari kehangatan di sana, Ben mencium kepalanya berulang ulang kemudian memejamkan mata.
Ben kembali membuka matanya, menundukkan kepalanya, melihat istrinya yang telah terlelap. Banyak ketakutan yang kini pria itu rasakan, Lihatlah betapa Benjamin mencintai Adara dengan segenap jiwa dan raganya. Cintanya begitu tulus tanpa mempedulikan masalalu istrinya.
"Aku mencintaimu sayang, sangat. Jika terjadi sesuatu padamu, apakah aku akan mampu berdiri tegar seperti saat ini. Aku takut kehilangan kamu dan calon anak kita, bertahanlah sayang dan kamu pasti bisa melewati ini semua!
Ben tak bisa membayangkan kalau seandainya dirinya kehilangan sang istri, hidupnya pasti akan hancur setelahnya. Lagi lagi pria itu kembali mencium bibir sang istri tercinta, mendekapnya dan ikut memejamkan mata. Merasakan pergerakan membuat Ben kembali membuka mata.
"Sayang kenapa kamu kembali terbangun hm? "
"Aku mendengar apa yang kamu katakan tadi mas, aku begitu beruntung memiliki suami sempurna seperti kamu. Kamu mencintai aku dengan tulus, menerima aku apa adanya tanpa melihat masa laluku yang kelam dan hina. " gumam Dara dengan tatapan lekatnya.
"Kita sama sama berjuang mas, berjanjilah apapun yang terjadi kamu harus kuat dan tegar. " ujar Dara. Ben memejamkan mata sejenak lalu membukanya, pria itu mengangguk di depan istrinya.
Ben mengangguk, Dara tersenyum manis dan mereka kembali berciuman singkat. Pasnagan suami istri itu memejamkan mata, keduanya benar benar terlelap kali ini.