Dua hari berlalu sikap Yuri pada sang suami tetaplah sama, masih dingin. Sagara telah melakukan berbagai cara agar istrinya mau memaafkan dirinya. Wanita hamil itu merasakan tendangan dari dalam perutnya, sepertinya calon bayinya merindukan sang daddy.
Wanita itu bangkit, diapun berjalan pelan menghampiri suaminya yang berada di dalam kamar. Setelah masuk dia melihat sosok tinggi tegap tengah berdiri di balkon, Yuri segera mendekatinya.
"Mas Gara. " panggilnya lirih. Sagara sedikit tak percaya, pria itu berbalik dan mendapati istrinya berdiri di depannya. Diapun langsung bergegas kala sang istri merentangkan tangan. Keduanya saling berpelukan melepas rindu setelah mereka bertengkar hebat.
Sagara menciumi wajah istrinya, memagut bibir wanitanya dengan mesra. Yuri begitu menikmati ciuman sang suami, dia membalasnya tak kalah lembut. Pria itu mengakhiri ciumannya setelah istrinya merasa sesak.
"Aku memaafkan kamu mas, aku juga minta maaf karena keegoisanku kamu tersiksa! Sagara menggeleng, dia merasa pantas mendapatkan kemarahan istrinya.
"Calon baby merindukan daddynya mas. " ungkap Yuri dengan mata berkaca kaca. Sagara berlurut di depan perut besar sang istri, berkali kali di ciumnya perut wanitanya sambil menyapa calon buah hatinya itu. Wanita hamil itu merasakan hatinya menghangat, merasa nyaman setiap kali suaminya menyentuh perutnya. Sagara kembali berdiri, menuntun istrinya duduk di ranjang, tak ingin membuat wanitanya kelelahan.
"Aku merasa hina mas, pria itu.. "
"Sst sayang lupakan semua itu dan maaf atas sikap kasarku kemarin, sebagai suami aku justru menambah luka dalam hatimu, " sesal Sagara. Tangis Yuri pecah, Sagara memeluknya dengan erat. Melihat istrinya kembali menangis membuat dadanya terasa nyeri. Setelah tenang Sagara menghapus air mata di wajah istrinya.
"Lebih baik kita bersiap siap sekarang!
"Em memangnya kita mau ke mana mas? " tanya Yuri dengan raut bingungnya. Sagara hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan sang istri. Diapun membantu istrinya bersiap, setelah itu ke luar dan menuruni tangga dengan hati hati. Selama perjalanan Yurika mendadak banyak bicara, wanita hamil itu begitu kesal dengan sikap diam suaminya.
Kini mereka berada di Bandara, ke duanya turun dari mobil, bergegas masuk ke dalam pesawat. "Ini surprise sayang, sebaiknya kamu istirahat. " ucap Sagara dengan lembut.
"Lho kalau kita pergi, gimana dengan tugas kamu di rumah sakit mas? " tanya Yuri pada suaminya.
"Aku sudah menghubungi pihak rumah sakit sayang, kamu tenang saja tidak akan ada yang berani membantahku! Yurika mengangguk saja, wanita itu bersandar di bahu suaminya.
Setelah sampai keduanya turun dari pesawat, Sebuah mobil telah menunggu mereka, keduanya masuk ke dalam. Sepanjang jalan Yuri begitu penasaran, ke mana suaminya itu membawanya.
Satu jam berlalu, mobil mereka memasuki mansion megah bak istana. Sagara turun, lalu membantu istrinya dengan hati hati. Pria itu mengajak istrinya masuk ke dalam, para maid langsung menyapa kedatangan mereka berdua.
"Yurika. " sapa seseorang. Yuri menatap tak percaya melihat Dara bersama suaminya datang menyapanya. Kedua wanita itu berpelukan, para pria hanya mengulas senyum. Benjamin mengajak mereka ke ruang tengah, mengobrol di sana sambil melepas rindu.
"Jadi ini rumah kalian Dara? " tanya Yurika.
"Iya Yurika, selamat datang di rumah kami dan aku harap kalian betah di sini. " ucap Dara dengan senyum lebarnya. Yurika menoleh kearah suaminya, Sagara hanya tersenyum tipis pada istrinya. Wanita hamil itu memeluknya, mengucapkan terimakasih karena memberi kejutan ini.
Keduanya saling melepaskan diri, mengobrol bersama Dara. Keduanya saling bertukar kabar, Yurika cukup lega melihat kehidupan sahabatnya yang terlihat bahagia.
"Well lihat para istri kita Gara, mereka melupakan kita jika sudah bertemu. " ungkap Benjamin mendengus sebal. Sagara terkekeh pelan, dia setuju dengan pendapat Ben mengenai para wanita mereka.
"Kau tahu Ben, kami sempat bertengkar kemarin, pria sialan itu melecehkan istriku. Istriku sempat trauma dan aku justru menambah luka hatinya. " gumam Gara di sertai nada penyesalan. Kejadian kemarin membuat Gara begitu merasa bersalah pada istrinya. Ben menepuk pundaknya, tak menyangka akan masalah yang di hadapi Sagara dan Yurika.
"Lalu bagaimana dengan pria b******k itu Gara? "
"Di penjara!
"Lupakan kejadian kemarin, tugasmu membuat istrimu bahagia agar tak mengingat kejadian buruk kemarin. Dan satu lagi tekan ego dan emosimu, jangan sampai kamu menyakitinya lagi. " tegur Benjamin dengan bijak. Sagara tentu saja mendengar nasehat yang di berikan Ben padanya, dia tak menyangkalnya namun apa yang di katakan Ben ada benarnya. Dia perlu mengontrol emosinya yang tak terkendali, agar kejadian kemarin tak terulang lagi.
"Ya kau benar Ben. " balasnya singkat. Fokusnya kini tertuju pada istrinya, melihat raut ceria wanitanya membuat Sagara bernafas lega. Dara bangkit, wanita hamil itu pergi ke dapur dan meminta pelayanan untuk menyiapkan camilan untuk tamunya.
"Ugh. " Dara merasakan kepalanya pusing, salah satu maid mendatangi majikannya.
"Ada apa Nyonya Dara, apa Anda sedang sakit? "
"Em gak papa hanya kepalaku pusing, kalau sudah selesai antarkan makannya ke depan. " titah Dara. Wanita itu menghela nafas panjang, berusaha mengontrol dirinya kala sang suami menyusulnya ke dapur.
"Baby ada apa, kenapa kamu berdiri di sini hm? " tanya Benjamin khawatir. Dara menggeleng, dia tak ingin membuat suaminya cemas. Wanita itu hanya mampu menahan rasa cemas dalam hatinya, mengingat dia telah berbohong pada sang suami.
"Ya sudah kita kembali ke depan oke. " Ben merangkul pinggangnya, mengajaknya ke depan bergabung dengan Sagara dan Yurika. Dering ponselnya membuat langkah keduanya terhenti, Wanita itu berdecak pelan melihat nama dokter Riana yang menghubungi dirinya.
"Jangan sampai mas Ben tahu akan hal yang aku sembunyikan!
"Sayang siapa yang menghubungi kamu? " tanya Ben dengan tatapan curiganya. Dara menggeleng, namun Ben tak percaya begitu saja. Pria itu merebut ponsel istrinya, mendengar ucapan Dokter Riana. Benjamin terkejut mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi Dara yang sebenarnya. Pria itu menutup ponselnya, nafasnya memburu menatap tajam kearah istrinya itu.
"Ikut aku. " Ben menarik tangan istrinya, pria itu membawanya ke kamar mereka, tak lupa membanting pintu. Pria itu melepaskan cekalan tangannya, sorot matanya tampak dingin.
"Kenapa kamu sembunyikan hal sebesar ini sayang, kenapa? " geram Benjamin menatap istrinya marah. Darapun menangis melihat kemarahan suaminya, dia menyembunyikan penyakitnya karena tak ingin membebankan sang suami.
"Sejak kapan kamu mengetahuinya? "
"Beberapa bulan lalu. " jawabnya lirih hal itu membuat rahang Ben mengeras dengan tangan terkepal kuat. Ben menghela nafas kasar, fokusnya tertuju pada perut buncit istrinya yang usianya memasuki ke tiga bulan. Melihat tatapan suaminya membuat Dara ketakutan hingga menyentuh perutnya.
"Aku mohon mas, biarkan calon anak kita ini tumbuh di perutku, aku menginginkan dia lahir ke dunia mas. Hanya ini yang aku inginkan darimu mas Ben, aku ingin memberikanmu sesuatu yang menjadi bagian dari diriku. " pintanya sambil memohon di depan suaminya.
"Selama ini kamu telah berkorban banyak untukku, termasuk menerima aku padanya meski kamu tahu aku sudah tak suci lagi saat itu. " gumamnya sambil menahan sesak dalam d**a teringat awal pernikahan mereka. Pria itu luluh, tak kuasa melihat istrinya yang begitu rapuh, diapun menggeleng kearah sang istri
"Tapi aku juga tak ingin kehilangan kamu sayang, kamu belahan jiwa aku! Ben menciumi wajah istrinya, pria itu menangis tak kuasa menahan kesedihannya saat ini. Dia merasa tak berguna sebagai suami, dia terlambat menyadari kondisi istrinya.
Dara mengusap kepala suaminya, Benjamin berlutut dan menciumi perut buncit istrinya. Setelah itu bangkit, kembali memeluk tubuh istrinya. Tanpa mereka sadari Yurika dan Sagara mendengar obrolan mereka, tubuh wanita itu tampak bergetar mendapati kenyataan tentang Dara.
"Dara." panggilnya sedikit keras membuat pasangan di depannya menoleh. Dara terkejut melihat sahabatnya yang datang sambil bercucuran air mata.
"Aku salah dengar 'kan mengenai penyakit kista yang bersarang di perut kamu., ayo jawab. " pekik Yurika. Dara menangis, wanita itu mengangguk lemah di depan sahabatnya. Yurika membekap mulutnya, tangisnya pecah dalam dekapan suaminya.
"Maafkan aku Yurika, aku menyembunyikan hal ini karena tak ingin membuat kalian cemas. " sesal Dara sambil menangis sesegukan. Yurika mendorong pelan tubuh suaminya, hendak mengamuk pada Dara namun wanita itu menyentuh perutnya sambil meringis. Tentu saja semua orang panik di buatnya termasuk Sagara.
"Gara sebaiknya bawa istrimu ke kamar sebelah, mungkin dia kelelahan. " perintah Ben. Sagara segera mengendong istrinya ke luar, rasa panik dan bersalah kini tengah di rasakan Dara sekarang. Benjamin membawa istrinya untuk duduk di sofa, tak ingin wanitanya kelelahan.
"Lalu apa kata dokter jika kamu mempertahankan calon baby? " tanya Ben sambil menguatkan hatinya.
"Aku akan merasakan sakit dan nyeri di sekitar perut mas, dokter Riana telah memberiku obat anti nyeri. Aku mohon biarkan calon baby tumbuh dalam perutku hingga dia siap di lahirkan nanti, aku rela menahan rasa sakit itu mas demi calon anak kita. " tegas Dara.
Deg Hati Ben hancur mendengar penjelasan istrinya, mana mungkin dia akan sanggup melihat istrinya beberapa bulan kedepan akan menderita akan sakitnya. Apa yang harus dia lakukan sekarang demi mengurangi rasa sakit sang istri, haruskah dia egois kali ini?