Hampir sepuluh menit kebungkaman masih melanda pasangan suami istri tersebut. Yurika menatap suaminya takut, diam pasrah jika sang suami merasa jijik dengannya.
"Katakan di mana pria b******k itu menyentuhmu Yuri? " tanya Sagara dengan nada datarnya. Wanita itu tak berani bicara, Yurika memilih bungkam hal itu justru membuat Sagara mengetatkan rahangnya.
Pria itu berjalan mendekat, mencengkram dagu sang istri dan memaksanya untuk bicara. Yurika langsung mengatakannya dengan ragu ragu, Sagara langsung emosi mendengarnya. Pria itu mendorong istrinya hingga terlentang di atas ranjang, melepaskan pakaian mereka buru buru lalu naik ke atas ranjang. Sagara menciumnya dengan kasar, Yurika berusaha mendorongnya namun sang suami mencekal tangannya.
Dan sore itu keduanya bercinta namun buka seperti biasanya, Sagara melakukannya dengan kasar tanpa mempedulikan sang istri.
Larut malam kegiatan itu terhenti, Sagara segera menyingkir dari atas tubuh istrinya. Yurika menangis terisak sambil mengeratkan selimut yang menutupi tubuh polosnya, bukan hanya fisiknya yang sakit namun dia juga khawatir dengan calon banyak dalam perutnya. Wanita itu turun dari atas ranjangnya dengan hati hati, sesekali meringis merasakan calon babynya menendang.
Sagara terbangun segera memakai celananya, memperhatikan istrinya dalam diam. Pria itu bangkit dan berlari melihat tubuh wanitanya yang hampir limbung. Menyadari sosok suaminya, Yurika berusaha berdiri dengan tetap lalu berusaha mendorongnya. Dia menatap suaminya dengan tatapan penuh luka.
"Aku bisa sendiri, kau tak perlu
menolongku. " ujar Yurika lirih.
Sagara baru tersadar akan kesalahannya, dia kembali berusaha menyentuh istrinya namun Yurika menepisnya kasar. "Mulai malam ini aku akan tidur di kamar sebelah, kau tidak akan tidur bersama wanita hina sepertiku!
Sagara memeluknya dari belakang, pria itu meminta maaf akan sikapnya yang lepas kendali. Diapun melepaskan pelukannya, berlutut di depan sang istri sambil meminta maaf. Yurika kembali menangis, dia abaikan permintaan maaf suaminya, dia terlanjur kecewa akan sikap Sagara.
Sagara bangkit, diapun membawa istrinya ke kamar mandi. Selesai mandi dan berganti pakaian, mereka segera istirahat karena seprei telah doli ganti Sagara. Yurika tidur membelakangi suaminya, tubuhnya masih terasa lelah begitu juga dengan hatinya saat ini.
"Maafkan aku sayang! Sagara menatap sendiri punggung sang istri, rasa bersalah kini menyeruak dalam hatinya. Diapun terus merutuki kebodohannya yang menyakiti istrinya secara fisik dan batin.
Esok harinya Sagara di buat kelimpungan, pria itu tak menemukan istrinya di sebelahnya. Pria itu terus berusaha mencari keberadaan wanita yang dia cintai itu, Sagara begitu takut kehilangan Yurika. Hingga akhirnya Sagara menemukan sosok istrinya baru ke luar dari dapur, pria itu berlari kearahnya. " Kau ke mana saja sayang, aku begitu kalut mencarimu ke manapun? "
"Aku sudah memutuskan semuanya mas!
Sagara merasakan berdebar menunggu pernyataan sang istri, dia berharap ucapan istrinya bukan sesuatu yang menyakitkan.
" Untuk sementara kita berpisah lebih dulu mas, aku perlu merenungkan salahku begitu juga dengan kamu. Setelah kejadian semalam, aku benar benar merasa jijik dengan diriku sendiri mas!
"Enggak sayang, aku gak mau kamu pergi. Aku hanya ingin kamu di sini bersamaku, semalam aku lepas kendali dan tanpa sadar menyakiti kamu dan calon baby. " ungkapnya resah. " Yurika berjalan mundur saat melihat suaminya mendekat, wanita itu hampir menyenggol guci namun dengan sigap Sagara menariknya menjauh, membawanya kepelukannya.
Yurika berusaha melepaskan diri, Sagara tetap menahannya hingga wanitanya tak lagi berontak. Sagara menuntun istrinya kembali ke kamar, mereka harus bicara dengan kepala dingin. "Gunakan tangan ini untuk menamparku sayang, agar aku merasakan sakit yang kamu rasakan semalam. "
Wanita hamil itu menarik tangannya tanpa berkata apapun. "Sebaiknya kamu mandi mas, bukankah hari ini kamu harus ke kantor. " ujar Yurika mengalihkan pembicaraan. Meski kecewa dengan suaminya namun dia tetap menjalankan tugasnya sebagai istri.
Sagara memilih mengalah, pergi ke kamar mandi. Yurika bangkit, segera menyiapkan pakaian kerja sang suami. Tak lama pria itu ke luar, segera mengenakan setelan kemeja serta jas dokternya, Sagara mendekati istrinya sambil mengenggam dasi. Yurika memasang dasi tanpa mempedulikan tatapan suaminya terhadap dirinya.
"Selesai. " gumam Yurika pelan.
"Terimakasih sayang. " Sagara hendak menciumnya namun Yurika menghindar hal itu membuat Sagara kecewa. Pria itu menatapnya sendiri, Yurika lebih dulu memalingkan wajahnya. Wanita hamil itu ke luar lebih dulu di susul Sagara dengan langkah gontainya. Sarapan kali ini suasananya tampak berbeda, tak ada ucapan manis dan romantis yang biasa pasangan itu lakukan.
Sagara menatap sendu kearah sang istri yang tampak tenang dalam memakan sarapannya. Selesai sarapan Yurika mengambil ponselnya dan kembali duduk di sana, wanita itu menghubungi Dara karena merindukan sahabatnya itu. Sagara benar benar merasa tidak nyaman di acuhkan sang istri, dirinya tahu jika dia melakukankan kesalahan yang fatal tadi malam.
Selesai mengobrol dengan Dara melalui ponsel, wanita itu menoleh dan memperhatikan suaminya yang tak memakan sarapannya. Jujur ingin sekali dia menegur suaminya namun mengingat kejadian semalam membuat egonya menguasai dirinya.
Sagara tak lagi berselera makan, pria itu bangkit dan mendekati sang istri. Diapun menyapa calon buah hatinya sekaligus meminta maaf, lalu mencium kening wanitanya. Setelah itu pergi meninggalkan istrinyanya dengan langkah berat, Yurika bangun dan menatap kepergian sang suami.
Hatinya begitu sakit melihat wajah muram dan lesu sang suami, namun lagi lagi ego nenguasai dirinya. Sepanjang jalan Sagara banyak melamun, saat ini dia meminta sopir mengantarnya ke rumah sakit. Pikirannya terus tertuju pada Yurika, dia begitu frustrasi saat ini dan ingin segera mendapatkan maaf dari wanitanya.
Timbang di rumah sakit, pria itu dengan lesu bergegas ke ruangannya mengabaikan sapaan dokter Siska. Dokter wanita itu mengerutkan kening melihat ekspresi dari Sagara yang terlihat lesu. "Apa Sagara bertengkar dengan istrinya? " pikir dokter Siska. Wanita itu mengulas senyumnya, bergegas pergi ke pantry, setelah itu dirinya menuju ke ruangan Sagara.
Sagara bersandar di kursi, pikirannya tak bisa fokus hari ini. Hatinya berdenyut nyeri mengingat sikap istrinya tadi, dia akui jika dirinya begitu keterlaluan semalam. "Maafkan aku sayang, maaf karena aku menyakiti fisik dan hatimu!
Pria itu mengusap wajahnya kasar bersamaan pintu ruangannya yang terbuka, dokter Siska datang sambil membawakan secangkir kopi. "Gara, aku tahu kau sedang stress, aku buatkan kopi ini untukmu!
Wanita itu menaruh kopinya di atas meja, lalu berniat memijit tubuh Gara namun pria itu menepisnya kasar di sertai tatapan tajamnya. " Siapa yang menyuruhmu masuk ke ruangan aku tanpa izin Dokter Siska!
"Aku hanya ingin menghiburmu!
" Tak perlu, sebaiknya kau enyah dari hadapanku Dokter Siska dan berhenti memanggilku dengan nama, kita tidak seakrab itu!
"Tapi Gara, aku tahu kau tengah ada masalah dengan istrimu, aku bisa membantumu menghilangkan stres mulai itu! Siska wanita itu begitu tak tahu malu berniat mendekati Sagara, pria itu bangkit dengan emosi tertahan.
bruk Sagara mendorongnya kuat hingga wanita itu jatuh tersungkur. " Sudah aku bilang ke luar dari ruangan ku, apa kau Tuli dokter Siska. " bentak Sagara kesal sekaligus marah akan kelakuan Siska.
Dokter Siska meringis kesakitan, melihat kemarahan Gara yang menakutkan membuat wanita itu menciut nyalinya. Sagara yang lepas kendali menyeretnya ke luar lalu mendorongnya, setelah itu berteriak memanggil sekuriti untuk mengurusnya.
"Bawa wanita rendahan ini pergi dari hadapanku, dia di pecat dari rumah sakit
ini. " tegas Sagara emosi. Pertengkaran mereka di saksikan para dokter dan suster yang lain. Ya Sagara adalah dokter sekaligus pemberi dana terbesar di rumah sakit di mana dia bekerja. Dokter Arga datang dan berusaha menenangkan Sagara yang lepas kendali.
"Gara tenanglah, dokter Siska biar jadi urusanku!
" Ya dan aku harap dia enyah dari hadapanku, aku harap aku tak melihatnya lagi jika tidak kalian akan tahu akibatnya. " ujar Sagara tak main main dengan ucapannya. Pria itu berlalu pergi dari sana, Dokter Arga menghela nafas kasar dan fokusnya kini tertuju pada Dokter Siska.
"Tak biasanya Dokter Sagara mengamuk seperti ini, apa dia ada masalah. " gumam dokter Arga. Dokter Arga segera mengajak Dokter Siska berbicara, dia harus melakukan apa yang di katakan Sagara tadi.