Reta menangis. Dia datangi kamar omnya. Lalu berurai air mata begitu saja, seolah mengadu bahwa teman Om Alan yang itu sukses meremukkan jantungnya. Sehiperbolis itu, tapi sadar kenyataan yang Reta alami layak dibanjiri air mata. Dia sakit hati. "Om Alan ..." Kak Artha jahat banget. "Iya, iya, paham." Yang Alan tepuk pelan punggung sang ponakan, memeluknya sayang. "Artha orang yang gak pernah pacaran, sebego itu dia nolak ponakan Om yang badai se-Cakra Buana. Tambah b**o lagi karena nge-PHP-in gadisnya Papa Arka. Sabar, Reta. Om yang sahabatnya aja mendadak ilfeel sama dia. Yuk, ilfeel bareng. Biar cepet move-onnya." Ah, tangisan Reta tambah panjang. Dia terisak kian sering. Tetesan yang jatuh dari mata pun semakin banyak. Bagaimana ini? Penghiburan dari Om Alan tidak berefek. "U

