Hari itu ... Reta sungguh ingin membuat Artha cemburu. Bukan tanpa alasan dia begitu. Sebab ada harap yang Artha berikan, ada perasaan yang seakan sudah Artha balaskan. Hanya saja ... ada dinding yang menghadang. Dan Areta ingin robohkan tembok itu. Ya, Reta yakin Artha akan cemburu bilamana Areta lajukan misinya. Perlahan. Tapi, kenapa? Kenapa justru hati Reta yang terbakar api biru? Cincin di jari manis Artha seakan menjadi bola api yang melubangi jantung Areta. Panas sekali. Yang begitu menyakiti. Kenyataan tentang Qaila dan Artha adalah bara api yang menyala - nyala, tepat jatuh di hatinya. Areta terluka. Sakit yang dia rasa begitu nyata, tanpa ada yang keliru. Rambatan sakit hatinya naik ke mata, mengembun di sana, dalam langkah yang begitu berat meninggalkan kawasan semester

