Bab 1 Surat Cerai
Hujan turun deras di Kota Montclair, membasahi jendela-jendela tinggi kediaman keluarga Moreau yang megah. Langit malam yang kelam seolah mencerminkan suasana hati Selena Dubois yang berdiri diam di depan jendela kamarnya.
“Tiga tahun aku menikahi Christopher Moreau. Lima tahun berharap, lima tahun menunggu, dan lima tahun berusaha menjadi istri yang sempurna bagi pria yang bahkan tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai seorang istri.” gumamnya lirih.
Jemarinya menggenggam erat cangkir teh yang telah lama dingin, sementara pandangannya kosong menatap taman belakang yang diguyur hujan tanpa henti.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, memecah kesunyian yang menyelimuti ruangan. Selena tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Langkah kaki itu terlalu dikenalnya dan selalu mampu membuat jantungnya berdebar meski pemiliknya tidak pernah memberinya sedikit pun kehangatan. Christopher Moreau telah menjadi bagian dari hidupnya selama lima tahun, tetapi hingga malam ini, pria itu masih terasa seperti orang asing yang tidak pernah berhasil ia gapai.
"Christopher."
Selena berbalik badan dan mendapati Christopher yang berdiri di dekat pintu. Setelan jas hitam yang dikenakannya masih tampak sempurna meski baru pulang dari kantor. Wajah tampan itu tetap dingin seperti biasa tanpa senyuman, tanpa kelembutan, tanpa sedikit pun cinta yang selama ini Selena harapkan.
Namun entah mengapa, malam itu ia merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang buruk. Tanpa banyak bicara, Christopher berjalan mendekat lalu meletakkan sebuah map cokelat di atas meja. Tatapan Selena langsung tertuju pada benda itu, sementara jantungnya mulai berdegup lebih cepat karena firasat yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
"Apa itu?" tanyanya pelan.
Christopher tidak langsung menjawab.
Ia menatap Selena beberapa saat sebelum akhirnya berkata dengan suara datar.
"Rosalie sudah kembali."
Dunia Selena seolah berhenti berputar saat telinganya nama yang diucapkan oleh suaminya. Nama itu begitu familiar, begitu menyakitkan, karena selama ini. Nama itu selalu menjadi bayangan yang menghantui pernikahannya.
Rosalie Durand. Wanita yang tidak pernah benar-benar pergi dari hati Christopher. Cinta pertama pria itu, sosok yang tetap menempati tempat istimewa dalam hidupnya bahkan setelah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar.
Selena memaksakan senyum tipis. "Oh... jadi dia sudah kembali."
Christopher mengangguk. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.
"Kami bertemu minggu lalu."
Setiap kata terasa seperti pisau yang perlahan mengiris dadanya.
Namun Selena tetap berusaha terlihat tenang. "Lalu?"
Christopher menatapnya lurus. "Aku ingin mengakhiri pernikahan ini."
Kalimat itu menghantam Selena lebih keras daripada petir yang menggelegar di luar. Meski selama ini ia sudah menduganya, mendengar pengakuan itu secara langsung tetap terasa menyakitkan. Jauh lebih menyakitkan daripada yang pernah ia bayangkan.
Ia menunduk sesaat, berusaha menahan gejolak yang menghimpit dadanya.
“Jangan menangis. Jangan di depannya. Jangan sekarang.” gumamnya dengan suara bergetar.
Ketika akhirnya mengangkat kepala, wajahnya tampak tenang, meskipun di dalam hatinya semuanya sedang runtuh perlahan.
"Jadi... ini yang ada di dalam map itu?"
Christopher mengangguk.
"Ini surat cerai."
Keheningan memenuhi ruangan, sementara suara hujan menjadi satu-satunya yang terdengar. Selena menatap map itu cukup lama. Lima tahun pernikahan mereka, lima tahun perjuangannya, ternyata berakhir hanya dalam beberapa lembar kertas. Ada ironi yang membuat dadanya terasa sesak.
Dulu ia pernah membayangkan Christopher akan belajar mencintainya, bahwa suatu hari pria itu akan melihatnya bukan sebagai kewajiban keluarga, melainkan sebagai wanita yang selalu setia berada di sisinya. Namun kini ia sadar betapa naifnya harapan itu. Christopher tidak pernah berubah, hatinyalah yang sejak awal berada di tempat yang salah.
"Ayah dan ibumu tahu?" tanya Selena.
"Itu urusanku, Aku yang akan beritahu mereka."
"Berarti ini keputusan terakhir?"
"Ya."
Jawaban itu terdengar singkat dan tegas. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam nada suara Christopher.
Seolah pernikahan yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun tidak pernah berarti apa pun baginya.
Selena tersenyum pahit. "Perceraian ini demi Rosalie?"
Christopher terdiam selama beberapa detik. Namun keheningan itu sudah lebih dari cukup untuk memberikan jawaban yang Selena butuhkan.
Senyum tipis terukir di bibirnya, diikuti tawa kecil yang terdengar getir.
"Aku mengerti sekarang."
Christopher mengernyit. "Selena…"
"Tidak perlu menjelaskan."
Untuk pertama kalinya sejak menikah, Selena merasa benar-benar lelah. Lelah berharap, lelah mencintai sendirian, dan lelah menjadi pilihan kedua. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengambil map itu dan membukanya.
Matanya langsung tertuju pada tulisan besar di halaman pertama: PERJANJIAN PERCERAIAN. Ia membalik beberapa halaman hingga menemukan tempat tanda tangan, lalu melihat nama Christopher sudah tertera di sana. Tentu saja.
“Christopher pasti telah memikirkan semua ini jauh sebelum malam ini, mungkin sejak Rosalie kembali atau bahkan lebih lama dari itu.” pikirnya.
Selena menarik napas panjang dan mengambil pena. Saat itu, Christopher menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan mungkin keraguan, mungkin penyesalan, atau sekedar rasa tidak nyaman karena semuanya berjalan terlalu mudah. Namun Selena tidak ingin mencari tahu lagi. Dengan satu gerakan tegas, ia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu. Selesai. Dalam sekejap, lima tahun pernikahan mereka resmi berakhir.
Christopher terlihat sedikit terkejut. "Kamu tidak ingin membacanya dulu?"
Selena mengangkat pandangan.
“Membaca? Untuk apa lagi aku membacanya?” ujarnya dalam hati.
Namun ia terlalu lelah untuk marah.
"Lalu apa yang kamu harapkan?" tanyanya pelan.
"Aku mengemis agar kamu tetap tinggal?"
Christopher tidak menjawab.
"Atau memintamu memilihku daripada wanita yang kamu cintai?"
Keheningan kembali menjadi jawaban.
Selena tersenyum tipis.
"Jangan khawatir, Christopher. Aku masih punya harga diri."
Wajah Christopher mengeras. Namun Selena sudah tidak ingin melihat ekspresi apa pun darinya.
Ia menyerahkan kembali dokumen itu. "Selamat."
Alis Christopher berkerut. "Untuk apa?"
"Karena akhirnya kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan."
Setelah mengatakan itu, Selena berjalan melewati Christopher tanpa menoleh lagi. Ia takut jika bertahan di sana satu menit lebih lama, air matanya akan jatuh. Dan itu adalah hal terakhir yang ingin ia tunjukkan kepada pria tersebut.
Satu minggu kemudian, Selena berdiri di Bandara Internasional Montclair dengan sebuah koper besar di sampingnya. Perceraiannya telah resmi disahkan dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada lagi yang mengikatnya dengan keluarga Moreau.
Isabelle memeluknya erat. "Selena, kamu yakin ingin pergi?"
Selena mengangguk sambil tersenyum. "Aku hanya ingin pulang Ma."
Pulang kepada keluarganya. Pulang untuk menyembuhkan diri. Pulang untuk memulai hidup baru.
Isabelle Moreau menggenggam tangan mantan menantunya itu dengan lembut. "Kami akan selalu ada untukmu."
Kali ini Selena benar-benar tidak mampu menahan air matanya.
Ia memeluk mantan ibu mertuanya dengan erat. "Terima kasih, Ma."
Saat pengumuman keberangkatan terdengar, Selena melangkah menuju pintu pemeriksaan tanpa menoleh ke belakang. Ia meninggalkan masa lalu yang selama ini mengikatnya, tanpa menyadari bahwa keputusan itu bukanlah akhir dari kisahnya, melainkan awal dari babak baru yang tidak pernah ia bayangkan.
Sementara jauh di dalam tubuhnya, sebuah kehidupan kecil tengah tumbuh dengan tenang sebuah rahasia yang bahkan belum ia ketahui. Rahasia itu kelak akan mengubah takdirnya dan menghubungkannya kembali dengan masa lalu yang berusaha ia tinggalkan.