Nirmala kembali melakukan segala aktivitasnya seperti biasa, seolah tidak ada permasalahan apapun dalam hidupnya. Ia kembali menyapa teman-temannya dengan ceria, bertingkah konyol hingga membuat teman-temannya tertawa, dan hal-hal lumrah lainnya yang dilakukan remaja pada umumnya.
Hari ini Nirmala sebenarnya ingin menemui dr.Rey seperti hari-hari kemarin, tapi perasaannya sedang kacau untuk saat ini. Tapi sepertinya ia mungkin tetap bisa menemui dr.Rey sebagai motivasinya untuk terus bertahan.
Sebuah ide seketika muncul dalam benak Nirmala untuk ia membuatkan kotak bekal untuk dr.Rey, siapa tau ia akan semakin dipertimbangkan sebagai calon istri idaman jika ia menunjukkan pada dr.Rey bahwa ia pintar memasak. Namun ia kini mulai bingung jika harus memasak, jujur saja ia jarang memasak, masak pun palingan hanya mie instan.
Ia tak pernah memperhatikan asupan makannya, ia hanya memakan apa yang ada dan saat ia lapar ia bisa memakan apapun, tidak pernah repot-repot untuk memasak ini itu yang menurutnya sangat merepotkan.
Bahkan ia sempat meragukan rasa masakannya nanti, apakah rasanya lazim untuk dimakan oleh manusia normal atau malah menimbulkan efek keracunan yang berakibat kejang-kejang bagi yang memakannya.
Membayangkan dr.Rey yang akan dijadikan sebagai kelinci percobaannya, lalu dr.Rey perlahan mengalami gejala keracunan berupa kejang-kejang Hinga dr.Rey mati akibat memasak masakan buatan Nirmala, kontan membuatnya bergidik ngeri dan tanpa sadar menjerit.
Seketika seluruh pasang mata yang berada dalam kelasnya menoleh ke arah Nirmala, gadis itu yang menyadari bahwa ia tanpa sengaja melamun berusaha mencari alasan saat mata guru Fisika di depannya kini menyorotinya dengan tatapan membunuh ke arahnya.
"E.. Itu bu tadi ada itu," Nirmala kembali berusaha menjelaskan dengan sedikit tergagap, otaknya berusaha berpikir keras apa saja yang harus ia jadikan alasan agar terbebas dari hukuman.
"A_ada kecoa bu, itu itu kesana bu!" seketika para anak-anak gadis yang ada dalam kelas tersebut heboh mendengar ada kecoa yang ada di dalam kelas mereka.
"Kecoa, mana kecoa,"
Mendapati kehebohan para teman-temannya yang ternyata banyak yang merasa jijik pada sejenis hewan bernama kecoa kontan membuat Nirmala menggaruk kepalanya yabg tidak gatal. Dan tanpa disangkanya, ternyata hewan yang sempat dijadikannya sebagai kambing hitam atas ulah nya justru benar-benar muncul dan semakin membuat heboh para cewek-cewek di kelas. Lebih parahnya, bahkan ada teman cowoknya yang sedikit melambai justru lebih heboh dengan berteriak dan naik ke atas meja karena takut melihat kecoa.
Seketika ide jahil pun muncul di benak Nirmala untuk mengusir kebosanannya, ia berdiri mengambil ujung kecoa lalu ia lemparkan ke arah Adi hingga membuatnya menjerit histeris dan lari pontang-panting ke luar kelas.
Guru yang mengajar di depan pun sepertinya juga enggan untuk ikut campur dalam menangani kecoa yang berlari kesana kemari, bahkan Bu Susi sampai keluar kelas lalu memanggil pak satpam untuk mengusir kecoa yang membuat keributan dalam kelas yang diajarnya, hingga kondisi kelas bisa kondusif seperti semula.
Nirmala kini bisa merasa terhibur sedikit atas kejadian tadi, setidaknya suasana hatinya tidak sesuram sebelumnya. Untunglah pikirannya terlalu cerdas untuk bisa memikirkan ide brilian barusan, jadi meskipun kondisinya dengan keluarganya tergolong buruk, tapi hal itu tidak akan membuatnya stress karena ide kreatifnya untuk mengalihkan permasalahan.
___
Saat ini Nirmala tengah berjalan di trotoar jalanan, ia melangkah dengan pelan. Entah apa yang akan dia lakukan saat ini. Jam pelajaran sekolah telah usai, namun seperti biasa ia masih saja merasa enggan untuk kembali ke rumah.
Disaat anak sekolah yang lainnya saat jam pulang sekolah begitu bersemangat ingin segera sampai di rumah, berbeda dengan Nirmala yang selalu saja merasa enggan untuk pulang. Ia sebenarnya juga merindukan apa yang sering orang-orang sebut rumah dalam artian yang sesungguhnya. Dimana rumah menjadi tempat untuk berpulang, mendapatkan kasih sayang dari orang-orang tercinta, bukan tempat yang justru membuatmu semakin merasa terkekang.
Saat di tengah perjalanan Normal sengaja menyempatkan dirinya untuk mampir ke sebuah toko bunga. Ia melihat-lihat jajaran bunga-bunga yang dijual di dalamnya, ingatannya sedikit menerawang pada kejadian di beberapa tahun yang lalu. Saat ia tengah berada di toko bunga dengan raut wajah ceria yang tak dibuat-buat. Saat itu ia tengah memilih-milih bunga bersama dengan Ibunya, ia ingat betul bunga kesukaan ibunya. Hingga tanpa sadar membuat Normal telah mengambil bunga kesukaan ibunya ke depan kasir, tak lupa di tangan satunya ia juga membawa bunga mawar merah.
"Terimakasih mbak," setelah membayar bunganya kini Nirmala telah tau dia akan pergi kemana.
Ia menghentikan sebuah angkot yang kebetulan sedang melintas di depannya, beruntungnya angkot yang saat ini sedang dinaikinya dalam kondisi tidak begitu penuh hingga Nirmala tidak perlu berdesak-desakan dengan penumpang yang lain.
"Mau kemana cantik?" seorang Ibu-ibu berbadan gemuk kini menanyainya saat melihat apa yang tengah dibawa oleh Nirmala.
"Mau ke rumah sakit Bu," dengan senyum yang dipaksakan Nirmala berusaha berbasa-basi membalas sapaan Ibu tadi.
"Oh ke rumah sakit, mau jenguk seseorang ya cantik, siapa yang sakit?"
"Iya Bu, mau jenguk calon suami," untuk kali ini Nirmala kembali membalas sapaan Ibu-ibu tadi dengan senyum tulusnya saat ia mengingat paras dokter Rei.
Membayangkan bahwa dr.Rey yang akan menjadi suaminya kelak sungguh telah berhasil membuat kedua pipi Nirmala bersemu merah saking senangnya.
"Yahh sayang sekali gadis secantik kamu sudah punya calon suami, padahal anak ibu masih jomblo loh pasti cocok kalau bisa sama kamu...,"
Mendengar perkataan Ibu itu sontak membuat Nirmala kembali dari khayalannya, sementara Ibu tersebut masih saja sibuk mempromosikan anaknya yang katanya sangat tampan, seorang dokter, dan parahnya sudah punya anak?
'Ya kali aja ini ibu-ibu ada niatan mau nikahin gue sama anaknya yang udah tua. Terus apa katanya tadi, udah punya anak? Yang bener aja dong, mau dibandingin kayak gimana pun Nirmala juga gak bakalan sudi mau nikah sama om-om genit, berkumis, atau bahkan perutnya udah buncit? Oh no, itu malapetaka!'
Membayangkan bahwa anak dari Ibu-ibu yang entah sejak kapan telah pindah tempat duduk di sebelahnya kini adalah seseorang yang brewokan, pendek, jelek, rambut kriting, perut buncit, dan juga genit.
"Astaghfirullah, nauzubillah hi minzalik," Nirmala menggetok-getok kepala sebelah kirinya pelan berulang kali sambil mengucapkan istighfar dengan nada pelan, "amit-amit jangan sampek."
"Kenapa cantik?"
"Oh gak apa-apa Bu, kebetulan saya sudah sampai," dengan segera Nirmala memasang fake smile andalannya pada Ibu-ibu itu sebelum segera membayar ongkos angkotnya dan buru-buru keluar dari angkutan umum tersebut.
"Nauzubillah, jangan sampek gue jadi menantu Ibu-ibu tadi. Ngeri amat," sambil sesekali bergidik Nirmala kini melanjutkan langkah kakinya menuju rumah sakit.
Jarak yang harus ditempuhnya menuju rumah sakit sebenarnya masih kurang kisaran tiga ratusan meter, namun biarlah ia turun disini. Ia akan semakin stress jika masih mendengarkan perkataan Ibu tadi yang berusaha mengambil hatinya. Membayangkan bahwa Ibu-ibu tersebut akan semakin gencar mencoba menjodohkan anaknya dengan Nirmala. Oh tidak itu buruk.
Saat Nirmala baru saja memasuki rumah sakit, kontan saja ia dibuat terkejut saat melihat sosok Ibu-ibu yang berusaha menjodohkan anaknya dengan Nirmala tadi. Bagaimana mungkin Ibu-ibu itu sampai nekat mengikutinya hingga sampai ke rumah sakit ini? Nirmala tak habis pikir membayangkannya.
Perlahan Nirmala melihat keadaan di sekelilingnya, ia berusaha mengendap-endap saat melihat Ibu tersebut masih sibuk berbicara dengan seorang resepsionis. Dengan kekuatan cahaya alias berlari menggunakan jurus seribu bayangan, Nirmala berlari secepat mungkin memasuki lorong rumah sakit sebelum kemudian kembali bersembunyi di belakang tembok. Setelah keadaan dirasa sudah tenang, barulah ia bisa bernapas dengan lega.
"Syukur dah Ibu-ibu tadi gak lihat gue," sambil mengontrol napasnya yang masih memburu, Nirmala kini memutuskan untuk duduk selonjoran di lantai rumah sakit.
"Eh cantik, ternyata kamu ada disini juga?"
'Mampus, kok gue bisa ketahuan?'
To be Continued...