Saat mendengar suara yang berusaha dihindarinya sedari tadi, ingin rasanya Nirmala segera bangkit dari duduknya, lalu segera berlari secepat kilat menghindari sapaan Ibu-ibu resek tadi.
Mimpi apa dia semalam sampai bisa bertemu dengan sosok Ibu-ibu resek yang gencar banget pengen jadiin dia calon mantunya. Ah kini Nirmala teringat bahwa semalam dia sempat bermimpi bertemu dengan ular piton besar, atau jangan-jangan maksud dari mimpinya semalam adalah bahwa bentuk perwujudan nyata dari ular piton besar itu berupa sosok Ibu-ibu resek yang gentol ingin menjodohkan anaknya dengan Nirmala.
Entah percaya atau tidak, Nirmala sempat mendengar adanya mitos dari neneknya bahwa kalau sampai anak gadis bermimpi bertemu dengan ular. Maka dia akan segera bertemu dengan jodohnya, atau ada seseorang yang ingin segera melamarnya.
'Yakali jodoh gue om-om jelek, tua, gendut. Apa salahku ya Allah, padahal aku anaknya baik, imut, cantik, lucu lagi.'
"Cantik, kamu kenapa duduk selonjoran disini?"
Dengan gerakan yang sangat kaku kini Nirmala kembali memasang senyum palsunya yang sangat dipaksakan, ia menoleh pada sosok Ibu-ibu resek tersebut.
"Pengen ngadem Bu, di luar panas." alasan yang kurang logis dan Nirmala tidak mempedulikannya.
"Kamu kepanasan ya cantik, ini Ibu punya minuman isotonik penyegar tubuh. Biar cairan tubuh kamu yang hilang karena terhidrasi oleh cuaca panas di luar bisa kembali dan kamu gak bakalan lagi ngerasain panas dalam."
Ibu itu kini mengeluarkan sebotol minuman 'Pocari Sweet' pada Nirmala yang kebetulan juga dia sedang kehausan, sehingga tanpa pikir panjang Nirmala menerima minuman itu dan segera menegaknya hingga tersisa sedikit.
"Hahhh.. makasih Bu, tau aja saya lagi haus."
"Ah kamu bisa aja, Ibu ini kan camer yang peka sama calon mantunya." ujar Ibu tadi dengan senyuman cemerlangnya.
Sementara Nirmala yang mendengarnya hanya bisa meringis menahan tangis, ingin rasanya Nirmala berteriak dengan lantang bahwa dia bukan calon menantu Ibu-ibu resek itu. Tapi bagaimana lagi, dia hanya bisa menghela napas panjang sambil mengelus-elus dadanya prihatin. Untung dia anak yang baik, sehingga tidak dengan terang-terangan menolak perkataan Ibu itu.
"Cantik, ikut Ibu yuk ketemu sama anak Ibu yang paling ganteng. Ibu yakin kamu pasti suka pada pandangan pertama," kini Ibu itu mencoba menarik tangan Nirmala untuk bangkit dari posisi selonjorannya dengan senyuman ekstra yang mau tidak mau membuat Nirmala dengan terpaksa mengikutinya.
"Tapi Bu saya masih ada,"
"Udah gapapa ayo ikut bentar aja, kamu gak bakal nyesel kok." Nirmala yang ingin beralasan kembali dibuat terbungkam saat ibu itu kini menggandeng lengannya dengan erat.
'Emakkk, lindungi anakmu!'
Dalam hati Nirmala kembali berdoa berulang kali agar tidak jadi bertemu dengan anak Ibu itu, saat berjalan sempat beberapa kali Nirmala ingin berbelok jalan ke arah lorong lain. Namun Ibu itu kembali menarik lengan Nirmala dan menuntunnya pada tempat anaknya berada.
"Bu, saya habis ini mau ke makam Ibu saya." dengan nada yang dibuat semenyedihkan mungkin Nirmala kini berhenti dan berusaha kabur dengan alasan ingin ke makam Ibunya.
Ibu tadi yang mendengar penjelasan Nirmala, kini ikut berhenti dan menatap Nirmala dengan kedua mata yang justru ikut berkaca-kaca. Sebelum kemudian Ibu tersebut memeluk Nirmala dengan erat dan mengelus-elus punggung dan belakang kepala Nirmala penuh kasih sayang.
"Ibu turut sedih mendengarnya cantik, habis ini biar anak Ibu yang anterin kamu ke makam ya?"
Lalu mereka kembali lagi berjalan menuju tempat si anak Ibu itu berada, Nirmala yang mendapati bahwa rencananya telah gagal kini hanya bisa menangis dalam hati meratapi nasib buruknya. Langkah kakinya terasa berat untuk terus melangkah sementara Ibu-ibu resek itu malah dengan semangatnya terus merecoki kepala Nirmala bahwa anaknya itu ganteng, dan jenis promosi lainnya.
Dalam hati Nirmala kembali berkomat-kamit mengucapkan Segala jenis mantra agar nasib buruk segera berlalu menghantuinya. Ia terus-menerus merapalkan nama dr.Reymon dalam hatinya berharap bahwa dokter ganteng itu akan datang disaat yang tepat, lalu dengan kekuatan cintanya bergegas menyelamatkan Nirmala dari mimpi buruk yang menyertainya.
Saat berjalan di tengah lorong rumah sakit, tiba-tiba Nirmala melihat sosok yang sedari tadi ia sebut dalam setiap doanya. Seketika raut wajah bahagia terpampang dalam raut wajah Nirmala melihat dia akan segera terlepas dari Ibu-ibu resek yang masih saja menggenggam lengannya dengan erat.
"Nah cantik itu dia anak Ibu," dengan tidak sabaran Ibu tersebut menarik lengan Nirmala untuk segera menghampiri anaknya.
Nirmala yang mengerti apa maksud dari perkataan Ibu tersebut sontak membulatkan kedua bola matanya, pasalnya tepat di samping dr.Reymon juga terdapat seorang dokter berambut keriting, berkumis, memakai kacamata, dan jangan lupakan perut buncitnya.
Seketika ingin rasanya Nirmala berbalik badan dan berlari sekuat tenaga dari tempat ini, bagaimana mungkin ia bisa bertemu dengan dr.Rey dalam kondisi Ibu-ibu resek ini yang ingin memperkenalkan dia dengan anaknya yang jelek. Nanti bisa-bisa dr.Rey berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya yang mau saja dijodohkan dengan orang jelek.
Namun Ibu-ibu tadi masih saja terlalu kuat memegang lengannya dan membalikkan tubuhnya dengan berbagai rayuan dan godaan yang sayangnya membuat Nirmala benar-benar ingin menangis.
"Ayo cantik lihat itu anak Ibu, ganteng banget kan?"
"Tapi Bu," Nirmala ingin mengelak, namun lagi-lagi Ibu itu memotong perkataannya.
"Sayang ini Ibu bawain kamu calon mantu Mama, cantik kan pilihan Mama?"
Sontak dr.Rey dan dokter satunya lagi langsung menoleh pada sosok Ibu-ibu tadi, sementara dokter Rey hanya menghela napas lelah sebelum kembali pada berkas di tangannya.
Ia sudah terlalu terbiasa dengan sikap Ibunya yang suka sekali berusaha menjodoh-jodohkan dia dengan gadis-gadis pilihannya, meskipun jujur saja dr.Remon merasa sedikit terkejut saat gadis yang dipilih ibunya kini adalah sosok gadis yang selama beberapa hari terakhir ini terus berusaha mendekatinya tanpa henti.
Sementara di sisi lain Nirmala masih saja beranggapan bahwa teman dokter Reymon lah yang dimaksud oleh Ibu itu sebagai anaknya tadi, melihat tatapan tidak berminat dr.Rey yang dilayangkan sekilas pada sosok Ibu-ibu ini.
"Baiklah dr.Rey, kalau begitu saya permisi dulu menangani pasien yang lain." Rey hanya menyahutinya dengan seulas senyuman sebelum kembali memeriksa berkas yang diberikan oleh rekannya tadi.
"Ish Reymon kamu mah selalu gitu, tiap Mama datang berkunjung kamu pasti selalu mengabaikan, Mama tuh gak bisa diginiin." protes Mama Rey yang hanya dibalas dengan helaan napas.
"Iya Ma, emang Mama kesini mau ngapain?"
"Bawa calon istri buat kamu," Reymon kembali memutar bola matanya dengan malas, sungguh ia lelah terus-terusan disodori berbagai jenis wanita oleh Mamanya.
Tapi mau bagaimana lagi, Mamanya tidak akan pernah berhenti untuk mencoba memjodohkannya sampai ia akhirnya memutuskan untuk menikah. Namun yang cukup membuat Reymon terkejut bagaimana mungkin gadis yang kali ini dibawa oleh Mamanya adalah gadis nakal itu, jelas-jelas Reymon tidak ingin berurusan lebih jauh lagi dengan gadis itu. Lantas bagaimana jika seperti ini, pasti ke depannya hidupnya tidak akan tenang lagi.
Cukup dengan kehadiran gadis itu saja sudah membuat Reymon sedikit merasa kewalahan, apalagi jika ditambah dengan desakan Ibunya yang sepertinya terlihat sudah lengket dengan Nirmala. Mungkinkah Reymon harus menyerah ke depannya jika ia sudah merasa tidak sanggup lagi menghadapi tingkah aneh kedua wanita di depannya?
Sementara Nirmala yang tengah mengamati interaksi yang terjadi antara Ibu-ibu resek tadi dengan dr.Rey kini hanya bisa melongo, pasalnya otaknya kini sedang mengalami keterlambatan dalam hal mencerna informasi yang tersaji di depannya. Ia masih bingung mengapa Ibu tadi terlihat begitu akrab dengan dr.Rey, dan apa katanya tadi, Mama? Dr.Rey bahkan memanggil Ibu itu dengan sebutan Mama?
Seketika semua perkataan Ibu-ibu tadi berputar ulang kembali dalam benak Nirmala, seperti adegan replay yang diputar berulang kali sebelum suatu kesimpulan pada akhirnya dapat ditangkap oleh otak lemot Nirmala. Jangan bilang kalau dr.Rey adalah..
"Cantik kenalin ini Reymon anak Ibu yang paling ganteng," Ibu itu dengan begitu bangganya memperkenalkan Nirmala pada dr.Rey yang tanpa Ibu itu mengenalkannya tentu Nirmala sudah mengenalnya lebih dahulu.
"Jadi dr.Rey ini adalah..,"
To be Continued...