Kalo emang jodoh itu nggak bakal kemana, justru dia yang bakal ikut kemana aja kita pergi.
***
Nirmala saat ini tengah mengatupkan bibirnya berulang kali layaknya ikan koi yang kehabisan udara, ia masih saja tidak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya di depan matanya secara langsung saat ini. Kayaknya Nirmala mau menarik kembali ucapannya kalau sempat berpikir yang tidak-tidak pada camer-nya beberapa waktu yang lalu.
Kini tanpa pikir panjang Nirmala segera memulihkan ekspresi terkejutnya dan dengan muka yang kembali bersinar terang ia menjabat tangan dr.Reymon di depannya. Tentu saja dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk berjabat tangan dengan dr.Rey, apa lagi ia sudah jelas mendapatkan lampu hijau dari calon mertuanya.
"Ganteng kan cantik, anak Ibu?"
Nirmala hanya bisa mengangguk sambil memasang tampang malu-malu yang membuat Ibu Rina --Ibu Reymon-- semakin gemas akan calon mantunya ini.
"Ihh gemes banget sih kamu ini, dari dulu tuh ya Ibu pengen banget punya anak perempuan. Tapi yang keluar malah laki-laki semuanya."
"Ibu boleh anggep aku anak kok," dengan tatapan matanya yang lebar Nirmala memandang ibu tadi dengan antusias yang sama. Melihat ibu ini malah mengingatkan Nirmala pada ibunya, mendadak ia merindukan sosok ibunya yang telah tiada.
Lama tangan Nirmala terulur pada dr.Rey, namun tidak ada niatan balik dari dr.Rey untuk berjabat tangan dengannya. Ia masih saja tampak sibuk melihat berkas-berkas di tangannya.
"Ish Rey, sejak kapan Mama ngajarin kamu buat bersikap sedingin ini sama perempuan. Ibu juga perempuan loh Rey, sakit rasanya kalo diabaikan sama calon suami," Nirmala yang mendengarkan ucapan ibu itu langsung saja mengangguk menyetujui.
Saat ini Nirmala merasa beruntung karena telah bertemu dengan ibu Rina, selaku calon mertuanya. Semoga saja ibu Rina tidak sampai mengetahui apa saja pikiran buruk Nirmala sebelum ia mengetahui kalau anaknya adalah cowok yang dia sukai. Bisa-bisa dia akan dipecat dari calon mantu idaman kalau ketahuan sempat berpikir yang enggak-enggak sama camer-nya.
"Udahlah Ma, lagian aku udah tau siapa dia, ngapain lagi pakai jabat tangan." dr.Rey hanya menjelaskan ala kadarnya melihat respon berlebihan mamanya.
"Jadi kalian ceritanya udah saling kenal ya, wah kayaknya kalian berdua emang jodoh banget ya. Makanya pas pertama kali liat Nirmala ini Mama udah klop banget mikir kalo ini tuh calon mantu Mama banget."
Nirmala yang mendengar perkataan Mama dr.Rey hanya semakin menunduk malu dengan rona merah di kedua pipinya. Hal tersebut tak luput dari pandangan ibu Rina yang semakin merasa gemas dan mencubit kedua pipi Nirmala.
"Jadi kapan kalian nikah? Mama udah gak sabar pengen gendong cucu jadinya."
"Maa ...," dengan pelan Reymon memperingati mamanya yang menurutnya sudah kelewat batas untuk saat ini.
Entah bagaimana ceritanya Rey harus memiliki seorang mama yang sifatnya jauh berbeda dengannya, ia memiliki kepribadian yang pendiam dan memikirkan segala sesuatunya secara matang dan terencana. Berbeda dengan Mamanya yang memiliki kepribadian ceplas-ceplos, cerewet, dan yang paling parah suka mengambil keputusan seenaknya sendiri.
"Aku masih ada pasien yang harus diperiksa Ma, jadi aku pergi dulu."
"Rey, Mama tau hari ini jam kerja kamu hanya sampai jam 3. Kamu tidak usah berkelit lagi dan mencari alasan menghindari Mama, kamu mau jadi anak durhaka?" dengan aura khas ibu negara yang wajib didengarkan dan dipatuhi perkataannya, Reymon hanya bisa menghela napas pasrah lalu melangkah kembali ke arah ibunya yang telah berwajah masam menatapnya.
"Apa lagi Ma?"
"Anterin Nirmala ke makam Ibunya, pokoknya Mama gak mau tau kamu harus mengantarkan calon mantu Mama dengan selamat sampai tujuan. Terus abis itu kalian boleh kencan dulu biar bisa saling mengenal lebih satu sama lain."
Nirmala tentu saja merasa senang mendengar perintah dari mertuanya, eh calon mertua maksudnya. Dia merasa telah memiliki satu pion yang sangat kuat untuk menuntunnya menjadi pemenang. Pemenang di hati dr.Rey tentunya. Merasa telah mendapatkan lampu hijau, Nirmala kini dengan perlahan memajukan dirinya ke arah dr.Rey dan menarik tangannya saat Reymon hanya bisa pasrah menuruti perkataan mamanya.
"Makasih Mama mertua," tak lupa Nirmala memeluk mertuanya sesaat sebelum kembali mengikuti dr.Rey yang telah berjalan lebih dulu meninggalkannya.
Nirmala juga masih sempat meminta nomor WA mama mertuanya sebelum pergi ke makam ibunya, tentu saja ia tidak akan melewatkan kesempatan emas seperti saat ini. Restu ibu itu adalah salah satu hal yang paling utama dalam menjalin sebuah hubungan dan Nirmala sudah berhasil mengantonginya.
"Yes, camer gue gak galak." Nirmala bersorak senang sambil bersenandung kesana-kemari menyusul langkah dr.Rey yang sudah berjalan jauh di depannya.
Tak ia pedulikan lagi tatapan heran orang-orang di sekitarnya yang memandangnya aneh. Yang jelas saat ini Nirmala serasa kejatuhan rejeki nomplok dari langit. Emang ya kalau anak baik, rajin menabung, pinter, plus soleha itu hidupnya selalu dilimpahi berkah sama Yang Maha Kuasa.
Nirmala kini telah menyusul dr.Rey hingga sampai di parkiran mobil, ia dengan segera memasuki mobil dr.Rey saat mengetahui isyarat mata dr.Rey yang menyuruhnya untuk masuk. Demi apapun, ini adalah untuk yang ketiga kalinya Nirmala menaiki mobil pujaan hatinya. Menurut pepatah, kalau orang yang sudah bertemu sebanyak tiga kali itu namanya jodoh. Jadi hal itu juga berlaku saat Nirmala sudah sebanyak tiga kali menaiki mobil dr.Rey, yang itu artinya ia berjodoh dengan dr.Rey dan akan menjadi nyonya Reymon yang akan selalu duduk di mobil ini nantinya.
Memikirkannya malah semakin membuat Nirmala terus-terusan tersenyum sepanjang jalan.
"Kenapa nggak jalan dr.Rey?"
"Kamu pikir saya tau dimana makam Ibu kamu?" dengan nada skeptis Rey menjawab pertanyaan Nirmala yang hanya direspon tepukan jidat gadis itu sambil cengegesan.
"Oh iya lupa, abis dr.Rey mengalihkan duniaku sih."
Reymon hanya memutar bola matanya bosan mendengar gombalan remaja alay di depannya, demi apa dia harus terus-terusan berurusan sama bocah labil seperti Nirmala.
"Di pemakaman Jalan Mawar dokter."
Dengan senyuman manisnya Nirmala menyebutkan alamat makam ibunya pada Reymon, sementara Reymon yang melihatnya hanya membuang muka ke samping saat lagi-lagi mendapati senyuman gadis itu. Reymon tetap mengeraskan hati, meskipun ia tau kalau gadis itu memiliki senyuman yang jujur saja ia akui manis tapi tetap saja dia tidak akan terperdaya karenanya.
Reymon melajukan mobilnya menyusuri jalanan di depannya tanpa banyak berbicara pada Nirmala, ia fokus menyetir tanpa menghiraukan kicauan gadis itu yang terus saja mengoceh atau pun bersenandung. Bersyukurlah suara gadis itu tergolong merdu untuk didengar, jadi dia tidak terlalu keberatan saat Nirmala terus saja bernyanyi selama di perjalanan.
Seketika Reymon tersentak akan pemikirannya, bahwa ia baru saja tanpa sengaja mengatakan bahwa senyuman gadis itu manis dan juga suaranya merdu.
'Sialan!' efek kelelahan mungkin telah membuat otak Reymon sedikit menjadi tidak sinkron dengan isi hatinya, atau mungkin juga isi hatinya perlahan mulai berkhianat dengan akal sehatnya.