Bab 10

1037 Kata
10 "Jelaskan!" desis Biantara, seusai memperlihatkan video dan pesan-pesan di ponselnya. Arista terhenyak. Tatapannya masih terarah pada ponsel di tangannya. Arista kaget, karena dia sudah melupakan video itu yang ikut hilang bersama ponselnya yang dulu. "Ehm, ini video lama. Perayaan wisudaku dan teman-teman akrab 1 kelas," jelas Arista. "Sekelas? Lalu, kenapa ada Sigit di situ? Kalian juga pelukan terus?" desak Biantara. "Itu ... ehm ...." "Kalian nempel terus, Ta. Aku yakin, bukan hanya pelukan. Kalian pasti sudah kissing di depan umum!" "Mas jangan menghakimiku kayak gitu. Aku paham aturan dan nggak berlaku liar, seperti yang Mas tuduhkan." Biantara berdecih. "Aku nggak percaya." Arista tercenung. Dia bingung harus mengatakan apa. Ditambah lagi dengan pelototan Biantara yang membuat Arista terintimidasi. Biantara mengeraskan rahang sambil mengepalkan kedua tangannya. "Aku yakin, jika kalian sekarang sedang CLBK!" "Enggak, Mas. Kami cuma teman!" kukuh Arista. "Bohong!" "Aku ngomong jujur." "Aku nggak yakin itu!" Arista menggertakkan gigi. "Mas melupakanku. Sekarang nuduh aku kayak gitu. Egois!" hardiknya sembari membulatkan mata. "Aku sudah nahan sabar dari sebulan lebih. Menekan cemburu saat Mas maunya disuapi Kak Rifda. Menelan kekecewaan, karena tak kunjung diingat. Sekarang, aku dituduh yang nggak-nggak, maunya apa?" desak Arista dengan nada suara tinggi. Selama beberapa saat suasana hening. Arista berusaha keras untuk menahan diri hingga tidak melampiaskan kekesalannya. Sementara Biantara masih terpaku, karena tidak menduga bila Arista membalas kemarahannya dengan hal serupa. "Kalau Mas nggak percaya denganku, lebih baik aku pergi, dan kita selesaikan pernikahan sampai di sini," ungkap Arista yang mengagetkan Biantara. "Aku sudah capek harus mengalah terus. Disudutkan kayak gini, bikin aku makin yakin, kalau Mas memang nggak cinta sama aku!" geram Arista. "Kalau memang cinta, Mas nggak akan melupakanku. Semua kenangan kita juga nggak akan hilang," tambah Arista dengan suara bergetar. "Aku sudah merasa jika Mas melamarku hanya karena bosan hidup sendiri. Bukan karena benar-benar cinta. Tapi, karena bo-doh dan naif, aku percaya begitu saja, dan menikah dalam waktu singkat." "Sekarang, terbukti. Aku dilupakan karena nggak dicintai. Dan aku nggak sanggup lagi bertahan menghadapi Mas yang egois!" sentak Arista, sebelum air matanya mengucur deras. Biantara bergerak maju untuk memeluk Arista, tetapi perempuan itu mundur dan langsung menghindar. Biantara termangu ketika Arista keluar dari ruang kerja sambil menghempaskan pintu. Biantara terpegun sejenak, kemudian dia mengejar Arista yang telah naik ke lantai dua. Biantara mencoba membuka pintu kamar utama, tetapi benda itu dikunci dari dalam. Berbagai kalimat bujukan Biantara sama sekali tidak dihiraukan Arista. Dia menyalakan musik dengan suara keras, sembari meneruskan tangisan sambil memeluk guling. Arista kecewa, karena tidak dipercayai Biantara. Hatinya yang telah rapuh akhirnya benar-benar patah. Arista tidak mau lagi terus bertahan menghadapi keegoisan Biantara, dan bertekad untuk pergi, serta mengakhiri pernikahan mereka. *** Sepanjang malam itu Biantara gelisah. Dia tidak bisa tidur, karena memikirkan Arista. Perempuan itu sudah memblokir nomor ponselnya, dan sama sekali tidak mau membuka pintu. Meskipun Biantara sudah berulang kali membujuk. Menjelang subuh, barulah Biantara terlelap. Dia sama sekali tidak mendengar bunyi pintu garasi dan pagar terbuka, lalu seunit motor keluar dari rumah itu. Puluhan menit terlewati. Biantara terbangun karena bunyi gedoran di pintu. Dia meminta Warshif masuk, sembari berusaha membuka matanya yang memberat. "Pak, Ibu pergi," ujar Warshif. "Pergi? Ke pasar?" tanya Biantara. "Bukan. Ibu pergi bawa koper." Biantara terkesiap. "Koper?" desaknya sembari bangkit duduk. "Ya. Diah yang ngecek ke kamar Ibu. Bajunya juga nyaris dibawa semua." Biantara terperangah. Pikirannya tiba-tiba buntu, karena berita yang mengejutkan itu. "Pak, apa aku mesti nanya ke satpam?" tanya Warshif. "Ehm, ya. Mungkin mereka ada yang tahu, Ibu pergi ke mana," sahut Biantara. "War, kamu sudah coba telepon Ibu?" desaknya. "Sudah, tapi nggak masuk. Pake hape Diah, juga nggak bisa." Biantara mendengjus pelan. "Dia memblokir nomorku." "Bapak berantem sama Ibu?" "Ehm, ya. Dia ...." Biantara terdiam. Dia mengingat ucapan Arista dan seketika mulai panik. "Punya nomor telepon Nela dan Safira?" tanyanya. "Ada." "Telepon mereka. Mungkin Rista ada di apartemen mereka." Selama satu jam berikutnya, Biantara dan Warshif sibuk menelepon banyak orang, untuk mencari Arista. Namun, tidak ada seorang pun yang tahu ke mana perempuan tersebut. Matahari bergerak cepat menuju sore. Berita kepergian Arista telah tersebar di seputar kediaman Biantara. Yushar dan teman-temannya turut mencari Arista. Namun, hingga matahari nyaris tenggelam di ufuk barat, perempuan tersebut tidak juga diketahui keberadannya. Sementara itu di tempat berbeda, orang yang dicari, tengah memandangi langit senja yang kian meredup. Bulir bening masih luruh dari sepasang mata bermanik cokelat itu, karena hatinya masih sedih. Arista sengaja bersembunyi di tempat itu. Dia yakin tidak akan ada yang menemukannya di sana, karena tempat tersebut tersembunyi. Azan magrib bergema dari masjid terdekat. Arista menghentikan tangisan, lalu bangkit berdiri. Dia jalan gontai ke kamar mandi untuk mengambil wudu. Sekian menit berlalu. Perempuan berambut panjang itu telah bersimpuh di sajadah biru. Seusai salat, Arista mengadu pada Sang Khalik, tentang kegundahan hatinya. Panggilan dari luar kamar, memutus untaian doa Arista. Dia menyudahi berdoa, kemudian bangkit dan melangkah ke pintu. "Teteh dipanggil Bunda," cakap Revita, Adik sepupu Arsita. "Ya, bentar lagi aku ke sana," balas Arista. "Teteh kunaon nangis terus?" Revita memegangi pipi tetehnya yang basah. Arista tidak sanggup menjawab, karena dia kembali menangis. Revita memasuki kamar paviliun itu dan memeluk Arsita yang sesenggukan. "Teteh cerita ke aku, ya?" pinta Revita. "Aku, kan, psikolog. Mungkin bisa bantu," lanjutnya sembari mengusap punggung sang teteh yang masih menangis. "Ini tentang pernikahan. Yakin bisa bantu?" tanya Arista sambil mengurai dekapan. "Aku memang bukan penasihat perkawinan, bahkan aku juga belum nikah. Tapi, seenggaknya aku bisa mendengarkan keluhan, supaya hati Teteh plong." Arista mengusap wajahnya dengan mukena. "Duduk. Dongengku panjang." Kedua perempuan yang sama-sama bermata besar itu, duduk berhadapan di tepi kasur. Arista memulai kisahnya dari peristiwa kecelakaan yang menimpa Biantara. Hingga pertengkaran mereka kemarin malam. Revita sama sekali tidak menyela dan membiarkan Arista terus mengoceh. Gadis berusia 24 tahun itu memahami, jika Arista hanya ingin didengarkan dan bukan diberikan solusi. Revita bersimpati akan nasib Kakak sepupunya tersebut. Meskipun mereka bukan saudara kandung, tetapi mereka sangat dekat. Terutama saat Arista pindah dari Bogor ke Jakarta, untuk menempuh kuliah di kota itu 10 tahun silam. Gadis berbaju cokelat muda itu mengambil tisu dari meja, yang digunakannya untuk mengusap air mata sang teteh yang kembali sesenggukan. Kendatipun belum menikah, tetapi Revita memahami, bila rumah tangga Arista tengah dalam kondisi tidak baik. Revita terkejut, kala Arista menyebutkan keputusannya untuk bercerai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN