08. Dari Balik Celah Pintu

1041 Kata
Malam itu, gerimis tipis mulai membasahi aspal jalanan. Ardi baru saja kembali dari minimarket di ujung jalan. Ia terpaksa keluar sebentar karena Mama Lian mengeluhkan persediaan rokoknya yang habis, sekaligus Ardi ingin membeli beberapa perlengkapan tambahan agar malam panjang mereka semakin aman dan nyaman. Pikirannya masih dipenuhi oleh bayangan tubuh Mama Lian yang tadi sore meronta nikmat di atas meja makan. Adrenalin dan sisa-sisa gairah membuatnya terburu-buru. Saat memarkirkan mobilnya kembali ke dalam garasi, Ardi melakukan kecerobohan fatal yang tak ia sadari. Karena terlampau bernafsu untuk segera kembali ke pelukan mertuanya, ia hanya menutup pagar secara manual tanpa memastikan gerendelnya terkunci sempurna. Bahkan, pintu utama rumah pun hanya ia rapatkan tanpa memutar kunci. Lampu ruang tamu sengaja dipadamkan, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu hias di sudut ruangan dan pendar lampu dapur yang jauh di belakang. Mama Lian sudah menunggunya di sofa ruang tengah, hanya mengenakan lingerie sutra tipis berwarna hitam yang hampir tidak menutupi apa-apa. "Lama sekali, Sayang..." bisik Mama Lian saat Ardi meletakkan kantong belanjaannya di meja. "Jalanan licin, Ma. Tapi sekarang aku sudah di sini," jawab Ardi sambil menanggalkan jaketnya. Ardi langsung menarik Mama Lian ke dalam pelukannya. Gairah yang sempat terputus karena urusan ke minimarket kini meledak kembali dengan kekuatan dua kali lipat. Di ruang tengah yang sunyi itu, hanya terdengar suara napas yang memburu dan gesekan pakaian yang dilepaskan. Sebuah mobil sedan putih berhenti pelan di depan pagar rumah. Itu adalah Tante Evelyn, kakak ipar Mama Lian yang tadi sore meninggalkan pesan di mesin penjawab. Evelyn adalah tipe wanita yang gigih dan sedikit ikut campur. Merasa khawatir karena adik iparnya tidak membalas telepon, ia memutuskan untuk mampir lagi sebelum kembali ke rumahnya di kawasan sebelah. Ia turun dari mobil sambil membawa tas kecil berisi oleh-oleh. Ia terkejut melihat pagar rumah yang sedikit terbuka. "Lian? Kok pagarnya nggak dikunci?" gumam Evelyn heran. Ia mendorong pagar itu perlahan. Evelyn melangkah melewati halaman yang luas. Ia melihat lampu garasi menyala, menandakan mobil Ardi ada di sana. Oh, Ardi ada di rumah, pikirnya. Namun ia merasa aneh karena seluruh lampu bagian depan padam. Perasaan curiganya mulai bangkit. Sebagai wanita yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, Evelyn merasa ada yang tidak beres. Ia segera menuju ke ruang keluarga, menuju ke arah kamar Lian. Ia terkejut melihat pintu yang sedikit menganga, hanya menyisakan celah beberapa sentimeter. Evelyn bermaksud memanggil nama Lian, namun suaranya tertahan di tenggorokan saat telinganya menangkap suara-suara yang sangat tidak asing. Suara desahan. Suara rintihan nikmat yang sangat parau. Dan itu adalah suara Lian, adik iparnya yang selama ini ia kenal sebagai wanita yang sangat menjaga kehormatan mendiang suaminya. Jantung Evelyn berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, ia mendekatkan wajahnya ke celah pintu yang terbuka itu. Matanya menyipit, berusaha memfokuskan penglihatan pada kegelapan ruang tengah yang hanya diterangi sedikit cahaya dari arah dapur. Dan di sanalah, di atas kasur mewah, Evelyn melihat pemandangan yang hampir membuatnya pingsan. Ia melihat punggung kokoh Ardi yang sedang bergerak liar. Dan di bawahnya, ia melihat kaki mulus Lian melingkar erat di pinggang Ardi. Evelyn bisa melihat wajah Lian yang mendongak ke atas, matanya terpejam dengan ekspresi kenikmatan yang begitu dalam. Sebuah ekspresi yang belum pernah Evelyn lihat bahkan saat mendiang kakaknya masih hidup. "Astaga... Lian... Ardi..." bisiknya hampir tanpa suara. Tangannya menutup mulut rapat-rapat agar tidak berteriak. Tubuhnya gemetar hebat. Ia terpaku dan rasa tidak percaya. Ini adalah pengkhianatan yang paling menjijikkan yang pernah ia saksikan. Bagaimana mungkin Ardi, suami dari keponakannya sendiri, bisa melakukan hal seperti itu dengan ibu mertuanya? Dan bagaimana mungkin Lian, wanita yang selalu ia banggakan karena kesetiannya, bisa serendah itu? Evelyn ingin mendobrak pintu itu dan memaki mereka habis-habisan. Namun akal sehatnya menahan langkahnya. Jika ia masuk sekarang, keributan akan pecah dan nama baik keluarga besar mereka akan hancur dalam semalam. Tere, keponakannya yang malang, akan hancur berkeping-keping. Dengan tangan yang masih gemetar, Evelyn meraba tasnya. Ia mengeluarkan ponselnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia mengarahkan kamera ponselnya ke arah celah pintu. Ia harus punya bukti. Ia tidak bisa hanya sekadar bicara tanpa bukti yang kuat melawan Lian yang sangat pandai bersilat lidah. Evelyn merekam perbuatan Lian dan Ardi dari luar. Ardi tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia merasa seperti sedang diawasi. Instingnya sebagai pria yang sedang melakukan perbuatan terlarang mendadak menjadi sangat tajam. "Ada apa, Sayang?" bisik Mama Lian, napasnya masih tersengal-sengal di bawah tubuh Ardi. "Sepertinya ada seseorang," Ardi menoleh ke arah pintu utama. Mama Lian tertawa kecil, ia menarik wajah Ardi agar kembali fokus padanya. "Itu cuma suara hujan, Sayang. Jangan jadi penakut. Teruskan..." Ardi mencoba mengabaikan perasaannya, namun kegelisahan itu tidak mau hilang. Ia perlahan bangkit dari atas tubuh Mama Lian, hanya mengenakan celana pendeknya yang belum sempat ia lepas sepenuhnya. "Aku cek dulu, Ma. Perasaanku nggak enak. Sepertinya, aku lupa kunci pintu tadi," ucap Ardi pendek. Mama Lian mendesah kecewa. "Cepat kembali, ya." Ardi melangkah dengan sangat pelan, tanpa suara, menuju pintu depan. Evelyn yang melihat Ardi mulai bergerak menuju arah pintu langsung panik. Ia segera berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju mobilnya, tidak peduli lagi dengan tas oleh-olehnya yang terjatuh di teras rumah. Ia berhasil masuk ke dalam mobil dan mematikan lampunya sebelum Ardi membuka pintu. Ardi membuka pintu utama dan melangkah ke teras. Ia melihat sekeliling. Halaman rumah tampak sepi, hanya ada suara hujan yang semakin deras. Namun, matanya tertuju pada sebuah benda di lantai teras. Sebuah tas kecil berwarna emas. Ardi memungut tas itu. Jantungnya berdegup kencang saat ia mengenali gantungan kunci yang ada di tas tersebut. Itu adalah tas milik Tante Evelyn. "Sial!" umpat Ardi rendah. Ia menoleh ke arah jalan raya, namun ia hanya melihat bayangan sebuah mobil yang menjauh dengan cepat di tengah kegelapan malam. Ardi kembali masuk ke dalam dengan wajah pucat pasi. Mama Lian yang melihat ekspresi Ardi langsung bangkit dan merapatkan jubah mandinya. "Ada apa, Ardi? Kenapa wajahmu seperti itu?" Ardi menunjukkan tas emas itu. "Tante Evelyn, Ma. Dia tadi ke sini. Dan aku rasa... dia melihat kita." Mama Lian tertegun. Rokok yang baru saja ia nyalakan jatuh dari tangannya. Dunia mereka yang penuh gairah dalam sekejap berubah menjadi medan ranjau yang siap meledak kapan saja. Rahasia yang mereka jaga dengan taruhan nyawa kini telah berpindah ke tangan orang lain. "Kita harus melakukan sesuatu, Ardi. Sekarang juga," ucap Mama Lian dengan suara dingin yang dipenuhi ketakutan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN