Hujan belum reda saat Ardi menutup pintu utama. Tangannya masih sedikit gemetar. Bunyi klik dari kunci pintu itu terasa memekakkan telinga—sebuah tanda telak kalau rasa aman mereka baru saja habis. Semuanya retak.
Di ruang tengah, Mama Lian sudah berdiri tegak. Jubah mandinya terikat rapat, menyembunyikan sisa-sisa gairah yang tadi sempat meluap. Wajah yang biasanya tenang itu kini menegang, matanya tak lagi sayu, melainkan tajam dan penuh perhitungan.
“Dia lihat seberapa banyak?” tanya Mama Lian, langsung menusuk ke inti.
Ardi menggeleng pelan. Ia meletakkan tas emas milik Evelyn di atas meja dengan gerakan kaku.
“Entah. Tapi yang jelas, cukup untuk menghancurkan kita,” jawabnya jujur.
Seketika, hening mencekam. Bukan keheningan hangat yang mereka nikmati tadi, melainkan sunyi yang dingin—seperti suasana di ruang sidang sesaat sebelum vonis dijatuhkan.
Mama Lian mulai berjalan mondar-mandir. Jemarinya mengetuk dagu, tanda otaknya sedang bekerja keras. Perubahannya begitu drastis; bukan lagi wanita yang hanyut dalam asmara, tapi kembali menjadi sosok ibu, janda kaya, dan penguasa keadaan yang tak suka kehilangan kendali.
“Kita tidak boleh panik,” ucapnya akhirnya. “Orang seperti Evelyn... dia tidak akan langsung bicara ke siapa-siapa.”
Ardi menatapnya tak percaya. “Kenapa?”
Mama Lian berhenti melangkah. Ia menatap Ardi lurus-lurus.
“Karena kalau niatnya cuma mau menghancurkan kita, dia sudah masuk dan berteriak tadi. Tapi dia memilih pergi. Itu artinya… dia mau sesuatu.”
Kalimat itu menggantung berat di udara.
"Sesuatu."
Ardi langsung menangkap maksudnya. Dadanya terasa sesak, seolah oksigen di ruangan itu mendadak hilang.
“Dia bakal memeras kita…” gumam Ardi.
Mama Lian diam. Tapi sorot matanya sudah cukup jadi jawaban. Ardi meraih ponselnya. Telapak tangannya mulai berkeringat dingin.
Layar menyala. Masih kosong, tidak ada pesan baru. Namun, kekosongan itu justru membuatnya semakin gelisah.
“Kenapa dia belum kirim apa-apa?” tanya Ardi.
“Karena dia sedang menikmati posisi ini,” sahut Mama Lian dingin. “Dia tahu dia yang pegang kendali sekarang. Dan orang seperti dia… paling suka membuat lawannya mati perlahan karena menunggu.”
Ardi mengumpat tertahan.
Untuk pertama kalinya sejak permainan ini dimulai, ia tak lagi merasa seperti raja di rumah ini. Ia merasa seperti mangsa yang sedang diincar dari kegelapan.
Waktu merangkak sangat lambat. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Sisa-sisa gairah tadi benar-benar padam, digantikan oleh ketegangan yang menyesakkan. Mama Lian duduk di sofa, menyesap rokok keduanya malam itu. Asapnya berputar-putar di udara, menciptakan bayangan kelabu.
Ardi berdiri terpaku di dekat jendela, sesekali mengintip ke luar layaknya seorang buronan yang takut tertangkap.
Dan tiba-tiba...
Buzz. Ponsel Ardi bergetar kuat di genggaman.
Keduanya menoleh serentak. Fokus mereka terkunci pada layar yang menyala terang. Nomor tidak dikenal. Jantung Ardi berdegup kencang saat jempolnya menggeser notifikasi itu.
Unknown: Bagus ya, permainan kalian malam ini.
Tubuh Ardi seketika menegang. Mama Lian langsung beranjak, berjalan cepat mendekat ke arahnya.
“Buka semuanya,” perintah Mama Lian tegas.
Ardi menelan ludah yang terasa pahit, lalu membuka rentetan pesan berikutnya.
Unknown: Aku tidak menyangka, Lian. Dan kamu, Ardi… lebih berani dari yang aku kira.
Ponsel itu kembali bergetar.
Unknown: Tenang saja. Video ini aman di tanganku. Untuk sekarang.
Ardi memejamkan mata sejenak, napasnya memburu.
Sebuah Video. Berarti dugaannya benar—Evelyn tidak cuma melihat. Dia merekam semuanya.
“Balas,” ucap Mama Lian pendek.
Ardi menoleh cepat. “Balas apa?”
“Jangan terlihat takut. Jangan biarkan dia tahu kita lemah.”
Ardi mengangguk pelan, mencoba menenangkan jemarinya yang bergetar untuk mulai mengetik.
Ardi: Apa yang Tante mau?
Tak butuh waktu lama bagi lawan di seberang sana untuk menyahut.
Unknown: Pintar. Langsung ke inti. Aku suka itu.
Ardi seolah bisa merasakan seringai dingin Evelyn di balik pesan tersebut.
Unknown: Besok siang. Kita bertemu. Kamu harus datang sendirian. Aku kirim lokasi nanti.
Ardi membaca pesan itu berulang kali.
“Dia mau ketemu denganku, Ma.” ucapnya dengan suara serak.
Mama Lian berpikir sejenak, otaknya menimbang segala kemungkinan. “Bagus. Berarti dia belum mau meledakkan semuanya sekarang.”
“Kalau dia minta sesuatu yang nggak masuk akal?” tanya Ardi cemas.
Mama Lian mendekat, menatap Ardi dengan tatapan yang sangat dalam. “Kalau kita mau selamat, tidak ada lagi istilah ‘nggak masuk akal’, Ardi.”
Kalimat itu terdengar begitu dingin, realistis, sekaligus mengerikan. Ponsel itu kembali bergetar untuk terakhir kalinya.
Unknown: Oh ya… Jangan pernah berpikir untuk berbohong padaku. Aku tahu kalian berdua di rumah itu sekarang sedang merencanakan sesuatu.
Ardi dan Mama Lian saling pandang dalam keheningan yang menyesakkan. Rasanya, rumah mewah ini tak lagi memberikan perlindungan. Tempat ini bukan lagi milik mereka.
Malam itu, tidur menjadi hal yang mustahil. Ardi hanya terduduk di ujung ranjang, menatap ponselnya yang kini terasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Sementara di balkon, Mama Lian berdiri mematung sendirian, menatap hujan yang seolah enggan berhenti.
Di kepalanya, sebuah rencana mulai tersusun. Ini bukan lagi sekadar menyembunyikan rahasia. Ini sudah berubah menjadi perang terbuka.