17. Candu

1012 Kata
Ardi memarkir mobil di depan rumah dengan tangan yang masih gemetar. Ia menatap kunci kecil di telapak tangannya—benda logam dingin yang terasa seberat bongkahan dosa. Cepat-cepat ia menyelipkannya ke dalam saku kecil di dompet. Menarik napas panjang, memaksakan oksigen masuk ke paru-parunya yang sesak, lalu keluar dari mobil. Lampu teras sudah menyala. Di dalam, ia bisa melihat bayangan dua wanita yang paling berpengaruh dalam hidupnya saat ini. Yang satu adalah pelabuhannya, yang lain adalah nahkoda badainya. Begitu pintu terbuka, aroma masakan menyambutnya. Tere sedang menata meja makan, wajahnya cerah. "Mas! Kok lama banget? Vendornya susah ditemui ya?" Tere mendekat, langsung memeluk pinggang Ardi. Ardi membeku sekejap sebelum tangannya bergerak membalas pelukan itu. "Iya, Re. Banyak mau mereka. Mas sampai pusing." "Kasihan suamiku," Tere mengecup pipi Ardi. "Ya sudah, mandi dulu sana. Aku sama Mama sudah nungguin buat makan malam." Ardi melirik ke arah meja makan. Mama Lian sedang duduk di sana, memegang ponsel dengan tenang. Mata mereka bertemu. Tidak ada senyum di wajah Mama Lian, hanya tatapan menuntut laporan. Selesai makan malam yang terasa seperti eksekusi pelan, Tere naik ke atas untuk mandi. Itulah saat yang ditunggu. Ardi mendekat ke arah Mama Lian yang masih duduk di meja makan, pura-pura membereskan piring. "Dia kasih ini," bisik Ardi sambil menunjukkan kunci kecil itu sekilas. Mata Mama Lian berkilat. "Alamat?" "Ada di gantungan kuncinya. Besok malam, jam sebelas. Sendirian. Tanpa ponsel." Mama Lian menyunggingkan senyum kemenangan yang tipis. "Dia sudah terpancing. Dia ingin ruang privat di mana dia merasa memiliki kontrol total atas dirimu. Itu wilayah amannya, tapi juga akan jadi lubang kuburnya." "Ma, ini semakin gila. Tanpa ponsel artinya aku tidak bisa lapor kalau sesuatu terjadi." Mama Lian berdiri, melangkah mendekat hingga suara bisikannya terdengar tajam di telinga Ardi. "Justru itu poinnya. Kamu harus masuk ke sana sebagai pria yang benar-benar menyerah. Biarkan dia melakukan apa pun. Biarkan dia merasa sudah memilikimu sepenuhnya. Semakin dia merasa menang, semakin banyak informasi yang akan dia bocorkan secara tidak sadar." "Dan kalau dia minta lebih dari sekadar bicara?" Mama Lian menatap Ardi dengan tatapan yang sulit diartikan. Dingin dan tak berjarak. "Lakukan apa pun yang perlu dilakukan untuk menjaga rahasia kita tetap terkubur, Ardi. Jangan jadi lemah sekarang." Ardi mengepalkan tangan di bawah meja. Ia merasa seperti p*****r yang dijual oleh mucikarinya sendiri—dan ironisnya, mucikari itu adalah ibu mertuanya. Malam itu, Ardi tidak bisa tidur. Di sampingnya, Tere mendengkur halus, tidur dengan ketenangan orang yang tak punya beban. Ardi menatap langit-langit kamar. Setiap detak jarum jam di dinding terdengar seperti langkah kaki yang mendekat ke arah jurang. Ia merasa terasing di rumahnya sendiri. Setiap sudut ruangan kini terasa seperti panggung sandiwara. Senyum Tere adalah duri, dan keberadaan Mama Lian adalah racun yang perlahan membunuh nuraninya. Pagi harinya, waktu berjalan terlalu cepat. Ardi melewati hari seperti zombi. Ia berangkat ke kantor hanya untuk duduk melamun di depan laptop. Pikirannya tersangkut pada kunci kecil di dompetnya. Jam sebelas malam. Tanpa ponsel. Pukul sepuluh malam, rumah sudah sepi. Tere sudah tidur setelah Ardi berbohong ada pekerjaan mendadak di kantor yang harus ia selesaikan malam itu juga. "Mas pergi dulu ya, Re," pamit Ardi di ambang pintu kamar yang gelap. "Hati-hati, Mas. Jangan terlalu larut," gumam Tere setengah sadar. Ardi menutup pintu. Di koridor, ia berpapasan dengan Mama Lian. Wanita itu berdiri di sana dengan daster sutranya, tampak seperti hantu yang mengawasi mangsanya. "Jangan bawa perasaan ke sana," ucap Mama Lian datar. "Bawa insting bertahan hidupmu." Ardi tidak menjawab. Ia terus melangkah turun, keluar dari rumah, dan memacu mobilnya menuju kegelapan. Alamat itu membawanya ke sebuah kompleks apartemen tua yang tersembunyi di balik deretan ruko kosong. Ardi memarkir mobil agak jauh, meninggalkan ponselnya di bawah jok sesuai instruksi. Ia hanya membawa kunci itu. Unit yang dituju ada di lantai tujuh. Koridornya bau lembap dan cahaya lampunya temaram. Ardi memasukkan kunci ke lubang pintu nomor 709. Klik. Pintu terbuka. Ruangan di dalamnya hanya diterangi oleh lampu berdiri di sudut ruangan, menciptakan bayangan panjang yang dramatis. Evelyn duduk di sofa panjang, memegang gelas berisi cairan berwarna amber. Ia mengenakan terusan merah yang kontras dengan kegelapan ruangan. "Kamu datang," ucap Evelyn rendah. Ardi menutup pintu di belakangnya. "Aku sudah di sini. Tanpa ponsel. Sendirian." Evelyn berdiri, meletakkan gelasnya, dan berjalan mendekat. Langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet tebal. Ia berhenti tepat di depan Ardi, mendongak menatap wajah pria itu dengan tatapan lapar. "Kamu terlihat ketakutan, Ardi. Aku bisa melihat jakunmu naik turun," jemari Evelyn menyentuh leher Ardi. "Apa yang kamu pikir akan kulakukan padamu?" "Aku tidak tahu. Dan aku tidak peduli lagi," jawab Ardi, mencoba mengikuti skenario Mama Lian. "Aku lelah berlari. Aku lelah sembunyi. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan." Evelyn tertawa, suara yang terdengar merdu namun beracun. "Menyerah ya? Menarik. Tapi aku tidak ingin kamu menyerah karena terpaksa. Aku ingin kamu menyerah karena kamu menginginkannya." Ia menarik kerah kemeja Ardi, memaksa pria itu menunduk. "Kamu tahu kenapa aku memilihmu? Karena di balik wajah yang setia ini, ada kegelapan yang sama denganku. Kamu menikmati permainan ini, kan? Ketegangan ini... adrenalin ini. Ini jauh lebih hidup daripada pernikahan membosankanmu dengan wanita lugu itu." Ardi ingin membantah, tapi lidahnya kelu. Sebagian kecil dari dirinya—bagian yang paling busuk—mulai mengakui bahwa ada sensasi aneh yang merayap di bawah kulitnya. "Malam ini," bisik Evelyn di bibir Ardi, "kita tidak akan bicara soal video itu. Kita tidak akan bicara soal Mama Lian. Malam ini, kamu hanya milikku. Tanpa aturan. Tanpa batas." Evelyn mendorong Ardi ke arah sofa. Ardi terjatuh, dan dalam hitungan detik, Evelyn sudah berada di atasnya. Tekanan itu nyata. Godaan itu nyata. Dan ancaman di belakangnya jauh lebih nyata. Ardi memejamkan mata. Ia membiarkan tangan Evelyn menjelajahi tubuhnya. Di kepalanya, ia mencoba membayangkan wajah Tere, tapi yang muncul justru wajah dingin Mama Lian. Di luar, guntur menggelegar. Hujan mulai turun membasahi bumi. Ardi mulai menyadari bahwa ia tidak sedang menjebak Evelyn. Ia sedang tenggelam bersamanya. Permainan ini bukan lagi soal siapa yang memegang kendali. Ini soal siapa yang paling cepat hancur. Dan malam itu, Ardi merasakan dirinya hancur dengan cara yang paling mengerikan: ia mulai menikmatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN