"Jangan gila, Ma. Sendirian? Itu jebakan," bisik Ardi. Suaranya serak, matanya melotot menatap layar ponsel yang masih menyala.
Mama Lian tidak bergeming. Ia menuangkan sisa teh yang sudah mendingin ke dalam cangkir, gerakannya sangat presisi. "Semua ini jebakan sejak awal, Ardi. Bedanya, sekarang kita yang memilih untuk melangkah masuk."
"Dia bisa melakukan apa saja kalau aku sendirian. Dia punya bukti, dia punya kontrol. Kalau aku datang dan dia memutuskan untuk menghancurkan kita saat itu juga, selesai!"
Mama Lian menaruh cangkirnya. Bunyi denting porselen di atas meja kaca terdengar seperti vonis. "Dia tidak akan menghancurkanmu sekarang. Dia sedang menikmati ini. Dia sedang merasa menjadi Tuhan atas hidupmu. Dan Tuhan tidak akan membunuh mainan favoritnya secepat itu."
Ardi mengusap wajahnya kasar. "Lalu aku harus apa? Datang, menyerahkan diri, dan bilang 'silakan hancurkan aku'?"
Mama Lian mendekat. Ia mencengkeram lengan Ardi dengan kekuatan yang mengejutkan. "Tidak. Kamu datang, kamu tunduk, tapi kamu buat dia merasa bahwa kamu adalah satu-satunya orang yang memahaminya. Buat dia merasa menang. Berikan dia makan sampai dia kenyang dan lengah."
"Ma, ini menjijikkan."
"Yang menjijikkan adalah kalau Tere tahu suaminya dan ibunya berbagi ranjang saat dia bekerja." Potong Mama Lian dingin. Tatapannya mematikan. "Pilih satu, Ardi. Harga diri atau rahasia ini tetap terkubur."
Ardi bungkam. Oksigen di ruangan itu seolah habis.
Pagi berikutnya datang dengan kecepatan yang menyakitkan.
Tere sibuk di dapur, menyiapkan sarapan dengan energi yang meluap-luap. Ia menceritakan rencananya untuk berbelanja, mengunjungi kerabat, dan menghabiskan waktu bersama Ardi akhir pekan ini. Semua rencana itu terdengar seperti lonceng kematian bagi Ardi.
"Mas, kok sarapannya cuma diaduk-aduk?" Tere menyentuh punggung tangan Ardi.
Ardi tersenyum kecut. "Agak mual, Re. Mungkin kurang tidur."
"Kebanyakan begadang bahas kerjaan?" Tere terkekeh, lalu menoleh ke arah Mama Lian yang duduk tenang di seberang mereka.
Mama Lian tersenyum hangat—senyum yang membuat bulu kuduk Ardi berdiri. "Iya, Re. Masmu ini memang terlalu rajin. Makanya hari ini Mama minta dia selesaikan satu urusan terakhir di luar, biar nanti malam kita bisa santai tanpa gangguan."
Ardi menegang. Mama Lian baru saja memberinya jalan keluar sekaligus mendorongnya ke jurang.
"Urusan apa lagi, Mas?" tanya Tere.
"Cuma... cek vendor. Sebentar kok," jawab Ardi pendek. Ia tidak berani menatap mata istrinya.
Pukul sepuluh pagi. Ardi berada di dalam mobil, melaju menuju titik koordinat yang dikirimkan oleh nomor misterius itu. Sebuah gedung perkantoran tua di pinggiran yang jauh dari keramaian pusat. Hanya beton dan aspal.
Ponselnya bergetar.
Unknown: Lantai 4. Ruangan paling ujung. Jangan terlambat. Aku benci orang yang tidak menghargai waktu.
Ardi mematikan mesin mobil. Tangannya basah oleh keringat dingin. Ia teringat kata-kata Mama Lian. Tapi bagaimana bisa dia memanipulasi monster yang memegang semua talinya?
Ia melangkah masuk. Lift gedung itu berderit, suaranya seperti geraman besi tua yang sekarat. Begitu sampai di lantai empat, sunyi menyambutnya. Hanya ada satu lampu neon yang berkedip di ujung lorong.
Ardi berjalan pelan. Detak jantungnya lebih berisik daripada langkah kakinya. Di depan pintu kayu kusam itu, ia berhenti sejenak. Menarik napas, lalu mendorongnya terbuka.
Ruangan itu luas, namun kosong. Hanya ada satu kursi di tengah-tengah, menghadap ke jendela besar yang menampilkan pemandangan langit mendung. Dan di sana, duduk seorang wanita dengan pakaian serba hitam.
Evelyn.
Ia berbalik perlahan. Senyumnya tipis, tajam seperti silet. "Tepat waktu. Aku suka."
Ardi berdiri tiga meter darinya. "Apa yang kamu mau?"
Evelyn berdiri, berjalan mendekat dengan langkah pelan yang penuh intimidasi. "Pertanyaan yang salah, Ardi. Harusnya kamu tanya, 'Apa yang bisa kulakukan agar kamu tidak mengirim video itu ke istrimu sekarang?'"
Ia mengangkat ponselnya, memamerkan layar yang menunjukkan potongan gambar dua malam lalu. Ardi merasa dunianya miring.
"Mama Lian menyuruhmu ke sini?" tanya Evelyn, suaranya rendah dan serak. "Wanita tua itu pasti sedang menyusun rencana di rumah. Dia pikir dia bisa mengendalikan situasi ini."
Ardi mengingat instruksi Mama Lian.
"Ini bukan soal dia," ucap Ardi, suaranya sedikit bergetar namun tetap stabil. "Ini soal aku. Aku yang datang ke sini. Aku yang ingin bicara."
Evelyn mengangkat alis. "Oh ya? Ingin bicara atau ingin memohon?"
"Ingin mengerti," Ardi melangkah maju satu tindak. "Kenapa aku? Kenapa harus sejauh ini?"
Evelyn tertawa kecil, suara tawa yang tidak sampai ke mata. "Karena kamu terlihat sangat suci, Ardi. Dan tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat sesuatu yang suci hancur berkeping-keping."
Ia kini berada tepat di depan Ardi. Jarak mereka hanya beberapa senti. Evelyn mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh rahang Ardi, lalu turun ke kerah kemejanya.
"Kamu tahu apa yang paling menarik dari kamu?" bisik Evelyn. "Ketakutanmu. Aku bisa menciumnya. Dan itu membuatku sangat... bersemangat."
Ardi menahan napas. Ia membiarkan tangan Evelyn bergerak. Sesuai rencana Mama Lian. Jangan melawan. Biarkan dia merasa memiliki kendali penuh.
"Kalau begitu, ambillah," ucap Ardi rendah. "Kontrol aku sesukamu. Tapi jangan libatkan Tere. Dia tidak tahu apa-apa."
Evelyn mematung. Matanya menyipit, mencari tanda-tanda kebohongan di wajah Ardi. "Kamu mengorbankan dirimu untuknya? Menggemaskan."
"Bukan mengorbankan diri. Aku cuma menyerah," Ardi menatap mata Evelyn dalam-dalam. "Kamu menang, Evelyn. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Sekarang, apa instruksi selanjutnya?"
Keheningan jatuh di antara mereka. Evelyn tampak terkejut dengan kepasrahan Ardi. Selama beberapa detik, topeng kekuatannya retak. Ia tidak menyangka umpan itu akan menyerah secepat ini.
Dan di situlah Ardi melihatnya. Sedikit keraguan. Sedikit rasa puas yang berlebihan. Persis seperti yang diprediksi Mama Lian.
Evelyn merogoh saku kemeja Ardi, memasukkan sesuatu ke sana. Sebuah kunci kecil. "Besok malam. Jam sebelas. Datang ke alamat yang ada di gantungan kunci itu. Sendirian lagi. Dan jangan bawa ponsel."
"Untuk apa?"
Evelyn mengusap bibir Ardi dengan ibu jarinya. "Untuk membuktikan seberapa jauh kamu bisa menyerah padaku."
Ia berbalik, berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi. Begitu pintu tertutup, Ardi lemas. Ia bersandar pada tembok, mencoba menenangkan napasnya yang memburu.
Ia meraba sakunya. Kunci itu dingin.
Ponselnya bergetar di saku yang lain. Sebuah pesan masuk. Bukan dari Evelyn.
Mama Lian: Sudah selesai? Segera pulang. Tere mulai bertanya-tanya. Kita harus melanjutkan sandiwara sebelum langkah berikutnya dimulai.
Ardi menatap layar itu dengan rasa mual yang semakin menjadi. Di satu sisi, ada Evelyn yang ingin menghancurkannya dengan nafsu kontrol. Di sisi lain, ada Mama Lian yang menggunakannya sebagai pion untuk perang yang tidak sepenuhnya ia pahami.
Dan di tengah-tengah, ada Tere. Istrinya yang malang, yang sedang menunggunya pulang dengan senyum tulus, tidak tahu bahwa suaminya baru saja menjual jiwanya demi sebuah kunci kecil.
Ardi melangkah keluar. Langit di luar tidak lagi mendung, tapi gelap total. Permainan ini memang baru dimulai, dan ia baru saja menyadari bahwa dalam perang ini, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar memegang kendali. Semua orang hanyalah tawanan dari rahasia masing-masing.
Langkah kaki Ardi menggema di lorong sepi. Ia harus pulang. Ia harus tersenyum. Ia harus memeluk istrinya.