Tiga hari dua malam telah terlewati. Kini, William dan Andrew telah kembali menampakkan diri.
“HEIO, Mauren? What’s up, girl?” Andrew menyapa lebih dulu. Tentu, dengan kehebohan seorang pria pecicilan.
“Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?”
“Ah! Tentu, acara musik yang diadakan telah berjalan dengan lancar. Sepertinya, band kami kembali mendapat tambahan penggemar,” Andrew menyahut sembari menyombongkan diri.
Sementara itu,
Mauren tak henti tersenyum. Bedanya, ia sedang memandang dua pria tersebut dengan bidikan tak biasa.
“Ada apa, Mauren?” William bertanya.
“Apakah kalian tidak merindukan aku?”
“Tentu saja, kami rindu!” Andrew menyahut lantang.
“Kalau begitu, berikanlah pelukan untukku,” Mauren berujar.
Tanpa berpikir panjang, Andrew segera memeluk sang pasien wanita tanpa permisi. Tentu, sesuai permintaan.
Sontak,
Bola mata William dan Brian melebar.
Dan,
“Apa yang kau lakukan, Drew?” William berdecak. Menjauhkan tubuh Andrew dengan paksa.
“Apa kau tidak dengar, Will? Mauren ingin kita memeluknya sebagai pertanda rindu? Jadi, apa salahku jika menuruti kemauan dia, bukan?” Andrew menyahut sembari menarik sudut alis pada Mauren; pertanda jika ia sedang meminta pembenaran.
“Andrew benar, Will. Lagi pula, aku juga sedang merindukan kalian. Dan, mengapa kau tak memelukku juga?” Mauren meminta.
William spontan gelagapan. Salah tingkah. Berkata, “Issh! Tak perlu berlebihan seperti itu, Mauren. Kita hanya tak berjumpa selama tiga hari saja.”
Benar! William bukan enggan memberi pelukan. Melainkan, ia takut jika terbawa perasaan. Mengingat, tak ada yang serindu itu pada Mauren, kecuali William.
Jangankan pergi dalam kurun tiga hari dua malam. Satu menit tak melihat wajah Mauren saja, William sudah kelabakan. Seperti cacing kepanasan, atau juga ikan yang sedang berada di daratan.
Sehingga,
Sudah pasti, William ingin sekali memberikan pelukan. Hanya saja, ia merasa tak nyaman saat harus berada di dalam satu ruang bersama Brian juga di sana.
Tapi, ini ada yang aneh. Mengapa tiba-tiba Mauren meminta kami untuk memeluk dirinya? William bertanya-tanya.
Oh ya,
“Brian, apa Lucia tak sedang bersama kalian?” Andrew mengeluarkan suara. Memecah fokus perhatian tiga orang lain di dalam ruang.
“Tadi, dia sempat ke mari sewaktu aku sedang bekerja. Lalu, kami bergantian berjaga.”
Ah,
Andrew memanggut paham. William berbisik kemudian, “Apakah kau juga ingin memeluk Lucia dengan alasan yang Mauren gunakan, hah?”
Sontak, Andrew menghentak tungkai pada ujung jemari kaki William. Pria tersebut hingga terlonjak kesakitan.
Aw!
“Apa kau tak apa-apa, Will?” Mauren bertanya. Menunjukkan gurat cemas di wajah.
Lagi-lagi, suasana canggung seperti itu selalu menerpa. Yah! Selagi William, Mauren dan Brian sedang berada bersama.
“Aku baik-baik saja. Apa kau khawatir padaku, huh?” William menyahut. Memandang lekat manik mata sang pasien wanita.
Saat bersamaan,
Brian berkata, “William hanya terinjak kaki Andrew, Mauren. Jadi, kau tak perlu berlebihan.”
GLEK!
Andrew menelan ludah. Mauren melongo pada sahutan Brian, yang terdengar mengeluarkan nada tidak suka.
“Sudahlah, sudah! Mari kita makan malam saja. Sebelum tiba ke mari, aku dan William membawakan makanan untuk kalian,” Andrew segera mengalihkan perhatian teruntuk kali kedua. Bahkan, ia sengaja membuka bungkusan plastik makanan dengan kasar. Hingga menimbulkan suara berisik di telinga.
******
Setuntas makan malam bersama.
“Mauren, minumlah obatmu,” Brian menyodorkan sebuah plastik obat; berisi tiga kapsul dengan komposisi berbeda. Tak lupa, memberikan sebotol air minum.
Mauren meneguk butiran obat itu dengan segera. Berkata, “Terima kasih, Brian.”
“Sekarang, kau beristirahatlah,” Brian berujar. Menyandarkan kepala Mauren dengan perlahan. Menujukan bagian tubuh sang kekasih hingga berbaring dengan nyaman di atas ranjang.
Sementara itu,
Andrew dan William hanya bisa menyaksikan dua insan, yang telah menjadi akrab setelah berinteraksi dalam waktu singkat.
Melihat Mauren kembali dekat dengan Brian, William menjadi tak tahan. Ia beranjak dari tempat duduk semula. Menghampiri ambang pintu. Dan, melangkah keluar ruang.
Sret,
Daun pintu bergeser.
Andrew bergegas mengikuti langkah kaki sang sahabat pria.
Saat itu, William berkacak dengan sebelah tangan. Berdiri membelakangi posisi kamar perawatan. Menyugar puncak kepala dengan tangan sisi lain, yang terbebas dari pinggang.
Hhh!
Andrew menghela dengan berat. Ia menjejalkan p****t pada dudukan yang disediakan. Memperhatikan sosok William yang sedang gusar.
“Bisakah, kau berhenti bergerak dan diam, Will?”
“Tak bisa, Drew. Aku cemas sekali. Aku benar-benar takut kehilangan Mauren. Tapi, kau tahu sendiri. Aku tak sebanding dengan Brian, yang memang kekasih Mauren sejak kita masih berseragam.”
“Astaga! Apa yang harus kulakukan untuk kalian berdua, Will?” Andrew menyahut frustasi.
William menggeleng cepat. Menggambarkan gurat bersedih setengah mati.
Lalu,
Daun pintu kamar kembali bergeser. Kali itu, menampakkan sosok pria bertubuh tegap; sama halnya dengan perawakan para lelaki lain di sana.
“Will?” Brian memanggil.
“Ada apa?”
“Ada yang harus kubicarakan denganmu.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan pergi saja. Kalian bisa mengobrol empat mata,” Andrew menimpali dengan penuh peka.
“Tidak, Drew. Tidak. Kau tetaplah bersama kami,” Brian meminta.
William memandang Andrew dengan isyarat bermakna sama.
Pada akhirnya,
Ketiga pria berparas tampan dengan karakteristik masing-masing itu, melangkah bersama menuju sisi lift berada. Brian memutuskan agar mereka berbincang di lantai dua saja.
Ting!
Lift baru saja terbuka pada area yang ditempati oleh beberapa café di sana. Sebuah kedai yang menghidangkan banyak menu pilihan kopi, menjadi titik tujuan.
Andrew memesankan kopi kesukaan para sahabat. Sekaligus, ia ingin memberi waktu pada Brian dan William untuk mempersiapkan bahan obrolan.
“Apa yang ingin kau bicarakan denganku, Brian?” William memulai pembicaraan.
“Ah! Tapi, sebelum itu aku ingin mengucapkan selamat karena kau sudah benar-benar pulih sekarang,” Ia menambahkan. Memandang sekilas pada kedua tungkai Brian, yang tak lagi menggunakan alat bantu jalan.
“Thanks, Will.”
Dan,
“Apa yang hendak kita bicarakan, Bro?” Andrew menimpali. Sesaat usai kembali dari meja pemesanan.
“Ini perihal kepulangan Mauren, Will-Drew.”
“APA?” Dua pria lain melebarkan bola mata. Muncul senyum sumringah di wajah.
“Jadi, dokter sudah memperbolehkan Mauren untuk pulang?” William mengkonfirmasi wacana.
“Benar, Will. Seminggu ini, dokter akan memadati keseharian Mauren dengan beragam pemeriksaan. Ketika, hasil pemeriksaan menyeluruh dikatakan cukup bagus. Maka, Mauren akan dijadwalkan untuk keluar rumah sakit.”
“Syukurlah. Ini adalah berita yang amat baik, Brian,” Andrew menyahut.
“Benar, Drew. Tapi, sebenarnya ada hal lain yang juga ingin kubicarakan.”
“Mengenai?” William bertanya.
“Sewaktu Mauren pulang, dia pasti akan menjumpai banyak barang pemberian dariku. Termasuk, bingkai foto kami berdua. Itulah, yang sebenarnya ingin kubicarakan denganmu.”
William terdiam. Ia baru terpikirkan akan hal itu.
Lalu,
“Apa rencanamu, Brian?”
“Aku berencana untuk meminta Bik Idah membereskan kamar Mauren, sebelum dia pulang.”
“Apa maksudmu, Brian?”
“Tentu saja. Itu karena kita sudah bersepakat untuk memulai semua dari awal. Aku tak ingin bertindak curang. Hingga kini, aku masih menahan diri untuk mengatakan status kami yang sebenarnya. Itu semua kulakukan demi Mauren. Lagi pula, aku terlanjur janji padamu untuk bersaing secara sportif. Jadi, kuharap kau takkan mengecewakan keputusan besar yang sudah kubuat ini, Will.”
“Sekali lagi, apa maksudmu, Brian?” William bertanya heran.
Brian tak segera menjawab. Ia sedang mengusap dagu dengan telapak tangan kanan. Kemudian, bertopang sembari berpikir dalam-dalam.
Barulah,
“Kuharap, kau selalu menemani Mauren kapan pun dan di mana pun, Will. Jangan pernah biarkan dia kesepian. Karena, sepertinya—”
“SEPERTINYA, APA?” William menaikkan nada bicara.
“Sepertinya, lagi-lagi aku tak bisa menemani dia dengan sepenuhnya, Will.”